Berita Hawzah – Hujjatul-Islam wal-Muslimin Mirhashem Hosseini, pengelola Sekolah Ilmu Agama Ayatullah Mujtahidi, dalam wawancaranya dengan reporter Hawzah News Agency, merujuk pada kedudukan istimewa ziarah Arbain Husaini dan menyatakan: "Ziarah Arbain, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, memiliki ketentuan hukum, adab, pelajaran, makrifat, dan rahasia-rahasia yang harus diperhatikan oleh para peziarah."
Beliau menambahkan: "Dalam aspek hukum ziarah Arbain, menjaga hak-hak Allah dan hak-hak manusia sangatlah penting. Seorang peziarah harus berhati-hati agar dalam perjalanan ziarah tidak terjadi kezaliman, hak-hak orang lain terpenuhi, dan batasan-batas syariat diperhatikan."
Pengelola Sekolah Ilmu Agama Ayatullah Mujtahidi, merujuk pada pentingnya adab ziarah kepada Imam Husain (as), mengatakan: "Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq (as) dalam kitab Kamiluz Ziyarat, terdapat poin yang sangat penting tentang ziarah kepada Aba Abdillahil Husain (as) yang menyadarkan manusia akan keagungan ziarah ini. Beliau berkata: 'Ziarah kalian lebih baik di sisi Allah.' Dan selanjutnya beliau memperingatkan bahwa sebagian orang datang berziarah tetapi perhatian mereka tidak tertuju kepada Imam Husain (as), melainkan pikiran dan pandangan mereka sibuk dengan urusan-urusan lain; padahal jika seseorang bukannya memperhatikan sosok suci Sayyidusy Syuhada (as), malah sibuk dengan urusan duniawi dan hiburan, maka tidak berziarah lebih baik baginya."
Hujjatul-Islam wal-Muslimin Hosseini menegaskan: "Ucapan ini menunjukkan bahwa ziarah kepada Imam Husain (as) bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan harus disertai dengan makrifat, adab, perhatian hati, dan kehadiran spiritual."
Kehadiran Rakyat yang Luar Biasa di Arbain Merupakan Rahasia Ilahi
Beliau selanjutnya merujuk pada rahasia-rahasia ziarah Arbain dan mengatakan: "Dalam riwayat-riwayat terdapat poin-poin yang sangat menakjubkan tentang kedudukan ziarah kepada Sayyidusy Syuhada (Imam Husain as). Hari ini kita menyaksikan bahwa jutaan orang bergerak di jalur Najaf menuju Karbala dan jalur-jalur lainnya dengan penuh ketenangan dan keamanan, padahal pada periode-periode tertentu dalam sejarah, bahkan mendekati makam suci Imam Husain (as) pun disertai dengan berbagai bahaya yang besar."
Pengajar di Hawzah Ilmiah ini menyatakan: "Pada masa pemerintahan Bani Marwan, kondisi sedemikian rupa sehingga orang-orang bergerak untuk menziarahi makam Imam Husain (as) dengan rasa takut dan secara sembunyi-sembunyi; sedemikian rupa sehingga seorang peziarah harus tiba di Karbala pada malam hari agar tidak tertangkap oleh petugas keamanan. Hari ini kita harus mensyukuri bahwa Allah telah menyediakan ruang seluas ini untuk ziarah Arbain."
Pengelola Sekolah Ilmu Agama Ayatullah Mujtahidi menekankan: "Kehadiran luar biasa masyarakat dalam Arbain ini merupakan salah satu rahasia ilahi; karena meskipun terdapat malaikat dan keagungan kedudukan Imam Husain (as), Allah mengizinkan manusia-manusia di akhir zaman untuk berada di jalur ini dan menunaikan ziarah kepada Sayyidusy Syuhada (as)."
Beliau menyatakan bahwa nikmat ini terwujud berkat pertolongan ilahi dan perjuangan para syuhada, seraya mengatakan: "Kita harus berterima kasih kepada keluarga para syuhada dan veteran perang; karena keamanan hari ini dan kemungkinan terselenggaranya perkumpulan besar seperti ini adalah hasil dari pengorbanan dan perjuangan mereka."
Karbala; dari Peristiwa Paling Kelam dalam Sejarah hingga Pancaran Cahaya Terbesar
Hujjatul-Islam wal-Muslimin Hosseini, merujuk pada pelajaran-pelajaran dari ziarah Arbain, menyatakan: "Suatu hari di tanah yang sama ini, peristiwa paling kelam dalam sejarah umat manusia terjadi; manusia-manusia terbaik gugur sebagai syuhada, Al-Abbas (as), para sahabat Sayyidusy Syuhada (as), dan putra-putri Ahlulbait (as) dengan terzalimi gugur sebagai syahid, dan para wanita dari keluarga Nabi (saw) ditawan; namun tanah yang sama ini lambat laun berubah menjadi manifestasi cahaya kebenaran yang paling terang."
Beliau melanjutkan: "Pertanyaan pentingnya adalah, bagaimana dari balik kegelapan itu muncul cahaya yang begitu besar? Jawabannya adalah bahwa Ahlulbait (as) dalam kondisi yang paling sulit sekalipun tetap memelihara harapan, perlawanan, dan pergerakan di jalan Allah."
Pengajar di Hawzah ini menambahkan: "Kami tidak pernah membandingkan diri kami dengan Ahlulbait (as), tetapi kami harus mengambil teladan dari jalan hidup mereka. Sebagaimana Pemimpin Syahid Revolusi juga berulang kali menekankan bahwa perbandingan kami dengan Ahlulbait (as) tidaklah mungkin, tetapi kami harus bergerak di jalan mereka."
Lima Pelajaran Penting dari Ziarah Arbain
Hujjatul-Islam Hosseini, dengan menyatakan bahwa ziarah Arbain memiliki banyak pelajaran bagi kehidupan manusia, mengungkapkan: "Pelajaran pertama dari Arbain adalah harapan; yaitu bahwa manusia hendaknya mengetahui bahwa bahkan dalam kondisi paling gelap sekalipun, kemungkinan munculnya cahaya dan kemenangan kebenaran tetap ada."
Beliau menambahkan: "Pelajaran kedua dari Arbain adalah memanfaatkan semua kesempatan untuk membela kebenaran; sebagaimana Ahlulbait (as) menggunakan seluruh kapasitas yang ada; mulai dari syahidnya Ali Asghar (as) hingga khutbah Zainab Kubra (sa) di Kufah dan Syam, serta pencerahan dari Imam Sajjad (as)."
Pengelola Sekolah Ilmu Agama Ayatullah Mujtahidi menyebutkan pelajaran ketiga dari Arbain adalah pandangan yang mendalam dan menyeluruh terhadap peristiwa-peristiwa, dan mengatakan: "Seseorang tidak boleh jatuh dalam keputusasaan hanya karena melihat secara parsial dan sesaat, melainkan harus melihat jalur keseluruhan pergerakan kebenaran."
Beliau melanjutkan: "Pelajaran keempat adalah memperkuat Wilayah (kepemimpinan ilahi) dan penghambaan kepada Allah. Jika dalam kehidupan individu dan sosial terdapat masalah-masalah, maka poros kepemimpinan ilahi dan ketaatan kepada Imam Zaman harus diperkuat, dan generasi muda hendaknya dididik dengan mengingat dan mencintai Imam Zaman (af)."
Hujjatul-Islam Hosseini menambahkan: "Pelajaran kelima dari ziarah Arbain adalah mengenal kubu kebenaran dan kubu kebatilan serta memiliki rasa benci terhadap kezaliman dan kejahatan; sebagaimana dalam Ziarah Asyura, pertama-tama dilontarkan laknat dan pernyataan berlepas diri (bara'ah) dari musuh-musuh kebenaran, kemudian diikuti dengan salam dan kecintaan kepada para wali Allah."
Beliau menegaskan: "Sebagaimana sepanjang sejarah telah ada arus-arus zalim dan pembunuh anak-anak, maka hari ini pun kita harus peka terhadap kezaliman dan kejahatan, dan di samping kecintaan kepada Ahlulbait (as), kita harus memelihara rasa benci terhadap kezaliman dan para penindas."
Hujjatul-Islam wal-Muslimin Mirhashem Hosseini di akhir menekankan: "Ziarah Arbain mengajarkan kepada kita bahwa dengan harapan, perlawanan, loyalitas kepada kepemimpinan (Ilahi), dan solidaritas, kita dapat melewati kondisi-kondisi tersulit dan mewujudkan cahaya serta kemenangan dari balik kegelapan."
Komentar Anda