Senin 20 Juli 2026 - 10:49
Kajian Mahdawiyah (41) | Manifestasi Kasih Sayang Imam Zaman 'alaihissalam

Hawzah/ Karena besarnya kasih sayang dan kecintaan Imam kepada para pengikutnya, beliau memiliki hubungan dan ikatan yang sangat erat dengan mereka. Berkat cinta dan kasih tersebut, beliau turut merasakan kesedihan dan penderitaan mereka. Keadaannya bagaikan seorang ibu yang, karena begitu besar cintanya kepada sang anak, ikut merasakan sakit ketika anaknya sakit. Sebaliknya, ketika anaknya sembuh dan bergembira, ia pun ikut merasakan kebahagiaan dan semangat. Sebab, bagi seorang ibu, anaknya adalah sosok yang sangat dicintai dan berharga, laksana belahan jiwanya sendiri.

Berita Hawzah – Rangkaian Kajian Mahdawiyah bertajuk "Menuju Peradaban yang Ideal" dipersembahkan kepada para pembaca budiman dengan tujuan menyebarluaskan ajaran dan makrifat yang berkaitan dengan Imam Zaman ajjalallahu ta'ala farajahu asy-syarif.

Pada pembahasan sebelumnya mengenai manfaat keberadaan Imam yang gaib, kita telah menjelaskan berbagai pengaruh eksistensi beliau, serta menerangkan bahwa keberlangsungan alam semesta dan keberlanjutan kehidupan seluruh makhluk bergantung pada keberadaan beliau. Dalam kesempatan ini, kita akan membahas beberapa manifestasi kasih sayang Imam yang gaib, yang tampak dalam berbagai bentuk. Dengan demikian, maka menjadi jelas bagi semua bahwa Imam yang penuh kebaikan dan kasih sayang, meskipun berada dalam masa kegaiban dan tersembunyi dari pandangan, tetap melimpahkan kasihnya ke seluruh penjuru. Sesuai dengan kesiapan dan kapasitas masing-masing, semua memperoleh bagian dari cinta beliau. Limpahan rahmat dan perhatian beliau bagaikan mata air yang memancar deras, mengalir tanpa henti dan terus-menerus.

Salah satu sifat paling utama dan mulia dari seorang mukmin adalah memiliki rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap saudara-saudaranya seiman. Orang-orang beriman dalam masyarakat Islam bagaikan satu tubuh. Kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh salah seorang di antara mereka akan dirasakan pula oleh yang lain, sementara kebahagiaan dan ketenteraman seorang mukmin juga akan membawa kegembiraan bagi yang lainnya. Hal ini karena, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, mereka adalah saudara.

Dalam berbagai riwayat, para Imam Maksum 'alaihimussalam mengungkapkan rasa empati, kepedulian, dan kesedihan mereka terhadap para pengikutnya. Perasaan mulia ini menjadi sumber ketenangan dan penghibur bagi hati para pecinta Ahlulbait. Selain itu, hal itu juga menjadi kekuatan batin yang memberi semangat kepada mereka dalam menghadapi berbagai pasang surut kehidupan, sekaligus memperkokoh kesabaran dan keteguhan mereka.

Imam Ali Ridha  'alaihissalam bersabda:

«مَا مِنْ أَحَدٍ مِنْ شِیعَتِنَا یمْرَضُ إِلَّا مَرِضْنَا لِمَرَضِهِ وَ لَا اغْتَمَّ إِلَّا اغْتَمَمْنَا لِغَمِّهِ وَ لَا یفْرَحُ إِلَّا فَرِحْنَا لِفَرَحِه‏»

"Tidak seorang pun dari pengikut (Syiah) kami yang jatuh sakit, melainkan kami turut merasakan sakit karena sakitnya. Tidak seorang pun yang ditimpa kesedihan, melainkan kami pun ikut bersedih karena kesedihannya. Dan tidak seorang pun yang bergembira, melainkan kami juga ikut bergembira karena kegembiraannya." (Bihār al-Anwār, jil. 65, hlm. 167)

Oleh karena itu, Imam, karena besarnya kasih sayang dan kecintaan beliau kepada para pengikutnya, memiliki hubungan dan ikatan yang paling erat dengan mereka. Karena cinta dan kasih itulah beliau turut merasakan kesedihan dan penderitaan mereka. Keadaan ini bagaikan seorang ibu yang, karena begitu besar cinta dan kedekatannya dengan sang anak, ikut merasakan sakit ketika anaknya jatuh sakit. Demikian pula, ketika anaknya sembuh dan bergembira, ia pun ikut merasakan kebahagiaan dan semangat. Sebab, bagi seorang ibu, anaknya begitu berharga dan dicintai, laksana belahan jiwanya sendiri. Imam Ja'far ash-Shadiq  'alaihissalam juga bersabda:

«وَ اللَّهِ إِنِّی أَرْحَمُ بِکُمْ مِنْ أَنْفُسِکُم‏»

"Demi Allah, sungguh aku lebih menyayangi kalian daripada kalian menyayangi diri kalian sendiri." (Baṣā'ir ad-Darajāt, hlm. 265)

Kesimpulannya, hakikat cinta Imam berbeda dengan segala bentuk cinta yang lain. Cinta beliau adalah cinta yang murni, tanpa pamrih, tanpa batas, dan tulus sepenuhnya. Cinta itu bukan sekadar terucap di lisan, melainkan bersemayam di dalam hati dan relung jiwa beliau yang paling dalam. Oleh karena itu, dengan segenap jiwa dan raga, beliau senantiasa terikat dengan para pengikutnya.

Salah satu contoh nyata dari rahmat Ilahi yang terpancar dalam diri suci Imam Zaman 'alaihissalam dijelaskan oleh beliau sendiri sebagai berikut:

«إِنَّهُ أُنْهِی إِلَی ارْتِیابُ جَمَاعَه مِنْکُمْ فِی الدِّینِ وَ مَا دَخَلَهُمْ مِنَ الشَّکِّ وَ الْحَیرَه فِی وُلَاه أَمْرِهِمْ فَغَمَّنَا ذَلِکَ لَکُمْ لَا لَنَا وَ سَأَوْنَا فِیکُمْ لَا فِینَا لِأَنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَلَا فَاقَه بِنَا إِلَی غَیرِه‏»

"Telah sampai kepadaku berita bahwa sebagian dari kalian telah dilanda keraguan dalam agama, dan hati mereka dipenuhi keraguan serta kebingungan terhadap para pemimpin urusan mereka. Hal itu membuat kami bersedih, bukan karena diri kami sendiri, melainkan demi kebaikan kalian. Kami merasa prihatin atas keadaan kalian, bukan atas diri kami. Sebab Allah senantiasa bersama kami, dan dengan kebersamaan-Nya kami tidak membutuhkan siapa pun selain Dia." (Bihār al-Anwār, jil. 53, hlm. 178)

Pembahasan ini akan berlanjut...

Diadaptasi dari buku Negin-e Āfarinesy (Permata Penciptaan), dengan sedikit penyuntingan.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha