Jumat 29 Mei 2026 - 20:20
Ketua Majelis Ulama Ahlul Bait Turki: “Allahu Akbar” adalah Senjata Perlawanan terhadap Zionisme dan Imperialisme

Hawzah/ Ketua Majelis Ulama Ahlul Bait Turki dalam khutbah Idul Adha menegaskan pentingnya persatuan umat Islam dan dukungan terhadap front perlawanan. Ia menyebut peristiwa di Gaza dan Lebanon sebagai kelanjutan dari pesan Karbala serta menyatakan bahwa seruan “Allahu Akbar” merupakan senjata terbesar dalam menghadapi sistem dominasi global.

Berita Hawzah – Ketua Majelis Ulama Ahlul Bait Turki (EHLA-DER), Hujjatul Islam wal Muslimin Syekh Qadir Akaras, dalam khutbah salat Idul Adha menegaskan konsep “hijrah”, “perlawanan”, dan “persatuan umat Islam”, serta menyatakan bahwa seruan “Allahu Akbar” adalah senjata terbesar dalam menghadapi imperialisme dan Zionisme.

Qadir Akaras, Ketua Majelis Ulama Ahlul Bait Turki, memimpin salat Idul Adha di Masjid “Kautsar Ahlul Bait” Turki.

Dalam khutbahnya, ia menyinggung dimensi spiritual dan batiniah dari ibadah haji dan kurban, serta menekankan pentingnya melawan kezaliman di dunia Islam, mendukung front perlawanan, dan membangun peradaban Islam dalam menghadapi imperialisme global.

Akaras menjelaskan bahwa haji dan kurban melambangkan hijrahnya manusia dari “rumah duniawi” yang dibangun oleh hawa nafsu, ambisi, dan kezaliman menuju Allah. Ia mengatakan bahwa ibadah ini bukan sekadar perpindahan geografis.

Ia menambahkan: “Manusia yang berhijrah demi Allah bahkan meninggalkan pakaiannya sendiri dan meninggalkan segala sesuatu yang fana untuk bergerak menuju Tuhan Yang Maha Kekal. Sebagaimana Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir yang kering, setiap perpisahan dan hijrah pada hakikatnya menyimpan perjumpaan dengan kebenaran yang abadi.”

Baca juga:
Syekh Naim Qassem: Melucuti Senjata Perlawanan Berarti Melucuti Kekuatan Pertahanan Lebanon

Dalam bagian lain khutbahnya, Ketua EHLA-DER menilai konsep “Allahu Akbar” lebih dari sekadar slogan dan menegaskan bahwa kalimat tersebut berarti penolakan terhadap seluruh kekuatan lahiriah, imperialisme, dan dominasi global.

Ia berkata: “Allahu Akbar berarti memasuki wilayah ketuhanan yang melampaui segala bentuk gambaran. Jika kita mengatakan bahwa Tuhan lebih besar dari Amerika, maka kita belum memahami makna Allahu Akbar secara utuh. Ketika kita mengucapkan Allahu Akbar, pada hakikatnya kita mengakui bahwa tidak ada kekuatan hakiki selain Allah. Allahu Akbar bukan hanya slogan saat kemenangan atau demonstrasi; tetapi berarti kita mampu mengatakan ‘Mati bagi Amerika’ dan ‘Mati bagi Israel’.”

Akaras juga membandingkan ketundukan Nabi Ibrahim (as) dalam mengorbankan putranya dengan pengorbanan Imam Husain (as) di Karbala. Ia kemudian menyinggung perlawanan rakyat Gaza dan Lebanon dengan mengatakan:

“Pada hari ini di Gaza dan Lebanon, para ayah dan ibu yang pada malam hari memandang wajah anak-anak mereka dengan penuh harapan, pada pagi harinya justru berhadapan dengan jasad mereka yang tercerai-berai. Tanggung jawab kita sangat besar; kita harus menghubungkan pesan Karbala dengan front perlawanan dan melangkah demi kebangkitan umat Islam dan kemanusiaan.”

Baca juga:
Seruan Paus Leo XIV untuk Selamatkan Gaza; Rakyat Masih Menderita

Di akhir khutbahnya, Ketua Majelis Ulama Ahlul Bait Turki menyinggung kejahatan Zionisme dan imperialisme global, serta menyebut iman sebagai senjata terpenting bagi front perlawanan. Ia juga mengenang para syuhada perlawanan sejak operasi “Badai Al-Aqsa”.

Dalam acara tersebut juga dibacakan surah Al-Fatihah dan salawat untuk arwah para syuhada perlawanan, di antaranya Imam Syahid Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Sayyid Hassan Nasrallah, Ismail Haniyeh, dan Yahya Sinwar, serta dipanjatkan doa bagi para pejuang yang terluka di front perlawanan.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha