Berita Hawzah – Baik mereka yang secara langsung hadir dalam upacara tasyyi', maupun mereka yang mengikuti jalannya prosesi pemakaman ini melalui siaran televisi nasional, jejaring sosial, atau dunia maya, semuanya sepakat bahwa Qom benar-benar belum pernah menyaksikan kerumunan sebesar ini sebelumnya. Tentu saja sudah sepantasnya demikian, bahwa kota yang menjadi tempat bersemayamnya Sayyidah Karimah Ahlulbait (Sayyidah Fatimah Ma'sumah as), dengan mulia bangkit untuk menyambut keturunan Sayyidah Fatimah az-Zahra (sa) dan sosok agung yang memiliki jasa besar bagi negeri ini dan mazhab Syiah. Empat tahun lalu, pemimpin syahid kami dalam pertemuan dengan penyelenggara Kongres Nasional Para Syuhada Qom, menggunakan ungkapan penuh makna "kota kebangkitan dan penegakan" untuk menggambarkan kota suci ini. Dan hari ini, yaitu tanggal 7 Juli 2026, penduduk Qom dan masyarakat dari kota-kota lain yang datang ke kota ini untuk menghadiri pemakaman, membuktikan bahwa mereka benar-benar siap siaga untuk menegakkan kebenaran dan menghargai sosok penegak kebenaran seperti "Sayyid Ali Khamenei".
Sejak malam hari Senin hingga sore hari Selasa, masyarakat dari Makam Suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa) hingga Masjid Agung Jamkaran, membentuk gelombang besar yang membara dari semangat cinta dan kesetiaan. Tidak diragukan lagi, dari balutan layar media hanya sebagian dari keagungan kehadiran ini yang dapat tergambar dan disiarkan kepada dunia.
Penghargaan Rakyat atas Seumur Hidup Perjuangan Imam Syahid
Husain Bahrami - Seorang santri tingkat enam di hawzah ilmiah, mengatakan: Kehadiran luar biasa masyarakat dalam upacara pemakaman hari ini adalah wujud syukur atas perjuangan dan pengorbanan seorang tokoh yang telah menunjukkan kepada kita bahwa untuk bangkit di jalan Allah, kita harus rela melepaskan segalanya, sebagaimana beliau sendiri dalam menegakkan kebenaran serta membela Ajaran Agama dan negara, mengorbankan jiwa dan orang-orang tercintanya untuk membuktikan bahwa yang terpenting adalah menjaga agar jalan dan ajaran agama ini tetap hidup serta membela kebenaran. Ia juga menambahkan, seraya menunjuk pada fakta bahwa pemimpin syahid kita sepanjang usia penuh perjuangannya, terutama selama tiga puluh tujuh tahun masa kepemimpinannya, lebih dari segalanya mengajarkan kepada kita keteguhan dalam membela kebenaran dan sikap pantang menyerah melawan arus kebatilan serta para tiran. Ia melanjutkan: Saya ingat betul bahwa beliau dalam salah satu pernyataannya menekankan bahwa ribuan "Khamenei" layak dikorbankan di jalan suci ini agar revolusi dan ajaran agama yang bercahaya ini terus melangkah dengan penuh kehormatan, dan beliau sendiri dalam tindakan nyata membuktikan bahwa dengan meneladani kakeknya yang terzalimi, yakni Aba Abdillah al-Husain (as), beliau adalah seorang yang rela berkorban di jalan Allah.
Kita Kehilangan Mutiara yang Tak Tertandingi
Saya sudah mengenal Majid Rangi bertahun-tahun lamanya. Ia memiliki berbagai kegiatan berharga di bidang seni dan media selama ini, terutama dalam dunia seni teater dan pembuatan film dokumenter. Di salah satu pos pelayanan (mawkib) yang menuju ke Boulevard Nabi Agung Saw, ia dengan ikhlas melayani para peziarah dan mereka yang mengiringi jenazah suci pemimpin syahid revolusi.
Ia pun menggambarkan perasaan dan suasana hatinya: "Jujur saja, meski sudah lebih dari empat bulan berlalu, saya masih tidak percaya bahwa kita kehilangan pemimpin yang begitu mulia. Beliau adalah sosok yang bagi kami para pelaku seni merupakan contoh nyata seorang pemimpin yang benar-benar memahami seni dengan baik dan memiliki pemahaman yang mendalam akan makna di baliknya, sekaligus mendukung para seniman dengan layak. Sungguh, kita harus menyampaikan belasungkawa kepada bangsa, termasuk kepada kalangan budaya dan seni, atas kehilangan mutiara yang tak tertandingi ini. Semoga ruh beliau berbahagia dan tenang di sisi Ilahi, dan saya berharap beliau di alam sana pun tetap mendoakan kita semua. Hari ini, kewajiban kita semua adalah berdiri tegak di belakang Pemimpin Besar Revolusi, Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei hf, dan sekali lagi membuktikan kepada dunia kesetiaan kita kepada kepemimpinan dalam tindakan nyata.
Misi Utama Para Ulama dan Santri dalam Medan Jihad Penjelasan
Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Sa'imi, imam jamaah salah satu masjid di pinggiran kota suci Qom. Saya berbincang dengannya di tengah jalannya prosesi pemakaman. Ia mengatakan: "Meskipun dalam beberapa tahun terakhir saya telah memperoleh kesempatan untuk hadir dalam prosesi pemakaman jenazah suci Syahid Hajj Qasim Sulaimani dan Syahid Raisi, namun perlu saya sampaikan kepada Anda bahwa menurut saya, dari segi banyaknya jumlah peserta, upacara hari ini setidaknya dua kali lipat dari jumlah peserta sebelumnya. Dan ini menunjukkan betapa Imam dan pemimpin syahid kita memiliki kedudukan yang tak tertandingi di hati dan jiwa masyarakat, khususnya penduduk kota suci Qom."
Ia juga menambahkan: "Imam Syahid memiliki jasa yang besar di pundak kita semua, terutama pada para ulama dan segenap kalangan hawzah. Dan menunaikan hak tersebut dengan layak menuntut agar kita tidak membiarkan ajaran pemikiran beliau —yang merupakan warisan terbesar bagi kita— terlupakan atau kurang mendapat perhatian di tengah masyarakat. Jihad penjelasan kita dalam hal ini mengarah pada penguraian dimensi-dimensi pemikiran dan intelektual dari tokoh besar sejarah kontemporer ini. Jika kita melakukannya dengan benar, maka kita tidak hanya telah membantu negara kita, tetapi lebih dari itu, kita juga telah membantu mazhab Ahlulbait (as) dan menyebarkan ajaran-ajaran ilahi yang hakiki."
Komentar Anda