Berita Hawzah — Bahkan sebelum azan Subuh berkumandang, arus manusia telah bergerak menuju Musala Imam Khomeini dari berbagai penjuru Teheran. Jalan-jalan menuju kompleks utama telah ditutup beberapa kilometer dari lokasi, memaksa seluruh peziarah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Selama dua hari penuh, Musala Imam Khomeini menjadi pusat penghormatan terakhir bagi Rahbar Syahid, Imam Ayatollah Sayyed Ali Khamenei. Jutaan rakyat Iran dari berbagai provinsi, bersama para tamu dari luar negeri, datang silih berganti tanpa henti. Setiap rombongan yang keluar segera digantikan oleh rombongan berikutnya yang telah menunggu untuk memasuki aula utama.
Di tengah lautan manusia itu, Kantor Berita Hawzah berkesempatan mengikuti langsung jalannya prosesi sejak dini hari hingga berada di dalam aula utama Musala.
Berangkat dari Qom Pukul Dua Dini Hari
Perjalanan dimulai dari Kota Qom sekitar pukul 02.00 dini hari. Jalanan menuju Teheran masih lengang sehingga perjalanan berlangsung lancar. Namun, semakin mendekati ibu kota, suasana mulai berubah.
Di sejumlah ruas jalan menuju Teheran, aparat keamanan telah bersiaga. Polisi dan personel militer berjaga di berbagai titik untuk mengatur arus peziarah yang terus berdatangan menuju lokasi penghormatan terakhir.
Sekitar pukul 04.30 pagi, rombongan tiba di kawasan sekitar Musala Imam Khomeini. Namun kendaraan tidak lagi diizinkan mendekati kompleks utama. Seluruh akses telah ditutup dalam radius sekitar lima hingga enam kilometer.
Tak ada pilihan selain turun dari kendaraan dan berjalan kaki bersama ribuan peziarah lainnya.
Jalan Menuju Musala Dipenuhi Pelayanan Mawkib
Perjalanan menuju Musala bukan sekadar perjalanan kaki. Di sepanjang jalan berdiri puluhan mawkib yang melayani para peziarah.
Sarapan pagi, nasi, teh hangat, sirup, air minum, hingga berbagai kebutuhan lainnya dibagikan secara cuma-cuma. Para relawan menyambut setiap peziarah dengan penuh keramahan, memastikan mereka dapat melanjutkan perjalanan tanpa kesulitan.
Suasana tersebut menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada pelayanan bagi para peziarah Arbain di Irak. Di tengah duka, masyarakat Iran memperlihatkan semangat melayani yang begitu besar kepada sesama peziarah.
Memasuki Aula Utama Sebelum Dipenuhi Jutaan Pelayat
Gerbang Musala telah dibuka sejak dini hari. Sekitar pukul 05.30, Kantor Berita Hawzah memasuki kompleks setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat.
Seluruh pengunjung diperiksa, sementara rokok, benda tajam, pisau, dan barang-barang yang dilarang tidak diperkenankan dibawa masuk.
Karena datang lebih awal, reporter Kantor Berita Hawzah masih memperoleh tempat di bagian depan aula utama, tepat di area bekas kolam air mancur yang kini telah ditutup permanen. Dari lokasi tersebut, panggung utama terlihat dengan cukup jelas.
Saat itu suasana masih relatif lengang. Lantunan maktam dan lagu-lagu perjuangan terdengar mengiringi kedatangan para pelayat yang terus berdatangan dari berbagai arah.
Saat Suara Rahbar Diperdengarkan
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an oleh dua qari. Setelah itu lagu kebangsaan Republik Islam Iran dikumandangkan dan dinyanyikan bersama oleh seluruh hadirin.
Momen yang paling menggetarkan terjadi ketika rekaman suara Imam Ayatollah Sayyed Ali Khamenei diperdengarkan.
Bersamaan dengan itu, tirai panggung perlahan terbuka dan jenazah Rahbar Syahid mulai terlihat di hadapan jutaan pelayat.
Tangis pun pecah.
Dari berbagai sudut aula terdengar isak tangis, sementara ribuan suara bergema meneriakkan:
"Wahai Putra Fatimah, kami menunggumu..."
Suasana duka menyelimuti seluruh kompleks Musala.
Bukan Sekadar Mengantar Jenazah
Setelah jenazah Rahbar Syahid tampak di hadapan masyarakat, pembaca syair Ahlulbait, Mahdi Rasuli, membawakan maktam dan syair-syair duka yang menggambarkan kehilangan besar yang dirasakan rakyat Iran.
Namun pesan yang disampaikan tidak berhenti pada kesedihan.
Di hadapan jutaan pelayat, masyarakat diajak untuk tetap teguh melanjutkan jalan perjuangan Rahbar Syahid. Berulang kali terdengar seruan yang menegaskan bahwa mereka datang bukan hanya untuk mengantar jenazah seorang pemimpin, tetapi juga untuk memperbarui janji setia terhadap jalan yang telah beliau wariskan.
Slogan-slogan tentang perlawanan, kesetiaan, dan tuntutan atas darah para syuhada terus bergema sepanjang prosesi.
Arus Manusia Tak Pernah Berhenti
Sekitar satu hingga dua jam kemudian, petugas mulai mengatur pergantian peziarah.
Mereka yang telah berada di dalam aula sejak dini hari diminta keluar melalui jalur tertentu agar rombongan berikutnya dapat masuk.
Namun pergantian itu tidak pernah membuat Musala lengang.
Setiap kali ribuan orang keluar, ribuan lainnya kembali memenuhi aula utama. Dari pagi hingga malam, bahkan hingga keesokan harinya, arus peziarah terus mengalir tanpa henti.
Jutaan perjalanan menggunakan Metro Teheran tercatat menuju kawasan Musala selama prosesi berlangsung. Sementara jalan-jalan di sekitar kompleks dipenuhi manusia yang datang dari berbagai penjuru Iran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Rahbar Syahid.
Kesetiaan yang Sulit Diungkapkan dengan Kata-Kata
Bagi mereka yang hadir secara langsung, prosesi ini bukan sekadar sebuah acara kenegaraan atau pemakaman seorang pemimpin.
Yang tampak adalah sebuah lautan manusia yang datang dengan kesedihan, kecintaan, dan keyakinan yang sama. Dari perjalanan kaki beberapa kilometer, pelayanan para relawan, tangis saat tirai panggung terbuka, hingga arus peziarah yang tidak pernah terputus, seluruh rangkaian prosesi memperlihatkan besarnya ikatan emosional jutaan rakyat Iran dengan Rahbar Syahid Imam Ayatollah Sayyed Ali Khamenei.
Bagi siapa pun yang berada di Musala Imam Khomeini hari itu, besarnya peristiwa tersebut memang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.
Komentar Anda