Berita Hawzah – Ayatullah Sayyid Ahmad Khatami dalam acara peringatan pemimpin syahid Revolusi Islam yang digelar pada Minggu malam di Haram Suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah —semoga salam Allah tercurah kepadanya— dengan merujuk pada dimensi luas upacara pemakaman dan tasyyi jenazah suci Imam Syahid, menyatakan: "Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an yang mulia: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa kasih sayang (di hati manusia) untuk mereka." (QS. Maryam: 96). Apa yang terjadi dalam prosesi pemakaman di Iran serta upacara pengiringan Jenazah Suci di Irak, menurut pandangan banyak media dan pengamat dunia, merupakan pemakaman terbesar dalam sejarah dan pertemuan rakyat terbesar di abad ini."
Liputan Luas atas Kehadiran Rakyat di Media Dunia
Anggota Fuqaha Dewan Pengawas (Iran), dengan menyatakan bahwa liputan acara ini secara luas tercermin di media internasional, menambahkan: "Banyak media asing menyebut kehadiran luas rakyat dalam upacara pemakaman ini sebagai referendum terbesar Republik Islam Iran; kehadiran yang menggambarkan dukungan dan kebersamaan luas rakyat dengan sistem Republik Islam dan cita-cita Revolusi Islam."
Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan (Majlis Khobregan) melanjutkan: "Bahkan statistik minimum yang dirilis dari berbagai sumber menunjukkan kehadiran jutaan orang dalam upacara pemakaman ini, dan angka-angka tersebut hanya menggambarkan sebagian dari dimensi nyata dari kehadiran langka ini."
Kehadiran Jutaan Rakyat Irak di Najaf dan Karbala
Imam Jumat Sementara Tehran, merujuk pada upacara pengiringan pemimpin syahid di Irak, juga mengatakan: "Jutaan orang dari negara tersebut di kota-kota suci Najaf dan Karbala hadir dalam upacara pengiringan Imam Syahid, dan menampilkan pemandangan langka tentang solidaritas dan pengabdian mereka."
Pengakuan Media Barat atas Kepadatan Massa yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Anggota Jamiah Modarresin (Asosiasi Pengajar) Hawzah Ilmiyah Qom, melanjutkan dengan merujuk pada liputan acara ini di media Barat, menyatakan: "Banyak media Barat juga melaporkan kepadatan massa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tehran dan kota-kota lain di Iran, dan menyoroti luasnya kehadiran rakyat ini. Kehadiran rakyat yang penuh semangat dan luas dalam upacara pemakaman dan pengiringan jenazah pemimpin syahid merupakan realitas yang nyata yang bahkan para penentang Republik Islam Iran pun tidak dapat menyangkal atau mengabaikannya."
Popularitas Pemimpin Syahid, Cermin Terwujudnya Janji Ilahi kepada Ahli Iman dan Amal Saleh
Ayatullah Khatami, merujuk pada kedudukan istimewa dan popularitas luas pemimpin syahid, menyatakan: "Pertanyaan mendasarnya adalah, apa rahasia di balik popularitas langka ini, dan bagaimana seorang tokoh mampu mencapai kedudukan seperti itu di hati rakyat? Jawaban atas pertanyaan ini harus dicari dalam ajaran-ajaran Al-Qur'an yang bercahaya."
Beliau menambahkan: "Allah SWT dalam Surah Maryam yang diberkahi telah berjanji bahwa iman yang sejati dan amal saleh akan menimbulkan rasa cinta dan penerimaan sejati di hati manusia. 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan rasa kasih sayang (di hati manusia) untuk mereka.' (QS. Maryam: 96). Pemimpin syahid adalah perwujudan nyata dan jelas dari janji ilahi ini; sosok yang dengan iman yang teguh, keikhlasan dalam beramal, dan komitmen terhadap nilai-nilai ilahi, mampu menanamkan rasa cintanya di hati jutaan manusia."
Iman yang Teguh kepada Janji-Janji Ilahi, Rahasia Keteguhan Pemimpin Syahid
Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan (Majlis Khobregan) dengan menekankan karakteristik kepribadian pemimpin syahid menegaskan: "Syahid yang mulia itu dengan segenap jiwanya beriman kepada janji-janji ilahi, dan bahkan dalam kondisi yang paling sulit dan rumit sekalipun, beliau tidak pernah ragu atau putus asa. Dengan bertawakal kepada Allah SWT dan kepercayaan penuh kepada pertolongan ilahi, beliau selalu melihat masa depan Revolusi Islam dan Iran lebih cerah, lebih penuh harapan, dan lebih berwibawa daripada masa lalu."
Beliau melanjutkan: "Keyakinan mendalam kepada pertolongan-pertolongan ilahi, kepercayaan penuh kepada janji-janji Allah, dan pandangan tauhid dalam seluruh aspek kehidupan pribadi, sosial, dan manajerial, merupakan indikator kepribadian terpenting dari pemimpin syahid; karakteristik-karakteristik yang menjadi landasan bagi popularitas luas dan abadi beliau di antara berbagai lapisan masyarakat, dan Allah menanamkan rasa cinta kepada beliau di hati jutaan manusia."
Penguatan Fondasi Sistem, Cermin Paling Menonjol dari Amal Saleh
Anggota Fuqaha Dewan Pengawas (Iran), dengan menyatakan bahwa amal saleh pemimpin syahid memiliki dimensi yang luas, mengemukakan: "Tindakan dan pelayanan beliau tidak terbatas hanya pada pembangunan pusat-pusat keagamaan, dukungan terhadap hawzah-hawzah ilmiyah, atau kegiatan-kegiatan budaya, tetapi yang terpenting dan paling abadi dari tindakan beliau adalah upaya untuk memperkokoh dan memperkuat fondasi sistem Republik Islam di berbagai bidang budaya, ekonomi, politik, dan pertahanan."
Beliau melanjutkan dengan menekankan: "Imam Syahid dengan pandangan yang komprehensif dan penuh tanggung jawab, senantiasa melangkah di jalur penguatan kewibawaan, kemajuan, dan stabilitas negara, dan menganggap pelayanan kepada sistem Islam dan rakyat sebagai tugas terpentingnya."
Mencintai Rakyat (Kerakyatan); Rahasia Keabadian Tokoh-Tokoh Besar
Ayatullah Khatami, di bagian lain dari pidatonya dengan merujuk pada ajaran-ajaran Nahjul Balaghah, menyatakan: "Amirul Mukminin, Imam Ali (as), dalam Nahjul Balaghah, menjadikan kecintaan kepada rakyat dan hubungan yang akrab dengan masyarakat sebagai salah satu faktor terpenting dalam keabadian tokoh-tokoh besar. Imam Ali (as) bersabda: 'Bergaulah dengan manusia sedemikian rupa sehingga jika engkau mati, mereka menangisimu, dan jika engkau hidup, mereka merindukanmu (dan menunjukkan kasih sayang kepadamu).'"
Beliau menambahkan: "Pemimpin syahid pun menjadikan sirah Alawi ini sebagai pedoman dalam perilaku dan kepemimpinannya, dan dengan jiwa kerakyatan, kerendahan hati, perhatian terhadap tuntutan rakyat, dan hubungan dekat dengan berbagai lapisan masyarakat, beliau menampilkan teladan tentang kecintaan kepada rakyat yang berbasis pada ajaran-ajaran Islam; pendekatan yang di samping iman, keikhlasan, dan amal saleh, menjadikan kedudukan istimewa dan abadi beliau di mata publik semakin kokoh."
Ikatan Mendalam Pemimpin Syahid dengan Rakyat
Ayatullah Khatami, dengan merujuk pada karakteristik kepribadian dan perilaku sosial pemimpin syahid, menjadikan sikap kerakyatan sebagai salah satu dimensi paling menonjol dari kepribadian beliau, dan menyatakan: "Kehadiran terus-menerus di tengah berbagai lapisan masyarakat, bertemu dengan keluarga besar para syuhada, melakukan berbagai perjalanan ke berbagai provinsi di tanah air, menangani situasi di daerah-daerah tertimpa musibah, dan mendampingi rakyat dalam berbagai kesempatan, baik suka maupun duka, merupakan manifestasi terpenting dari semangat kerakyatan ini."
Guru besar mata kuliah Bahs Al-Kharij di Hawzah Ilmiyah Qom menambahkan: "Pemimpin syahid selama bertahun-tahun menjabat dan memimpin, telah bertemu dan berdialog dengan ribuan keluarga syuhada, dan senantiasa berupaya menjaga hubungan yang langsung, tulus, dan berkesinambungan dengan rakyat. Beliau memandang dirinya berada di sisi rakyat, dan hubungan dekat serta tanpa perantara ini melahirkan ikatan yang mendalam antara pemimpin syahid dan segenap bangsa; ikatan yang merupakan modal berharga untuk memperkuat kepercayaan publik dan kohesi nasional."
Upacara Pemakaman, Simbol Ikatan Emosional Bangsa dengan Imam Syahid
Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan (Majlis Khobregan), dengan merujuk pada kehadiran luas rakyat dalam upacara-upacara pengiringan jenazah pemimpin syahid, menegaskan: "Air mata, ungkapan perasaan, dan duka cita luas rakyat dalam upacara pemakaman dan pengiringan jenazah merupakan cermin jelas dari ikatan emosional, spiritual, dan keyakinan yang mendalam antara umat dan pemimpin. Kehadiran penuh semangat dari berbagai lapisan masyarakat dalam upacara ini menunjukkan bahwa pemimpin syahid memiliki kedudukan istimewa di hati bangsa Iran, dan nama serta ingatan beliau akan tetap abadi dalam memori sejarah rakyat."
Tuntutan Balas Dendam, Salah Satu Pesan Menonjol dari Upacara Pemakaman
Beliau melanjutkan dengan merujuk pada pesan-pesan dari upacara pemakaman pemimpin syahid, mengemukakan: "Salah satu pesan paling menonjol dari upacara ini adalah tuntutan publik untuk membalas dendam terhadap pelaku kejahatan ini. Dikibarkannya bendera-bendera merah dan seruan-seruan yang dilontarkan oleh rakyat, mengindikasikan bahwa darah pemimpin syahid tidak akan dilupakan, dan bangsa Iran akan menuntut hal ini dengan keseriusan penuh."
Balas Dendam atas Darah Pemimpin Syahid Berakar pada Ajaran Al-Qur'an
Anggota Jamiah Modarresin (Asosiasi Pengajar) Hawzah Ilmiyah Qom menekankan: "Masalah balas dendam bukan sekadar reaksi emosional atau slogan, melainkan berakar pada ajaran-ajaran Al-Qur'an yang mulia. Allah SWT dalam Al-Qur'an yang mulia telah berjanji akan membalas para penjahat. 'Sesungguhnya Kami akan membalas (setimpal) kepada orang-orang yang berbuat jahat.' (QS. As-Sajdah: 22)."
Beliau dengan menyatakan bahwa Allah SWT menekankan pembelaan dalam menghadapi kezaliman dan perlawanan terhadap para penindas, menyampaikan: "Tuntutan ini dari sudut pandang agama dan keyakinan juga memiliki landasan, dan dapat dijelaskan dalam kerangka prinsip-prinsip Islam."
Budaya Penuntutan Balas dalam Mazhab Ahlulbait (as) Terus Berlanjut
Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan, melanjutkan dengan merujuk pada kedudukan budaya penuntutan balas atas darah yang tertumpah dalam pemikiran dan mazhab Ahlulbait (as), menyatakan: "Budaya ini memiliki kedudukan yang jelas dan mapan dalam ajaran-ajaran agama, dan senantiasa menjadi perhatian sebagai salah satu manifestasi pembelaan terhadap kebenaran dan keadilan. Sebagaimana slogan historis 'Ya Litsaratil Husain' (Wahai para penuntut darah Husain) setelah berabad-abad tetap hidup, dinamis, dan menginspirasi arus penegakan kebenaran di dunia Islam, tuntutan penuntutan darah dan balas dendam atas darah pemimpin syahid pun akan terus berlanjut hingga terwujud, dan merupakan salah satu tuntutan serius dari kubu Revolusi Islam."
Kehadiran Luas Rakyat dalam Pemakaman, Pesan Dukungan terhadap Kepemimpinan dan Revolusi
Ayatullah Khatami, dengan merujuk pada kehadiran penuh semangat rakyat dalam upacara pemakaman pemimpin syahid, menggambarkan kehadiran ini sebagai cermin kesetiaan bangsa Iran terhadap nilai-nilai Revolusi Islam, dan mengatakan: "Kehadiran luas dan megah dari berbagai lapisan masyarakat dalam upacara ini, bukan hanya berarti penghormatan terhadap martabat dan kedudukan pemimpin syahid, tetapi juga membawa pesan jelas tentang dukungan tegas bangsa Iran terhadap kepemimpinan, sistem Islam, dan kelanjutan jalan Revolusi."
Beliau mengemukakan: "Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an yang mulia: 'Dan betapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa; mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak pula mereka menjadi lemah semangat dan tidak pula mereka tunduk (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.' (QS. Ali 'Imran: 146). Kehadiran jutaan rakyat dan suasana yang meliputi upacara ini menunjukkan bahwa ini adalah perwujudan dari ayat suci ini, di mana ikatan bangsa dengan cita-cita Revolusi Islam tetap kokoh, dan musuh-musuh tidak akan mampu menciptakan keretakan dalam ikatan ini."
Seruan-seruan Rakyat Menggambarkan Tekad Bangsa untuk Melanjutkan Jalan Kepemimpinan
Anggota Jamiah Modarresin Hawzah Ilmiyah Qom, dengan merujuk pada seruan-seruan yang dilontarkan oleh rakyat dalam upacara ini, menyatakan: "Seruan-seruan rakyat dengan jelas menunjukkan bahwa bangsa Iran menekankan kelanjutan jalan kepemimpinan dan bergerak dalam kerangka cita-cita Revolusi Islam, dan akan melanjutkan jalan ini dengan tekad dan kemauan yang kuat. Kehadiran ini dan seruan-seruan ini merupakan cermin dari kebijaksanaan, kesadaran, dan kohesi nasional, dan menunjukkan bahwa bangsa Iran tetap bergerak dengan kuat di jalan kepemimpinan."
Ketaatan kepada Wilayatul Faqih, Kunci Keberhasilan Republik Islam
Ayatullah Khatami, dengan menekankan peran Wilayatul Faqih dalam kemajuan dan kewibawaan Republik Islam Iran, menegaskan: "Pengalaman lebih dari empat dekade terakhir telah menunjukkan bahwa kunci keberhasilan, kewibawaan, dan keluar dari berbagai krisis serta konspirasi bagi Republik Islam adalah ketaatan kepada Wilayatul Faqih."
Anggota Fuqaha Dewan Pengawas melanjutkan: "Saat ini juga, keluar dari permasalahan dan tantangan yang dihadapi negara hanya mungkin terjadi di bawah naungan pelaksanaan arahan-arahan dan bimbingan-bimbingan Pemimpin Agung Revolusi Islam, dan semakin arahan-arahan ini diperhatikan, maka landasan bagi kemajuan, kohesi, dan keberhasilan negara akan semakin siap."
Bangsa Iran yang Pantang Lelah di Medan Pembelaan terhadap Cita-cita Revolusi
Ayatullah Khatami, dengan memuji semangat ketahanan dan keteguhan bangsa Iran, mengatakan: "Sesungguhnya rakyat adalah perwujudan dari ayat ini: 'Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.' (QS. Al-Fath: 10). Rakyat Iran dalam berbagai periode Revolusi Islam telah menunjukkan bahwa mereka adalah bangsa yang pantang lelah, tangguh, dan berpegang teguh pada cita-cita Revolusi."
Anggota Fuqaha Dewan Pengawas menekankan: "Selama pembelaan terhadap cita-cita Revolusi Islam, dukungan terhadap kepemimpinan, dan perlindungan terhadap pencapaian-pencapaian sistem Islam masih menjadi keharusan, bangsa Iran akan tetap berada di medan dengan semangat pengorbanan, ketahanan, dan kehadiran yang efektif yang sama, serta akan mempertahankan nilai-nilai mereka."
Komentar Anda