Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Naser Rafi'i dalam acara berkabung malam ketujuh bulan Muharram di Masjid Suci Jamkaran, dengan merujuk pada tibanya hari-hari di mana kafilah Husaini berada dalam kepungan terberat, menyatakan: Berdasarkan riwayat sejarah, sejak tanggal 7 Muharram, air ditutup dari tenda-tenda Imam Husain (as) dan para sahabatnya, sehingga Ahlulbait (as) berada dalam kesulitan yang berat.
Beliau menyampaikan bahwa cara terbaik untuk mengenali tujuan dan cita-cita gerakan Asyura adalah dengan merujuk pada perkataan Imam Husain (as) sendiri, dan beliau menambahkan: Dari Makkah hingga Karbala, banyak khutbah, surat-surat, dan pernyataan dari Sayyidusy Syuhada Imam Husain (as) yang masih ada hingga kini, yang masing-masing menerangkan bagian dari kebenaran gerakan ilahi ini.
Guru besar Hawzah Ilmiyah Qom melanjutkan: Salah satu yang terpenting dari pernyataan-pernyataan tersebut adalah khutbah yang disampaikan oleh Imam Husain (as) pada ambang pertempuran Asyura. Khutbah yang singkat namun sarat dengan makna-makna luhur, yang menunjukkan bahwa beliau bahkan di saat-saat terakhir pun tidak pernah lalai dari membimbing manusia dan menyempurnakan hujjah (argumentasi) terhadap musuh-musuhnya.
Hujjatul Islam wal Muslimin Rafi'i menyatakan: Pada saat itu, Imam Husain (as) berkata kepada pasukan di hadapannya agar jangan terburu-buru membunuhnya, tetapi terlebih dahulu mendengarkan perkataannya sehingga kebenaran menjadi jelas bagi mereka dan hujjah pun sempurna atas semuanya.
Beliau merujuk pada isi khutbah tersebut dan menambahkan: Imam (as) berkata kepada musuh-musuhnya, "Jika kalian mendengarkan perkataanku dan menerima kebenarannya, maka kalian telah menemukan jalan kebahagiaan. Dan jika kalian tidak menerimanya, maka setelah hujjah sempurna, ambillah keputusan apa pun yang kalian kehendaki."
Guru Besar Hawzah ini mengingatkan: Sayyidusy Syuhada (as) kemudian, untuk menegaskan pendiriannya, membacakan dua ayat dari Al-Qur'an yang mulia. Salah satunya berkaitan dengan Nabi Nuh (as) dan dakwah beliau yang panjang dalam membimbing umatnya, sementara ayat lainnya menunjukkan tentang tawakal dan ketergantungan penuh kepada Allah Yang Maha Tinggi.
Beliau menegaskan: Perilaku Imam Husain (as) ini menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun, prinsip bimbingan, arahan, dan nasihat bagi manusia tidak boleh dilupakan, dan seorang mukmin berkewajiban untuk berusaha memperbaiki orang lain hingga kesempatan terakhir.
Hujjatul Islam wal Muslimin Rafi'i merujuk pada bagian lain dari khutbah tersebut dan mengatakan: Imam Husain (as) meminta kepada musuh-musuh untuk mendengarkan perkataan Beliau dengan adil, dan menilai tentang kebenaran dan kebatilan tanpa prasangka serta fanatisme.
Beliau menambahkan: Salah satu pelajaran terpenting dari Asyura adalah seruan untuk bersikap adil ini, dan seseorang dapat memahami kebenaran hanya ketika ia memperhatikan perkataan lawan bicaranya dengan pikiran yang bebas dan tanpa fanatisme.
Guru Besar Hawzah Ilmiyah Qom dalam lanjutan pidatonya membahas tentang kedudukan nasihat dalam ajaran Islam dan menyatakan: Dalam riwayat-riwayat Islam, sangat ditekankan untuk mendengarkan nasihat dan petuah, dan Amirul Mukminin (as) juga dalam wasiatnya kepada Imam Hasan Mujtaba (as) berkata bahwa hati menjadi hidup dengan nasihat.
Beliau menambahkan: Terkadang hanya satu kalimat, satu ayat, atau satu ucapan pendek dapat mengubah jalan hidup seseorang dan memberikan pengaruh yang mendalam pada roh dan jiwanya.
Hujjatul Islam wal Muslimin Rafi'i, dengan menyatakan bahwa para tokoh agama senantiasa menganggap diri mereka membutuhkan nasihat, mengatakan: Banyak dari para marja' dan ulama besar, meskipun memiliki tingkatan keilmuan yang tinggi, tetap hadir dalam majelis-majelis akhlak dan nasihat; karena mereka meyakini bahwa hati manusia seperti besi yang berkarat, dan nasihat itu mengkilapkannya (membersihkan karatnya).
Beliau merujuk pada kisah para sahabat Sabt dalam Al-Qur'anul Karim dan menambahkan: Sekelompok orang mukmin, meskipun mereka memperkirakan kemungkinan pengaruh (dakwah mereka) sangat kecil, tidak pernah meninggalkan perintah kepada yang ma'ruf dan larangan dari yang mungkar, dan mereka menyebutkan alasan perilaku ini sebagai penunaian kewajiban dan penyempurnaan hujjah di hadapan Allah SWT.
Guru hawzah ini menyatakan: Dalam Perang Shiffin pun, Amirul Mukminin (as), meskipun telah siap sepenuhnya untuk berperang, menunda permulaan peperangan agar mungkin sebagian dari pasukan lawan mendapatkan petunjuk dan kembali ke jalan yang benar.
Beliau melanjutkan: Pandangan yang sama juga terlihat dalam perilaku Imam Husain (as), di mana Beliau berulang kali pada hari Asyura berusaha membangkitkan hati nurani yang tertidur melalui khutbah-khutbah dan perkataan-perkataan yang berbeda.
Hujjatul Islam wal Muslimin Rafi'i, dengan merujuk pada pengaruh mendalam nasihat dalam sejarah Islam, mengatakan: Ada banyak sekali contoh di mana satu kalimat pendek, satu petuah, atau mendengarkan satu ayat dari Al-Qur'an telah mengubah jalan hidup seseorang dan mengarahkannya menuju tobat serta perbaikan diri.
Beliau menambahkan: Sejarah hidup tokoh-tokoh seperti Mirza Jahangir Khan Qashqa'i, serta beberapa figur terkenal yang bertobat, menunjukkan bahwa satu kalimat yang menginspirasi dapat mengubah nasib seseorang secara fundamental.
Guru Hawzah Ilmiyah Qom, dalam bagian lain dari pidatonya, merujuk pada faktor-faktor terpenting yang membangkitkan kesadaran manusia, menyatakan: Pemberi nasehat yang pertama adalah Allah SWT, yang dalam Al-Qur'anul Karim menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdiri karena Allah dan beramal dengan ikhlas.
Beliau menjadikan Al-Qur'an sebagai pemberi nasihat besar kedua bagi manusia, dan menambahkan: Ayat-ayat ilahi senantiasa menjadi lentera petunjuk bagi umat manusia, dan sepanjang sejarah banyak orang yang hanya dengan mendengarkan satu ayat saja mengalami transformasi spiritual yang mendalam.
Hujjatul Islam wal Muslimin Rafi'i menyebutkan kematian sebagai salah satu pemberi nasihat terpenting bagi manusia dan berkata: Menyaksikan kematian, mengiringi jenazah, berada di pekuburan, dan mengambil pelajaran dari berlalunya usia, semuanya menyadarkan manusia akan hakikat kehidupan dan akhir dunia.
Beliau melanjutkan: Pengalaman-pengalaman hidup, nasihat ayah dan ibu, wasiat-wasiat para wali Allah, bahkan celaan batiniah seseorang, juga termasuk faktor-faktor lain dari kebangkitan kesadaran dan petunjuk.
Hujjatul Islam wal Muslimin Rafi'i merujuk pada momen malam ketujuh Muharram dan mengenang musibah-musibah yang menimpa Ali Ashghar (as), menyatakan: Dalam tradisi pembacaan ratapan duka dan majelis-majelis duka, malam ketujuh Muharram diadakan untuk mengenang syuhada termuda Karbala, dan para pecinta Ahlulbait (as) pada malam ini bertawassul melalui musibah-musibah yang menimpa bayi berusia enam bulan tersebut.
Beliau menyampaikan bahwa para tokoh agama dalam kesulitan-kesulitan mereka biasa bertawassul kepada Ali Ashghar (as), beliau menambahkan: Bayi yang dizalimi ini, meskipun tidak berbicara sepatah kata pun di medan Karbala dan tidak hadir dalam gelanggang pertempuran, namun ia mewujudkan salah satu musibah paling menyayat hati di Asyura, dan namanya selamanya terikat dengan kedzaliman yang menimpa perjuangan Husaini.
Komentar Anda