Berita Hawzah – Rangkaian pembahasan tentang Mahdawiyah dengan judul "Menuju Masyarakat Ideal", dengan tujuan menyebarkan ajaran-ajaran dan pengetahuan yang berkaitan dengan Imam Zaman 'ajjalallahu ta'ala farajahu syarif, dipersembahkan kepada Anda para cendekiawan yang terhormat.
Perlu diketahui bahwa ghaibnya jasad seseorang atau benda-benda lain, serta tersembunyinya perbuatan dan tindakan manusia dari pandangan orang-orang yang hadir, bukanlah hal yang tanpa bukti dalam sejarah mukjizat dan karunia para nabi, wali, dan orang-orang mukmin; dan hal ini telah terjadi berulang kali.
Di antaranya, dalam tafsir ayat yang mulia:
«وَ إِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ جَعَلْنَا بَیْنَکَ وَ بَیْنَ الَّذِینَ لَا یُؤْمِنُونَ بِاْلآخِرَهِ حِجَاباً مَسْتُوراً.»
(Al-Isra/45)"
Dan apabila engkau membaca Al-Qur'an, Kami jadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, suatu tabir yang tertutup."
Selain bahwa lahiriah ayat menunjukkan bahwa Tuhan Yang Maha Suci melindungi dan menyembunyikan Rasul Agung Saww pada saat beliau membaca ayat-ayat Al-Qur'an dari orang-orang kafir yang berniat mengganggu beliau, dalam beberapa tafsir disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Suci menyembunyikan Nabi Saww ketika membaca Al-Qur'an dari Abu Sufyan, Nadhr bin al-Harits, Abu Jahal, dan Hammalat al-Hathab (pembawa kayu bakar). Mereka datang dan melewati dekat beliau, tetapi mereka tidak melihatnya. (Thabarsi, Majma' al-Bayān, jilid 6, hlm. 645; Suyuthi, ad-Durr al-Mantsūr, jilid 4, hlm. 186)
Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya meriwayatkan sebuah kisah tentang tersembunyinya diri Rasulullah Saww yang suci dari pandangan Ummu Jamil, si pembawa kayu bakar, dan di akhir kisah tersebut Ibnu Hisyam menukilkan kalimat ini dari Rasulullah Saww:
«لَقَدْ أَخَذَ اللهُ بِبَصَرِهَا عَنِّي.» (السیرة النبویة، ج ۱، ص۳۵۶)
Artinya: "Sungguh, Allah telah mengambil penglihatannya kepadaku dan menyembunyikan aku darinya."
Pada saat hijrah dari Makkah ke Madinah, menurut sejarah-sejarah yang terpercaya, orang-orang musyrik yang telah berkumpul di depan rumah Nabi Saww untuk membunuh beliau, tidak melihat beliau.
Kejadiannya demikian: setelah Nabi Saww memerintahkan Imam Ali as untuk tidur di tempat tidur beliau, beliau keluar rumah, mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke atas kepala mereka, lalu membacakan firman Allah «یس وَ الْقُرْآنِ الْحَکیِمِ» sampai «فَهُمْ لَا یُبْصِرُونَ», kemudian beliau melewati mereka dan tidak seorang pun melihat beliau. (as-Sīrah an-Nabawiyyah, jilid 1, hlm. 483; al-Kāmil fī at-Tārīkh, jilid 2, hlm. 103)
Dan juga dalam tafsir ayat mulia:
«وَجَعَلْنَا مِنْ بَیْنِ أَیْدِیهِمْ سَدّاً وَ مِنْ خَلْفِهِمْ سَدّاً فَاَغْشَیْنَاهُمْ فَهُمْ لَایُبْصِرُونَ؛
"Dan Kami adakan di hadapan mereka sebuah penghalang dan di belakang mereka sebuah penghalang, lalu Kami tutup (mata) mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat", terdapat riwayat-riwayat dalam kitab-kitab tafsir yang menunjukkan hal ini. (Thusi, at-Tibyān, jilid 8, hlm. 446; Thabarsi, Majma' al-Bayān, jilid 8, hlm. 649–650; Suyuthi, ad-Durr al-Mantsūr, jilid 7, hlm. 44; dan tafsir-tafsir lainnya)
Dengan demikian, masalah menghilangnya seseorang adalah masalah yang pernah terjadi dan memiliki bukti sejarah.
Adapun tersembunyinya identitas dan tidak dikenalnya seseorang tanpa menghilangkan raga, hal itu sangatlah sederhana dan mudah. Dalam banyak kasus, hal ini tidak memerlukan mukjizat atau hal-hal yang melanggar kebiasaan. Kita senantiasa melihat orang-orang yang tampak jelas di hadapan mata, namun kita tidak mengenali mereka.
Setelah pendahuluan ini, maka dalam menjawab pertanyaan tersebut dapat dikatakan:
Meskipun falsafah, kebenaran, dan manfaat ghaibah dapat terwujud melalui kedua cara (yakni tidak tampaknya jasad dan tidak dikenalnya identitas), serta berbagai aspek, seperti tersembunyinya perkara Imam 'alaihis salam sehingga tidak ada yang mengenal-Nya atau tidak ada yang dapat mengganggu-Nya, beserta tujuan-tujuan dan maksud-maksud lain yang terkandung dalam ghaibah beliau, semuanya dapat tercapai dalam kedua keadaan tersebut; namun dari penghimpunan riwayat-riwayat dan kisah-kisah tentang kehormatan bertemu dengan beliau, serta dengan menggunakan penafsiran sebagian riwayat atas sebagian yang lain, dapat dipahami bahwa ghaibah beliau benar-benar terjadi dalam kedua bentuk tersebut (yakni tidak tampak dan tidak dikenal), bahkan terkadang dalam satu waktu yang sama, kedua bentuk ghaibah itu terjadi secara bersamaan. Maknanya adalah bahwa seseorang melihat beliau namun tidak mengenali-Nya, sementara orang lain pada saat yang sama sama sekali tidak melihat beliau. Sebagaimana hal itu terjadi pada Nabi Muhammad Saww, di mana dalam sejumlah peristiwa yang telah disebutkan, sebagian orang melihat beliau sementara sebagian yang lain tidak melihatnya.
Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa ghaibah secara jasmani (tidak tampaknya raga) tidak terjadi tanpa mukjizat dan khariq al-'adah. Akan tetapi, tersembunyinya nama dan identitas serta tidak dikenalnya seseorang, dapat terjadi secara wajar (tanpa hal-hal yang luar biasa). Meskipun demikian, dalam beberapa situasi, kelangsungan keadaan tersebut atau pencegahan agar orang lain tidak berupaya mencari tahu dan mengenali, memerlukan mukjizat serta campur tangan dalam jiwa-jiwa manusia. Dan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Tinggi, demi terwujudnya kehendak-Nya dan pemeliharaan terhadap Waliyul Amr (Imam) 'alaihis salam, menyediakan segala sebab, baik yang biasa maupun yang luar biasa, baik melalui perantaraan beliau sendiri maupun secara langsung, dengan cara apa pun yang dipandang mengandung kemaslahatan.
Pembahasan ini akan dilanjutkan...
Diambil dari kitab "Jawaban atas Sepuluh Pertanyaan seputar Imamah" karya Ayatullah Shafi Gulpaygani, dengan sedikit penyesuaian.
Komentar Anda