Rabu 17 Juni 2026 - 03:38
Ayatullah A'rafi Jelaskan 9 strategi Asyura untuk Hadapi Kondisi Saat Ini

Hawzah/ Kepala Hawzah Ilmiyah menegaskan: Setiap bentuk mundur dari kedaulatan nasional atau menerima kompromi dengan rezim Zionis, yang berupaya menghancurkan cita-cita Palestina dan melakukan genosida terhadap rakyat kami yang tertindas, merupakan bentuk pembaruan baiat (sumpah setia) kepada Yazid pada zaman sekarang.

Berita Hawzah – Dalam pesan analitis dan strategisnya, Ayatullah A'rafi menyatakan bahwa salah satu wujud terbesar dari "upaya melakukan perbaikan (thalab al-ishlah)" pada era sekarang adalah penguasaan atas garis depan ilmu pengetahuan, kecerdasan buatan, serta terwujudnya kedaulatan ekonomi dan swasembada. Dengan demikian, umat Islam dapat keluar dari bawah cambuk pemerasan dan tuntutan sepihak internasional, serta mengubah keseimbangan kekuatan demi kepentingan kaum tertindas.

Kebangkitan yang menyeluruh ini, pada masa kini, bernafas dalam cakrawala global dan komprehensif dari risalah Huseini, serta melampaui batas-batas konflik mazhab dan perbedaan-perbedaan sekunder di dalam tubuh umat.

Kedalaman sejati dari gerakan Huseini bertumpu pada "otoritas rujukan yang menyeluruh dan melampaui zaman dari Peristiwa Karbala dalam proyek besar reformasi mendasar umat." Hal ini merupakan salah satu pokok lain dalam pesan Ayatullah A'rafi. Dalam kaitan ini, beliau menegaskan:

"Gerakan Huseini sama sekali bukanlah sebuah gerakan untuk merebut kekuasaan, mengejar kepentingan kelompok, fanatisme kesukuan, sektarian, ataupun kepentingan keluarga. Sebaliknya, gerakan itu merupakan respons yang menentukan terhadap suatu penyimpangan struktural dan mendalam yang pada masa awal dan fundamental sejarah Islam sedang menyesatkan arah perjalanan umat."

Kepala Hawzah Ilmiyah dalam bagian lain dari pesannya menegaskan bahwa saat ini kita menyaksikan dalam keteguhan, perlawanan, dan perjuangan Iran, Lebanon, serta seluruh front perlawanan di kawasan, perwujudan nyata dan kelanjutan hidup dari Peristiwa Karbala sebagai rujukan tertinggi bagi keteguhan, kepahlawanan, dan pengorbanan dalam menghadapi mesin-mesin kebiadaban global yang paling kejam.

Dalam medan perjuangan seperti itu, setiap bentuk mundur dari kedaulatan nasional atau menerima kompromi dengan rezim Zionis Israel, yang berupaya menghancurkan cita-cita Palestina dan melakukan genosida terhadap rakyat kami yang tertindas, merupakan bentuk pembaruan baiat (sumpah setia) kepada Yazid pada zaman sekarang.

Selengkapnya, simak pesan analitis dan strategis Ayatullah A'rafi berikut ini:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji dan syukur bagi Tuhan yang sekali lagi menganugerahkan kepada kita nikmat yang agung berupa kesempatan untuk merasakan dan menghayati hari-hari Asyura; sebuah kesempatan yang bersifat spiritual untuk menyucikan jiwa, akal, dan hati dunia Islam di bawah cahaya, petunjuk, makna, dan spiritualitas dari kebangkitan Imam Husain as.

Dengan berhembusnya semilir Asyura Huseini, sekali lagi jiwa-jiwa para pencinta kebebasan di seluruh dunia dipenuhi oleh keharuman gerakan reformasi terbesar dalam sejarah umat manusia; sebuah gerakan agung yang menjadi kompas petunjuk bagi kita di tengah perubahan-perubahan besar pada era sekarang.

Karbala tidak pernah dan tidak akan pernah sekadar menjadi sebuah peristiwa sejarah yang terbatas pada tahun 61 Hijriah. Karbala adalah sebuah arus yang dinamis dan hidup di kedalaman berbagai pergulatan yang kita hadapi saat ini, serta merupakan mata air yang terus memancar dari kekuatan yang dengannya umat Islam memutus rantai ketidakberdayaan dan ketergantungan, agar dapat kembali meraih kemuliaan, kehormatan, dan kewibawaannya di tengah masyarakat dunia.

Dan bersama sejarah, umat berseru:

«إِنِّی سِلْمٌ لِمَنْ سَالَمَکُمْ وَ حَرْبٌ لِمَنْ حَارَبَکُمْ إِلَی یَوْمِ الْقِیَامَةِ»

"Sesungguhnya aku berdamai dengan siapa saja yang berdamai dengan kalian, dan aku memerangi siapa saja yang memerangi kalian hingga Hari Kiamat."

1. Pandangan terhadap Asyura yang berorientasi pada misi, dalam realitas masyarakat Islam hari ini, menyingkap keterkaitan yang tak terpisahkan antara dua dimensi fundamental: “duka” dan “epik perjuangan”. Dimensi duka dan gejolak emosional yang membawa darah suci Karbala merupakan garis depan dalam membela hati nurani manusia di dunia modern; sebuah dimensi yang menyingkap wajah buruk kezaliman dan arogansi, serta mencegah fitrah manusia terbiasa dan menerima kondisi yang tidak adil.

Kedalaman emosional ini secara langsung dilengkapi oleh dimensi epik dan penciptaan kekuatan; di mana Husain (as), dalam medan kita hari ini, hadir sebagai pemimpin revolusioner dan pembangun peradaban, yang menghadirkan teladan tertinggi dalam keteguhan melawan sistem dominasi dan penghilangan identitas budaya kepada umat manusia.

2. Amanah sejarah ini hari ini berada di pundak para orator, media, seniman, dan para pencipta sastra Asyura, agar memperkenalkan Husain (as) kepada generasi muda dan opini publik dunia bukan sebagai “korban yang tak berdaya dan terasing”, melainkan sebagai arsitek masa depan dan perancang model-model peradaban baru. Darah orang tertindas dan peristiwa Karbala, sebagaimana dijelaskan oleh para pemikir dan ulama besar dalam pembacaan historis dan gerakan mereka, adalah kekuatan strategis dan pendorong utama yang menghancurkan legitimasi sistem-sistem zalim; sebuah kekuatan yang mampu membangun struktur peradaban, kemanusiaan, dan moral yang diperlukan untuk memandu pertempuran-pertempuran kontemporer serta mengubah keseimbangan kekuatan.

3. Kedalaman sejati dari gerakan ini bertumpu pada “otoritas total dan lintas sejarah dari peristiwa Karbala dalam proyek besar perbaikan mendasar umat”. Gerakan Husaini sama sekali bukan sebuah arus untuk merebut kekuasaan, kepentingan kelompok, fanatisme kesukuan, sektarian, atau keluarga, melainkan sebuah respons yang menentukan terhadap penyimpangan struktural dan mendalam yang pada masa itu mengarahkan umat —pada fase awal dan fondasional sejarah Islam— ke dalam kesesatan.

Husain (as) berdiri menghadapi sebuah arus yang terorganisir yang bertujuan menghapus wahyu, mengubah nilai-nilai Qur’ani, menangguhkan efektivitas Islam sebagai agama sekaligus sistem kehidupan di seluruh aspek, serta mengosongkan agama dari muatan risalah dan misi kenabiannya.

4. Berdasarkan kesaksian historis yang tegas ini, kedudukan Imam Husain (as), keimamahan beliau, serta keterkaitan langsungnya dengan sumber wahyu memberikan gerakan ini legitimasi yang absolut, luhur, dan berkelanjutan. Kedudukan ini menjadikan mengikuti garis Husaini sebagai sebuah kebutuhan vital bagi umat, sekaligus memberikan legitimasi yang lebih tinggi kepada setiap gerakan reformasi kontemporer yang berupaya menghadapi pemalsuan identitas Islam.

Gerakan tersebut mengambil landasan filosofisnya dari sabda abadi ini:

“Aku tidak keluar karena kesombongan atau mencari kemegahan, tidak pula untuk membuat kerusakan atau berbuat zalim. Sesungguhnya aku keluar hanya untuk menuntut perbaikan (islah) dalam umat kakekku.” 

5. Gerakan perbaikan kontemporer ini hari ini bertanggung jawab untuk membebaskan manusia dari belenggu distorsi pemikiran dan perampasan pengetahuan; pada masa ketika umat manusia di Timur dan Barat dunia menghadapi krisis eksistensial, di mana mesin materialisme telah meremukkan identitas dan keaslian individu, dan sistem globalisasi telah mengosongkan manusia dari kedalaman moral dan spiritualnya.

Di sinilah seruan Husain (as) di tengah kepungan menembus dinding sejarah dan menyeru manusia era digital:

“Jika kalian tidak memiliki agama dan tidak takut pada hari akhir, maka jadilah orang-orang merdeka dalam dunia kalian.”

Kata-kata ini adalah piagam hidup yang berbicara kepada akar kemanusiaan bersama dan fitrah manusia; ia menyelamatkan manusia modern dari keterasingan dalam siklus konsumerisme, serta menempatkan nilai-nilai keadilan dan kebebasan di atas perhitungan untung-rugi dan nihilisme material dari liberalisme ekstrem.

6. Keterkaitan organik antara gerakan ini dan realitas kontemporer berarti bahwa ucapan-ucapan besar Asyura berperan sebagai pendorong dan penggerak langsung dalam ranah strategis umat. Ketika kita mendengar gema seruan pencarian kehormatan sejarah yang berbunyi: “Ketahuilah bahwa anak hasil zina itu telah menempatkan kita di antara dua pilihan: antara pedang dan kehinaan, dan sungguh kehinaan itu jauh dari kami”, maka terjemahan geopolitik dan konkret dari hal tersebut di medan hari ini adalah penolakan mutlak terhadap dominasi dan kolonialisme baru.

Hari ini, dalam keteguhan, perlawanan, dan jihad Iran, Lebanon, serta seluruh poros perlawanan di kawasan, kita menyaksikan perwujudan nyata dan kelanjutan hidup dari peristiwa Karbala sebagai rujukan tertinggi dalam keteguhan, kepahlawanan, dan pengorbanan melawan mesin-mesin kebiadaban global yang paling kejam. Sebuah medan di mana setiap bentuk mundur dari kedaulatan nasional atau tunduk pada kompromi dengan rezim pendudukan Zionis Israel yang berupaya menghancurkan cita-cita Palestina dan melakukan genosida terhadap rakyat kita yang tertindas, dipandang sebagai pengulangan baiat kepada Yazid zaman ini.

Konsekuensi nyata dari janji: “Aku berlepas diri kepada Allah dan kepada kalian dari mereka, para pengikut, pendukung, dan wali mereka”, dalam dunia hari ini adalah dukungan penuh terhadap jaringan perlawanan dan penjagaan atas Baitul Maqdis (Al-Quds) demi mewujudkan daya tangkal dan kekuatan.

7. Dalam kelanjutan jalan ini, konsekuensi dari proyek perbaikan Asyura dalam perjuangan ilmiah dan peradaban kita adalah menutup kesenjangan pengetahuan dan teknologi; karena manifestasi terbesar dari “mencari perbaikan (islah)” pada zaman ini adalah penguasaan pada garis depan ilmu pengetahuan, kecerdasan buatan, serta terwujudnya kedaulatan ekonomi dan kemandirian, agar umat Islam keluar dari tekanan pemerasan internasional dan mengubah keseimbangan kekuatan demi kepentingan kaum tertindas.

Kebangkitan menyeluruh ini hari ini bernafas dalam cakrawala global dan universal dari risalah Husaini, serta melampaui batas-batas konflik mazhab dan perbedaan-perbedaan cabang di dalam umat; karena Husain (as) ketika bergerak keluar, tidak bergerak untuk satu kelompok tertentu, melainkan bangkit untuk perbaikan umat dan keselamatan kemanusiaan, dengan bersandar pada prinsip-prinsip kokoh Al-Qur’an dan Sunnah.

8. Kebangkitan kesadaran intelektual ini hari ini menyeru kita untuk mengaktifkan “pandangan sistemik dan struktural terhadap agama dan masyarakat”, agar dapat menetralkan fitnah sektarian dan proyek-proyek separatis yang dirancang oleh dinas-dinas keamanan asing, serta membuka front tunggal perlawanan peradaban yang melampaui perbedaan-perbedaan cabang demi menjaga eksistensi Islam dan melestarikan identitas fitrah bangsa-bangsa.

Di sinilah tanggung jawab historis para elit, lembaga-lembaga keagamaan (hawzah), dan institusi besar dunia Islam terikat dengan seruan kebangkitan historis Imam Husain (as) yang berkata:

“Adakah orang yang mau menolong kami demi Allah? Adakah orang yang membela kehormatan keluarga Rasulullah?”

Seruan pertolongan ini adalah panggilan yang hidup, kontemporer, dan terus berlanjut; diamnya para elit umat di hadapan pemalsuan nilai-nilai agama, genosida terhadap bangsa-bangsa tertindas, dan penghilangan kesadaran generasi muda, merupakan bentuk nyata dari sikap mencari aman yang serupa dengan mereka yang melanggar baiat pada tahun 61 Hijriah.

Menolong kebenaran di dunia hari ini tidak akan terwujud kecuali melalui keberanian dalam berbicara, “jihad penjelasan (jihad tabyin)”, dan keteguhan menghadapi kekaisaran kebohongan media.

9. Dengan menerbitkan piagam Asyura dan peradaban ini, kami meyakini dengan penuh keyakinan bahwa umat Islam tidak mengalami kekurangan, baik dalam sumber daya material maupun dalam modal manusia yang istimewa. Dunia Islam hari ini justru berada di ambang manifestasi dan aktivasi tekad besi Husaini serta wawasan intelektual yang mampu mengubah keseimbangan, bahkan menulis ulang sejarah.

Janji Ilahi tentang kemenangan kaum tertindas dan runtuhnya singgasana kezaliman serta materialisme adalah pasti. Semoga musim Asyura ini menjadi langkah teguh kita menuju terwujudnya “otoritas dan kepeloporan peradaban”, serta penyajian model global yang selaras dengan fitrah dan hati nurani manusia.

وَالسَّلامُ عَلَی الحُسَیْنِ، وَعَلَی عَلِیِّ بْنِ الحُسَیْنِ، وَعَلَی أَوْلادِ الحُسَیْنِ، وَعَلَی أَصْحَابِ الحُسَیْنِ الأَحْرَارِ.

Alireza Arafi

Kepala Hawzah Ilmiyah 

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha