Berita Hawzah – Almarhum Syaikh Mufid 'alaihissalam meriwayatkan dari Ibrahim bin Hasyim Al-Qummi:
Pada saat Imam Ali bin Musa Ar-Ridha alaihissalam meneguk cawan kesyahidan, aku berangkat ke Makkah Al-Mukarramah. Di tengah perjalanan, aku juga berkesempatan menghadap Imam Abu Ja'far, Muhammad Al-Jawad (as). Begitu kami memasuki rumah, aku melihat banyak sekali orang-orang Syiah yang telah datang dari berbagai kota dan daerah untuk berkunjung dan menemui Muhammad Al-Jawad (as).
Beberapa saat kemudian, paman beliau—yang bernama Abdullah bin Musa, seorang lelaki tua yang sudah sepuh—masuk ke dalam majelis dengan mengenakan pakaian yang kasar, lalu duduk di sudut ruangan. Kemudian, Muhammad Al-Jawad (as) memasuki majelis dengan mengenakan baju panjang, jubah, dan sandal putih. Semua orang berdiri untuk menghormati beliau. Kemudian, paman beliau mendekati Imam (as) dan mencium dahi keponakannya. Setelah itu, beliau duduk di tempatnya di atas sebuah kursi yang telah disiapkan sebelumnya. Seluruh hadirin terheran-heran dan takjub akan keagungan dan wibawa beliau di usia kanak-kanak tersebut. Di saat itu juga, seseorang berdiri dan bertanya kepada paman beliau: "Bagaimana pendapat Anda mengenai seseorang yang berhubungan badan dengan seekor binatang?", kemudian Abdullah menjawab: "Tangan kanannya harus dipotong, dan hukuman (had) syar'i juga harus dijatuhkan kepadanya."
Tiba-tiba, Muhammad Al-Jawad (as) sangat tidak senang dan marah. Dengan pandangan kepada pamannya, beliau bersabda: "Wahai pamanku! Bertakwalah kepada Allah, takutlah kepada-Nya. Sangat berbahaya suatu saat nanti engkau berdiri di hadapan Allah Yang Maha agung dan Dia berkata: 'Mengapa engkau berpendapat tentang sesuatu yang tidak engkau ketahui?!'"
Abdullah berkata: "Bukankah ayahmu (Imam Ali Ar-Ridha) telah berkata demikian?"
Imam Muhammad Al-Jawad (as) berkata: "Ayahku ditanya persoalan seseorang yang menggali dan membongkar kuburan seorang perempuan, lalu ia berhubungan badan dengan mayatnya. Ayahku menjawab: 'Tangan kanannya harus dipotong dan hukuman zina harus dijatuhkan kepadanya, karena dosa terhadap yang hidup dan yang mati adalah sama.'"
Pada saat itu, Abdullah mengakui kesalahannya dan berkata: "Aku salah. Engkau benar, kebenaran ada di pihak-Mu. Dan aku akan memohon ampun kepada Allah."
Setelah itu, orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat yang berkumpul, setelah menyaksikan kejadian ini, semakin heran dan takjub. Mereka berkata: "Wahai pemimpin dan junjungan kami! Jika Engkau mengizinkan, kami akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kami dan Engkau berkenan menjawabnya?"
Muhammad Al-Jawad (as) berkata: "Ya. Ajukanlah apa yang ingin kalian tanyakan, dan aku akan menjawabnya."
Maka, dalam majelis tersebut, sekitar tiga puluh ribu pertanyaan diajukan kepada beliau. Dengan ketajaman intelektual dan kefasihan bicara yang luar biasa, dan masih berusia sembilan tahun, beliau menjawab seluruhnya dengan jelas dan detail. (1)
Catatan Kaki:
1. Al-Ikhtishash karya Syaikh Mufid: halaman 102; Bihar al-Anwar: jilid 50, halaman 85, hadis 1.
Komentar Anda