Rabu 22 Juli 2026 - 10:14
Kajian Mahdawiyah (43) | Kedudukan Penantian (Intizhar al-Faraj) dalam Budaya dan Akidah Syiah (Part 2)

Hawzah/ Ajaran agama, di samping menerangkan keutamaan "kelapangan (faraj) yang menyuluruh" dan menumbuhkan harapan akan masa depan serta mengarahkan manusia kepada sikap optimis, tetapi juga mengecam dan mengutuk keputusasaan.

Berita Hawzah – Rangkaian Kajian Mahdawiyah bertajuk "Menuju Peradaban yang Ideal" dipersembahkan kepada para pembaca budiman dengan tujuan menyebarluaskan ajaran dan makrifat yang berkaitan dengan Imam Zaman ajjalallahu ta'ala farajahu asy-syarif.

Dalam kajian singkat terhadap riwayat-riwayat yang membahas tentang intizhar al-faraj (penantian), riwayat-riwayat tersebut secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok:

Intizhar al-Faraj dalam Pengertian Umum

Dalam pengertian ini, ajaran agama, di samping menerangkan keutamaan "kelapangan (faraj) yang menyuluruh" dan menumbuhkan harapan akan masa depan serta mengarahkan manusia kepada sikap optimis, tetapi juga mengecam dan mengutuk keputusasaan.

Perhatian ajaran Islam terhadap pentingnya makna umum dari penantian dan harapan begitu besar sehingga konsep ini disebut dengan gelar-gelar yang sangat mulia dan disertai penjelasan tentang berbagai keutamaan yang luar biasa. Beberapa di antaranya akan dijelaskan berikut ini.

1). Ibadah dan Penghambaan kepada Allah

Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah.

«وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِیَعْبُدُونِ»


"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (Yakni, melalui ibadah itu mereka menyempurnakan diri dan mendekatkan diri kepada-Ku.) (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56)


Rasulullah Saww. menyebut menantikan datangnya faraj sebagai salah satu wujud penghambaan kepada Allah. Beliau bersabda:

«اِنتِظارُ الفَرَجِ عِبَادَةٌ»

"Menantikan datangnya faraj adalah ibadah." (Syaikh ath-Thusi, Al-Amālī, hlm. 405)

Karena sebagian besar dari bentuk ibadah terwujud dalam perilaku dan tindakan manusia, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan intizhar (penantian) dalam hadis ini bukan sekadar menunggu secara pasif, melainkan mencakup serangkaian sikap dan perilaku nyata yang mencerminkan kesiapan serta komitmen dalam menyongsong datangnya faraj.

2). Ibadah Terbaik

Sebagian bentuk ibadah memiliki keutamaan yang lebih tinggi daripada ibadah lainnya. Oleh karena itu, selain sangat dianjurkan dalam ajaran agama, ibadah-ibadah tersebut juga memiliki pahala yang lebih besar serta pengaruh yang lebih mendalam dalam membentuk dan menyempurnakan kepribadian manusia.
Setelah menyatakan bahwa intizhar al-faraj (menantikan datangnya al-Faraj) termasuk ibadah kepada Allah, Rasulullah Sawww juga menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan salah satu ibadah yang paling utama. Beliau bersabda:

«اَفضَلُ العِبادَةِ اِنتِظارُ الفَرَجِ»

"Ibadah yang paling utama adalah menantikan datangnya faraj." (Kamāluddin wa Tamām an-Ni‘mah, jil. 1, hlm. 287)

4). Amal yang Paling Utama

Dalam riwayat lain, intizhar al-faraj bahkan disebut sebagai amal yang paling utama di kalangan umat Nabi Muhammad Sawww. Rasulullah Sawww, bersabda:

«اَفْضَلُ اَعْمالِ اُمَّتِی اِنتظارُ الفَرَجِ مِنَ اللَّهِ عَزَّوَجَلَّ»

"Amal yang paling utama bagi umatku adalah menantikan datangnya faraj dari Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung." (Kamāl ad-Dīn wa Tamām an-Ni‘mah, jil. 2, hlm. 644)

5). Penantian Itu Sendiri Merupakan Faraj (Kelapangan)

Saat ini, ilmu psikologi telah membuktikan harapan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk perilaku sosial manusia. Dengan kata lain, menantikan masa depan yang cerah dan dipenuhi harapan menjadikan kehidupan seseorang pada masa kini lebih bermakna, penuh semangat, dan dinamis.
Dalam beberapa riwayat tentang intizhar al-faraj, dijelaskan sebuah hakikat yang sangat berharga, yaitu penantian terhadap datangnya faraj itu sendiri merupakan suatu bentuk dari faraj (kelapangan).

Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad alaihissalam, bersabda:

«اِنتِظارُ الفَرَجِ مِنْ اَعظَمِ الفَرَجِ»

"Menantikan datangnya faraj merupakan salah satu bentuk faraj (kelapangan) yang paling agung." (Kamāluddīn wa Tamām an-Ni‘mah, jil. 1, hlm. 319)

6). Jihad yang Paling Utama

Dalam ajaran Islam, jihad dan perjuangan di jalan Allah merupakan salah satu amal yang paling penting, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial seorang Muslim. Banyak ayat Al-Qur'an dan riwayat dari para Imam Maksum alaihimussalam yang menegaskan nilai luhur perjuangan tersebut.

Selain berbagai keutamaan yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula sejumlah riwayat yang menyebut intizhar al-faraj sebagai jihad yang paling utama. Riwayat-riwayat ini semakin menegaskan bahwa intizhar bukanlah sikap pasif, melainkan suatu amal dan perjuangan yang nyata. Rasulullah Sawww, bersabda:

«اَفْضَلُ جِهادِ اُمَّتی اِنْتِظارُ الفَرَجِ»

"Jihad yang paling utama bagi umatku adalah menantikan datangnya faraj." (Tuhaf al-'Uqūl, hlm. 37)

Sebaliknya, ajaran-ajaran agama sangat mencela sikap putus asa dan kehilangan harapan terhadap rahmat Allah. Bahkan, keputusasaan dari rahmat-Nya termasuk salah satu dosa besar, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an (QS. Yusuf [12]: 87).

Pembahasan ini akan berlanjut...

Diadaptasi dari buku Darsnāmeh-ye Mahdawiyyat karya Khodamurad Salimian, dengan sedikit penyuntingan.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha