Minggu 30 November 2025 - 23:58
Trump dan Bayang-Bayang Perang 2026: Dari Asia Barat hingga Ulangan Kekeliruan Lama

Hawzah/ Abbas al-Zeidi, seorang aktivis media asal Irak, dalam sebuah catatan menulis bahwa apa yang dilakukan Israel saat ini setara dengan sebuah perang sepihak terhadap Palestina (Gaza, Tepi Barat, dan Jenin), Lebanon, serta Suriah, dengan dukungan tanpa preseden dari Amerika Serikat. Menurutnya, ini adalah perang tanpa akhir yang bertujuan melemahkan kemampuan pihak-pihak tersebut hingga tibanya “jam nol” untuk sebuah perang besar dan menyeluruh.

Berita Hawzah – Hari-hari terakhir tahun Masehi meski berlangsung dalam suasana dingin, kering, dan sunyi, bagi banyak masyarakat di berbagai kawasan dunia justru diwarnai penderitaan, kesulitan, dan pengungsian. Dari Suriah, Gaza, dan Lebanon hingga Sudan, rakyat menghadapi dampak perang-perang yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis dengan dukungan sekutu-sekutunya di berbagai wilayah.

Perang yang berlanjut di Gaza, gencatan senjata rapuh di Lebanon, serangan brutal terhadap komunitas Syiah di Suriah, serta agresi berulang rezim Zionis di Tepi Barat disebut sebagai bagian dari api konflik yang dinyalakan Amerika di dunia pada penghujung tahun Masehi.

Dalam sebuah catatan, Abbas al-Zeidi, pakar media asal Irak, memprediksi arah perang-perang Amerika di tahun 2026. Ia menyinggung “prioritas perang Trump pada 2026” dan mengaitkannya dengan ambisi yang dikatakan serupa dengan peristiwa sejarah Perang Khaibar pada tahun 630 Masehi.

Menurutnya, Amerika saat ini terlibat dalam berbagai perang di sejumlah front dan berpacu dengan waktu untuk mencegah munculnya kekuatan tandingan atau aliansi yang dapat menggoyahkan posisi kepemimpinannya di dunia. Karena itu, Washington berusaha keras menghalangi terbentuknya tatanan dunia multipolar.

Zeidi menekankan bahwa perang-perang ini bukanlah produk sesaat, melainkan melalui tahapan panjang. Amerika, katanya, membangun mekanisme untuk mengelola konflik dan front yang ada, dengan prioritas menyelesaikan masalah secara cepat dan murah, serta menetapkan aturan pertempuran demi mencegah kekalahan atau hilangnya kendali.

Taktik yang digunakan mencakup fleksibilitas, tipu daya, intimidasi, suap, kebohongan, kemunafikan, pemalsuan fakta, dan manipulasi opini publik. Mereka mengklaim menyebarkan perdamaian, namun justru menyalakan api perang, melanggengkan pembunuhan dan kehancuran, serta mengaku memerangi terorisme padahal menciptakan organisasi-organisasi teroris.

Peran dan tugas di berbagai front, lanjutnya, didistribusikan kepada pasukan sendiri maupun para agen: negara-negara sekutu, aliansi, organisasi teroris, aktor lokal, perusahaan keamanan, dan para tentara bayaran. Tidak ada target, sistem, atau proyek yang dibiarkan tanpa alternatif, baik militer, ekonomi, ideologis, budaya, maupun sosial.

Amerika, menurutnya, melibatkan semua mitranya dalam perang-perang terakhir, baik di Ukraina, Gaza, Lebanon, Suriah, maupun Iran, bahkan mengancam akan membuka peran mereka. Pada akhirnya, semua pihak dijadikan sasaran untuk dilemahkan, termasuk sekutu sendiri, demi memastikan tidak ada kompetisi dan memperluas hegemoni atas seluruh sistem dan bangsa di dunia, menjadikan mereka dalam posisi subordinat.

Zeidi menyebut prioritas Amerika dalam membangun hegemoni global mencakup kawasan Asia Barat, Asia Tengah, Rusia, Amerika Latin, Afrika, Cina, dan Uni Eropa. Di setiap kawasan, fokus utama diarahkan pada penguasaan sumber daya alam, terutama energi, serta jalur laut, selat, dan rute strategis.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha