Berita Hawzah – Ayatullah Sayyid Yasin al-Musawi, Imam Jumat Bagdad dan dosen Hawzah Ilmiyah Najaf Ashraf, dalam khutbah salat Jumat tanggal 7 Agustus 2026 M, menekankan: Ziarah Arbain telah menjelma menjadi fenomena yang luar biasa dan lintas-regional, melampaui penafsiran-penafsiran yang semata-mata materialistis. Kehadiran jutaan peziarah dapat dianggap sebagai "tuntutan syar'i" dan "pengobatan spiritual" untuk memulihkan harga diri serta mematahkan semangat keterpurukan di kalangan umat.
Ayatullah Sayyid Yasin al-Musawi dalam pernyataannya yang terperinci, dengan merujuk pada jumlah peziarah Arbain yang belum pernah terjadi sebelumnya, mengatakan: Jumlah peziarah telah melampaui 22 juta orang, dan perkiraan menunjukkan bahwa jumlah mereka yang tidak dapat mencapai pusat kota karena kepadatan yang ekstrem adalah beberapa kali lipat dari angka tersebut.
Beliau menambahkan: Kehadiran jutaan ini bahkan melampaui pertemuan-pertemuan keagamaan terbesar di dunia, dan fenomena "kedermawanan dan pengorbanan" serta keramahan luar biasa dari rakyat Irak telah menarik perhatian para peneliti dan perwakilan dari berbagai agama.
Imam Jumat Bagdad juga menyoroti perubahan perilaku yang mendalam di kalangan rakyat Irak, dan mengatakan: "Bahkan orang-orang yang temperamental dan mereka yang sangat berhati-hati dalam membelanjakan hartanya, larut dalam kehormatan melayani para peziarah."
Beliau menyatakan bahwa perilaku ini bersumber dari ikatan keyakinan yang mendalam antara masyarakat dengan Imam Husain (as), dan menyebutnya sebagai salah satu "rahasia alam" yang menjadi faktor utama di balik pengorbanan-pengorbanan tersebut.
Ayatullah al-Musawi juga berbicara tentang fenomena jalan kaki Arbain, meskipun terdapat kesulitan-kesulitan cuaca, dan mengatakan: Gerakan ini tidak dapat dijelaskan semata-mata dengan ukuran-ukuran material, melainkan berakar pada dimensi-dimensi spiritual dan gaib. Para peziarah merasakan bahwa Imam Husain (as) telah melimpahkan perhatiannya kepada mereka dengan pandangan malakuti; karena itulah mereka berangkat menuju ziarah dengan kerinduan yang tak terlukiskan, dan kesulitan-kesulitan hidup tidak menghalangi pergerakan mereka.
Perkumpulan dan Kehadiran Jutaan; Sebuah Tuntutan Keagamaan
Imam Jumat Bagdad, menanggapi para kritikus dan mereka yang meragukan efektivitas perkumpulan-perkumpulan semacam ini, menekankan: "Jumlah dan perkumpulan" dalam ajaran-ajaran agama merupakan tuntutan syar'i, dan teks-teks Al-Qur'an serta hukum-hukum Islam menekankan pentingnya perkumpulan (ijtima').
Beliau dalam hal ini merujuk pada kewajiban salat Jumat dan ibadah haji, mengatakan: Haji merupakan "perkumpulan terbesar" umat Islam.
Ayatullah al-Musawi menyatakan: Hikmah ilahi di balik terbentuknya perkumpulan besar semacam ini adalah terciptanya sebuah "perisai psikologis" melawan perasaan lemah dan keterasingan yang dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan besar kepada bangsa-bangsa.
Beliau menggambarkan perkumpulan-perkumpulan jutaan orang ini sebagai "pengobatan nyata" bagi penyakit-penyakit rohani seperti ketakutan dan kepengecutan, dan menambahkan: Perasaan lemah menyeret seseorang ke dalam depresi dan keputusasaan; tetapi ketika seseorang melihat dirinya di tengah lautan peziarah dan mendengar seruan-seruan penuh martabat dan epik Imam Husain (as), rasa keterpurukan itu lenyap dan berubah menjadi kekuatan spiritual yang meningkatkan tingkat ibadah dan hubungan seseorang dengan Tuhan.
Peringatan tentang Upaya-Upaya Asing untuk Menggagalkan Ziarah Arbain
Imam Jumat Bagdad, di bagian lain pidatonya, memperingatkan tentang upaya-upaya asing untuk menggagalkan syiar keagamaan ini, dan mengatakan bahwa Amerika Serikat berupaya menciptakan hambatan di jalur penyelenggaraan ziarah Arbain melalui tekanan-tekanan politik dan keamanan.
Beliau menegaskan: Upaya-upaya untuk menciptakan ketidakamanan dan serangan telah gagal berkat kewaspadaan rakyat Irak, dan kehadiran luas masyarakat dalam ziarah Arbain menunjukkan menurunnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan.
Peringatan tentang Rencana-Rencana AS untuk Menciptakan Perpecahan di Angkatan Bersenjata Irak
Ayatullah al-Musawi selanjutnya, dengan merujuk pada masalah-masalah keamanan nasional Irak, memperingatkan: Ada rencana-rencana yang sedang dijalankan di mana "Tom Barrack", pejabat Amerika, melalui mereka berupaya menciptakan konflik internal dan memecah belah persatuan angkatan bersenjata Irak serta mengarahkan mereka untuk berhadapan dengan kelompok-kelompok perlawanan dan Kurdistan.
Beliau dengan menekankan pentingnya menjaga kohesi angkatan bersenjata Irak menegaskan: "Darah Syiah adalah garis merah" dan segala upaya untuk menyeret pasukan Irak ke dalam fitnah-fitnah yang bertujuan melemahkan pemerintah dan struktur militer negara harus dicegah.
Penekanan pada Persatuan dalam Menghadapi Musuh Bersama
Imam Jumat Bagdad di akhir pidatonya, dengan menekankan pentingnya persatuan nasional, mengatakan: Perbedaan-perbedaan mazhab dan politik tidak boleh menghalangi persatuan barisan dalam menghadapi "musuh bersama", yaitu Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel.
Beliau dalam pesan kebapakannya menyatakan: "Saya tidak berbicara dari posisi politik, melainkan dari posisi kebapakan; semua anak-anak kami di pasukan keamanan, Al-Hashd Al-Sya'bi, dan perlawanan adalah saudara-saudara kami, dan setiap upaya untuk memecah belah persatuan ini atau menggunakan kekerasan terhadap salah satu pihak, akan dihadapi dengan kesadaran dan persatuan rakyat."
Komentar Anda