Berita Hawzah – Menjelang Hari Raya Agung Ghadir Khum—hari penyempurnaan agama dan pelengkapan nikmat Ilahi—kami mengkaji kedudukan peristiwa besar ini dalam kaitannya dengan Al-Qur'an al-Karim; sebuah peristiwa yang menjadi titik pertemuan antara kenabian dan imamah serta jalan abadi bagi petunjuk umat manusia.
Dalam kesempatan ini, kami merasa terhormat menjadi tuan rumah bagi Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Reza Moaddab, pakar Al-Qur'an dan anggota dewan dosen universitas, untuk menelaah lebih dekat makna Ghadir dan hubungannya dengan ajaran-ajaran Al-Qur'an dari perspektif tersebut.
Pokok-pokok pembahasan wawancara:
- Apakah Ghadir semata-mata merupakan sebuah penunjukan historis, ataukah perwujudan nyata dari sistem kepemimpinan Ilahi untuk melanjutkan bimbingan kenabian yang fondasinya telah diletakkan dalam prinsip-prinsip imamah di dalam Al-Qur'an?
- Bagaimana Khutbah Ghadir mengubah hubungan antara “Kitab dan Ahlulbait (Itrah)” dari sekadar konsep teoritis menjadi sebuah realitas yang nyata dan strategis?
- Dalam kaitannya dengan peristiwa Ghadir, kapasitas peradaban dan sistem sosial seperti apa yang diberikan oleh ayat “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian” (QS. Al-Ma'idah: 3) kepada agama Islam?

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sembari mengucapkan selamat atas datangnya Hari Raya Ghadir yang agung, perlu ditegaskan bahwa peristiwa Ghadir Khum merupakan sebuah kejadian bersejarah yang telah ditetapkan dalam kehendak Ilahi. Sejak awal kerasulan Nabi Islam (saww) hingga akhir masa kenabian beliau, peristiwa ini senantiasa mendapat perhatian dan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Peristiwa tersebut menjadi tahapan terakhir ketika Rasulullah (saww), setelah menyelesaikan manasik haji dan dalam perjalanan pulang dari Makkah, menyampaikan sebuah khutbah yang sangat berharga, penuh cahaya, dan sarat makna pada Hari Ghadir.
Di tempat ketika para jamaah haji sedang berpamitan dan berpisah satu sama lain, Rasulullah (saww) mengumpulkan mereka dan menyampaikan sebuah khutbah mengenai peristiwa Ghadir. Dalam khutbah tersebut, beliau tidak hanya memperkenalkan Imam Ali (as) sebagai penerus dan imam setelah beliau serta menjelaskan keutamaan dan kemuliaan beliau, tetapi juga menyampaikan sebuah visi umum dan garis besar kebijakan besar bagi tata kelola politik Islam. Garis kebijakan dan program Ilahi ini sebenarnya telah disinggung sebelumnya, namun pada kesempatan tersebut dijelaskan secara lebih sempurna dan mendasar.
Dalam khutbah itu, Rasulullah (saww) menyerahkan kepemimpinan dan pembinaan umat Islam setelah beliau kepada penerus yang sah, yaitu Amirul Mukminin Ali (as). Dengan demikian, beliau mengumumkan secara terbuka dan resmi wasiat serta imamah Imam Ali (as).

Khutbah Ghadir; Pengumuman Imamah dan Penentuan Arah Umat
Pada salah satu bagian khutbah bersejarah tersebut, Rasulullah (saww) bersabda:
"Ma'asyar an-nas, inni nabiyyun wa 'Aliyyun wasiyyi, ala inna khatamal a'immah minna al-Qa'im al-Mahdi."
Artinya:
"Wahai manusia, aku adalah seorang nabi dan Ali adalah penerus (wasi)ku. Ketahuilah bahwa penutup para imam dari keluarga kami adalah al-Qa'im al-Mahdi."
Pada haji terakhir beliau, Rasulullah (saww) secara resmi mengumumkan program Ilahi tersebut. Sebagaimana setiap bangsa memiliki hari-hari penting, sensitif, dan menentukan dalam sejarahnya, umat Islam juga memandang Hari Raya Ghadir sebagai hari raya yang sangat besar dan karenanya harus senantiasa menjaga kenangannya tetap hidup dalam hati mereka.
Baca juga:
Penargetan terhadap Kaum Syiah di Bahrain dalam Konteks Perkembangan Regional?
Peristiwa Ghadir merupakan salah satu kejadian paling menonjol dan salah satu epik terindah dalam sejarah Islam. Pada tahun terakhir risalahnya, Nabi Islam (saww) mengumumkan bahwa haji tersebut adalah haji terakhir beliau dan mengajak siapa saja yang ingin menyaksikan ibadah suci itu untuk menunaikannya bersama beliau. Banyak orang memenuhi seruan tersebut, sehingga sejumlah besar jamaah haji menyertai Rasulullah (saww).
Setelah manasik haji selesai, di kawasan Ghadir dan dalam perjalanan pulang, dalam sebuah pertemuan yang sangat penting, beliau menyampaikan:
"Wahai para peziarah! Wahai manusia! Misi kerasulan yang diembankan kepadaku mencapai puncaknya dengan menyampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku."
Dengan demikian, beliau menyampaikan sebuah pesan penting yang menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu kejadian paling menentukan dan sangat penting dalam sejarah Islam.
Dari Turunnya Berkah Ilahi hingga Manifestasi Wilayah: Menelaah Kembali Kedudukan Spiritual Hari yang Penuh Berkah Ini
Kita semua memikul tanggung jawab penting untuk memuliakan hari ini dan mengagungkan hari raya tersebut. Hari ini adalah hari turunnya berbagai kebaikan dan keberkahan Ilahi. Menurut riwayat dari Imam Ja'far as-Sadiq (as), pada hari inilah tobat Nabi Adam (as) diterima. Hari dimana Nabi Ibrahim (as) juga diselamatkan dari api berkat karunia Allah. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Nabi Musa (as), atas perintah Allah, menetapkan Nabi Harun (as) sebagai wasi dan penerusnya pada hari ini. Demikian pula, Nabi Isa (as) memperkenalkan Syam'un sebagai wasi beliau, dan bahtera Nabi Nuh (as) berlabuh dengan tenang di Gunung Judi pada hari yang sama.
Rasulullah (saww) memperkenalkan Imam Ali (as) sebagai pemimpin dan pembimbing umat serta menjelaskan berbagai keutamaan penting beliau. Mengenal kedudukan ini merupakan suatu keharusan bagi seluruh umat, dan sudah sewajarnya kaum beriman serta para pengikut Ahlulbait (as) sangat memuliakan hari tersebut. Menyelenggarakan majelis, perayaan, dan mengunjungi para sayyid (keturunan Nabi) memiliki keutamaan khusus pada hari ini.
Oleh karena itu, hari ini terkait dengan berbagai peristiwa penting, yang paling utama di antaranya adalah pengenalan Imam Ali (as) oleh Rasulullah (saww) sebagai Amirul Mukminin dan pemimpin umat.

Beberapa Poin Penting dari Keutamaan Imam Ali (as) yang Disampaikan Rasulullah (saww)
Kaum mukmin, orang-orang beriman, dan para pengikut Ahlulbait (as) hendaknya sangat mengistimewakan hari ini dan memberikan perhatian khusus pada hal-hal berikut:
- Menyelenggarakan majelis dan perayaan:
Hari-hari ini merupakan kesempatan untuk bergembira dan mengekspresikan kecintaan kepada Ahlulbait (as). - Mengunjungi para sayyid:
Menghormati dan memuliakan para sayyid yang merupakan keturunan Rasulullah (saww) dan Ahlulbait (as) memiliki keutamaan tersendiri pada hari-hari ini.
Dalam Perayaan Dekade Ghadir, Hendaknya Kita Berupaya untuk:
Lebih banyak membaca Khutbah Ghadir
Khutbah ini mengandung ajaran-ajaran yang mendalam dan penuh petunjuk. Memahaminya sangat penting untuk mengenal hakikat wilayah dan kepemimpinan.
Memahami hubungan hari ini dengan konsep wilayah
Ghadir merupakan titik balik dalam sejarah Islam dan menandai dimulainya imamah serta wilayah (kepemimpinan spiritual dan sosial) setelah Rasulullah (saww).
Mengetahui keterkaitan peristiwa masa lalu dengan kondisi saat ini
Kelanjutan garis wilayah, dari Amirul Mukminin Ali (as) hingga sistem Republik Islam, merupakan sebuah perjalanan yang harus terus diperjuangkan.
Menjadikan ketaatan kepada wilayah sebagai pedoman hidup
Berupaya untuk kemajuan Iran Islam dan sistem Republik Islam adalah tanggung jawab bersama.
Memperbarui ikrar kesetiaan kepada wilayah
Dengan memperbarui janji kepada cita-cita wilayah, kita melanjutkan jalan petunjuk dan bimbingan Ilahi.
Baca juga:
Kita Harus Kuat dalam Membela Diri Sekaligus dalam Negosiasi
Isyarat kepada Ayat-Ayat Al-Qur'an dalam Khutbah Ghadir
Dalam beberapa bagian Khutbah Ghadir, Rasulullah (saww) merujuk kepada ayat-ayat mulia Al-Qur'an dan membangun hubungan yang mendalam antara isi khutbah tersebut dengan wahyu Ilahi. Beliau bersabda:
"Sebagai hamba Allah, aku mengakui penghambaan diriku kepada-Nya. Allah telah memberitahuku agar aku tidak sedikit pun lalai dalam menyampaikan apa yang telah Dia turunkan kepadaku, dan tidak mengurangi sedikit pun dari risalah serta pesan-pesan-Nya, sementara Allah Yang Mahatinggi sendiri menjamin perlindunganku."
Pada bagian ini terdapat isyarat kepada firman Allah:
"Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu..."
(QS. Al-Ma'idah: 67)
Ayat yang mulia ini menunjukkan pentingnya menyampaikan risalah Ilahi dan besarnya tanggung jawab Rasulullah (saww) dalam melaksanakan tugas tersebut. Dalam konteks peristiwa Ghadir Khum, ayat ini dipahami sebagai penegasan atas kewajiban beliau untuk menjelaskan dan menyampaikan amanat Ilahi terkait kepemimpinan dan wilayah.
"Misi kerasulanku didasarkan pada pelaksanaan seluruh tugas yang berkaitan dengan Amirul Mukminin Ali (as) sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur'an al-Karim."
"Aku juga menyatakan bahwa aku diperintahkan untuk menyampaikan seluruh pesan Ilahi. Di antara pesan-pesan tersebut, wilayah (kepemimpinan) Amirul Mukminin Ali (as) menempati kedudukan yang sangat istimewa dan penting."

Manifestasi Kedudukan Amirul Mukminin (as) dalam Cermin Wahyu
Riwayat yang berbunyi:
"Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, wasiku, khalifahku, dan imam setelahku."
(yang dikaitkan dengan Ayat Tabligh) serta Ayat Wilayah:
"Sesungguhnya wali (pemimpin) kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka dalam keadaan rukuk."
(QS. Al-Ma'idah: 55)
dipandang sebagai penguat misi Ilahi tersebut.
Ayat mulia ini dipahami sebagai turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali (a.s.), yaitu ketika beliau sedang melaksanakan salat, lalu seorang yang membutuhkan datang kepadanya. Dalam keadaan tersebut, beliau memberikan cincin miliknya kepada orang itu. Dalam peristiwa ini terdapat penegasan yang kuat mengenai kedudukan Ali bin Abi Thalib (a.s.) sebagai penerus dan wasi yang ditetapkan oleh Rasulullah (saw), sekaligus menunjukkan kepribadian serta karakteristik beliau yang unik dan istimewa.
Selain itu, dalam Khutbah Ghadir juga terdapat rujukan kepada sejumlah ayat lain dalam Al-Qur'an al-Karim. Disebutkan bahwa Allah Swt. dalam Al-Qur'an telah menyebutkan berbagai sifat dan keutamaan bagi Amirul Mukminin (as), serta memperkenalkan beliau sebagai wali, wasi, dan manifestasi penyampaian risalah Ilahi. Semoga penegasan-penegasan mengenai imamah Amirul Mukminin (as), serta isyarat dalam Khutbah Ghadir mengenai keturunan beliau dan para Imam Maksum lainnya (as), mendapatkan perhatian yang layak dari kita.
Baca juga:
Para Pengikut Ghadir Berada di Garis Terdepan dalam Menghadapi Arogansi Global
Kita harus senantiasa memahami bahwa ajaran Al-Qur'an tidak hanya dapat diperoleh secara langsung dari teksnya, tetapi juga melalui riwayat-riwayat yang menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat tersebut. Sebagaimana dalam berbagai riwayat terdapat penjelasan atas ayat-ayat suci, seluruh hal ini semakin memperbesar tanggung jawab kita dalam menyebarkan dan memahami kebenaran-kebenaran tersebut.
Kita hendaknya berbangga dengan imamah dan perintah Ilahi ini; sebuah amanat yang diumumkan oleh Rasulullah (saw) pada Hari Ghadir. Bahkan dalam khutbah tersebut beliau juga menyampaikan peringatan mengenai azab neraka bagi para penentang wilayah dan musuh Amirul Mukminin (as).
Allah Swt. berfirman:
"Dan takutlah kepada suatu hari ketika tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan orang lain, tidak ada syafaat yang diterima, tidak ada tebusan yang diambil, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan."
(QS. Al-Baqarah: 48)
Allah Swt. berfirman di tempat lain:
“Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat pengintai.”
(QS. An-Naba’: 21)
Orang-orang yang meragukan jalan ini, mengingkari Khutbah Ghadir, dan tidak menerima imamah Amirul Mukminin (as) akan menghadapi kondisi yang sangat berat di masa mendatang.
Kami berharap Hari Raya Ghadir ini menjadi hari yang penuh berkah bagi semua. Semoga kita dapat berupaya lebih giat dalam menyampaikan ajaran-ajaran Amirul Mukminin (as), lebih memahami wilayah beliau, serta merenungkan Al-Qur'an dengan lebih mendalam. Pemahaman terhadap Al-Qur'an merupakan suatu keharusan, karena Al-Qur'an dan Amirul Mukminin (as) memiliki keterkaitan yang erat dalam konsep Tsaqalain (Dua Pusaka) dan menempati kedudukan yang sangat agung.
Segala puji bagi Allah. Tuhan semesta Alam.
Komentar Anda