Berita Hawzah – Ketua Dewan Pembina Himpunan Ulama Muslim Lebanon, Syekh Ghazi Hanina, menyatakan bahwa Republik Islam Iran memiliki peran kepemimpinan di kawasan dan dunia dalam melawan Amerika Serikat serta musuh Zionis.
Pernyataan tersebut disampaikan Syekh Ghazi Hanina dalam webinar bertajuk "Imam Khamenei; Pemimpin Syahid" yang digelar pada hari Selasa oleh Majelis Global Pemersatu Umat Islam (Majma' Al-Taqrib bayn Al-Madhahib Al-Islamiyyah) di Tehran.
Syekh Hanina menjelaskan bahwa sejak awal Revolusi Islam, Iran telah memahami bahaya sarang mata-mata Amerika. Karena itu, mahasiswa Iran setelah mengepung kedutaan Amerika, bergerak untuk mengusir Amerika dari tanah air mereka. Setelah itu, terjadi serangan Amerika ke gurun Tabas yang berakibat jatuhnya pesawat-pesawat Amerika dan tewasnya sejumlah tentara AS.
Ia menambahkan bahwa perang delapan tahun yang dipaksakan rezim Saddam Hussein terhadap Iran secara jelas menunjukkan betapa besarnya permusuhan Timur dan Barat terhadap Republik Islam Iran.
Syekh Hanina juga mengingatkan bahwa Imam Khomeini sejak hari pertama kembali ke Iran telah menyatakan sikapnya terhadap rezim Zionis dan penutupan kedutaan rezim tersebut. Beberapa bulan kemudian, beliau menetapkan Hari Quds Sedunia, Pekan Persatuan Islam, dan Hari Kaum Mustad'afin (tertindas).
Ia menegaskan bahwa setelah terbentuknya kelompok-kelompok perlawanan di Lebanon serta perlawanan Palestina – pasca suasana kompromis akibat pertemuan Liga Arab – kelompok-kelompok perlawanan Palestina di bawah pimpinan Organisasi Pembebasan Palestina lahir dari medan pertempuran, dan muncullah kelompok-kelompok pembebas Palestina baru seperti Hamas dan Jihad Islam yang berakar pada masyarakat Palestina.
Oleh karena itu, lanjutnya, Republik Islam Iran dengan rasa tanggung jawab terhadap kelompok-kelompok perlawanan tersebut memberikan dukungan agar mereka dapat mencapai kesiapan penuh.
Syekh Ghazi Hanina mengatakan bahwa dukungan ini menunjukkan konsistensi sikap dan pandangan kepemimpinan Republik Islam Iran pada masa Imam Khomeini dan setelah beliau, Imam Khamenei. Di sinilah pentingnya perintah Allah untuk bersiap, sebagaimana firman-Nya: "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu mampu, dan pasukan kuda-kuda perang, yang dengan itu kamu dapat menakuti musuh Allah dan musuhmu."
Ia juga menyebutkan bahwa Pasukan Quds merupakan salah satu bagian terpenting yang terkait dengan rencana pembebasan Quds dan Palestina serta kembalinya rakyat Palestina ke tanah mereka yang telah digasab. Hal ini menunjukkan realitas dan konsistensi pandangan Republik Islam Iran selama 47 tahun mengenai konsep jihad defensif.
Syekh Ghazi Hanina menambahkan bahwa melalui konferensi yang berharga ini, ia menegaskan bahwa sikap Republik Islam Iran – yang dibangun atas dasar kesiapan dan swasembada internal tanpa perlu bantuan pihak-pihak regional dan internasional dalam mempersenjatai diri secara militer – telah menyebabkan Iran memiliki peran utama di kawasan dan dunia dalam melawan Amerika dan musuh Zionis. Bahkan, Iran mampu menghancurkan pangkalan-pangkalan militer Amerika di seluruh kawasan serta menghancurkan pangkalan-pangkalan militer Zionis di tanah Palestina.
Ketua Dewan Pembina Himpunan Ulama Muslim Lebanon, dengan merujuk pada syahidnya para pemimpin besar Revolusi Islam dan sejumlah tokoh cemerlang revolusi di awal perang terakhir, menegaskan bahwa pendekatan jihad inilah yang membuat Republik Islam Iran tetap kokoh dan stabil. Dalam hal ini, perlu disebutkan pula kesiapan infrastruktur dalam negeri serta dukungan rakyat Iran yang selalu teguh dalam mengikuti perintah Imam Khomeini dan Imam Khamenei.
Komentar Anda