Sabtu 11 Juli 2026 - 14:25
12 Pesan dan Pelajaran Peradaban dari Epik Sejarah Pemakaman Imam Syahid

Hawzah/ Khatib Jumat Qom, dengan menjelaskan pesan-pesan dan pelajaran dari kehadiran jutaan umat yang epik dalam pemakaman Imam Syahid, menegaskan: Jumlah jutaan pelayat ini menyampaikan pesan kepada Trump sang penjahat dan Netanyahu yang keji, bahwa balas dendam atas darah para syuhada kami adalah pasti, dan mereka harus menantikan balas dendam ini.

Berita Hawzah – Ayatullah Alireza A'rafi dalam khutbah salat Jumat tanggal 10 Juli 2026 M yang diselenggarakan di Mushola Quds, Qom, setelah memuji dan mengapresiasi epik jutaan umat Iran dan Irak dalam upacara perpisahan dan pemakaman Imam Syahid (almarhum Sayyid Ali Khamenei ra), menyatakan: "Imam Syahid adalah sebuah sistem pemikiran dan mazhab cahaya yang lahir dari Islam dan pemikiran Imam Khomeini (pendiri Revolusi Iran), dan hal ini memerlukan analisis yang mendalam."

Pesan-pesan dan pelajaran dari epik rakyat dalam pemakaman almarhum Sayyid Ali Khamenei ra:

Pelajaran Pertama: Menghidupkan kembali semboyan Ihdal-Husnayain 

Imam Jumat Qom menyatakan bahwa pemakaman bersejarah Imam Syahid umat ini merupakan sebuah rantai peradaban yang diwujudkan oleh umat Islam di Iran dan Irak. Beliau melanjutkan: "Sekali lagi, Revolusi Islam dan bangsa Iran telah menghidupkan kembali semboyan Ihdal-Husnayain, mengangkat tinggi semangat menyambut kematian dan syahadah, serta mewujudkan kemenangan darah di atas pedang. Logika Islam dan epik terakhir kalian adalah keunggulan darah di atas pedang, keteguhan dan perlawanan di atas kebodohan dan kebejatan, serta menyambut kematian dan syahadah."

Ayatullah A'rafi menegaskan: "Dunia harus tahu bahwa bangsa kami menyambut kematian di jalan Allah, keadilan, dan kemanusiaan, dan para pemuda kami siap berjihad dan syahid demi kemuliaan dan keagungan diri mereka sendiri, Islam, dan Iran."

Pelajaran Kedua: "Kami Bisa"

Khatib Jumat Qom melanjutkan: "Logika dari dua pemimpin Revolusi (Imam Khomeini dan Imam Syahid) adalah 'Kami Bisa'. Imam Khomeini mencetuskannya, dan Pemimpin Syahid (Sayyid Ali Khamenei ra) mewujudkannya dengan gemilang. Wahai bangsa-bangsa di dunia, kalian bisa keluar dari kehinaan, merasakan manisnya kemerdekaan, dan melakukan hal-hal besar, karena sebuah bangsa telah berdiri menghadapi pukulan-pukulan berat dari kekuatan ekonomi dan militer terbesar di dunia."

Anggota Dewan Fuqaha (para ahli fikih) di Dewan Penjaga Konstitusi Iran ini menyatakan: "Terbentuknya hubungan dan keseimbangan baru di dunia lahir dari kehadiran rakyat di medan-medan perjuangan. Umat Islam hendaknya selalu sadar dan memetik pelajaran besar ini."

Pelajaran Ketiga: Peran Tak Tergantikan dari Kehendak dan Kebangkitan Umat

Direktur Hawzah Ilmiyah seluruh Iran melanjutkan: "Peran kehendak dan kebangkitan rakyat, serta pencerahan dan jihad penjelasan (jihad tabyin), adalah pelajaran lain yang dihadirkan oleh epik rakyat tersebut."

Pelajaran Keempat: Peran Budaya dan Nilai-Nilai Keagamaan

Beliau menyatakan: "Peran budaya religius dan Asyura, komitmen terhadap nilai-nilai ilahi, otoritas keagamaan, dan kepemimpinan ilahi adalah nilai-nilai fundamental yang menciptakan mukjizat abad ini dan mengangkat Imam Syahid ke puncak keagungan. Landasan iman ini harus kita pertahankan dengan kokoh."

Imam Jumat Qom menegaskan: "Di antara nilai-nilai ini, kedudukan Wilayah al-Faqih memiliki posisi yang luhur yang harus dijaga. Hari ini, dalam kelanjutan garis cahaya dua pemimpin Revolusi, kepemimpinan terwujud pada diri Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei. Sistem nilai ini harus dilestarikan dan dilindungi."

Pelajaran Kelima: Pentingnya Persenjataan Canggih

Beliau menyatakan: "Persenjataan canggih adalah modal utama bangsa ini yang tidak boleh hilang. Kita memerlukan kekuatan di bidang budaya, politik, sosial, keamanan, diplomasi, ekonomi, dan lain-lain, tetapi jangan tertipu, karena kekuatan militer dan persenjataan adalah penopang bagi semua urusan."

Direktur Hawzah Ilmiyah seluruh Iran ini menekankan bahwa bangsa kita berdiri di belakang sistem Islam dan angkatan bersenjata, dan terus meningkatkan kekuatan militer di samping pilar-pilar lainnya dari hari ke hari.

Pelajaran Keenam: Kehormatan dan Keagungan Bangsa Iran

Khatib Jumat Qom menyatakan: "Musuh-musuh telah merancang agar bangsa Iran tunduk, terhina, dan hancur, tetapi kehadiran kalian menunjukkan bahwa itu semua hanyalah mimpi-mimpi kacau dan rancangan dari pikiran-pikiran kotor dan khayalan."

Direktur Hawzah Ilmiyah seluruh negeri ini menegaskan: "Bangsa Iran, dengan karunia Allah, dengan menanggung segala kesulitan, telah mempertahankan kehormatan, keagungan, dan kemegahannya, dan hari ini musuh-musuh melihat keagungan ini sebagai ganti dari kehinaan yang mereka rancang. Sungguh buta mata-mata yang tidak mampu melihat kemegahan, keagungan, dan perlawanan Iran serta poros perlawanan. Mata Trump pun buta, masa depan yang gelap akan menantinya."

Pelajaran Ketujuh: Keberlanjutan Hidup Perlawanan dan Tumbuhnya Tunas-Tunas Baru

Ayatullah A'rafi, dengan menyatakan bahwa tumbuhnya tunas-tunas baru dan berkembangnya budaya perlawanan lahir dari kehendak bangsa Iran dan umat Islam, menyampaikan: "Berlawanan dengan semua dugaan yang dimiliki musuh, poros perlawanan di semua wilayah sebelumnya masih hidup, dan bahkan tunas-tunas baru telah muncul di kawasan. Dengan karunia Allah, rantai yang lebih kuat dari dua tahun lalu akan terbentuk di hadapan tentara haus darah Amerika dan Israel perampas."

Pelajaran Kedelapan: Jiwa dan Identitas Tunggal Dunia Islam

Direktur Hawzah Ilmiyah seluruh Iran menyatakan: "Pemakaman pemimpin syahid revolusi menunjukkan bahwa umat Islam memiliki identitas yang tunggal. Upacara ini memperlihatkan keterikatan hati dan jiwa yang melampaui batas-batas dan geografi. Ini adalah pencapaian Imam Syahid dan bangsa Iran yang telah mengumpulkan umat Islam di bawah satu bendera. Jalan ini, dengan pertolongan Allah, akan terus berlanjut melawan Trump, Netanyahu, dan musuh-musuh Islam."

Pelajaran Kesembilan: Hak Syar'i dan Hak Hukum untuk Menuntut Balas atas Darah Imam Syahid

Imam Jumat Qom juga merujuk pada hak syar'i dan hukum untuk menuntut balas atas darah Imam Syahid, dan mengatakan: "Pesan dari panji-panji merah Asyura dalam upacara pemakaman adalah bahwa menuntut balas atas darah para syuhada dan pemimpin syahid adalah hak hukum dan syar'i kami, dan tuntutan balas ini masih tersisa dan akan dilaksanakan."

Pelajaran Kesepuluh: Pesan Kebangkitan Bangsa Iran kepada Pemerintah-Pemerintah Kawasan

Beliau menyerukan kepada pemerintah-pemerintah di kawasan: "Pesan kebangkitan kami kepada pemerintah-pemerintah kawasan adalah: keluarlah dari sikap menjadi tukang bayaran dan ketergantungan kepada setan-setan. Jangan takut pada kekuatan Amerika dan Israel, dan pisahkanlah diri kalian dari mereka. Apa yang kalian katakan kepada kami secara sembunyi-sembunyi, nyatakanlah secara terang-terangan. Bangsa-bangsa akan menerima kalian. Tetapi jika kalian melanjutkan ketergantungan ini, kalian akan kalah menghadapi kehendak Revolusi Islam."

Pelajaran Kesebelas: Kemunduran Amerika dan Rezim Zionis

Khatib Jumat Qom melanjutkan: "Amerika dan rezim perampas (Zionis Israel) hendaknya tahu bahwa kekuatan mereka sedang mengalami kemunduran dan mereka harus pergi dari kawasan ini. Kekuatan Islam dan perlawanan akan mengusir mereka dari kawasan dan akan mengubah keseimbangan yang ada."

Pelajaran Keduabelas: Model Baru untuk Membangun Negara

Ayatullah A'rafi menambahkan: "Model pembangunan negara harus didasarkan pada rasionalitas revolusioner dan ketahanan masyarakat. Tiga cabang kekuasaan (eksekutif, legislatif, yudikatif) dan semua lembaga harus merancang cakrawala baru yang lahir dari perang ketiga ini, pancaran cahaya Revolusi Islam, dan warisan agung dari dua pemimpin Revolusi (Imam Khomeini dan Pemimpin Syahid)."

Direktur Hawzah Ilmiyah seluruh Iran melanjutkan: "Rancangan-rancangan baru, berpegang teguh dan bertawakal pada kekuatan sendiri, mengabaikan pihak asing, bertumpu pada rasionalitas revolusioner dan logika Islam serta revolusioner adalah di antara prinsip-prinsip yang harus diperhatikan."

Imam Jumat Qom menyerukan kepada para pejabat: "Jalan-jalan dan alun-alun pertempuran menyertai kalian. Bangsa besar kita telah menerima logika revolusi, dan jalan ini harus tercermin dalam semua kebijakan dan keputusan kita."

Terbentuknya Rangkaian Epik-Epik Besar

Beliau, dengan merujuk pada terbentuknya rangkaian epik-epik besar pekan lalu yang merupakan pelengkap bagi medan perang dan empat bulan perang melawan kekuatan terbesar dunia, menyatakan: "Rangkaian selama satu pekan ini yang terjadi di Karbala, Najaf, Teheran, Qom, dan Mashhad, serta akan berlanjut dengan berbagai upacara di seluruh dunia Islam, adalah sebuah rangkaian cahaya, gerakan peradaban besar, dan peristiwa bersejarah yang langka yang diwujudkan oleh umat Islam."

Khatib Jumat Qom, dengan merujuk pada bahwa epik pemakaman pemimpin syahid revolusi adalah peristiwa politik dan keimanan yang sangat besar yang menciptakan perubahan besar di kedalaman sejarah, menambahkan: "Sungguh beruntung umat yang memiliki kesadaran situasi dan mengenali posisinya, serta tidak menyerah di hadapan kezaliman-kezaliman dan pertumpahan darah."

Beliau, sembari mengapresiasi rakyat atas kebijaksanaan dan kehadiran tepat waktu mereka di saat-saat kritis, menyatakan: "Saya berterima kasih kepada para pejabat dan lembaga-lembaga yang memberikan dukungan dan bantuan, para pengelola mawkib-mawkib, para pengelola tempat-tempat suci (athabat muqaddasah), dan semua pihak yang berperan serta memberikan bantuan."

Misi-Misi Imam Sajjad (as) dan Sayyidah Zainab (as) Pasca Asyura

Ayatullah A'rafi dalam khutbah pertama juga menyatakan: "Asyura adalah peristiwa luar biasa yang dirancang oleh Bani Umayyah untuk memberikan pukulan terakhir kepada keluarga Nabi (saw) dan garis kenabian serta kepemimpinan (wilayah). Bani Umayyah berencana untuk menghapuskan garis cahaya ilahi ini dengan menghilangkan secara fisik keluarga imamah dan wilayah."

Strategi-Strategi Front Kebenaran dalam Menghadapi Bani Umayyah

Strategi Pertama: Pengorbanan Jiwa yang Abadi dan Perlawanan terhadap Kezaliman

Beliau, dengan merujuk pada diambilnya dua strategi dasar untuk menghadapi rencana-rencana musuh pada front kebenaran, mengatakan: "Strategi pertama adalah pengorbanan jiwa di tingkat tertinggi dan perlawanan terhadap pasukan kezaliman dan penindasan. Atas dasar inilah Imam Husain (as) merancang Asyura."

Khatib Jumat Qom melanjutkan: "Sebuah rencana yang sangat mendalam dengan pertolongan Ilahi dirancang dan dilaksanakan, di mana di dalamnya terdapat ketahanan menghadapi tekanan-tekanan dan musibah-musibah terberat yang disertai dengan semangat epik dan cinta ilahi."

Strategi Kedua: Strategi-Strategi Majemuk Imam Sajjad (as)

Beliau, menunjukkan bahwa strategi pertama tidak akan sempurna tanpa strategi kedua dan menegaskan: "Imam Sajjad (as) adalah pembawa panji strategi kedua di era baru yang tercipta. Syahid Muhammad Baqir as-Sadr menganggap era Imam Sajjad (as), Imam Baqir (as), dan Imam Shadiq (as) sebagai satu era yang memiliki garis dasar yang sama."

Beliau menambahkan: "Seluruh arsitektur Asyura tidak akan mencapai tujuannya tanpa peran Imam Sajjad (as) dan Sayyidah Zainab (as). Dengan strategi-strategi yang diambil oleh Imam Sajjad dan Sayyidah Zainab, strategi kedua pun terbentuk."

Kepemimpinan-Kepemimpinan Imam Sajjad (as) dan Sayyidah Zainab (s)

Kepemimpinan Pertama: Mengubah Penderitaan Menjadi Peluang

Imam Jumat Qom menyatakan: "Dengan kepemimpinan Imam Sajjad (as) dan Sayyidah Zainab (s), mereka mengubah ancaman-ancaman terburuk yang dihadapi keluarga imamah menjadi peluang-peluang terbaik."

Direktur Hawzah Ilmiyah seluruh Iran melanjutkan: "Apa yang dirancang musuh untuk pemimpin para syuhada (Imam Husain as) berubah menjadi peluang bagi Islam yang sejati, dan dinasti Bani Umayyah pun hancur. Di majelis Bani Umayyah, secara lahiriah tampak sekelompok kecil dari keluarga besar yang telah menanggung banyak penderitaan dan kesedihan, tetapi jika kita merenungi ruh dari majelis-majelis itu, sesungguhnya musuh-musuh keluarga kenabianlah yang menjadi tawanan di hadapan Sayyidah Zainab dan Imam Sajjad (as)."

Khatib Jumat Qom melanjutkan: "Ketika Imam Sajjad (as) dan Sayyidah Zainab (s) membacakan khutbah, dinasti Bani Umayyah-lah yang menjadi tawanan. Di sini, logika kebenaran, akal, hikmah, dan keberanian menawan musuh-musuh kebenaran dan menempatkan mereka di jalur kehancuran."

Kepemimpinan Kedua: Meriwayatkan Asyura dengan Benar

Beliau menambahkan: "Kepemimpinan kedua dari Imam Sajjad (as) dan Sayyidah Zainab (s) adalah membangun riwayat yang benar tentang Asyura, karena Asyura terancam oleh penafsiran-penafsiran yang keliru dan pemahaman yang menyimpang. Meletakkan fondasi riwayat yang benar dari epik besar ini dan meluruskan dimensi-dimensi mazhab Asyura untuk generasi mendatang adalah strategi yang diambil oleh Imam Sajjad (as)."

Kepemimpinan Ketiga: Menyadarkan Umat dan Melemahkan Musuh

Direktur Hawzah Ilmiyah seluruh Iran menambahkan: "Kepemimpinan ketiga Imam Sajjad (as) adalah melemahkan dan mempermalukan musuh, serta menyadarkan umat untuk menghadapi musuh kebenaran dan keadilan. Itulah strategi ketiga."

Kepemimpinan Keempat: Membaca Ulang Mazhab Asyura

Beliau menambahkan: "Imam Sajjad (as) merevitalisasi dan mengolah kembali mazhab Asyura dengan pelajaran-pelajaran besarnya. Asyura bukan sekadar benturan militer dan keamanan, meskipun terjadi dalam benturan militer yang tidak seimbang dan di dalamnya muncul manifestasi tertinggi dari epik dan kemegahan iman. Namun di dalam lautan Asyura yang tak bertepi, terkandung ajaran-ajaran yang membangun manusia dan menghidupkan jiwa. Imam Sajjad (as) berupaya menjadikan Asyura sebagai sebuah mazhab yang benar yang lahir dari risalah Nabi (saw)."

Khatib Jumat Qom menyatakan: "Ruh dari era Imam Sajjad, Imam Baqir, dan Imam Shadiq (as) lahir dari Asyura, dan berbagai sisi serta dimensi dari epik Asyura dalam aspek keyakinan, akhlak, sosial, dan politik dijelaskan oleh para Imam tersebut. Dan Asyura-Asyura lainnya menyusul setelah Asyura, dan ajaran keluarga Nabi saw serta Islam murni mencapai kematangannya."

Beliau mengingatkan: "Imam Sajjad (as) mengajarkan kepada kita jalan doa, munajat, dan bersimpuh di hadapan Allah, serta menghadapi musuh-musuh kebenaran dan keadilan, dan menjadikan Asyura abadi dan kekal. Jika bukan karena garis-garis strategis ini, dan perjuangan-perjuangan besar Imam Sajjad (as) serta rombongan tawanan, mungkin Asyura akan terkubur di padang pasir Karbala dan pesannya tidak akan tersampaikan kepada generasi-generasi mendatang."

Imam Jumat Qom menyatakan: "Imam Sajjad (as) mengibarkan panji Asyura di seluruh penjuru dunia, dan dengan beliau, Asyura menjadi abadi dan kekal."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha