Berita Hawzah – Almarhum Ayatullah Mujtahidi Tehrani dalam salah satu ceramahnya membahas "Penjelasan Doa Hari Kedua belas Bulan Suci Ramadhan", yang kami sajikan ulasannya sebagai berikut.
«اللَّهُمَّ زَیِّنِّی فِیْهِ بِالسِّتْرِ وَالعَفافِ، وَاسْتُرْنِی فِیْهِ بِلِباسِ القُنُوعِ وَالکَفافِ، وَاحْمِلْنِی فِیْهِ عَلی العَدْلِ وَالاِنْصافِ، وَآمِنِّی فِیْهِ مِنْ کُلِّ ما أَخافُ بِعِصْمَتِکَ یا عِصْمَةَ الخائِفِینَ»
"Ya Allah, hiasilah diriku di bulan ini dengan sifat malu dan kesucian. Tutupilah diriku di bulan ini dengan pakaian kepuasan dan kecukupan. Bimbinglah aku di bulan ini untuk berlaku adil dan jujur. Dan amankanlah aku di bulan ini dari segala sesuatu yang aku takuti, dengan penjagaan-Mu wahai Penjaga orang-orang yang ketakutan."
Penggalan Pertama Doa: «اللَّهُمَّ زَیِّنِّی فِیْهِ بِالسِّتْرِ وَالعَفافِ»
Bismillahirrahmanirrahim. "اللَّهُمَّ زَیِّنِّی فِیْهِ بِالسِّتْرِ وَالعَفافِ." Dalam doa yang mulia ini, kita memohon kepada Allah SWT agar menghiasi kita di bulan Ramadhan dengan dua sifat yang berharga:
"Sitr" (menutupi aib orang lain) dan "'Afaf" (kesucian diri dan harga diri).
"Sitr" berarti menutupi aib dan kesalahan orang lain. Seorang mukmin, alih-alih berfokus pada kelemahan orang lain dan mengungkapkannya, harus menutupi aib orang lain. Dalam riwayat disebutkan bahwa siapa pun yang menutupi aib seorang mukmin, Allah akan mencatat ibadahnya selama empat puluh hari dalam buku amalnya. Sayangnya, sebagian orang seperti lalat yang alih-alih hinggap di atas bunga, malah hinggap di atas kotoran dan terus-menerus mencari-cari kesalahan orang lain.
"Afaf" juga berarti kesucian diri dan pengendalian diri. Orang yang *afif* adalah orang yang tidak tamak terhadap harta orang lain, tidak melihat aurat orang lain, tidak berbohong, dan menjauhi yang haram. Hadis mulia mengatakan: "Berbahagialah orang yang memperhatikan aibnya sendiri dan tidak peduli dengan aib orang lain."
Dalam doa ini, kita memohon kepada Allah untuk mendidik kita sedemikian rupa sehingga pertama, kita mengabaikan dan menutupi aib dan dosa orang lain, dan kedua, kita sendiri dijauhkan dari dosa dan kesalahan serta memiliki kesucian diri. Kedua sifat ini adalah karakteristik mendasar dari seorang mukmin sejati yang harus lebih kita perhatikan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.
Penggalan Kedua Doa: « وَاسْتُرْنِی فِیْهِ بِلِباسِ القُنُوعِ وَالکَفافِ»
"وَاسْتُرْنِی فِیْهِ بِلِباسِ القُنُوعِ وَالکَفافِ." Dalam lanjutan doa hari ke-12 Ramadhan, kita memohon kepada Allah agar menutupi kita dengan dua pakaian yang berharga:
Pakaian qana'ah dan pakaian kecukupan.
1. "Qana'ah" berarti merasa puas dengan sedikit dan mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki.
2. "Kafaf" juga berarti mencukupkan diri sesuai kebutuhan, tidak lebih dan tidak kurang. Kedua sifat ini adalah kebajikan moral yang menonjol yang sangat ditekankan dalam ajaran agama.
Dalam sebuah riwayat dari Nabi Muhammad Saw diceritakan bahwa beliau bertemu dengan seorang penggembala dan meminta sedikit susu kepadanya. Gembala itu dengan senang hati memberikan susu itu, dan Nabi mendoakannya agar Allah menjadikan hidupnya dalam batas kecukupan. Kemudian beliau bertemu dengan orang lain yang menolak memberikan susu, tetapi Nabi mendoakannya agar Allah memberikan kekayaan yang berlimpah.
Para sahabat terkejut dengan perbedaan dalam doa ini, dan Nabi menjawab: "Doa yang sebenarnya adalah yang aku ucapkan untuk gembala itu, karena harta yang banyak menjerat manusia dan membawa banyak kekhawatiran, tetapi hidup dalam batas kecukupan itu menenangkan."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kekayaan yang berlimpah tidak selalu berarti kenyamanan. Mungkin saja seseorang memiliki banyak rumah tetapi sibuk dengan pemeliharaan dan pengelolaannya, sementara orang yang qana'ah hidup dalam kedamaian dengan apa yang sedikit dimilikinya.
Contoh lain dari qana'ah dapat dilihat dalam kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib alaihissalam. Diriwayatkan bahwa suatu hari seseorang membawakan semangkuk nasi untuknya, tetapi beliau berkata: "Ini sudah cukup untukku, bagikan sisanya kepada orang miskin." Beliau selalu mengambil secukupnya untuk kebutuhan sehari-harinya dan tidak berlebihan.
Dalam bagian doa ini, kita memohon kepada Allah agar di bulan Ramadhan, Dia mengenakan pakaian qana'ah kepada kita agar tangan kita tidak terulur di hadapan orang lain dan agar kita dapat menjalani hidup kita dengan bermartabat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis: "Qana'ah membuat seseorang menjadi kaya" dan "Siapa pun yang berqana'ah, akan menjadi mulia di mata orang."
Imam Ali bin Abi Thalib alaihissalam berkata: «مَن قَنَعَ عَزّ و مَن طَمَعَ ذَلّ», "Barangsiapa yang berqana'ah akan menjadi mulia dan barangsiapa yang tamak akan menjadi hina."
Oleh karena itu, kita harus memohon kepada Allah agar menutupi kita dengan pakaian qana'ah dan kecukupan agar kita memiliki kedamaian dalam hidup dan dimuliakan di sisi Allah dan manusia.
Penggalan Ketiga Doa: « وَاحْمِلْنِی فِیْهِ عَلی العَدْلِ وَالاِنْصافِ»
" وَاحْمِلْنِی فِیْهِ عَلی العَدْلِ وَالاِنْصافِ." Dalam lanjutan doa hari ke-12 Ramadhan, kita memohon kepada Allah SWT agar meneguhkan kita di jalan keadilan dan kejujuran.
Keadilan dan kejujuran adalah pilar penting dari akhlak Islam, yang perwujudannya dalam masyarakat meningkatkan keamanan dan kepercayaan di antara individu. Kehidupan para tokoh agama dalam menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran sangatlah mendidik.
Dalam riwayat disebutkan bahwa ketika Imam Ali bin Abi Thalib alaihissalam hendak membeli daging, beliau berkata kepada tukang daging: "Berikan aku daging yang sama seperti yang kamu berikan kepada semua orang. Jika kamu ingin memberikan potongan yang lebih baik kepadaku dan bagian yang kurang baik kepada wanita tua dan orang lain, aku tidak menginginkan daging seperti itu." Dan juga diriwayatkan bahwa beliau secara pribadi pergi ke toko roti untuk membeli roti dan mengantri. Jika ada sepuluh orang di depannya dalam antrean, beliau akan sabar menunggu sampai giliran mereka selesai dan kemudian mengambil roti. Perilaku seperti ini menunjukkan keadilan dan penghormatan terhadap hak-hak orang.
Di dekat makam Sayyidah Fathimah Maksumah di Qom, terdapat makam seorang ulama besar bernama Haji Qasim Kabir, yang merupakan seorang ulama mujtahid dan wali Allah. Di batu nisannya tertulis bahwa beliau terkenal karena keadilan dan kejujurannya.
Di zaman sekarang, keadilan dan kejujuran sangat penting, terutama bagi para ulama. Mereka seharusnya menjadi contoh dalam menjunjung tinggi prinsip-prinsip ini. Akan sangat disayangkan jika seorang ulama, misalnya di toko roti atau tukang daging, menggunakan posisinya untuk mendapatkan pelayanan istimewa. Tindakan seperti itu hanya akan membuat masyarakat meragukan integritas ulama. Akan lebih baik jika kita bersabar menunggu keramaian reda dan mengurus keperluan saat suasana lebih tenang, demi menghormati hak orang lain. Tindakan memberikan daging berkualitas hanya kepada sebagian orang, sementara yang lain (terutama yang lemah) mendapat bagian yang kurang baik, adalah contoh ketidakadilan.
Penggalan Terakhir Doa: «وَآمِنِّی فِیْهِ مِنْ کُلِّ ما أَخافُ بِعِصْمَتِکَ یا عِصْمَةَ الخائِفِینَ»
"وَآمِنِّی فِیْهِ مِنْ کُلِّ ما أَخافُ بِعِصْمَتِکَ یا عِصْمَةَ الخائِفِینَ." Di akhir doa hari ke-12 Ramadhan, kita memohon kepada Allah SWT agar melindungi kita dari segala sesuatu yang kita takuti.
Ungkapan "آمِنِّی فِیْهِ مِنْ کُلِّ ما أَخافُ" berarti "Lindungilah aku di bulan ini dari segala sesuatu yang aku takuti."
Dalam hidup, manusia menghadapi berbagai ketakutan - takut berbuat dosa, takut menyimpang, takut akan masa depan yang tidak pasti, takut sakit, dan takut mati. Dalam penggalan doa ini, kita memohon kepada Allah untuk menjadi tempat perlindungan kita dan melindungi kita dari ketakutan ini. "بِعِصْمَتِکَ یا عِصْمَةَ الخائِفِینَ" berarti "Dengan penjagaan-Mu, wahai Pelindung orang-orang yang ketakutan."
Kata "'ishmah" di sini berarti menjaga dan melindungi. Allah Swt adalah tempat perlindungan bagi semua orang yang berpaling kepada-Nya dalam ketakutan dan kecemasan. Ketika seseorang berseru dengan nama Allah dan bertawasul kepada-Nya, Allah melindunginya dan menjaganya dari bahaya.
Dengan doa yang indah dan bermakna ini, kita memohon kepada Allah SWT agar mengabulkan doa-doa kita di hari ke-12 bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, menyembuhkan hati kita, dan memberikan kita semua taufik untuk berpuasa dan mendapatkan manfaat dari berkah bulan yang agung ini.
Komentar Anda