Minggu 1 Maret 2026 - 21:27
Syarah Doa | Dosa-Dosa Apa Saja yang Menyebabkan Murka Allah?

Hawzah/ «اللهمّ حَبّبْ الیّ فیهِ الإحْسانَ و کَرّهْ الیّ فیهِ الفُسوقَ والعِصْیانَ و حَرّمْ علیّ فیهِ السّخَطَ والنّیرانَ بِعَوْنِکَ یا غیاثَ المُسْتغیثین», "Ya Allah, jadikanlah aku mencintai segala kebaikan di bulan ini, dan hidarkanlah aku terhadap kefasikan dan kemaksiatan di bulan ini, serta haramkanlah atasku kemurkaan dan api neraka (Mu) di bulan ini dengan pertolongan-Mu, wahai Penolong orang-orang yang meminta pertolongan."

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari kesebelas bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kesebelas bulan Ramadan beserta artinya:

«اللهمّ حَبّبْ الیّ فیهِ الإحْسانَ و کَرّهْ الیّ فیهِ الفُسوقَ والعِصْیانَ و حَرّمْ علیّ فیهِ السّخَطَ والنّیرانَ بِعَوْنِکَ یا غیاثَ المُسْتغیثین»

"Ya Allah, jadikanlah aku mencintai segala kebaikan di bulan ini, dan hidarkanlah aku terhadap kefasikan dan kemaksiatan di bulan ini, serta haramkanlah atasku kemurkaan dan api neraka (Mu) di bulan ini dengan pertolongan-Mu, wahai Penolong orang-orang yang meminta pertolongan."

Dalam doa ini, seorang hamba yang berpuasa menyampaikan tiga permohonan kepada Allah Swt.

Permohonan pertama dalam doa ini adalah: «اللهمّ حَبّبْ الیّ فیهِ الإحْسانَ» "Ya Allah, jadikanlah aku mencintai segala kebaikan di bulan ini."

Sebagian orang mencintai perbuatan baik dan cenderung kepada kebaikan. Namun sebagian lainnya terhalang dari karunia Allah ini dan tidak memiliki keinginan dan kecintaan untuk berbuat baik, kebajikan, dan amal saleh. Hal ini merupakan musibah terbesar bagi mereka.

Poin pertama dalam permohonan pertama dari doa ini adalah bahwa modal utama seseorang beragama adalah kecintaannya kepada Allah, agama, akhlak mulia dan ibadah. Dalam sebuah hadis dari Ahlulbait (as) disebutkan: "Apakah agama selain cinta?". Dengan kata lain, sumber dari pengamalan seluruh akhlak mulia adalah kecintaan kepadanya sebagaimana kebencian dan keengganan seseorang terhadap keburukan juga merupakan faktor utama yang membuatnya meninggalkan dosa. Kecintaan kepada Allah dan nilai-nilai luhur melahirkan ketaatan kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman dalam ayat 31 Surah Ali Imran: «قُلْ إِنْ کُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْکُمُ اللَّهُ وَ يَغْفِرْ لَکُمْ ذُنُوبَکُمْ وَ اللَّهُ غَفُورٌ رَحيمٌ», "Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Meskipun manusia memiliki banyak hal yang dicintai, namun yang terpenting bagi orang-orang beriman adalah Allah dan keridhaan-Nya. Allah berfirman dalam ayat 165 Surah Al-Baqarah: « وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْداداً يُحِبُّونَهُمْ کَحُبِّ اللَّهِ وَ الَّذينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَ لَوْ يَرَي الَّذينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَميعاً وَ أَنَّ اللَّهَ شَديدُ الْعَذابِ», "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu seluruhnya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya."

Apabila kecintaan seseorang kepada orang tua, saudara, harta benda, rumah, atau hal-hal duniawi lainnya melebihi kecintaannya kepada Allah dan upaya untuk mengikuti perintah-Nya, maka orang tersebut akan terjerumus dalam berbuat dosa. Ketika dosa menjadi hal yang mudah dilakukan, orang tersebut akan menghadapi konsekuensi yang buruk. Ia bisa kehilangan jati diri sebagai manusia yang beriman dan akan mendapatkan azab dari Allah. Dalam ayat 24 Surah At-Taubah disebutkan: «قُلْ إِنْ کانَ آباؤُکُمْ وَ أَبْناؤُکُمْ وَ إِخْوانُکُمْ وَ أَزْواجُکُمْ وَ عَشيرَتُکُمْ وَ أَمْوالٌ اقْتَرَفْتُمُوها وَ تِجارَةٌ تَخْشَوْنَ کَسادَها وَ مَساکِنُ تَرْضَوْنَها أَحَبَّ إِلَيْکُمْ مِنَ اللَّهِ وَ رَسُولِهِ وَ جِهادٍ في‏ سَبيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّي يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَ اللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفاسِقينَ», "Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Poin kedua dalam permohonan pertama dari doa ini adalah bahwa seorang manusia yang Allah SWT menjadi kekasih dan cinta di hatinya, mungkin akan menanggung kesulitan untuk mewujudkan perintah Ilahi dan kesulitan itu menjadi sesuatu yang dicintai oleh manusia dan tidak menyiksanya.

Dalam ayat 31 Surah Yusuf kita membaca: «فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَکْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَ أَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّکَأً وَ آتَتْ کُلَّ واحِدَةٍ مِنْهُنَّ سِکِّيناً وَ قالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَکْبَرْنَهُ وَ قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَ قُلْنَ حاشَ لِلَّهِ ما هذا بَشَراً إِنْ هذا إِلاَّ مَلَکٌ کَريمٌ», "Maka ketika perempuan itu mendengar celaan mereka, dia mengundang mereka dan menyediakan tempat duduk bagi mereka, dan kepada masing-masing mereka diberikan sebuah pisau (untuk memotong buah), kemudian dia berkata (kepada Yusuf), Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka. Ketika mereka melihatnya, mereka sangat kagum kepadanya, dan tanpa sadar mereka melukai (jari) tangan mereka sendiri, dan berkata, Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini hanyalah malaikat yang mulia." Poin lain yang harus disebutkan dalam bagian doa ini adalah, apa itu ihsan (kebaikan) yang kita ingin cintai di hati kita?

Contoh-contoh Ihsan dalam Ayat-Ayat Al-Qur'an

Dalam ayat-ayat mulia Al-Qur'an, kita dapat menemukan contoh-contoh ihsan, yang dalam bahasa Indonesia sering diartikan sebagai berbuat baik.

Salah satu contoh ihsan adalah berlaku adil dan menjalin silaturahmi. Allah berfirman dalam ayat 9 Surah An-Nahl: ««إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسانِ وَ إيتاءِ ذِي الْقُرْبي‏ وَ يَنْهي‏ عَنِ الْفَحْشاءِ وَ الْمُنْکَرِ وَ الْبَغْيِ يَعِظُکُمْ لَعَلَّکُمْ تَذَکَّرُونَ» "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Berinfak di jalan Allah adalah contoh ihsan lainnya. Dalam ayat 195 Surah Al-Baqarah disebutkan: ««وَ أَنْفِقُوا في‏ سَبيلِ اللَّهِ وَ لا تُلْقُوا بِأَيْديکُمْ إِلَي التَّهْلُکَةِ وَ أَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنينَ» "Dan belanjakanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Menyediakan fasilitas dan kebutuhan yang layak untuk istri dan anak-anak juga merupakan contoh ihsan. Allah berfirman dalam ayat 236 Surah Al-Baqarah: «لا جُناحَ عَلَيْکُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّساءَ ما لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَريضَةً وَ مَتِّعُوهُنَّ عَلَي الْمُوسِعِ قَدَرُهُ وَ عَلَي الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ مَتاعاً بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَي الْمُحْسِنينَ» "Tidak ada dosa bagimu jika kamu menceraikan istri-istri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan berilah mereka mut'ah (pemberian) kepada yang mampu menurut kemampuannya dan kepada yang tidak mampu menurut kemampuannya, yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat baik."

Contoh ihsan lainnya adalah berinfak secara sembunyi-sembunyi dan menahan amarah. Allah SWT berfirman dalam ayat 134 Surah Ali Imran: «الَّذينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَ الضَّرَّاءِ وَ الْکاظِمينَ الْغَيْظَ وَ الْعافينَ عَنِ النَّاسِ وَ اللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنينَ» "(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."

Memaafkan kesalahan orang lain dan bertoleransi juga merupakan contoh ihsan. Dalam ayat 13 Surah Al-Maidah, kita membaca: «فَبِما نَقْضِهِمْ ميثاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَ جَعَلْنا قُلُوبَهُمْ قاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْکَلِمَ عَنْ مَواضِعِهِ وَ نَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُکِّرُوا بِهِ وَ لا تَزالُ تَطَّلِعُ عَلي‏ خائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلاَّ قَليلاً مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَ اصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنينَ» "Maka disebabkan mereka melanggar janjinya, Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."

Berdoa, memohon, dan bermunajat kepada Allah adalah contoh ihsan lainnya. Allah berfirman dalam ayat 56 Surah Al-A'raf: «وَ لا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِها وَ ادْعُوهُ خَوْفاً وَ طَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَريبٌ مِنَ الْمُحْسِنينَ» "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."

Contoh ihsan lainnya adalah kesabaran dan ketahanan, baik kesabaran dalam menghadapi godaan dosa, kesabaran dalam melaksanakan kewajiban, maupun kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan dan peperangan. Dalam ayat 115 Surah Hud disebutkan: «وَ اصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنينَ» "Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."

Menerima permintaan maaf dari orang-orang yang zalim dan berkhianat juga merupakan contoh ihsan. Allah berfirman dalam ayat 78 Surah Yusuf: «قالُوا يا أَيُّهَا الْعَزيزُ إِنَّ لَهُ أَباً شَيْخاً کَبيراً فَخُذْ أَحَدَنا مَکانَهُ إِنَّا نَراکَ مِنَ الْمُحْسِنينَ» "Mereka berkata: 'Wahai Al-Aziz (penguasa Mesir), sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah tua renta, oleh karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai penggantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik'."

Berjihad di jalan Allah juga merupakan contoh ihsan lainnya. Dalam ayat 69 Surah Al-Ankabut, kita membaca: « وَ الَّذينَ جاهَدُوا فينا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنا وَ إِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنينَ» "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."

Poin kedua dari doa ini adalah «و کَرّهْ الیّ فیهِ الفُسوقَ والعِصْیانَ», "dan hidarkanlah aku terhadap kefasikan dan kemaksiatan di bulan ini."

Apakah Para Nabi dan Imam (as) Terpaksa Tidak Melakukan Dosa Karena Kehendak Allah?

Penting untuk diperhatikan bahwa sebagian orang bertanya, apakah para imam dan nabi yang maksum itu dipaksa oleh Allah untuk tidak melakukan maksiat, ataukah mereka memiliki pilihan untuk melakukan dosa tetapi mereka tidak melakukannya?

Jawabannya adalah bahwa Allah telah menganugerahkan kepada mereka ilmu dan kelayakan yang membuat mereka membenci semua dosa dan maksiat, dan kebencian ini mencegah mereka untuk cenderung kepada dosa dan memutuskan untuk melakukannya.

Pertanyaan lain adalah, apakah kebencian benar-benar dapat menyebabkan kemaksuman dan menjauhkan diri dari dosa? Jawabannya adalah iya. Sama seperti manusia yang membenci beberapa hal dan tidak melakukannya. Misalnya, manusia membenci makan kotoran hewan atau ingus, dan karena itulah mereka tidak mendekatinya.

Apakah ini berarti bahwa manusia harus membenci semua dosa? Jawabannya ya, manusia harus membenci semua dosa, karena Allah Swt memerintahkan mereka untuk membenci kefasikan. Lalu, apa saja contoh-contoh kefasikan itu? dan Apakah kebencian terhadap kefasikan dan kemaksiatan ini menyebabkan seseorang menjauhi dosa? Jawabannya harus ya; seperti halnya manusia membenci beberapa hal dan tidak melakukannya; misalnya, manusia membenci makan kotoran hewan atau ingus, dan oleh karena itu mereka tidak mendekatinya. Lalu, "Bagaimana caranya membenci dosa? Para imam maksum (as) mengetahui betapa buruk dan menjijikkannya sebuah dosa. Contohnya, harta anak yatim mungkin terlihat menguntungkan, tapi sebenarnya seperti api yang membakar. Begitu juga dengan ghibah, mungkin terasa menyenangkan, tapi sebenarnya seperti memakan daging saudara sendiri. Al-Qur'an menjelaskan hal ini, dan kita bisa memahami kebenaran ini dengan mempelajarinya.

Poin lain dalam permohonan kedua dari doa ini adalah bahwa sebagaimana Allah mengajarkan rasa manisnya cinta dan pahitnya dosa dan kekufuran kepada para hamba-Nya. Dia juga menempatkan ajaran ini dalam fitrah semua hamba-Nya. Dalam ayat ketujuh Surah Al-Hujurat kita membaca: «وَ لکِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْکُمُ الْإيمانَ وَ زَيَّنَهُ في‏ قُلُوبِکُمْ وَ کَرَّهَ إِلَيْکُمُ الْکُفْرَ وَ الْفُسُوقَ وَ الْعِصْيانَ أُولئِکَ هُمُ الرَّاشِدُونَ» "...Tetapi Allah menjadikan kamu mencintai keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus."

Contoh-contoh Kefasikan dalam Kacamata Al-Qur'an

Poin lain dalam doa ini adalah, masalah apa saja yang menyebabkan kefasikan dan apa saja contoh-contohnya?

1. Makan bangkai, darah, daging babi, dan setiap hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. Dalam ayat ketiga Surah Al-Maidah Allah Swt berfirman: «حُرِّمَتْ عَلَيْکُمُ الْمَيْتَةُ وَ الدَّمُ وَ لَحْمُ الْخِنْزيرِ وَ ما أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَ الْمُنْخَنِقَةُ وَ الْمَوْقُوذَةُ وَ الْمُتَرَدِّيَةُ وَ النَّطيحَةُ وَ ما أَکَلَ السَّبُعُ إِلاَّ ما ذَکَّيْتُمْ وَ ما ذُبِحَ عَلَي النُّصُبِ وَ أَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلامِ ذلِکُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذينَ کَفَرُوا مِنْ دينِکُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَکْمَلْتُ لَکُمْ دينَکُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْکُمْ نِعْمَتي‏ وَ رَضيتُ لَکُمُ الْإِسْلامَ ديناً فَمَنِ اضْطُرَّ في‏ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحيمٌ», "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, hewan yang tercekik, hewan yang dipukul, hewan yang jatuh, hewan yang ditanduk, dan hewan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan anak panah, (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya) karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."*

2. Mengejar harta dan kemewahan yang berlebihan. Terutama kemewahan para pejabat dan penguasa yang menjadi faktor penyebab jatuhnya masyarakat dan peradaban. Dalam ayat 16 Surah Al-Isra disebutkan: «« وَ إِذا أَرَدْنا أَنْ نُهْلِکَ قَرْيَةً أَمَرْنا مُتْرَفيها فَفَسَقُوا فيها فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْناها تَدْميراً», "Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka pantaslah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."

3. Kezaliman. Dalam ayat 165 Surah Al-A'raf disebutkan: «فَلَمَّا نَسُوا ما ذُکِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَ أَخَذْنَا الَّذينَ ظَلَمُوا بِعَذابٍ بَئيسٍ بِما کانُوا يَفْسُقُونَ», "Maka setelah mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang mencegah perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka telah berbuat fasik."

4. Pembangkangan terhadap perintah Allah Swt. Dalam ayat 50 Surah Al-Kahf disebutkan: «وَ إِذْ قُلْنا لِلْمَلائِکَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْليسَ کانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَ فَتَتَّخِذُونَهُ وَ ذُرِّيَّتَهُ أَوْلِياءَ مِنْ دُوني‏ وَ هُمْ لَکُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمينَ بَدَلاً», "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, Sujudlah kamu kepada Adam, maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku, padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (Iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim."

Poin lain dalam bagian doa ini adalah bahwa terkadang sebagian manusia sayangnya memiliki kebencian dan keengganan terhadap perbuatan baik dan ini adalah musibah yang besar dan padahal mereka harus tahu bahwa sebagian dari apa yang dibenci manusia adalah kebaikan baginya dan kita tidak boleh menuruti hawa nafsu dan hati kita. Dalam ayat 216 Surah Al-Baqarah disebutkan: «کُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتالُ وَ هُوَ کُرْهٌ لَکُمْ وَ عَسي‏ أَنْ تَکْرَهُوا شَيْئاً وَ هُوَ خَيْرٌ لَکُمْ وَ عَسي‏ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئاً وَ هُوَ شَرٌّ لَکُمْ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ وَ أَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ», "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal kamu tidak menyukainya. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Juga dalam ayat 33 Surah At-Taubah kita membaca: «هُوَ الَّذي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدي‏ وَ دينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَي الدِّينِ کُلِّهِ وَ لَوْ کَرِهَ الْمُشْرِکُونَ» "Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya."

Dalam permohonan ketiga dari doa ini kita membaca: «و حَرّمْ علیّ فیهِ السّخَطَ والنّیرانَ », "Dan haramkanlah atasku kemurkaan dan api neraka di bulan ini."

Sudah jelas bahwa hanya berdoa saja, "Ya Allah, jangan masukkan aku ke neraka"; tidak mengharamkan kemurkaan Allah atas manusia; tetapi manusia harus memohon kepada Allah agar menjauhkannya dari dosa-dosa yang menyebabkan kemurkaan-Nya.

Dosa-Dosa Apa Saja yang Menyebabkan Murka Allah?

Kami akan membahas contoh-contoh murka Allah SWT yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur'an.

Ayat 81 Surah Al-Baqarah: «بَلي‏ مَنْ کَسَبَ سَيِّئَةً وَ أَحاطَتْ بِهِ خَطيئَتُهُ فَأُولئِکَ أَصْحابُ النَّارِ هُمْ فيها خالِدُونَ», "Barang siapa berbuat kejahatan dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

Ayat 167 Surah Al-Baqarah: «وَ قالَ الَّذينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنا کَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ کَما تَبَرَّؤُا مِنَّا کَذلِکَ يُريهِمُ اللَّهُ أَعْمالَهُمْ حَسَراتٍ عَلَيْهِمْ وَ ما هُمْ بِخارِجينَ مِنَ النَّارِ», "Dan orang-orang yang mengikuti berkata, Sekiranya kami mendapat kesempatan (kembali ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka menjadi penyesalan bagi mereka. Dan mereka tidak akan dapat keluar dari neraka."

Ayat 257 Surah Al-Baqarah: «اللَّهُ وَلِيُّ الَّذينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُماتِ إِلَي النُّورِ وَ الَّذينَ کَفَرُوا أَوْلِياؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَي الظُّلُماتِ أُولئِکَ أَصْحابُ النَّارِ هُمْ فيها خالِدُونَ», "Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha