Senin 29 Juni 2026 - 19:08
Jawaban Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam terhadap Surat Baiat Para Direktur Madrasah Hawzah Ilmiyah Putri di Teheran

Hawzah/ Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam memberikan tanggapan atas pernyataan baiat dan pembaruan ikrar setia yang disampaikan oleh para pimpinan sekolah-sekolah hawzah ilmiyah putri di Provinsi Teheran. Dalam surat balasannya, beliau menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas dukungan serta kesetiaan yang mereka tunjukkan.

Berita Hawzah – Menyusul dikirimkannya surat pernyataan baiat dan pembaruan ikrar setia dari para pimpinan sekolah-sekolah hawzah ilmiyah putri di Provinsi Teheran, Iran kepada Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, beliau dalam surat balasannya, selain menyampaikan ucapan terima kasih atas ungkapan simpati dan perhatian yang ditunjukkan oleh para pimpinan sekolah tersebut, juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kesetiaan mereka.

Teks jawaban Pemimpin Umat Islam adalah sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kepada Yth.
Para Pimpinan Sekolah-sekolah Hawzah ilmiyah Putri Provinsi Teheran

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya menyampaikan terima kasih atas ungkapan simpati yang Saudari-saudari sampaikan sehubungan dengan ucapan belasungkawa atas syahidnya Pemimpin Agung Revolusi Islam Iran (semoga Allah menyucikan ruh sucinya). Saya juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas perhatian serta kebaikan hati yang Saudari-saudari tunjukkan kepada saya.

Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan taufik dan dukungan kepada para perempuan yang mulia dalam mengabdi kepada agama Islam yang suci.

Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei

27 Khordad 1405 H.S.
2 Muharam 1447 H.
(17 Juni 2026)

Jawaban Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam terhadap surat baiat yang disampaikan oleh para direktur Madrasah Hawzah Ilmiyah Putri di Teheran

Teks Surat Baiat Para Pimpinan Sekolah-sekolah Hawzah ilmiyah Putri Provinsi Teheran, Iran kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Imam Ridha (as) bersabda:

"Kalimat Lā ilāha illallāh adalah benteng-Ku. Barang siapa memasuki benteng-Ku, niscaya ia akan aman dari azab-Ku; namun dengan syarat-syaratnya, dan aku termasuk di antara syarat-syarat itu."

Kepada Yang Mulia
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam
Ayatullah Khamenei (semoga Allah memanjangkan naungan beliau)

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dekade Karamah merupakan dekade pembaruan ikatan setia kepada wilayah (kepemimpinan Ilahi) sekaligus momentum untuk mengenang keteguhan para perempuan yang sepanjang sejarah telah mengibarkan panji keteguhan di barisan kebenaran. Dekade ini diawali dengan hari kelahiran yang penuh berkah Sayidah Fatimah Ma'shumah (as), seorang perempuan alimah dan mujahidah yang dibesarkan dalam madrasah Ahlulbait (as) Demi membela wilayah, beliau menempuh perjalanan dari Madinah menuju Marwa, singgah dari satu tempat ke tempat lainnya, hingga akhirnya mencapai derajat syahid dalam jihad menjelaskan kebenaran (jihad tabyin). Awal dekade ini menjadi kisah tentang keteguhan kaum perempuan dalam menjaga kebenaran dan wilayah; perempuan-perempuan yang sepanjang sejarah telah meninggalkan teladan-teladan yang gemilang dan layak untuk senantiasa dikenang.

Di antaranya ialah perempuan yang menjadi penata rias putri Fir'aun. Ketika ia mengucapkan nama Allah, ia berdiri teguh menghadapi kemurkaan Fir'aun. Anak-anaknya dilemparkan satu per satu ke dalam api, tetapi ia tidak pernah melepaskan keimanannya. Pada akhirnya, ia sendiri bersama anaknya yang masih kecil meraih kesyahidan.

Demikian pula Asiyah, perempuan mukmin penghuni istana Fir'aun. Di tengah kekuasaan dan kemewahan, ia memilih jalan iman, bertahan menghadapi tekanan dan penyiksaan, hingga akhirnya gugur sebagai syahid. Namanya kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai teladan bagi orang-orang yang beriman.

Begitu pula Sumayyah, istri Yasir, yang pada masa-masa awal Islam menanggung berbagai siksaan yang amat berat hingga akhirnya memperoleh kemuliaan sebagai syahidah pertama dalam sejarah Islam.

Demikian pula Khadijah al-Kubra (as), yang mengorbankan seluruh harta, kemampuan, dan kehormatannya demi Rasulullah saw., serta menjadi tiang penyangga gerakan Islam pada masa-masa paling berat dalam periode kenabian.

Demikian pula Fatimah az-Zahra (as), puncak kemuliaan sejarah kemanusiaan, yang di dalam rumah mendidik generasi para Imam, sementara di tengah masyarakat mengangkat panji pembelaan terhadap wilayah, hingga akhirnya beliau sendiri meraih kesyahidan di jalan tersebut.

Dan juga Zainab al-Kubra (as), pejuang agung di medan jihad tabyin. Seandainya bukan karena perjuangan beliau, peristiwa Karbala akan tetap terkubur di Karbala. Beliau memikul segala musibah dengan penuh kesabaran, kemudian setelah Asyura, melalui jihad tabyin yang dilakukannya, menyampaikan kepada sejarah pesan kemenangan darah atas pedang.

Demikian pula Ummu Farwah, perempuan alim dari Madinah, yang bukan hanya menjadi ibu yang bijaksana bagi Imam Ja'far ash-Shadiq (as), tetapi juga menjadi rujukan kaum perempuan Madinah dalam memahami ajaran-ajaran Ilahi, serta membangun sebuah lingkaran pendidikan dan bimbingan di tengah masyarakat Islam.

Sejarah Islam dan mazhab Syiah menjadi saksi bahwa kaum perempuan senantiasa berada di garis terdepan dalam membela kebenaran. Mereka rela mengorbankan jiwa, anak-anak, dan harta benda demi mempertahankan iman, serta tidak pernah membiarkan panji kebenaran jatuh.

Pada masa kontemporer pun sunnah Ilahi ini terus berlanjut. Kaum perempuan mukmin Iran menjawab seruan Imam Khomeini ra., dan selama masa kebangkitan serta Revolusi Islam, mereka tampil di medan perjuangan untuk mendidik generasi revolusi dan menyebarluaskan ajaran Islam. Mereka menjalankan misi tersebut di "Gua Hira yang seluas Iran Islam". Sebagian dari mereka meraih kesyahidan, sementara sebagian lainnya mempersembahkan lebih dari tiga puluh enam ribu putra remaja dan pelajar mereka dalam Perang Pertahanan Suci, sehingga melahirkan sebuah epik perjuangan yang abadi. Perempuan-perempuan seperti Marziyeh Dabbagh, Mahdiyah Sayyari, dan Naneh Ali bukan saja hadir di medan jihad, tetapi juga menjadi penopang kokoh bagi barisan perlawanan melalui kesabaran dan keteguhan mereka.

Selama empat dekade terakhir, perempuan-perempuan Revolusi Islam berdiri berdampingan dengan kaum laki-laki di berbagai medan perjuangan. Bidang ilmu pengetahuan, industri, kebudayaan, seni, dakwah, diplomasi, pendidikan, pembinaan, olahraga, keamanan, hingga manajemen menjadi saksi atas kehadiran mereka yang efektif dan membanggakan.

Kini, di awal langkah Tahap Kedua Revolusi Islam, ketika barisan kebatilan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghadapi barisan kebenaran, kaum perempuan Iran kembali menjawab seruan Pemimpin tercinta mereka dengan hadir di berbagai medan perjuangan. Mereka tidak meninggalkan para pejuang di medan tempur sendirian. Di samping mengelola rumah tangga dan mendidik anak-anak, mereka juga memainkan peran yang aktif dan membangkitkan harapan di tengah kehidupan sosial dan di ruang-ruang publik.

Di tengah kondisi tersebut, terdapat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, sebagaimana disampaikan berikut ini:

1. Perang Narasi dan Pentingnya Menceritakan Kemajuan

Saat ini, selain menghadapi pertempuran di medan militer, kita juga terlibat dalam pertempuran serius di medan narasi. Narasilah yang menentukan kemenangan dan kekalahan serta mampu menggerakkan masyarakat untuk ikut serta. Narasi tentang kemajuan dan yang membangkitkan harapan merupakan kebutuhan mendesak bagi masyarakat kita, dan pentingnya memasuki medan ini menjadi berlipat ganda di tengah situasi perang.

Kaum perempuan bukan hanya menjadi pembawa panji dalam menyampaikan narasi, tetapi juga masih banyak kisah perjuangan perempuan Revolusi Islam yang belum pernah diungkapkan. Oleh karena itu, pembentukan "Markas Narasi Kemajuan" (Qarargah-e Revayat-e Pishraft) untuk mengoordinasikan dan memperkuat upaya tersebut dipandang sebagai sebuah kebutuhan yang mendesak.

2. Diplomasi Publik dan Peran Khusus Diplomasi Perempuan

Di dunia saat ini, diplomasi tidak lagi terbatas pada hubungan resmi antarnegara, melainkan juga semakin bergantung pada komunikasi dengan opini publik masyarakat dunia. Diplomasi publik berkembang dalam berbagai bidang, seperti perempuan, pemuda dan remaja, ilmu pengetahuan, media, seni, olahraga, pendidikan, agama dan mazhab, Al-Qur'an, pendidikan dan pembinaan, pariwisata, serta ruang siber.

Dalam hal ini, diplomasi perempuan memiliki kapasitas yang istimewa karena semangat keadilan dan perdamaian yang dimiliki perempuan di berbagai belahan dunia. Pembentukan suatu struktur yang aktif, dinamis, dan efektif pada tingkat tertinggi negara guna mengoordinasikan diplomasi publik, khususnya yang berporos pada perempuan, dapat memainkan peran penting dalam memperkuat posisi Republik Islam Iran di mata opini publik dunia.

3. Struktur Tata Kelola dan Pemanfaatan Potensi Perempuan

Meskipun terdapat potensi besar dari kaum perempuan yang berkomitmen dan memiliki keahlian, peran mereka pada sebagian tingkat tata kelola pemerintahan masih belum sebanding dengan kapasitas yang sesungguhnya.

Peninjauan kembali terhadap struktur manajemen negara serta pemanfaatan kemampuan perempuan secara terarah berdasarkan prinsip-prinsip Islam dapat menjadi langkah penting dalam mewujudkan cita-cita Revolusi Islam.

Dalam hal ini, hawzah ilmiyah putri, yang menaungi ribuan mahasiswi hauzah di ratusan sekolah hauzah di seluruh negeri, merupakan potensi yang luar biasa untuk membantu menyelesaikan persoalan budaya dan sosial negara. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan lebih optimal dalam proses perumusan kebijakan dan tata kelola pemerintahan.

4. Remaja, Khususnya Remaja Putri, sebagai Penggerak Transformasi

Para remaja, khususnya remaja putri, merupakan aset besar Revolusi Islam. Kehadiran mereka secara luas dalam berbagai kegiatan spiritual dan sosial, termasuk dalam pelaksanaan iktikaf tahun lalu—di mana satu dari setiap enam remaja putri di negara ini mengikuti iktikaf—menunjukkan besarnya potensi generasi tersebut.

Pengalaman masa Pertahanan Suci dengan tiga puluh enam ribu syuhada remaja juga menjadi bukti nyata atas peran penting mereka dalam sejarah Revolusi.

Karena itu, perhatian khusus terhadap pembinaan dan pemberdayaan generasi ini, terutama remaja putri, dapat menjamin masa depan budaya dan sosial negara. Dengan mengenali potensi tersebut secara benar, perlu diambil langkah baru dan efektif dalam struktur Revolusi Islam agar mereka memperoleh tempat yang semestinya, sehingga modal insani ini dapat dimanfaatkan untuk kemajuan negara dan penguatan wacana Revolusi Islam; suatu hal yang lebih diyakini oleh Pemimpin kita yang telah syahid dibandingkan siapa pun.

5. Peran Perempuan dalam Situasi Perang dan Krisis

Dalam kondisi perang dan krisis, perempuan memiliki peran mendasar dalam menjaga ketenangan dan ketahanan keluarga. Para ibu dan istri, melalui pengelolaan emosi keluarga dan penguatan semangat optimisme, dapat meningkatkan daya tahan masyarakat.

Selain itu, dalam menghadapi tekanan ekonomi dan kerusakan infrastruktur akibat perang, pengelolaan keluarga yang cerdas oleh kaum perempuan dapat membantu mengendalikan berbagai krisis.

Oleh sebab itu, perhatian strategis terhadap institusi keluarga serta pembentukan "Markas Keluarga" (Qarargah-e Khanevadeh) guna memperkuat fondasi keluarga pada masa krisis dipandang sebagai suatu kebutuhan.

6. Sekolah Revolusi di Tengah Masyarakat

Dalam situasi yang penuh perubahan saat ini, "Sekolah Revolusi Islam" sesungguhnya telah berdiri di jalanan dan di tengah masyarakat, sehingga sebagian besar peluang pendidikan karakter kini terbentuk langsung di lapangan.

Namun, sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada pengajaran, karena mengabaikan aspek pembinaan karakter, pada praktiknya telah kehilangan fungsi utamanya atau hanya membatasi diri pada kegiatan pembelajaran daring yang sekadar memindahkan materi pelajaran.

Para santriwati hauzah menyatakan kesiapan untuk melaksanakan "Program Nasional Pertumbuhan Revolusi Islam", demi pertumbuhan, kemajuan, dan pembinaan generasi Revolusi Islam, melalui kerja sama para guru pejuang, para santri yang berdedikasi, serta kaum perempuan yang memiliki kepedulian, guna meningkatkan perkembangan intelektual dan pembinaan karakter putri-putri Revolusi Islam.

7. Jihad Tabyin dan Pentingnya Struktur Dakwah Perempuan yang Mandiri

Kaum perempuan memainkan peran yang efektif dalam medan jihad tabyin melalui berbagai bentuk kegiatan, seperti ceramah di tengah masyarakat, aktivitas media, kehadiran di ruang siber, penyampaian narasi, seni, maupun pemberitaan.

Namun, keberadaan mereka dalam lembaga-lembaga dakwah selama ini kurang mendapat perhatian atau hanya ditempatkan sebagai pelengkap dan berada di pinggiran.

Karena itu, perhatian terhadap besarnya kapasitas perempuan dalam jihad tabyin serta pembaruan struktur melalui pembentukan lembaga dakwah dan penerangan yang mandiri bagi perempuan dapat melipatgandakan pemanfaatan potensi tersebut.

Pada akhirnya, para santriwati Revolusi Islam, bersama seluruh perempuan mukmin dan pelopor negeri ini, sekali lagi memperbarui baiat mereka kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan memohon kepada Allah Swt. agar menganugerahkan kesehatan serta umur yang panjang kepada Yang Mulia.

Kami menyatakan bahwa kami siap mempersembahkan jiwa, hati, dan keluarga kami demi kemajuan Revolusi Islam dan penyampaian pesannya kepada seluruh dunia. Kami juga siap berdiri teguh menghadapi musuh-musuh bangsa ini dengan kesabaran dan keteguhan, seraya mengumandangkan seruan:

"Lā ubālī bil-maut"
"Aku tidak gentar menghadapi kematian."

Kami juga memohon kepada Pemimpin tercinta kami agar memberikan perhatian khusus kepada kaum perempuan dan putri-putri Revolusi Islam, khususnya para santriwati pejuang, serta berkenan mendoakan seluruh perempuan Revolusi Islam.

"Ya Allah, jadikanlah kami para pembaru agama-Mu dan penghidup syariat-Mu."

Dengan penuh hormat,

Para Pimpinan Sekolah-sekolah Hawzah ilmiyah Putri Provinsi Teheran

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha