Berita Hawzah – Sejumlah media Turki mengklaim bahwa Turkish Airlines, menyusul tekanan dari kampanye boikot terhadap pendukung Israel, telah menghapus produk The Coca-Cola Company dari daftar minuman pada penerbangan dan lounge mereka, serta memprioritaskan produk Pepsi sebagai penggantinya; klaim yang dengan cepat disertai reaksi dan kritik luas di media sosial.
Berdasarkan laporan yang telah dipublikasikan, disebutkan bahwa perubahan ini diterapkan pada penerbangan domestik, lounge di dalam Turki, serta beberapa penerbangan internasional. Mengingat tingginya volume konsumsi minuman harian dalam operasional penerbangan Turkish Airlines, langkah tersebut memerlukan penyesuaian besar dalam proses pengadaan dan logistik. Namun demikian, pokok persoalan lebih dari sekadar pergantian satu merek, melainkan berkaitan dengan gelombang kritik atas “mengganti satu merek Amerika dengan merek Amerika lainnya.”
Sebagian besar pengguna dan aktivis pendukung Palestina berpendapat bahwa jika klaim penghapusan Coca-Cola didasarkan pada hubungan ekonomi atau aktivitas yang dikaitkan dengan perusahaan tersebut di Israel, maka menggantinya dengan Pepsi tidak dapat memenuhi tuntutan gerakan boikot, karena Pepsi juga telah lama memiliki aktivitas ekonomi, investasi, dan kerja sama bisnis di Israel.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Pepsi pada tahun-tahun sebelumnya memiliki merek Israel “SodaStream,” dan hubungan dagangnya dengan sejumlah perusahaan makanan Israel beberapa kali menjadi bahan perdebatan dan protes dari para aktivis boikot. Oleh karena itu, sejumlah pengguna menggambarkan keputusan yang dikaitkan dengan Turkish Airlines sebagai “perubahan yang bersifat simbolis” dan menuntut adanya klarifikasi lebih lanjut.
Sementara itu, perhatian publik juga tertuju pada struktur kepemilikan saham kedua raksasa minuman dunia tersebut. Laporan menunjukkan bahwa sebagian besar saham kedua perusahaan dimiliki oleh dana dan investor institusional yang sama, seperti The Vanguard Group, BlackRock, dan State Street Corporation; hal yang menurut para pengkritik tidak menciptakan perbedaan mendasar antara kedua merek tersebut.
Hingga saat ini, Turkish Airlines belum secara resmi menjelaskan rincian perubahan tersebut atau alasan di baliknya, sementara perdebatan mengenai hakikat boikot ekonomi dan kriteria pemilihan merek pengganti masih terus berlanjut di ruang publik Turki.
Komentar Anda