Sabtu 14 Maret 2026 - 17:13
Syarah Doa | Perbuatan Tercela Menurut Al-Qur'an: Perbuatan yang Mengundang Kemurkaan Allah

Hawzah/ «اللهمّ إنّی أسْألُکَ فیه ما یُرْضیکَ و أعوذُ بِکَ ممّا یؤذیک و أسألُکَ التّوفیقَ فیهِ لأنْ أطیعَکَ و لا أعْصیکَ، یا جَوادَ السّائلین», "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu di bulan ini segala sesuatu yang membuat-Mu ridha, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala sesuatu yang membuat-Mu murka, dan aku memohon kepada-Mu taufik di bulan ini agar selalu taat dan tidak maksiat kepada-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Dermawan kepada hamba-hamba yang memohon."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari keduapuluh empat bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari keduapuluh empat bulan Ramadan beserta artinya:

«اللهمّ إنّی أسْألُکَ فیه ما یُرْضیکَ و أعوذُ بِکَ ممّا یؤذیک و أسألُکَ التّوفیقَ فیهِ لأنْ أطیعَکَ و لا أعْصیکَ، یا جَوادَ السّائلین»

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu di bulan ini segala sesuatu yang membuat-Mu ridha, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala sesuatu yang membuat-Mu murka, dan aku memohon kepada-Mu taufik di bulan ini agar aku senantiasa taat dan tidak maksiat kepada-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Dermawan kepada hamba-hamba yang memohon."

Seorang hamba yang berpuasa di hari ini memiliki tiga permintaan kepada Allah Swt. Penggalan pertama doa ini, berbunyi: «اللهمّ إنّی أسْألُکَ فیه ما یُرْضیکَ», "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu di bulan ini segala sesuatu yang membuat-Mu ridha."

Dalam bait ini, ada tiga poin penting yang perlu diperhatikan:

Poin pertama: perbuatan-perbuatan apa saja yang menyebabkan keridaan dan kesenangan Allah menurut pandangan Al-Qur’an? Hal ini telah dijelaskan secara rinci dalam pembahasan doa-doa pada hari-hari sebelumnya.

Poin kedua: Apakah doa dan bermunajat kepada Allah itu benar-benar diperlukan? Mengingat bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia hati, dan niat manusia, lalu apa manfaatnya kita berdoa kepada-Nya? Jawabannya, doa memiliki banyak manfaat yang sangat penting dalam kehidupan kita.

Manfaat Berdoa dan Memohon kepada Allah Swt

1. Ketika seorang mukmin berdoa dan memohon, hatinya memiliki kecenderungan yang nyata terhadap doa tersebut, dan hatinya menjadi layak menerima anugerah dari Allah Swt.

2. Ketika kecenderungan itu muncul, ia akan melakukan usaha nyata untuk mencapai apa yang didoakannya.

3. Doa bukan hanya sekedar ibadah, tetapi juga sarana untuk mengingat Allah. Dengan mengingat Allah Ta'ala, manusia akan mencapai kesempurnaan spiritual.

Jenis-Jenis Doa Menurut Imam Khomeini (ra)

Pembahasan ketiga mengenai: apakah setiap doa dan permohonan yang dipanjatkan kepada Allah SWT pasti dikabulkan? Imam Khomeini, dalam kitab Syarh Du‘a as-Sahar, mengklasifikasikan doa menjadi tiga tingkatan, yaitu: doa lisan (ucapan), doa dengan hati, dan doa dengan kelayakan diri. Ketiga tingkatan ini memiliki perbedaan signifikan.

Yang dimaksud dengan doa dengan lisan adalah doa yang diucapkan seseorang dengan lisannya kepada Allah berkali-kali, namun ia tidak memperhatikan makna doa tersebut dan juga tidak memperhatikan keadaan ruhani dirinya. Doa seperti ini tidak memiliki jaminan untuk dikabulkan, karena manusia seharusnya berdoa dengan kesiapan dan keadaan ruhani yang sesuai.

Adapun doa dengan hati adalah doa yang dipanjatkan seseorang dengan khusyuk dan memusatkan seluruh perhatiannya kepada Allah. Namun, menurut Imam Khomeini, doa seperti ini pun belum memiliki jaminan pasti untuk dikabulkan, karena bisa jadi orang tersebut belum membangun kelayakan dalam dirinya untuk menerima pengabulan doa.

Jenis ketiga adalah doa dengan kelayakan diri. Doa ini dipanjatkan ketika seseorang telah membangun kesiapan dan kelayakan dirinya, baik secara spiritual maupun material. Dalam kondisi ini, doa tersebut lebih berpotensi untuk dikabulkan.

Pada bagian kedua dari doa ini, berbunyi: «و أعوذُ بِکَ ممّا یؤذیک», "Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala sesuatu yang membuat-Mu murka." Dari sudut pandang Al-Qur'an, apa saja perbuatan yang dikategorikan sebagai menyakiti atau mengganggu Allah SWT? Dengan menelaah kata adza (gangguan/menyakiti) dalam Al-Qur'an, kita dapat menemukan jawabannya. Berikut adalah beberapa contohnya.

Jenis-Jenis Perbuatan yang Mengundang Kemurkaan Allah Swt Menurut Al-Qur'an

1. Merusak Masyarakat: QS. Al-Baqarah [2]: 205, «وَ إِذا تَوَلَّي سَعي‏ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فيها وَ يُهْلِکَ الْحَرْثَ وَ النَّسْلَ وَ اللَّهُ لا يُحِبُّ الْفَسادَ», "Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan."

2. Riba: QS. Al-Baqarah [2]: 276, « يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ», "Allah menghancurkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa."

3. Menzalimi orang lain: QS. Ali Imran [3]: 57, « وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ», "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Allah akan memberikan pahala mereka dengan sempurna. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim."

4. Berbangga Diri kepada Orang Lain: QS. An-Nisa' [4]: 36, « وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا», "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,"

5. Berkhianat kepada Masyarakat dan Orang Lain: QS. An-Nisa' [4]: 107, «وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا», "Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.'

6. Berkata kasar dan memaki Orang Lain: QS. An-Nisa' [4]: 148, «لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا», "Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

7. Boros: QS. Al-An'am [6]: 141, « وَ هُوَ الَّذي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشاتٍ وَ غَيْرَ مَعْرُوشاتٍ وَ النَّخْلَ وَ الزَّرْعَ مُخْتَلِفاً أُکُلُهُ وَ الزَّيْتُونَ وَ الرُّمَّانَ مُتَشابِهاً وَ غَيْرَ مُتَشابِهٍ کُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذا أَثْمَرَ وَ آتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصادِهِ وَ لا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفينَ», "Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."

8. Bersikap sombong: QS. An-Nahl [16]: 22, « لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ», "Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong."

9. Menimbun Kekayaan: QS. Al-Qasas [28]: 76, « إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ», "Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ""Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri"".

Pada poin ketiga doa di atas disebutkan: « و أسألُکَ التّوفیقَ فیهِ لأنْ أطیعَکَ و لا أعْصیکَ، یا جَوادَ السّائلین», " dan aku memohon kepada-Mu taufik di bulan ini agar aku senantiasa taat dan tidak maksiat kepada-Mu. Wahai Dzat Yang Maha Dermawan kepada hamba-hamba yang memohon."

Bagaimana cara Allah menganugerahkan taufik kepada kita? Apakah taufik diberikan kepada semua hamba-Nya, atau hanya sebagian? Jika ada sebagian orang yang tidak mendapatkannya, bukankah itu sebuah ketidakadilan?

Allah SWT memiliki dua jenis petunjuk, yaitu petunjuk umum dan petunjuk khusus. Petunjuk umum diperuntukkan bagi seluruh manusia, yaitu dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw dan para Imam Maksum 'alaihissalam. Sementara itu, petunjuk khusus hanya diberikan kepada sebagian hamba, dan menunjukkan jalan yang lebih tepat kepada mereka. Menurut Al-Qur'an, ada beberapa golongan yang tidak diberikan petunjuk dan taufik oleh Allah Swt, sehingga mereka tetap dalam kesesatan.

Golongan Mana Saja yang Tidak Mendapatkan Taufik Khusus?

Golongan pertama adalah orang-orang fasik yang melakukan dosa secara terang-terangan. Dalam surah Al-Baqarah [2]: 26, Allah Swt berfirman: «انَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ», “Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka tahu bahwa itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah dengan perumpamaan ini?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik.”

Golongan kedua adalah orang-orang zalim. Dalam surah Al-Baqarah [2]: 258 disebutkan: «وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ», "...Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

Golongan ketiga adalah orang-orang yang riya' (pamer). Dalam surah Al-Baqarah [2]: 264 kita membaca: «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ», “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

Golongan keempat adalah orang-orang yang berlindung kepada orang kafir demi mengamankan dirinya sendiri dan keluarganya. Dalam surah Al-Maidah [5]: 51 kita membaca: «ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ», “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Golongan yang Mendapatkan Taufik dari Allah

Adapun golongan-golongan yang Allah berikan taufik, di antaranya disebutkan dalam Al-Quran:

1. Orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Dalam surah Al-Ankabut [29]: 69 kita membaca: «وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِي», “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”

2. Orang-orang yang mencari keridhaan Allah. Dalam surah Al-Maidah [5]: 16 disebutkan: « يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ», “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha