Berita Hawzah – Pesan terbaru Pemimpin Tertinggi Revolusi Sayyid Mujtaba Khamenei hf mengandung lapisan-lapisan strategis yang mendalam, terutama karena penekanan khusus beliau mengenai "kehendak rakyat" dan sifat "pasti" dari tuntutan balas darah serta pembalasan atas darah suci pemimpin syahid dan seluruh syuhada dalam dua perang yang dipaksakan (perang dua belas hari dan perang empat puluh hari), pada hakikatnya di dalamnya terkandung hal yang sungguh memberi harapan sekaligus membangkitkan kesadaran. Lebih dari itu, pesan ini juga menunjukkan bahwa keteguhan dan perlawanan terhadap pihak asing dan para penjajah, bukanlah reaksi sesaat atau keputusan pribadi, melainkan jalan lurus yang telah digariskan oleh Imam dan pemimpin syahid kita, dan umat yang dibangkitkan serta para penuntut darah, berkomitmen untuk menempuhnya.
Tuntutan Balas Darah Imam Syahid; Faktor Pemersatu
Sayyid Abdullah Motavalian, jurnalis dan aktivis media, berpendapat dalam hal ini bahwa terwujudnya pesan tersebut, pertama-tama, akan memperkuat persatuan dan kohesi nasional. Terlebih lagi, kehadiran masyarakat yang sangat luas dan mematahkan musuh dalam beberapa hari terakhir pada acara perpisahan dan pemakaman telah membuktikan bahwa bangsa kita, di sekitar poros nilai-nilai madrasah Husaini serta cita-cita nasional dan revolusioner mereka, berada dalam kondisi kohesi yang terbaik.
Ia menambahkan: Di sisi lain, hal yang sama ini memberikan peringatan kepada para musuh bahwa para penjahat "akan membawa harapan untuk mati dengan tenang bersama mereka ke liang lahat." Peringatan ini berakar pada sejarah Syiah. Dari Karbala hingga hari ini, darah orang-orang terzalimi menggerakkan umat. Selain itu, pesan Pemimpin Agung Revolusi juga menjelaskan strategi perlawanan. Karena janji untuk menjaga ajaran syahid, ketabahan dalam kesulitan, dan berpegang pada janji-janji ilahi, merupakan peta jalan yang jelas bagi generasi baru. Dan poin yang penting adalah bahwa pesan ini juga memberikan perhatian pada kohesi dan persatuan umat Islam melampaui batas-batas wilayah.
Kemenangan dan Kejayaan Akhir Ada di Depan Mata
Ia juga mengatakan: Musuh yang keji dan agresor yang telah muncul dengan aksi teror, sanksi, dan penghinaan, kini justru terkepung oleh kemurkaan suci yang meliputi puluhan juta pecinta yang ikut dalam prosesi pemakaman hingga seluruh orang merdeka di dunia. Dalam hal ini, perlu diperhatikan bahwa pesan Pemimpin Agung Revolusi adalah pembacaan ulang peristiwa Asyura dalam wujud Iran Islam saat ini; sebagaimana kebangkitan Sayyid asy-Syuhada (Imam Husain as) setelah syahidnya menaklukkan dunia, darah "Imam Syahid Iran" pun akan mewujudkan kemenangan akhir.
Motavalian mengemukakan: Sesungguhnya perlu diperhatikan bahwa pembalasan yang pasti ini, bukanlah ancaman, melainkan kabar gembira bagi kaum mustad'afin (tertindas) dan peringatan tanpa henti bagi para pembunuh yang tak punya malu, yang kini harus setiap pagi mendengar gema "Ya Litsaratil al-Khamenei" di atas buaian kekuasaan mereka yang goyah. Hendaknya musuh-musuh mengetahui bahwa bangsa ini, dengan kehadiran heroik dan janji yang teguh, akan mewujudkan kemenangan yang segera (fatḥ qarib).
Keharusan Tindak Lanjut Serius atas Tuntutan Pemimpin Syahid
Muhammad Maisam Nadafpur juga menyampaikan pendapatnya sebagai berikut: Dalam satu dekade terakhir, Pemimpin Syahid Revolusi Islam berulang kali dalam pertemuan dengan para pejabat badan peradilan menekankan bahwa Republik Islam Iran tidak boleh puas dengan kecaman-kecaman politik dan media, melainkan perlu memanfaatkan seluruh kapasitas hukum domestik dan internasional untuk menuntut para pelaku kejahatan serta menegakkan hak-hak rakyat. Beliau dalam salah satu pertemuan tersebut secara tegas menyatakan bahwa dalam beberapa kasus di masa lalu telah terjadi kelalaian, dan tindak lanjut hukum harus dilakukan dengan serius. Kini setelah beliau sendiri menjadi korban dari kejahatan terbesar terhadap kedaulatan nasional, kesetiaan terhadap tuntutan tersebut menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Anggota dewan ilmiah Pusat Penelitian Kajian Strategis ini juga menambahkan: Tentu saja di tengah hal ini, mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa tindak lanjut hukum atas kejahatan internasional adalah tindakan seremonial dan tidak membuahkan hasil, karena proses ini mungkin memakan waktu bertahun-tahun dan tidak berujung pada penghukuman para pelaku. Namun, pemahaman ini memberikan gambaran yang keliru tentang peran hukum internasional. Dalam sistem internasional, tindak lanjut hukum tidak semata-mata untuk menjatuhkan vonis, melainkan merupakan bagian dari alat-alat pelaksanaan kekuasaan, pertahanan kepentingan nasional, dan pencegahan terbentuknya praktik-praktik berbahaya. Sudah tentu, setiap tindakan yang tidak mendapat respons hukum akan lambat laun menjadi kebiasaan dan kemungkinan pengulangannya terhadap negara-negara lain akan meningkat.
Membangun Konsensus Internasional Melawan Pembunuh Pemimpin dan Para Syuhada Iran
Ia juga mengatakan: Di sisi lain, jika kita memaknai pembalasan sebagai pengembalian biaya kejahatan kepada pelakunya, maka tujuan ini tidak hanya dapat dicapai dengan alat militer, karena hukum juga merupakan senjata yang efektif di tangan negara-negara. Mengajukan pengaduan, menggugat, mendokumentasikan, membangun konsensus internasional, dan meningkatkan biaya politik serta hukum para pelaku, adalah wujud-wujud dari pembalasan hukum yang berlandaskan keadilan dan supremasi hukum, dan dapat mencegah perilaku kriminal dilegitimasi.
Nadafpur mengemukakan: Pentingnya pendekatan ini berdampak langsung pada keamanan nasional. Sebuah kaidah yang dikenal dalam kebijakan kriminal adalah bahwa impunitas (kekebalan dari hukuman) menyediakan lahan bagi terulangnya kejahatan. Kaidah ini juga berlaku dalam hubungan internasional. Jika negara pelaku merasa bahwa tindakannya tidak akan menimbulkan biaya hukum dan politik yang signifikan, maka motivasi untuk mengulanginya akan meningkat. Selain itu, pejabat tinggi negara mungkin, untuk mengurangi risiko, akan membarengi kinerja mereka dengan pembatasan keamanan yang lebih ketat. Oleh karena itu, tindak lanjut hukum, di samping sebagai tuntutan keadilan, juga merupakan bagian dari mekanisme pencegahan nasional.
Diamnya Kita Akan Menyebabkan Normalisasi Kejahatan
Ia menambahkan: Dampak internasional dari tindak lanjut ini sama pentingnya dengan dampak domestiknya. Hukum internasional, berbeda dengan anggapan umum, bukanlah sekumpulan aturan yang statis; sebagian besarnya terbentuk sebagai hasil dari tindakan negara-negara dan tuntutan yang berkelanjutan. Dalam kondisi di mana ketidakefektifan beberapa mekanisme tradisional hukum internasional telah terbukti, tindakan aktif Republik Islam Iran, terutama di era pasca-perang, dapat berperan dalam mendefinisikan ulang dan membentuk tatanan yang lebih adil. Selain itu, bagaimanapun juga, diam di hadapan teror terhadap pejabat tertinggi negara akan memfasilitasi normalisasi perilaku ini dan melemahkan salah satu pilar tatanan hukum internasional.
Di bagian akhir pernyataannya, dengan menyatakan bahwa tidak diragukan lagi menindaklanjuti kasus semacam ini memerlukan strategi nasional yang koheren, ia mengatakan: Dalam hal ini, kita sangat membutuhkan koordinasi antara otoritas hukum, aparat diplomasi, lembaga media, dan sektor-sektor budaya, disertai dengan keberlanjutan tuntutan dan dokumentasi yang akurat. Jika kejahatan ini dibiarkan tanpa tindak lanjut yang efektif, impunitas akan menguat, keamanan nasional Iran akan menghadapi lebih banyak risiko, dan normalisasi teror terhadap para pemimpin negara akan semakin mantap. Namun jika jalur tindak lanjut ditempuh dengan kesabaran, perencanaan, dan dukungan hukum, maka pembalasan darah pemimpin syahid tidak hanya di medan perang, tetapi juga di ranah hukum akan menjadi tuntutan yang abadi.
Komentar Anda