Senin 29 Juni 2026 - 07:40
Pernyataan Strategis Hawzah Ilmiyah Seputar Nota Kesepahaman dan Pesan Historis Pemimpin Umat Islam

Hawzah/ Secara syar'i, akal, dan hukum, wajib bagi presiden, anggota Dewan Tertinggi Keamanan Nasional yang terhormat, serta para pejabat diplomatik negara, bahwa apabila musuh melanggar janji dan tidak berkomitmen terhadap pasal-pasal dalam nota kesepahaman tersebut, maka segera dan dengan tegas keluar dari perundingan, serta memberikan respons yang menghancurkan di bidang militer dan diplomasi.

Berita Hawzah – Teks pernyataan strategis Pusat Manajemen Hawzah Ilmiyah seluruh Iran seputar nota kesepahaman terbaru dan pesan historis Pemimpin Umat Islam adalah sebagai berikut:

بسم‌الله‌الرحمن‌الرحیم
«وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن کُنتُم مُّؤْمِنِینَ»

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

"Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, dan kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)

Kita berada di hari-hari syahadahnya Sayyid dan Pemimpin para syuhada, Abu Abdillah Al-Husain (as) serta para sahabat setianya, dan di ambang peristiwa bersejarah dan besar yaitu prosesi pemakaman jenazah suci Imam dan Pemimpin kita yang syahid. Sebuah peristiwa nasional, internasional, dan bersejarah yang, dengan izin dan karunia Ilahi, akan memperlihatkan kedudukan luhur Imam Syahid Revolusi di hati rakyat Iran dan dunia Islam, menunjukkan kepada dunia "hubungan mendalam antara pemimpin dan umat" di Iran, dan akan membuat musuh terperangah dan bingung.

Kita berada di ambang pemakaman seorang Imam yang selama hidupnya yang mulia berjuang di jalan cita-cita Revolusi Islam dan mempersiapkan landasan bagi munculnya matahari agung kepemimpinan (Wilayah), dan pada akhirnya, di jalan ini, beliau bersama beberapa anggota keluarganya meraih karunia agung syahadah.

Semoga Allah mengumpulkan beliau (Imam Syahid) bersama Aba Abdillah Al-Husain (as) dan para sahabat setianya, serta memberikan taufik kepada umat yang diutus (masyarakat Iran) dan seluruh pejabat untuk melanjutkan jalan yang bercahaya ini.

Di masa-masa perang yang dipaksakan dan perang kombinasi tahap ketiga, pasukan militer dan kepolisian tampil gemilang dan di medan militer menunjukkan kepada dunia keunggulan Iran dalam menghadapi adidaya dunia. Umat yang dibangkitkan di Iran juga dalam perang kombinasi ini, dengan kehadiran mereka yang penuh semangat dan kesadaran, menggagalkan rencana-rencana musuh, dan dengan penuh perhatian mengikuti kelanjutan kemenangan-kemenangan yang telah diraih melalui pengorbanan darah Imam Syahid, para syuhada yang terzalimi di Minab, rakyat tak berdosa yang beriman, serta perjuangan pasukan militer dan kepolisian yang terhormat.

Demikian pula, Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamene'i (semoga Allah memperpanjang kehadiran mulia beliau), seperti dua pendahulu sholeh beliau, dengan keteguhan dan kewenangan penuh, tengah memimpin peperangan dan mengarahkan kebijakan makro negara. Beliau dengan kebijaksanaan yang patut diteladani telah mengambil alih kemudi Revolusi Islam Iran di tikungan bersejarah ini, dan di bawah naungan perhatian khusus Yang Mulia Imam Zaman (semoga jiwa kami menjadi tebusannya), memimpin peperangan besar dan dahsyat ini.

Para pejabat yang terhormat dari Dewan Tertinggi Keamanan Nasional dan pemerintah Islam, dalam perang yang menentukan dan eksistensial ini —terutama setelah heningnya medan pertempuran militer dan meningkatnya intensitas pertempuran di jalur diplomatik— dengan penuh kepedulian dan niat baik, berupaya untuk meraih kemenangan bagi bangsa Iran dan pihak kebenaran, sebagaimana halnya di medan perang militer, demikian pula di medan pelayanan dan diplomasi.

Namun demikian, upaya-upaya diplomatik tim perunding pada akhirnya menghasilkan sebuah nota kesepahaman yang, meskipun memiliki poin-poin positif dan memuat sebagian dari tuntutan sah bangsa Iran, namun tidak mencakup seluruh tuntutan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan umat yang dibangkitkan. Setelah dikeluarkannya pesan strategis, mendalam, dan mencerahkan dari Pemimpin Tertinggi mengenai hal ini, perbincangan seputar pesan tersebut, nota kesepahaman, serta tuntutan waktu dan tempatnya —di kalangan elit dan opini publik— terus meningkat secara luas. Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dalam pesan singkat dan tegas ini, di samping menghilangkan keraguan dan kebingungan mengenai nota kesepahaman, telah menjelaskan dengan baik kewajiban para pejabat dan rakyat. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini, saya sampaikan beberapa poin kepada bangsa Iran yang mulia, dan khususnya kepada para santri dan guru hawzah terkasih yang memiliki tugas jihad penjelasan (jihad tabyin) dan pengabdian dalam perang kombinasi ini, dan saya meminta kepada seluruh mubaligh (penyiar agama) dan ulama yang aktif di medan perjuangan untuk melakukan penjelasan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam kerangka analisis ini.

1. Ungkapan "Pada prinsipnya (alal Usul), saya memiliki pandangan lain" dalam pesan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dengan jelas menunjukkan adanya perbedaan pandangan beliau dengan anggota Dewan Tertinggi Keamanan Nasional mengenai isi nota kesepahaman. Meskipun berdasarkan informasi yang diterima, teks nota ini telah berulang kali bolak-balik antara Pemimpin Tertinggi dan anggota Dewan, dan beberapa poin yang menjadi perhatian beliau telah diterapkan dalam teks tersebut, namun teks yang pada akhirnya didesak oleh anggota Dewan yang terhormat tidak memuat seluruh tuntutan beliau. Akan tetapi, beliau tidak memandang patut untuk menentang mereka, dan menerima teks tersebut dengan syarat komitmen untuk menuntut hak-hak bangsa dan mewujudkan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya dalam kerangka pasal-pasal nota kesepahaman ini, serta mencegah ketamakan Amerika.

2. Tidak diragukan lagi bahwa maksud dari "Alal Usul" (pada perinsipnya) adalah merujuk pada prinsip-prinsip yang diambil dari pernyataan dan sirah (jalan hidup) praktis Imam Khomeini (ra) dan Imam Syahid kita selama 47 tahun menghadapi kekuatan imperialis global dan Amerika yang kriminal serta ingkar janji. Prinsip-prinsip yang bersumber dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat mengenai peperangan melawan orang-orang kafir dan sunnah-sunnah Ilahi dalam hal ini, ditambah dengan pengenalan terhadap musuh Amerika melalui pengalaman pengkhianatan-pengkhianatannya yang berulang, serta dengan mempertimbangkan kemaslahatan negara dan perannya dalam jalan mempersiapkan landasan bagi munculnya matahari agung kepemimpinan (Wilayah), dan tidak semata-mata bergantung pada perhitungan material dan ekonomi. Oleh karena itu, dalam kerangka perhitungan Pemimpin, jihad dan perlawanan serta perundingan —dengan tidak percaya kepada musuh dan untuk memaksakan kondisi serta pencapaian medan pertempuran kepadanya— secara tegas dan tanpa kompromi, merupakan satu-satunya jalan untuk mengalahkan musuh, menegakkan hak-hak bangsa, dan membela poros perlawanan.

3. Meskipun perbedaan pendapat ahli di antara para pejabat sistem dan pemimpin wilayah (wali faqih) dalam masalah perang, perdamaian, dan negosiasi merupakan hal yang wajar dan telah terjadi sebelumnya, serta pernah terjadi pula pada masa hidup Imam Khomeini dan Imam Syahid (Sayyid Ali Khamenei), namun dalam sistem Islam yang berdasarkan pada Wilayah Faqih, aturannya adalah setelah para pejabat menyampaikan pendapat ahli mereka beserta argumentasinya dan setelah didengarkan oleh Pemimpin Agung, apabila Pemimpin Agung tidak meyakini (pendapat tersebut) dan pandangan beliau yang mulia tidak berubah, maka para pejabat wajib tunduk pada pendapat beliau.

4. Kini setelah Presiden yang terhormat selaku Ketua Dewan Tertinggi Keamanan Nasional, atas nama dirinya sendiri dan anggota lainnya, berkomitmen untuk menjaga hak-hak rakyat Iran dan poros perlawanan serta bertahan terhadap ketamakan pihak Amerika, dan telah menerima tanggung jawab atas terwujudnya butir-butir nota kesepahaman ini, dan Pemimpin Agung Revolusi Islam juga berdasarkan komitmen dan penerimaan tanggung jawab Presiden mengizinkan penandatanganan nota kesepahaman ini, maka penandatanganan nota kesepahaman ini memiliki legitimasi yang diperlukan dan wajib secara syariat, akal, dan hukum bagi Presiden yang terhormat, para anggota Dewan Tertinggi Keamanan Nasional yang terhormat, dan para pejabat diplomasi negara, bahwa apabila musuh melanggar janji dan tidak berpegang pada butir-butir nota kesepahaman ini, mereka segera dan dengan tegas keluar dari negosiasi serta memberikan tanggapan yang menghancurkan di bidang militer dan diplomasi.

5. Tidak diragukan lagi bahwa para pejabat terhormat dengan penuh ketulusan dan niat baik telah berupaya keras untuk mencapai tahap negosiasi ini, dan Pemimpin Agung Revolusi Islam pun telah menegaskan hal ini dalam pesan beliau. Oleh karena itu, dalam situasi kritis ini ketika berhadapan dengan musuh yang keji seperti Amerika Serikat yang kriminal dan rezim Zionis Israel pembunuh anak-anak, adalah wajib bagi seluruh rakyat Iran yang agung, berjuang, dan revolusioner, bahwa di satu sisi mereka mendukung para pejabat tersebut di kancah diplomasi, sehingga dengan dukungan rakyat mereka dapat menepati janji dan tanggung jawabnya serta menuntut pemenuhan butir-butir nota kesepahaman ini dalam kerangka hak-hak rakyat Iran dan poros perlawanan, dan di sisi lain mereka menuntut terwujudnya butir-butir nota kesepahaman ini serta mengawasi perilaku dan ucapan para pejabat.

6. Tidak diragukan lagi bahwa kita adalah pemenang di medan militer, dan Amerika serta rezim keji Zionis tidak mencapai satu pun tujuan mereka, bahkan mereka menerima pukulan-pukulan berat. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Pemimpin Agung Revolusi Islam dalam pesan ini dan pesan-pesan beliau sebelumnya, Amerika karena terdesak mengumumkan gencatan senjata dan beralih ke jalur negosiasi.

Kini, nota kesepahaman yang sama—yang menurut pandangan Pemimpin Agung Revolusi dan rakyat yang bangkit di jalanan, belum sepenuhnya memenuhi seluruh hak rakyat dan poros perlawanan— telah dianggap oleh hampir seluruh analis politik dunia dan banyak pejabat di berbagai negara sebagai dokumen kekalahan Amerika dan runtuhnya posisinya sebagai negara adikuasa dunia. Namun demikian, musuh berupaya di satu sisi dengan menafsirkan secara keliru dan menyatakan tidak akan melaksanakan butir-butir kesepakatan ini, dan di sisi lain dengan permainan media, untuk memperkenalkan dirinya sebagai pemenang, sehingga dengan cara ini ia dapat menjaga citranya di satu sisi, dan di sisi lain melemahkan perasaan serta harapan akan kemenangan di kalangan rakyat kita dan poros perlawanan. Para pejabat terhormat dan rakyat besar Iran harus mewaspadai taktik musuh dalam perang kognitif ini, dan dengan tetap berpegang teguh pada syarat-syarat ini serta mewajibkan musuh untuk merealisasikannya, dan juga dengan jihad tabyin (jihad penjelasan), mereka harus semakin memperkuat narasi kemenangan Iran di kancah domestik dan global.

7. Tidak diragukan lagi bahwa kehadiran yang penuh perjuangan, komitmen, dan berkelanjutan dari umat yang bangkit (dalam gerakan perlawanan) di jalananlah yang mampu, di tengah-tengah peristiwa-peristiwa sengit dari perang kombinasi (hibrida) yang tanpa henti dari front kekufuran dan kezaliman global, menggagalkan rencana-rencana musuh. Kini, kelanjutan kehadiran ini di jalanan merupakan keharusan mutlak untuk menggagalkan rencana-rencana pasca-perang dan pasca-kesepahaman musuh. Kehadiran ini, tuntutan, dan penekanan atas hak-hak penuh Republik Islam Iran dan poros perlawanan akan menjadi pendukung lunak dan tuas tekanan di tangan para pelaku diplomasi. Oleh karena itu, setiap perencanaan yang bertujuan melemahkan atau menghentikan kehadiran ini sampai selesainya fitnah keras dan lunak dari kekuatan imperialisme, merupakan akibat dari ketidakpahaman akan peran rakyat dalam pertempuran eksistensial ini, yang akan mengakibatkan kekalahan pasti bagi front kebenaran. Hawzah Ilmiyah sangat mendukung kelanjutan kehadiran rakyat ini dan akan berupaya untuk meningkatkan kualitas serta mengatasi beberapa kekurangan kecil yang ada di dalamnya.

8. Salah satu prediksi mengenai rencana musuh yang mungkin terjadi dan dapat didukung oleh bukti-bukti adalah bahwa musuh bermaksud, di satu sisi, dengan menyibukkan para pejabat sistem dalam negosiasi, untuk melewati Piala Dunia dan pemilu (atau peristiwa-peristiwa besar lainnya), dan di sisi lain untuk mengisi kembali cadangan minyak dan gas buminya, serta membangun kembali kekuatan militer dan ekonominya, dan memperbaiki kerusakan yang dideritanya dalam perang kognitif, sehingga ia siap untuk perang habis-habisan keempat dengan kekuatan dan kemampuan yang lebih besar. Para pejabat yang bertanggung jawab, serta pasukan militer dan kepolisian, harus waspada dan mempersiapkan diri seperlunya untuk mencegah terwujudnya rencana jahat ini dan untuk menghadapinya.

Dan tidak ada pertolongan itu kecuali dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Ali 'Imran: 126)

(Salam sejahtera atas kalian, serta rahmat dan berkah Allah)

Pusat Manajemen Hawzah Ilmiyah 

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha