Selasa 7 April 2026 - 14:55
Ulama Ahlus Sunnah Pakistan: Berdiri di Samping Iran Berarti Berdiri di Samping Iman

Hawzah/ Mufti Mukarram Al-Qadri dalam pernyataannya menyatakan: "Hari ini, ketika kami mengatakan bahwa kami berdiri di sisi Iran dalam perang ini, maksudnya bukan sekadar mendukung sebuah negara, tetapi kami berdiri di sisi iman dan Islam."

Berita Hawzah – Mufti Mukarram Al-Qadri, seorang cendekiawan dan mufti Ahlus Sunnah Pakistan, dalam acara peringatan Pemimpin Syahid Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah meridhainya) yang digelar di kota Karachi, Pakistan, menyatakan: "Hari ini, ketika kami mengatakan bahwa kami berdiri di sisi Iran dalam perang ini, maksudnya bukan sekadar mendukung sebuah negara, tetapi kami berdiri di sisi iman dan Islam."

Dalam pernyataan selanjutnya, ia menegaskan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara Syiah dan Sunni, dan mereka yang memicu perpecahan sebenarnya sedang memperkuat muslihat musuh. Oleh karena itu, umat Islam harus bersatu berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ada.

Mufti Mukarram Al-Qadri lebih lanjut menyatakan: "Pemimpin agung yang syahid, Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei, telah mendidik suatu umat yang telah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi Amerika. Keberadaan kota-kota bawah tanah persenjataan rudal di Iran menunjukkan bahwa kesiapan ini telah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu. Kini, meskipun beliau telah wafat sebagai syahid, putra beliau, Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei, telah mengangkat bendera ini, dan beliaulah pemimpin bagi seluruh umat Islam."

Ia menambahkan: "Hari ini, ketika kami mengatakan bahwa kami berdiri di sisi Iran dalam perang ini, maksudnya bukan sekadar mendukung sebuah negara, tetapi kami berdiri di sisi iman dan Islam."

Mufti Mukarram Al-Qadri, merujuk pada kegiatan-kegiatan pemecah belah di media sosial, mengatakan: "Saat ini, beberapa elemen sektarian aktif di ruang maya yang melancarkan propaganda keagamaan negatif terhadap Iran dan berupaya memicu perselisihan, padahal tindakan-tindakan ini pada praktiknya menguntungkan Amerika dan Israel. Pada hakikatnya, jika kita cermati, tidak ada perbedaan antara Syiah dan Sunni, dan keduanya berada di sisi satu sama lain."

Ia melanjutkan: "Imam Bukhari juga meriwayatkan hadits dari perawi Syiah. Ini menunjukkan bahwa menurut beliau, kaum Syiah juga merupakan ahli iman. Maka, ketika Imam Bukhari berpendapat demikian, tidak tersisa ruang lagi bagi pernyataan orang-orang yang memecah belah."

Pakar agama ini juga merujuk pada teologi Ahlus Sunnah, mengatakan: "Di kalangan Ahlus Sunnah, terdapat dua imam besar dalam ilmu teologi: Abu Mansur Al-Maturidi dan Abu Al-Hasan Al-Asy'ari. Secara akidah, Ahlus Sunnah adalah pengikut Maturidi atau Asy'ari. Kedua imam ini menetapkan prinsip-prinsip seperti iman kepada Allah, Nabi, hari akhir, malaikat, serta kebaikan dan keburukan dari Allah sebagai rukun iman. Dan kaum Syiah juga beriman sepenuhnya kepada semua prinsip ini."

Di akhir pernyataannya, Mufti Mukarram Al-Qadri menegaskan pentingnya persatuan: "Ketika Allah dalam Al-Qur'an memerintahkan Nabi untuk mengajak Ahli Kitab menuju kalimat yang sama, yaitu tauhid dan menjauhi kemusyrikan, lalu mengapa kita, meskipun terdapat perbedaan mazhab, tidak berkumpul di atas kesamaan-kesamaan kita? Api perpecahan ini sebenarnya dinyalakan oleh orang-orang sektarian demi kepentingan pribadi mereka. Hari ini, sudah sepantasnya kita berdiri di sisi Iran, karena sesungguhnya itu adalah berdiri di sisi iman."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha