Minggu 5 Juli 2026 - 07:28
Kemazluman Pemimpin Syahid Perkuat Mazhab Ahlulbait (as).

Hawzah/ Hujjatul Islam Sayyid Raza Haidar Zaidi dalam pernyataannya menyatakan: Kemazluman Ayatullah al-Uzma Khamenei (ra) semakin memperkuat madzhab Ahlulbait (alaihimus salam) dan memberikan semangat baru bagi arus perlawanan.

Berita Hawzah  Hujjatul-Islam Sayyid Raza Haidar Zaidi, seorang ulama India, dalam khutbah Jumat yang diselenggarakan di Masjid Shahi Asifi kota Lucknow, India, menyatakan dalam pidatonya: Kemazluman Ayatullah al-Uzma Sayyid Ali Khamenei (ra) semakin memperkuat madzhab Ahlulbait (alaihimus salam) dan memberikan semangat baru bagi arus perlawanan.

Beliau melanjutkan pidatonya dengan merujuk pada prosesi pemakaman Pemimpin Syahid, seraya berkata: Prosesi pemakaman ini, pada hakikatnya, adalah pemakaman seorang pemimpin yang terikat dengan madzhab Ahlulbait alaihimus salam. Dan upacara pemakaman ini akan menjadi salah satu perhelatan paling abadi dan langka dalam sejarah kontemporer, yang sulit dicari bandingannya dalam sejarah.

Kritik terhadap Kebijakan Amerika

Hujjatul-Islam Sayyid Raza Haidar Zaidi, dalam lanjutan pidatonya, dengan merujuk pada sikap Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menyatakan: Ia (Trump) mengira bahwa dengan syahadahnya Pemimpin Revolusi, jalan ini akan berakhir, namun seiring berjalannya waktu, bahkan rakyat Amerika pun akan menyadari betapa besarnya kesalahan yang dilakukan oleh para penguasa mereka, dan konsekuensinya akan menimpa mereka sendiri.

Budaya Asyura dan Kelanjutan Jalan Perlawanan

Beliau, dengan menekankan beratnya musibah ini bagi dunia Islam, mengatakan: Sebagian orang tidak hanya tidak turut berduka atas kesedihan umat Islam, tetapi justru bergembira dan bersukacita; sebagaimana setelah peristiwa Asyura, para pengikut Yazid pun bergembira. Sejarah telah membuktikan bahwa kezaliman dan penindasan tidak akan abadi, dan pada akhirnya, para penindas akan terjatuh dalam kehinaan dan aib.

Imam Jumat Lucknow menandaskan: InsyaAllah akan digelar prosesi pemakaman yang bersejarah, dan dunia akan mengetahui siapa sebenarnya para pengikut madzhab Karbala. Kitalah pengikut jalan Husain as; semakin banyak darah yang dipersembahkan di jalan ini, maka madzhab ini akan semakin kokoh dan kemenangannya semakin dekat, dan pada akhirnya, para zalimlah yang akan binasa dalam badai peristiwa.

Hujjatul-Islam Sayyid Raza Haidar Zaidi pada bagian lain pidatonya menyatakan: Meskipun dasawarsa pertama Muharram telah berakhir, namun kesedihan Husaini dan ruh berkabung harus senantiasa hidup dalam masyarakat; karena berkabung untuk Sayyid asy-Syuhada as adalah faktor kelestarian agama Nabi Besar saw, penjagaan terhadap syiar-syiar ilahi, dan pembatas antara yang hak dan yang batil.

Beliau menegaskan bahwa berkabung (cara berduka) tidak terbatas pada tangisan dan ratapan semata, melainkan merupakan madzhab (sistem pendidikan) untuk pembinaan religius, moral, dan sosial manusia, serta menjaga semangat rasa tanggung jawab tetap hidup dalam masyarakat.

Hujjatul-Islam Sayyid Raza Haidar Zaidi, dalam menafsirkan firman suci 

{الَّذِینَ یُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَیَخْشَوْنَهُ وَلَا یَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ} 

(orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, dan mereka takut kepada-Nya, dan mereka tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah), mengatakan: Pembacaan Surah Al-Ahzab dalam amalan-amalan Asyura mengingatkan pada kebenaran bahwa seorang mukmin hanya takut kepada Allah dan tidak tunduk kepada kekuasaan dan kezaliman apa pun.

Beliau juga, dengan merujuk pada firman 

{مِنَ الْمُؤْمِنِینَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَیْهِ} 

(di antara orang-orang mukmin itu ada laki-laki yang menepati janji mereka kepada Allah), menekankan: Ayat ini menyampaikan pesan abadi tentang kesetiaan, pengorbanan, dan komitmen terhadap janji ilahi. Dalam riwayat juga disebutkan bahwa Imam Husain as, ketika beberapa sahabatnya gugur di Karbala, membacakan ayat ini.

Imam Jumat Lucknow, pada bagian lain pidatonya, merujuk pada insiden terkini tentang distribusi zat beracun yang mencurigakan di salah satu kelompok arak-arakan (prosesi) berkabung di India, dan meminta para peserta berkabung untuk hadir dalam acara-acara tersebut dengan kewaspadaan dan kehati-hatian yang lebih tinggi.

Beliau mengatakan: Insiden-insiden seperti ini menunjukkan bahwa untuk melindungi majelis-majelis dan arak-arakan (prosesi) berkabung, perlu dirumuskan langkah-langkah yang teratur dan efektif guna mencegah segala tindakan sabotase.

Peran Pemuda dalam Menjaga Syiar-Syiar Husaini

Ahli agama ini, dengan mengingat kesetiaan para syuhada Karbala, di antaranya Sayyid Sa'id dan Zuhair as, meminta kepada majelis-majelis dan perkumpulan-perkumpulan keagamaan agar menunjuk sekelompok pemuda yang bertanggung jawab untuk mengawasi dan mengamankan jalannya acara berkabung, sehingga setiap tindakan mencurigakan atau berniat jahat dapat terdeteksi dan dinetralisir sejak dini.

Beliau menandaskan: Para pemuda yang berkhidmat dalam rangka menjaga acara berkabung dan syiar-syiar Husaini, dari segi pahala dan keutamaan, tidak kalah dengan para peserta berkabung dan penyelenggara acara.

Ulama India ini, dengan meriwayatkan sebuah hadis dari Imam Ridha as, mengatakan: Imam Musa al-Kazhim as sejak awal bulan Muharram hingga hari Asyura senantiasa dalam keadaan duka dan sedih. Menurutnya, sirah para maksumin as menunjukkan bahwa pada hari-hari berkabung Husaini, lahir dan batin manusia harus bernuansa kesedihan Sayyid asy-Syuhada as.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha