Jumat 31 Juli 2026 - 02:48
Iran Tak Akan Beri Ampun Penyerang Mana Pun!

Hawzah / Ayatullah Jawadi Amuli selanjutnya, dengan merujuk pada ikatan mendalam bangsa Iran dengan budaya Asyura, menegaskan: "Negara dan bangsa kami adalah bangsa Husaini, dan semangat yang sama yang terpancar dalam gerakan Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as) saat ini juga hidup dan mengalir di tengah-tengah rakyat negeri ini."

Berita Hawzah – Ayatullah Jawadi Amuli, dalam pesan video untuk peringatan 398 syuhada angkatan darat yang mulia dari kota Hezar Sangar, Amol, dengan memuliakan kenangan semua syuhada, khususnya syuhada kota Amol, serta merujuk pada pribadi Syahid Amir Sarhang Sayyid Mas'ud Munfarid Niaki, menegaskan: "Syahid yang berkedudukan tinggi ini berasal dari keluarga Munfarid yang asli dan mulia, serta termasuk keturunan sayyid yang terhormat dari Amol. Ia adalah sosok yang berpikiran bebas, mandiri, dan dihormati oleh masyarakat. Setelah menempuh perjalanan ilmiah, ia bergabung dengan angkatan darat dan dalam tanggung jawab yang penting, akhirnya meraih anugerah agung syahadah (kesyahidan)."

Bangsa Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai agresi

Ayatullah Jawadi Amuli dengan menekankan bahwa budaya pengorbanan dan kesyahidan tidak hanya terbatas pada Amol atau wilayah utara negara, beliau menyatakan: "Bangsa Iran tidak pernah menjadi pihak yang memulai agresi, tetapi mereka juga tidak akan memberi ampun kepada penyerang mana pun. Masyarakat Amol, dalam epik abadi tahun 1981 (1360 HS), setelah dimulainya serangan musuh, dengan gagah berani mempertahankan kota mereka dan dengan mempersembahkan empat puluh syuhada, mereka menciptakan suatu kehormatan yang akan tetap abadi sepanjang sejarah negeri ini; suatu kehormatan yang juga disebutkan dalam wasiat ilahi-politik Imam Khomeini (ra)."

Ayatullah Jawadi Amuli, dengan merujuk pada sebuah riwayat dari Imam Shadiq (as) bahwa Rasulullah Saww tidak pernah melakukan serangan tiba-tiba kepada musuh, beliau menyatakan: "Kita adalah murid-murid dari mazhab ilahi yang tidak ada bandingannya dalam waktu dan tempat mana pun. Rasulullah Saww, meskipun musuh-musuh berupaya membunuh beliau, tidak pernah melakukan serangan tiba-tiba kepada mereka, karena Islam adalah agama keberanian dan kemuliaan, dan karena itu Islam menganjurkan bahwa meskipun kalian berperang melawan orang kafir, tetaplah berperang dengan cara yang terhormat dan jangan menjauhkan diri dari prinsip-prinsip kemanusiaan dan ilahi."

Kehadiran dan pengorbanan rakyat di medan-medan pembelaan terhadap revolusi dan negara

Ayatullah Jawadi Amuli menilai kehadiran dan pengorbanan rakyat di medan-medan pembelaan terhadap revolusi dan negara sebagai manifestasi dari pertolongan Ilahi, dan menegaskan: "Allah swt menghadirkan orang-orang beriman untuk menolong agama-Nya. Kebangkitan malam hari oleh rakyat, baik laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua, inilah yang dimaksud dalam firman-Nya: 'Dialah yang telah menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang beriman' (QS. Al-Anfal: 62). Dialah yang menggerakkan manusia, dan kehadiran di medan perjuangan ini adalah perwujudan dari janji Ilahi tersebut."

Beliau selanjutnya, dengan menjelaskan sikap Amirul Mukminin Ali (as) di medan-medan peperangan, menyatakan: "Beliau dalam semua peperangan, selama memungkinkan, dengan berdialog, bermusyawarah, dan saling mengirim utusan, menunda dimulainya pertempuran agar peperangan tidak dimulai sejak jam-jam pertama siang; sehingga tersedia kesempatan untuk memberi petunjuk kepada hati-hati dan mengambil manfaat dari jam rahmat Ilahi pada waktu zuhur. Di sisi lain, dengan mendekatnya malam, beliau mencegah meluasnya pertumpahan darah dan meningkatnya korban, kecuali jika musuhlah yang memulai serangan dan keharusan membela diri mengharuskannya."

Ikatan Mendalam Bangsa Iran dengan Budaya Asyura

Ayatullah Jawadi Amuli selanjutnya, dengan merujuk pada ikatan mendalam bangsa Iran dengan budaya Asyura, menegaskan: "Negara dan bangsa kami adalah bangsa Husaini, dan semangat yang sama yang terpancar dalam gerakan Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as) saat ini juga hidup dan mengalir di tengah-tengah rakyat negeri ini."

Beliau, dengan menjelaskan sikap Imam Husain (as) pada hari Asyura, menganggap pengorbanan Sa'id bin Abdullah al-Hanafi sebagai contoh abadi dari kesetiaan kepada kepemimpinan dan pembelaan terhadap kebenaran, dan menambahkan: "Rahasia keabadian gerakan Asyura adalah keikhlasan dan pengorbanan jiwa para sahabat Sayyid asy-Syuhada (as), dan budaya inilah yang saat ini menghimpun para peziarah Arba'in yang tak terhitung jumlahnya."

Penghargaan atas Kehadiran Rakyat di Medan Perjuangan 

Ayatullah Jawadi Amuli selanjutnya, dengan menyampaikan penghargaan atas kehadiran rakyat di medan perjuangan, menyatakan: "Kami berterima kasih kepada para pembesar, orang-orang terkasih, saudara-saudara, saudari-saudari, putri-putri, dan anak-anak, dari setiap pribadi di antara kalian yang telah menjaga medan perjuangan. Kami juga menghargai para pejabat yang telah memelihara pertempuran ini."

Rindu pada Persahabatan 70 Tahun dengan Pemimpin Syahid Revolusi

Beliau selanjutnya, dengan merujuk pada sejarah persahabatan tujuh puluh tahunnya dengan Pemimpin Syahid (Sayyid Ali Khamenei), sambil menahan tangis, menyatakan: "Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemimpin Tertinggi dan kami mendoakan syahid kami (Sayyid Ali Khamenei). Teman tercinta saya ini, sejak awal kedatangan saha, yaitu sejak tujuh puluh tahun lalu ketika saya masuk ke Qom —meskipun ada sedikit perbedaan usia— saya berteman dengan tokoh agung dan mulia ini hingga sekarang. Persahabatan 70 tahun bukanlah hal yang sedikit. Kehilangan teman 70 tahun, itu bukan perkara kecil."

Penekanan pada Menjaga Keamanan, Ketenangan, dan Persatuan Nasional

Beliau menyebutkan menjaga keamanan, ketenangan, dan persatuan nasional sebagai kebutuhan terpenting negara, dan menegaskan: "Jangan sampai —semoga Allah melindungi— kita menempuh jalan yang tidak diridhai Allah. Jangan sekali-kali biarkan ucapan-ucapan yang tidak menyenangkan keluar dari bibir kalian. Karena itu, jika ada pendapat atau usulan, sampaikanlah dalam suasana yang bersahabat. Biarkan negeri ini dijalankan seratus persen dalam ketenangan dan keamanan, agar kita dapat menyerahkan sistem Islam ini kepada pemilik sebenarnya."

Di akhir, beliau mendoakan semua syuhada Islam dan khususnya Pemimpin Syahid (Sayyid Ali Khamenei) agar mendapat derajat tertinggi, serta memohon kepada Allah Swt agar semua syuhada di seluruh Iran, khususnya syuhada Minab, dikumpulkan bersama Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as), dan agar para ibu serta keluarga mereka dilimpahi dengan karunia dan perhatian khusus dari-Nya.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha