Minggu 24 Mei 2026 - 17:35
Syiah Bahrain Tunjukkan Keberaniannya di Jalanan

Hawzah/ Sekali lagi, rakyat Bahrain membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yg memiliki wilayah dan keteguhan; dengan menggelar rombongan-rombongan duka cita, mereka tidak menghiraukan ancaman maupun peringatan dari para pejabat Bahrain.

Berita Hawzah – Sekali lagi rakyat Bahrain membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yg memiliki wilayah dan keteguhan. Pada malam syahadah Imam Jawad (as), banyak pihak yang menyimpan kebencian berharap bahwa para pengikut Ahlulbait (as), setelah berbagai tindakan represif sektarian yang baru-baru ini dilakukan — khususnya terhadap para ulama besar dan terkemuka Syiah di Bahrain — akan menyerah terhadap ancaman dan peringatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri Bahrain.

Pemandangan jalan-jalan Bahrain pada malam syahadah tersebut sangat menyentuh dan membawa pesan yang jelas: tidak ada ruang perdebatan mengenai identitas Islam, keyakinan, majelis duka dan syiar keagamaan, serta kesedihan kami atas para imam kami (as) dalam setiap kesempatan. Iring-iringan dan majelis duka itu menjadi contoh ketulusan dan kesetiaan kepada jalan Ahlulbait (as), apa pun tantangan yang dihadapi.

Kehadiran masyarakat di desa-desa dan kawasan permukiman memberikan jawaban yang sangat berbeda dari apa yang diinginkan pemerintah. Masyarakat turun ke lapangan, jalan-jalan dipenuhi iring-iringan duka, dan bendera-bendera hitam kembali berkibar. Gambaran ini menegaskan bahwa ingatan kolektif rakyat dan agama di Bahrain sama sekali tidak dapat dikendalikan oleh instruksi keamanan, dan tidak mudah tunduk pada logika ketakutan.

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah berusaha memaksakan persamaan baru: “entah majelis duka berada di bawah kontrol penuh, atau tidak ada majelis di ruang publik dan di luar husainiyah.” Namun apa yang benar-benar terjadi justru menunjukkan keterbatasan kontrol dan pembatasan tersebut. Di berbagai wilayah Bahrain, iring-iringan dan kelompok duka tetap turun ke jalan dengan kehadiran besar, khususnya dari kalangan pemuda, seolah menjadi referendum diam rakyat atas hak mereka menjalankan ritual keagamaan dan mengekspresikan identitas kolektif mereka.

Baca juga:
Syekh Naim Qassem: Melucuti Senjata Perlawanan Berarti Melucuti Kekuatan Pertahanan Lebanon

Pemerintah yang ingin menjadikan ritual duka semata-mata sebagai persoalan keamanan, pada ujian pertamanya setelah penangkapan para ulama agama, justru berhadapan dengan kenyataan bahwa kehadiran rakyat lebih kuat daripada bahasa ancaman dan intimidasi. Sejak awal meningkatnya ketegangan, suasana ancaman, pemanggilan, dan pengawasan ketat terus berlangsung. Bersamaan dengan itu, pemerintah mengeluarkan pernyataan resmi yang berusaha mengaitkan iring-iringan rakyat dengan tuduhan “mengganggu ketertiban umum.” Namun rakyat Bahrain memandang persoalan ini sebagai masalah eksistensial dan keagamaan, bukan sekadar kegiatan musiman yang bisa dibatalkan dengan keputusan administratif.

Iring-iringan duka baru-baru ini bukan sekadar perkumpulan keagamaan tradisional, melainkan juga membawa pesan jelas bahwa di tengah segala upaya menebar ketakutan dan menciptakan model komunitas Syiah yang tunduk kepada kekuasaan, masyarakat tetap hidup dan bertahan. Foto dan video yang beredar memperlihatkan banyak hadirin berjalan dengan penuh keyakinan di jalan-jalan tanpa menghiraukan suasana ancaman. Kehadiran luas ini kembali menegaskan bahwa majelis Husaini di Bahrain bukan sekadar ritual sementara, melainkan bagian mendalam dan mengakar dari kesadaran rakyat serta budaya lokal.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha