Senin 16 Maret 2026 - 10:52
Syarah Doa | Faktor-faktor Ampunan dan Maghfirah Allah dalam Al-Qur'an

Hawzah/ «اللهمّ اجْعَل سَعْیی فیهِ مَشْکوراً و ذَنْبی فیهِ مَغْفوراً و عَملی فیهِ مَقْبولاً و عَیْبی فیهِ مَسْتوراً یا أسْمَعِ السّامعین», "Ya Allah, hargailah seluruh usaha dan upayaku di bulan ini, ampunilah seluruh dosa dan kekhilafanku di bulan ini, dan terimalah seluruh amal perbuatanku di bulan ini, serta tutupilah seluruh aib dan kekuranganku di bulan ini. Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari keduapuluh enam bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari keduapuluh enam bulan Ramadan beserta artinya:

«اللهمّ اجْعَل سَعْیی فیهِ مَشْکوراً و ذَنْبی فیهِ مَغْفوراً و عَملی فیهِ مَقْبولاً و عَیْبی فیهِ مَسْتوراً یا أسْمَعِ السّامعین»

"Ya Allah, hargailah seluruh usaha dan upayaku di bulan ini, ampunilah seluruh dosa dan kekhilafanku di bulan ini, dan terimalah seluruh amal perbuatanku di bulan ini, serta tutupilah seluruh aib dan kekuranganku di bulan ini. Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar."

Dalam doa hari ini, seorang hamba yang berpuasa menyampaikan empat permohonan kepada Allah Swt. Pada bagian pertama doa ini, disebutkan: «للهمّ اجْعَل سَعْیی فیهِ مَشْکوراً »,"Ya Allah, hargailah seluruh usaha dan upayaku di bulan ini."

Dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam bagian ini. Pertama, kita memohon kepada Allah agar menghargai usaha kita. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan "usaha"?

Jenis-Jenis Usaha dan Upaya pada Manusia

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah manusia dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan berdasarkan usaha yang mereka lakukan, dan penting untuk membedakan antara usaha dan amal. Golongan pertama adalah orang-orang yang tidak memiliki usaha dan amal, artinya mereka sama sekali tidak berusaha dan tidak mengambil langkah apa pun di jalan Allah. Jelas bahwa mereka tidak akan mendapatkan pahala apa pun, tidak akan mencapai kedudukan apa pun di akhirat, dan tidak pantas mengharapkan ucapan terima kasih dari Allah.

Golongan kedua adalah orang-orang yang taat beragama, beramal saleh, dan melakukan kebaikan. Namun, semua amal dan ibadah mereka hanya sebatas hal yang biasa, dan tidak sampai pada tingkat usaha yang sungguh-sungguh. Sehingga, mereka masih tidak pantas untuk berkata, «للهمّ اجْعَل سَعْیی فیهِ مَشْکوراً »,"Ya Allah, hargailah seluruh usaha dan upayaku di bulan ini."

Adapun golongan terakhir adalah mereka yang tidak sekadar melakukan amal yang lazim, tetapi juga menunjukkan kesungguhan dan upaya yang besar dalam beramal saleh. Mereka melampaui batas kewajaran dalam beribadah, berinfak, berdakwah dan memberikan bimbingan, melayani masyarakat, menyelesaikan permasalahan orang lain, serta berjihad. Mereka yang demikian patut mengharapkan agar segala ikhtiar mereka diterima dan diapresiasi oleh Allah Swt.

Usaha ini dihargai dalam Al-Quran, dan dalam surat An-Najm ayat 39, Allah Swt berfirman: «وَ أَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى», "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."

Sebagian orang juga melakukan usaha dan upaya yang besar, tetapi semua tindakan ini dilakukan dengan riya (pamer), sehingga amal perbuatan tersebut tidak menghasilkan apa pun bagi mereka. Dalam surat Al-Kahf ayat 103-104, Allah Swt berfirman: «قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا», "Katakanlah: 'Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya."

Adapun juga golongan orang beriman yang usaha dan upaya mereka mendapatkan apresiasi yang agung dari Allah Swt. Golongan inilah yang kemudian Allah Swt sebutkan dalam firman-Nya:

1. Orang-orang yang memberi makan dan membantu fakir miskin karena Allah. Dalam surat Al-Insan ayat 8, Allah Swt berfirman: «وَ يُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا», "Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan."

2. . Orang-orang yang mengerjakan amal saleh disertai dengan iman. Dalam surat Al-Anbiya ayat 94, Allah Swt berfirman: «فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ», "Maka barang siapa mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (Allah), dan sesungguhnya Kami mencatat untuknya."

Pada bagian kedua doa ini, disebutkan: «و ذَنْبی فیهِ مَغْفوراً », "Dan ampunilah seluruh dosa dan kekhilafanku di bulan ini."

Wajar saja, jika kita sebagai manusia pernah berbuat dosa dan melakukan kesalahan di masa lalu. Jika Allah Swt hanya menghakimi kita berdasarkan keadilan-Nya, maka neraka-Nya menjadi tempat yang pantas bagi kita, dan bahkan satu sama lain dari diri kita adalah sumber dari dosa-dosa tesebut. Namun, karena kasih sayang-Nya, Allah Swt memberi kita kesempatan untuk mendapatkan ampunan-Nya dan menghapus dosa-dosa kita.

Faktor-faktor Ampunan dan Maghfirah dalam Al-Quran

Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ampunan dan maghfirah Allah Swt dalam Al-Qur'an?

1. Mengamalkan seluruh perintah Nabi Muhammad Saw. Dalam surat Ali Imran ayat 31, Allah Swt berfirman: «قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ», "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

2. Beristighfar, mengingat Allah, dan meninggalkan dosa-dosa masa lalu. Dalam surat Ali Imran ayat 135, Allah Swt berfirman: «وَ الَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ», "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui."

3. Bertakwa. Dalam surat Al-Anfal ayat 29, Allah Swt berfirman: « يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ», "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil) kepadamu, menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah memiliki karunia yang besar."

4. Meninggalkan dosa-dosa masa lalu. Dalam surat Al-Anfal ayat 38, Allah Swt berfirman: «قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ», "Katakanlah kepada orang-orang kafir itu (jika) mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali (murtad), maka sungguh, telah berlaku sunnah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang dahulu."

5. Hati yang bersih. Dalam surat Al-Anfal ayat 70, Allah Swt berfirman: « يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِمَنْ فِي أَيْدِيكُمْ مِنَ الْأَسْرَىٰ إِنْ يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِمَّا أُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ», "Wahai Nabi (Muhammad)! Katakanlah kepada para tawanan perang yang ada di tanganmu, 'Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan Dia akan mengampuni kamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Pada bagian ketiga doa ini, disebutkan: «و عَملی فیهِ مَقْبولاً», "Dan terimalah seluruh amal perbuatanku di bulan ini." Cara dan sebab agar diterimanya amal perbuatan, dan penghalang dari diterimanya amalan, adalah pembahasan yang dapat kita telaah dalam doa ini, yang telah disinggung dalam doa-doa di hari-hari sebelumnya.

Kemudian, pada bagian keempat doa ini, disebutkan: «و عَیْبی فیهِ مَسْتوراً», "Serta tutupilah seluruh aib dan kekuranganku di bulan ini." Tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam bagian ini. Pertama, Allah adalah Sattārul 'Uyūb (Maha Menutupi Aib). Kita semua memiliki aib, tetapi berkat rahmat Allah, kita tidak mengetahui aib satu sama lain dan kita harus bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Dalam hadis disebutkan bahwa jika aib dan dosa berbau, tidak ada seorang pun yang mau berdiri di dekat orang lain. Kedua, kita juga harus seperti Allah yang Maha Menutupi Aib, yaitu menutupi aib orang lain dan memohonkan ampunan Allah bagi orang yang berdosa. Ketiga, ketika melihat aib orang lain, kita tidak berhak menyebarkannya kepada orang lain, karena itu termasuk ghibah (menggunjing) dan sayangnya fenomena negatif ini ada di masyarakat kita. Kita harus membiasakan diri bahwa setiap kali membicarakan orang lain, kita menyebutkan kebaikannya dan tidak menyebutkan aib mereka. «یا أسْمَعِ السّامعین», "Wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha