Kamis 14 Mei 2026 - 00:09
Hizbullah; Kekuatan yang Tidak Akan Lenyap

Hawzah/ Janji-janji tentara rezim Zionis untuk menghancurkan kemampuan tempur Hizbullah memiliki jurang perbedaan yang sangat dalam dengan realitas lapangan di Lebanon selatan. Berlanjutnya serangan rudal dan drone, fleksibilitas struktur komando, serta perubahan strategi Hizbullah menjadi perang atrisi (penggerusan), telah memperlihatkan dengan jelas kesenjangan antara propaganda resmi dan kenyataan di lapangan.

Berita Hawzah – Sudah lama rezim Zionis berbicara tentang penghancuran kemampuan tempur Hizbullah, tetapi fakta-fakta di lapangan dalam pertempuran hari-hari ini di Lebanon selatan menunjukkan hal yang berbeda. Berikut ini kami membahas jarak yang sangat lebar antara janji kemenangan tentara rezim dan realitas di medan perang dalam pertempuran dengan Hizbullah di front utara.

Pertama, terdapat kontradiksi antara pernyataan resmi dan fakta di lapangan.

Berlawanan dengan klaim para komandan militer bahwa sebagian besar kemampuan tempur Hizbullah telah dihancurkan, perkembangan di lapangan justru menunjukkan adanya “kesenjangan persepsi”. Meski memiliki data yang akurat, tentara rezim berupaya menampilkan citra kemenangan total kepada publik untuk menutupi ketidakmampuannya mencapai tujuan strategis.

Kedua, rasa tertipu di kalangan warga perbatasan sangat jelas terlihat.

Warga wilayah utara, khususnya di permukiman “Al-Mutalla”, menaruh keberatan terhadap kinerja rezim Zionis. Ketua dewan setempat secara tegas menyatakan bahwa ucapan-ucapan mewah tentang lumpuhnya kekuatan musuh hanya dimaksudkan untuk menyesatkan para pemukim, sedangkan kenyataan di jalan-jalan wilayah utara tidak lain adalah kekecewaan dan perasaan tertipu.

Ketiga, kegagalan dalam menghancurkan kemampuan rudal dan drone Hizbullah semakin tampak.

Sementara tentara rezim Zionis mengklaim telah memusnahkan 80 persen kemampuan rudal lawan, serangan harian yang terus berlangsung membantah angka tersebut. Para ahli menilai bahwa pasukan Hizbullah masih memiliki lebih dari 20 hingga 25 ribu rudal.

Keempat, fleksibilitas struktur komando Hizbullah membuat pembunuhan para pemimpin tingkat atas tidak efektif.

Laporan di lapangan menunjukkan bahwa pembunuhan terhadap para pemimpin senior Hizbullah tidak membuat gerakan ini lumpuh. Dengan mengandalkan struktur yang “terdesentralisasi” dan para komandan tingkat menengah, mereka mampu dengan cepat mengisi kekosongan yang ditinggalkan para pemimpin. Struktur yang fleksibel ini membuat upaya tentara rezim Zionis untuk sepenuhnya melumpuhkan kemampuan operasional mereka menjadi mustahil.

Kelima, keseimbangan telah bergeser dari serangan menjadi perang attrisi.

Para analis Zionis berpendapat bahwa Hizbullah telah mengubah strateginya dari “serangan besar” menjadi “penggerusan” yang sistematis di wilayah utara. Kehadiran pasukan elite dalam tim-tim kecil dan independen telah membuat misi pertahanan udara dan darat rezim Zionis untuk menjamin keamanan kembalinya para pemukim menemui jalan buntu.

Semua ini menunjukkan bahwa propaganda resmi para pendudukan kalah oleh fakta di lapangan. Ketidakmampuan menghadirkan narasi yang jujur telah memperdalam krisis kepercayaan antara para pemukim dan institusi militer, serta membuktikan bahwa kemenangan mutlak hanyalah slogan politik yang jauh dari realitas militer.

Alireza Darkahi

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha