Berita Hawzah – Acara khusus bagi para santri India diselenggarakan di Sekolah Hujjatiyah, Qom, dengan dihadiri oleh sejumlah ulama dan rohaniwan India yang bermukim di Qom. Dalam acara tersebut, Hujjatul Islam wal Muslimin Abdulmajid Hakim illahi, Perwakilan Wali Fakih di India, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kesuksesan setiap individu, lembaga, atau pusat keilmuan bergantung pada perhatian terhadap tiga prinsip dasar. Beliau mengatakan: "Pertama, kita harus mengenali dengan baik kapasitas, potensi, dan warisan berharga yang kita miliki; kedua, mengidentifikasi tantangan dan hambatan yang ada di depan; dan ketiga, dengan berlandaskan pada keduanya, menyusun program yang komprehensif dan terarah untuk masa depan."
Perwakilan Wali Fakih untuk India selanjutnya, dalam sambutannya, merujuk pada kedudukan luhur hawzah ilmiyah (lembaga pendidikan Islam) dan mazhab Ahlulbait (as), beliau menyatakan: "Para pengikut mazhab ini memiliki khazanah keilmuan dan spiritual yang sangat besar, yang jarang ditemukan padanannya di mazhab lain. Warisan berharga ini dimulai dari Baginda Nabi Muhammad Mustafa (Saww), diteruskan melalui Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as), para Imam Maksumin (as), dan selama berabad-abad upaya para fukaha dan cendekiawan besar hingga sampai ke Hawzah Ilmiyah Qom."
Beliau mengenang nama-nama besar seperti Syekh Thusi, Syekh Mufid, Syekh Shaduq, Allamah Hilli, Khwajah Nashiruddin Thusi, Shahib Jawahir, Syekh Azham Ansari, Akhund Khurasani, Imam Khomeini (ra), Pemimpin Besar Revolusi Islam [Ayatullah Sayyid Ali Khamenei], Syahid Murtadha Muthahhari, dan Syahid Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Shadr, dan menyebut mereka sebagai sebagian dari khazanah keilmuan yang paling menonjol serta kebanggaan dunia Syiah.
Hujjatul Islam wal Muslimin Hakim illahi juga menyebutkan karya-karya berharga seperti Nahjul Balaghah, Shahifah Sajjadiyyah, Al-Kafi, Al-Istibshar, Al-Khilaf, Al-Asfar al-Arba'ah, Jawahir al-Kalam, Bihar al-Anwar, dan Wasa'il asy-Syiah. Beliau menilai karya-karya ini sebagai bukti keluasan dan kekayaan warisan ilmiah mazhab Ahlulbait (as).
Beliau menekankan bahwa sebagaimana setiap negara sebelum memasuki medan pertempuran mengevaluasi kemampuan dan sarana yang dimilikinya, para pelaku di bidang agama, ilmu, dan dakwah juga harus terlebih dahulu mengenali dengan baik khazanah keilmuan dan spiritual mereka. Beliau berkata kepada para santri India: "Kalian adalah pewaris sejarah yang penuh kehormatan dan masa lalu yang gemilang. Karena itu, di samping bangga akan warisan ini, kalian juga memiliki tanggung jawab untuk menjaganya, memperkuatnya, dan mewariskannya kepada generasi mendatang."
Perwakilan Wali Fakih di India di akhir sambutannya mengingatkan: "Mengandalkan kebanggaan masa lalu saja tidak cukup untuk meraih kesuksesan, tetapi juga diperlukan pemahaman yang mendalam tentang masalah-masalah, kelemahan, dan hambatan yang ada. Seorang mukmin tidak pernah putus asa, melainkan dengan penuh harapan, usaha yang berkesinambungan, perencanaan yang benar, dan tawakal kepada Allah, ia menempuh jalan kemajuan dan kesuksesan."
Dalam kelanjutan acara tersebut, Hujjatul Islam wal Muslimin Kamal Husaini, perwakilan Al-Mustafa International University di India, dalam sambutannya mengutip ajaran-ajaran Al-Qur'an al-Karim dan memaparkan ciri-ciri seorang santri teladan. Beliau menyatakan: "Seorang santri yang melangkah di jalan persiapan untuk munculnya Imam Mahdi (as) – semoga Allah menyegerakan kemunculannya – harus memiliki semangat kerja keras, dinamika dan perjuangan yang berkesinambungan, serta menjauhi kelemahan, kemandekan, dan rutinitas yang membosankan. Santri seperti ini hendaknya selalu aktif dalam bidang ilmu, penelitian, dan pelayanan, karena berdasarkan ajaran Nabi Besar Muhammad (Saww), usaha dan kerja keras adalah landasan kesuksesan manusia."
Perwakilan Al-Mustafa International University di India menyatakan bahwa mempelajari kehidupan dan sirah para ulama besar dapat memperkuat tekad, motivasi, dan semangat juang. Beliau mengutip sebuah kisah dari kehidupan Allamah Hilli (ra) dan mengatakan: "Ulama besar itu, demi membela mazhab Ahlulbait (as) dan menjawab berbagai keraguan, siang malam melakukan riset dan penulisan dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab. Semangat inilah yang menjadi rahasia keabadian dan kesuksesan para ulama agama."
Beliau menekankan bahwa tujuan akhir dari segala upaya seorang santri haruslah meraih ridha Ilahi, karena ketika seseorang melangkah di jalan Allah dengan ikhlas, maka limpahan karunia, petunjuk, dan pertolongan Allah akan menyertai dirinya.
Hujjatul Islam wal Muslimin Kamal Husaini selanjutnya mengajak para santri India untuk kembali ke negara mereka setelah menyelesaikan studi. Beliau mengatakan: "Masyarakat India haus akan ajaran-ajaran Islam yang murni dan nilai-nilai Ahlulbait (as). Mereka berharap agar para santri, setelah memperoleh ilmu dan spiritualitas, dapat mengabdi kepada masyarakat, pusat-pusat keagamaan, dan rakyat di negaranya sendiri."
Beliau menambahkan: "Sebagaimana para nabi Ilahi, dengan mengandalkan ilmu, pengetahuan, dan modal spiritual, mampu membimbing masyarakat, maka saat ini pula para mubaligh dan ulama agama, di samping ilmu keagamaan, harus meningkatkan kemampuan ilmiah, budaya, dan praktis mereka."
Perwakilan Al-Mustafa International University di India juga meminta para santri untuk memanfaatkan kapasitas pendidikan dan pembinaan yang ada di kota suci Qom, dan di samping mempelajari ilmu-ilmu agama, juga menguasai keterampilan dakwah, sosial, dan komunikasi, sehingga setelah kembali ke tanah air, mereka dapat berdakwah dan mengabdi kepada masyarakat dengan pengaruh yang lebih besar.
Di bagian lain sambutannya, beliau menekankan pentingnya penguatan dan pengembangan hawzah-hawzah ilmiyah di India, dan mengatakan: "India memiliki sejarah yang gemilang dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk menghidupkan kembali posisi keilmuan hawzah-hawzah di negara ini, dengan mengenali warisan berharga tersebut, mengkaji secara cermat kondisi saat ini, dan melakukan perencanaan yang tepat."
Di akhir acara, para pembicara mendoakan kesuksesan, kemajuan ilmiah, dan keberhasilan yang terus meningkat bagi para santri India, serta menyatakan harapan bahwa dengan keikhlasan, usaha, persatuan, dan perencanaan yang benar, akan tercipta perluasan yang lebih besar lagi bagi kegiatan-kegiatan ilmiah, budaya, dan dakwah mazhab Ahlulbait (as) di India.
Komentar Anda