Rabu 24 Juni 2026 - 23:16
Prosesi Duka Bagai Benteng Perlawanan

Hawzah/ Tepat pukul dua belas malam tiba, yaitu waktu yang telah ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri Bahrain sebagai batas berakhirnya mawkib (iring-iringan atau prosesi berkabung) dan upacara duka di berbagai wilayah. Namun, bagi mereka yang kini berbaris dalam sebuah mawkib yang megah, saat itu justru menjadi waktu dimulainya Mawkib Husaini mereka yang dilarang.

Berita Hawzah – Menurut "Mir'at al-Baḥrain", pukul dua belas malam tiba, yaitu waktu yang telah ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri Bahrain sebagai batas berakhirnya mawkib dan acara-acara berkabung di berbagai daerah. Akan tetapi, bagi mereka yang kini berbaris dalam sebuah mawkib yang megah, saat itulah dimulainya Mawkib Husaini mereka yang dilarang. Bukan semata-mata karena mereka telah terbiasa melakukannya pada tahun-tahun sebelumnya, melainkan karena mereka sengaja memilih waktu tersebut untuk menentang keputusan kementerian.

Suasana tampak biasa di permukaan, tetapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Para pelayat ini mengetahui bahwa mawkib mereka tidak mendapat persetujuan pemerintah, dan kehadiran mereka pada waktu tersebut dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap keputusan pemerintah. Meskipun demikian, mereka tetap hadir secara terbuka dengan mengenakan pakaian hitam, sebagaimana setiap tahun, walaupun mereka menyadari bahwa setelah itu mereka mungkin akan ditangkap.

Pada saat yang sama, sang pelantun syair duka (maddah) muncul dari sebuah gang kecil dengan wajah tertutup, lalu bergabung dengan para peserta mawkib. Begitu tiba, sebuah pengeras suara diserahkan kepadanya, dan ia mulai melantunkan syairnya. Namun, tidak seperti biasanya, para hadirin tampak sangat patuh kepadanya. Mereka dengan cepat merapikan barisan mereka, bahkan lebih cepat daripada yang lazim terlihat dalam mawkib biasa, dan sejak saat-saat pertama mereka dengan penuh semangat dan antusias turut melantunkan syair bersamanya. Semua orang di sini bersatu dalam tekad untuk melanggar keputusan penguasa, dan setiap orang berusaha menjalankan perannya dengan cermat, seolah-olah sedang menjalankan sebuah misi militer yang tidak memberi ruang bagi kesalahan.

Tidak ada yang mampu membangkitkan semangat perlawanan yang meluap-luap ini sebagaimana keputusan-keputusan menteri yang mereka anggap bodoh itu, yaitu Menteri Dalam Negeri, Rashid Al Khalifah. Ketika ia berusaha mengepung mawkib-mawkib dan membelenggu seluruh rangkaian peringatan Asyura dengan berbagai pembatasan, kini ia justru berhadapan dengan mawkib-mawkib yang tujuan pertama mereka adalah menginjak-injak dan menentang keputusan-keputusannya.

Beginilah gambaran perkabungan yang terlarang; sebuah perkabungan yang berlangsung di luar kepungan tangan besi aparat keamanan, bebas dari dominasi para petugas, dan tetap teguh menghadapi kehendak militerisme serta ambisi-ambisi hegemoni.

Di sini terbentang sebuah parit tanpa mesiu dan tanpa peluru, namun dipenuhi barisan para pelayat yang tertata rapi. Hentakan dada mereka dalam ritual berkabung menjadi pukulan yang meruntuhkan rancangan-rancangan kekuasaan dan menjatuhkan proyek-proyek dominasi.

Lalu Menteri Dalam Negeri dengan kebodohannya itu apa yang dilakukannya?

Mawkib-mawkib duka yang diizinkan sebelumnya beroperasi di bawah pengawasan aparat keamanan, tetapi kini dengan jumlah massa yang sama, bahkan dengan semangat yang lebih bergelora, mereka tetap keluar; seolah-olah mereka telah mengejek Menteri Dalam Negeri dan keputusan-keputusannya, tanpa aparatnya mampu menindak mereka sepenuhnya.

Dan alih-alih peringatan duka yang diizinkan berlangsung di bawah kepungan pemanggilan, panggilan telepon, dan gangguan dari pusat-pusat keamanan, kini muncullah mawkib-mawkib penuh semangat yang penyelenggaranya tidak dikenal, pembaca syairnya bertopeng, dan syair-syairnya terbebas dari guntingan sensor, baik dari pihak internal maupun keamanan. Para peserta pun terutama terdorong oleh motivasi untuk keluar menentang keputusan-keputusan penguasa; dan pada akhirnya, acara ini terbebas dari segala belenggu yang biasa dikenakan aparat keamanan terhadap mawkib-mawkib biasa.

Semua di sini mengangkat tangan ke atas, lalu menurunkan ke dada mereka, bagaikan ombak laut yang menggelora, dan dengan setiap hentakan di dada, partikel-partikel perasaan bergelora tersebar di angkasa untuk menghancurkan keputusan-keputusan pemerintah.

Siapa yang menciptakan pemandangan ini dengan kebodohan ini?

Mungkin Menteri Dalam Negeri tidak tahu apa yang telah diperbuatnya, dan mungkin di media sosial ia melihat video-video mawkib-mawkib ini, di mana dibacakan syair-syair politik dengan pesan-pesan yang jelas dan langsung, serta diteriakan slogan-slogan dan pekikan-pekikan politik yang justru ingin ia larang, dan dalam hal ini, kekalahannya berlangsung dengan cara yang menyakitkan, dan ia pun merasakan keputusasaan dan rasa malu atas apa yang telah dilakukannya!

Bukankah lebih baik ia mengganti para penasihat bodohnya yang tidak tahu apa-apa selain memiliterisasi suasana, memasang kawat berduri, dan mencemari ruang dengan penyakit-penyakit sektarian mereka?

Bertahun-tahun lamanya, majelis duka memelihara semangat dan gairah dengan cara yang tak mampu ditandingi oleh apa pun. Namun dalam beberapa tahun terakhir —di mata kami, generasi 1970-an dan 1980-an, dan tentu juga di mata generasi sebelum kami— ritual itu sedikit meredup karena berbagai sebab. Meski demikian, di sini, dalam berkabung yang digelar untuk menginjak-injak keputusan Menteri Dalam Negeri, sekali lagi ia membangkitkan semua perasaan dari dekade 1990-an; ketika mawkib-mawkib berkobar dengan ruh revolusi, syair-syair ditulis secara sembunyi-sembunyi dari pengawasan aparat intelijen, dan kelelawar kegelapan di waktu sahur mendatangi rumah-rumah para pembaca syair!

Apakah Menteri tahu apa yang terjadi di sini?

Anak-anak muda dari berbagai usia, generasi-generasi yang lahir setelah tahun 2011, yang tak pernah merasakan berbagai unjuk rasa rakyat dan tak pernah mengalami kobaran revolusi; kebanyakan dari mereka tak pernah tersuapi dari meja politik dan simbol-simbolnya, namun di sini mereka mengenakan pakaian hitam dan mengacungkan kepalan mereka, seolah-olah revolusi telah terlahir kembali di dada mereka.

Di satu sisi, ini adalah sebuah mukjizat Husaini, namun di sisi lain, ia mengingatkan pada ketidakmampuan solusi-solusi keamanan; ketika hasilnya berbalik seratus kali lipat, bahkan lebih, dan kembali menimpa para pemilik kebodohan itu sendiri.

Di sini, Menteri tidak mampu menentukan identitas orang-orang ini untuk mereka, atau membatasi mereka dalam kerangka identitas nasional yang ia inginkan, yang ingin ia perkecil sekadar seukuran keluarganya sendiri. Identitas di sini hanyalah identitas Husaini, dan cirinya yang paling menonjol adalah pencarian keserupaan dengan revolusi Husaini; yaitu meneladani kafilah Husaini yang keluar menentang pemerintahan Yazid dan secara terang-terangan membenci kehidupan bersama para penindas.

Dan karena Yazid bagi mereka di sini terjelma dalam wajah seorang penguasa yang hendak merampas harta mereka yang paling berharga, maka mawkib, syair, slogan, dan ratapan dadanya, semuanya menjelma menjadi sebuah revolusi Husaini yang terilhami dari Imam yang mengobarkan revolusi dari kepergiannya menentang pemerintahan zalim Bani Umayyah, dari penolakannya terhadap baiat. Mawkib ini mengambil keabadiannya dari matahari Husain (as), dan tidak akan pernah —seberapa ketat pun pengepungan dan seluas apa pun pengintaian— terkalahkan; sebagaimana darah Imam Husain (as) selamanya menang atas semua rezim, tiran, dan penguasa zalim.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha