Jumat 31 Juli 2026 - 06:31
Kajian Mahdawiyah (48) | Kewajiban dan Tanggung Jawab Khusus Para Penanti Imam Mahdi

Hawzah/ Pada masa kini, tidak sedikit orang yang karena berbagai alasan mengingkari keyakinan kepada Imam Mahdi alaihissalam dan berusaha menghapus ingatan umat tentang beliau. Bahkan, ada yang berupaya dengan berbagai cara untuk melemahkan keyakinan tersebut. Oleh karena itu, karena kesabaran dalam menghadapi ujian dan cobaan merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam, pada masa kegaiban ini kita dituntut untuk lebih bersabar, lebih teguh, dan lebih tabah dalam menghadapi segala bentuk tantangan dan cobaan dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Berita Hawzah – Rangkaian Kajian Mahdawiyah bertajuk "Menuju Peradaban yang Ideal" dipersembahkan kepada para pembaca budiman dengan tujuan menyebarluaskan ajaran dan makrifat yang berkaitan dengan Imam Zaman ajjalallahu ta'ala farajahu asy-syarif.

Kewajiban dan tanggung jawab Khusus Para Penanti Imam Mahdi

Yang dimaksud dengan kewajiban dan tanggung jawab khusus adalah kewajiban-kewajiban yang secara langsung berkaitan dengan masa kegaiban Imam Mahdi alaihissalam. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Mencintai Sahabat-Sahabat Imam Mahdi dan Berlepas Diri dari Musuh-Musuh Beliau

Dalam banyak riwayat, Rasulullah Saww menegaskan pentingnya mencintai Ahlulbait alaihimussalam serta berlepas diri dari musuh-musuh mereka. Kewajiban ini berlaku pada setiap zaman. Namun, dalam beberapa riwayat disebutkan secara khusus anjuran untuk mencintai para pengikut dan sahabat Imam Mahdi alaihissalam, serta memusuhi orang-orang yang memusuhi beliau.

Imam Muhammad al-Baqir alaihissalam meriwayatkan sabda Rasulullah Saww:

«طُوبَى لِمَنْ أَدْرَكَ قَائِمَ أَهْلِ بَيْتِي وَهُوَ يَأْتَمُّ بِهِ فِي غَيْبَتِهِ قَبْلَ قِيَامِهِ، وَيَتَوَلَّى أَوْلِيَاءَهُ وَيُعَادِي أَعْدَاءَهُ، ذٰلِكَ مِنْ رُفَقَائِي وَذَوِي مَوَدَّتِي وَأَكْرَمُ أُمَّتِي عَلَيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.»

"Berbahagialah orang yang menjumpai al-Qā'im dari Ahlulbaitku, lalu mengikutinya pada masa kegaibannya sebelum beliau bangkit. Ia mencintai para kekasih beliau dan memusuhi musuh-musuh beliau. Orang seperti itu kelak pada hari Kiamat termasuk sahabat-sahabatku, orang-orang yang kucintai, dan umatku yang paling mulia di sisiku." (Kamāluddin wa Tamām an-Ni‘mah, jil. 1, hlm. 286)

2. Bersabar Menghadapi Ujian pada Masa Kegaiban

Pada masa kini, tidak sedikit orang yang karena berbagai alasan menolak keyakinan kepada Imam Mahdi alaihissalam dan berusaha menghapus ingatan tentang beliau. Bahkan, ada yang berupaya dengan berbagai cara untuk melemahkan keyakinan tersebut. Oleh karena itu, karena kesabaran dalam menghadapi ujian dan musibah merupakan salah satu ajaran penting dalam Islam, pada masa kegaiban ini kita dituntut untuk lebih bersabar, lebih teguh, dan lebih tabah dalam menghadapi segala bentuk tantangan dan cobaan dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Abdullah bin Sinan meriwayatkan dari Imam Ja'far ash-Shadiq alaihissalam bahwa Rasulullah Saww bersabda:

«سَیَأْتِی قَوْمٌ مِنْ بَعْدِکُمْ الرَّجُلُ الْوَاحِدُ مِنْهُمْ لَهُ أَجْرُ خَمْسِینَ مِنْکُمْ. قَالُوا: یَا رَسُولَ اللَّهِ نَحْنُ کُنَّا مَعَکَ بِبَدْرٍ وَ أُحُدٍ وَ حُنَیْنٍ وَ نَزَلَ فِینَا الْقُرْآنُ. فَقَالَ: إِنَّکُمْ لَوْ تحملوا [تحملونَ] لِمَا حُمِّلُوا لَمْ تَصْبِرُوا صَبْرَهُمْ.»

"Akan datang suatu kaum setelah kalian. Setiap orang di antara mereka memperoleh pahala seperti lima puluh orang dari kalian." Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, kami telah berperang bersamamu di Badar, Uhud, dan Hunain, serta ayat-ayat Al-Qur'an diturunkan mengenai kami. Kemudian, Beliau Saww bersabda: "Seandainya kalian memikul beban yang mereka pikul, niscaya kalian tidak akan mampu bersabar sebagaimana kesabaran mereka." (Syaikh ath-Thusi, Kitāb al-Ghaybah, hlm. 456)

Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib alaihimassalam juga bersabda:

«إِنَّ الصَّابِرَ فِي غَيْبَتِهِ عَلَى الْأَذَى وَالتَّكْذِيبِ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ.»

"Orang yang bersabar menghadapi gangguan dan pendustaan pada masa kegaiban beliau, kedudukannya seperti seorang mujahid yang berjuang dengan pedang di sisi Rasulullah saw. melawan musuh-musuh Allah." (Kamāluddin wa Tamām an-Ni‘mah, jil. 1, hlm. 317)

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa kesabaran pada masa kegaiban bukanlah sikap pasif, melainkan keteguhan iman dalam mempertahankan keyakinan, menjalankan ajaran agama, dan tetap setia kepada Imam Mahdi alaihissalam meskipun menghadapi berbagai ujian, penolakan, dan tekanan. Dengan kesabaran seperti inilah seorang mukmin memperoleh kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah Swt.

3. Berdoa untuk Disegerakan Kemunculan Imam Mahdi 

Dalam ajaran Islam, doa dan munajat memiliki kedudukan yang sangat mulia. Salah satu tujuan doa adalah memohon agar berbagai kesulitan yang menimpa umat manusia diangkat. Dalam pandangan Syiah, terwujudnya harapan tersebut secara sempurna terjadi ketika Hujjah Allah yang terakhir, Imam Mahdi alaihissalam, keluar dari masa kegaibannya dan menerangi dunia dengan cahaya petunjuknya. Oleh karena itu, dalam sejumlah riwayat menganjurkan umat Islam untuk senantiasa memohon kepada Allah agar kemunculan beliau segera diwujudkan.

Seseorang yang benar-benar menantikan kedatangan Imamnya tentu akan memohon kepada Allah Swt. agar mempercepat kemunculan beliau. Terlebih lagi, ia meyakini bahwa dengan kemunculan Imam Mahdi alaihissalam, jalan petunjuk, peningkatan spiritual, dan kesempurnaan manusia akan terbuka secara utuh. Dalam salah satu tauqi' (surat) beliau (Imam Mahdi) disebutkan:

«وَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ بِتَعْجِيلِ الْفَرَجِ.»

"Perbanyaklah berdoa agar kemunculan (al-Faraj) segera dipercepat." (Kamāluddin wa Tamām an-Ni‘mah, jil. 2, hlm. 483)

Almarhum Ayatullah Ali Pahlavani Tehrani (1305–1383 Hs/1926–2004 M), yang lebih dikenal sebagai Ali Sa‘adatparvar, seorang arif Syiah dan murid spiritual Ayatullah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i—penulis Tafsir al-Mizan—menjelaskan makna anjuran doa tersebut: "Setiap orang tentu memahami bahwa anjuran Imam untuk memohon dan berdoa bukan sekadar mengucapkan kata-kata atau melafalkannya dengan lisan, meskipun membaca doa itu sendiri memiliki pahala yang besar. Namun, yang dimaksud adalah menghadirkan hati secara terus-menerus terhadap makna dan hakikat doa tersebut, serta menyadari bahwa pada masa kegaiban, menjaga agama, mengamalkan ajaran Islam, dan mempertahankan keyakinan yang benar terhadap kegaiban dan imamah merupakan tugas yang sangat berat. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keyakinan yang kokoh dan keteguhan hati." (Zhuhūr-e Nūr, hlm. 103)

4. Selalu Siap Menyambut Kemunculan Imam Mahdi 

Salah satu kewajiban terpenting pada masa kegaiban adalah selalu berada dalam kesiapan yang nyata untuk menyambut kemunculan Imam Mahdi alaihissalam Banyak riwayat yang menekankan pentingnya sikap ini.

Imam Muhammad al-Baqir alaihissalam, ketika menjelaskan firman Allah: "Bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali 'Imran [3]: 200). Beliau bersabda:

«اصْبِرُوا عَلَى أَدَاءِ الْفَرَائِضِ، وَصَابِرُوا عَدُوَّكُمْ، وَرَابِطُوا إِمَامَكُمُ الْمُنْتَظَرَ.»

"Bersabarlah dalam melaksanakan kewajiban, saling tolong-menolonglah kalian dalam menghadapi musuh-musuh kalian, dan jagalah selalu kesiapan kalian untuk menolong Imam yang dinantikan." (An-Nu‘mani, Al-Ghaybah, hlm. 199)

Berbeda dengan beberapa orang yang mengartikan kalimat "رابطوا" dengan arti menjalin hubungan atau bertemu dengan beliau(imam Mahdi) alaihissalam, kata ini sebenarnya bermakna kesiapan untuk berjuang. (Lisān al-‘Arab, jld. 7, hlm. 303; Majma‘ al-Baḥrain, jld. 4, hlm. 248)

5. Mengagungkan Nama dan Mengenang Beliau

Salah satu tanggung jawab umat Syiah terhadap Imam Mahdi (‘ajjalallāhu ta‘ālā farajah) pada era ini adalah mengagungkan nama dan senantiasa mengingat beliau.

Pengagungan tersebut dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti menyelenggarakan majelis doa dan munajat; mengadakan kegiatan keagamaan, kebudayaan, serta syiar Islam; membentuk forum diskusi dan kajian ilmiah; hingga melakukan penelitian yang mendalam dan bermanfaat tentang ajaran serta misi beliau.

Seluruh upaya tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk memuliakan nama Imam Mahdi (‘ajjalallāhu ta‘ālā farajah) serta memperkuat hubungan spiritual umat dengan beliau.

6. Berpegang Teguh pada Wilayah Ahlulbait

Menjaga serta memperkuat ikatan hati dengan Imam Zaman alaihissalam, sekaligus terus memperbarui janji setia kepada beliau, merupakan salah satu kewajiban penting yang dipikul oleh setiap Syiah yang menantikan kemunculan beliau pada masa kegaiban.

Imam Muhammad al-Baqir alaihissalam bersabda mengenai orang-orang yang tetap berpegang teguh pada wilayah Ahlulbait:

«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَغِيبُ عَنْهُمْ إِمَامُهُمْ، فَيَا طُوبَى لِلثَّابِتِينَ عَلَى أَمْرِنَا فِي ذٰلِكَ الزَّمَانِ. إِنَّ أَدْنَى مَا يَكُونُ لَهُمْ مِنَ الثَّوَابِ أَنْ يُنَادِيَهُمُ الْبَارِئُ جَلَّ جَلَالُهُ فَيَقُولَ: عِبَادِي وَإِمَائِي، آمَنْتُمْ بِسِرِّي وَصَدَّقْتُمْ بِغَيْبِي، فَأَبْشِرُوا بِحُسْنِ الثَّوَابِ مِنِّي، فَأَنْتُمْ عِبَادِي وَإِمَائِي حَقًّا، مِنْكُمْ أَتَقَبَّلُ، وَعَنْكُمْ أَعْفُو، وَلَكُمْ أَغْفِرُ، وَبِكُمْ أَسْقِي عِبَادِيَ الْغَيْثَ، وَأَدْفَعُ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ، وَلَوْلَاكُمْ لَأَنْزَلْتُ عَلَيْهِمْ عَذَابِي.»

"Akan datang suatu zaman kepada manusia di mana Imam mereka ghaib (tersembunyi) dari mereka. Maka beruntunglah (sungguh berbahagialah) orang-orang yang tetap teguh di atas ajaran kami pada zaman itu. Pahala paling sedikit yang akan mereka dapatkan ialah Allah Yang Mahamulia akan menyeru mereka seraya berfirman: 'Wahai hamba-hamba-Ku, baik laki-laki maupun perempuan! Kalian telah beriman kepada rahasia-Ku dan membenarkan perkara gaib-Ku. Maka bergembiralah dengan balasan terbaik dari-Ku. Kalian benar-benar adalah hamba-hamba-Ku. Aku menerima seluruh amal kalian, memaafkan, dan mengampuni dosa-dosa kalian, serta demi kalianlah Aku memberikan nikmat kepada hamba-hamba-Ku yang lain dan memalingkan bencana dari mereka. Dan sekiranya bukan karena kalian, niscaya telah Aku kirimkan azab kepada mereka.'" (Kamāluddin wa Tamām an-Ni‘mah, jil. 1, hlm. 330)

Pembahasan ini berlanjut......

Diadaptasi dari buku Darsnāmeh-ye Mahdawiyyat karya Khodamurad Salimian, dengan sedikit penyuntingan.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha