Minggu 12 April 2026 - 21:33
Kajian Mahdawiyah (28) | Para Penipu yang Mengaku Sebagai Imam Mahdi (AS)

Hawzah/ Setiap Syiah yang sadar memiliki kewajiban untuk membantah para penipu yang mengaku memiliki hubungan khusus atau perwakilan khusus, serta menutup jalan bagi para oportunis dan pencari keuntungan duniawi ini untuk menyusup dan memanfaatkan situasi ini.

Berita Hawzah – Serial kajian Mahdawiyah yang berjudul "Menuju Peradaban yang Ideal", yang kami sajikan ulasan ini untuk para cendekiawan terhormat, dengan tujuan menyebarkan ajaran dan pengetahuan seputar Imam Zaman Afs.

Salah satu tantangan dan kerusakan dalam ajaran Mahdawiyah adalah munculnya para penipu yang mengaku-ngaku dalam gerakan suci ini. Sepanjang tahun-tahun masa gaib (Ghaibah) Imam Mahdi (semoga Allah meridainya), orang-orang secara dusta mengaku memiliki hubungan khusus dengan beliau atau diangkat menjadi perwakilan khusus oleh beliau.

Imam Zaman 'alaihissalam dalam surat terakhirnya kepada wakil keempat, Ali bin Muhammad Samari, menegaskan:

یَا عَلِیَّ بْنَ مُحَمَّدٍ اَلسَّمُرِیَّ أَعْظَمَ اَللَّهُ أَجْرَ إِخْوَانِکَ فِیکَ فَإِنَّکَ مَیِّتٌ مَا بَیْنَکَ وَ بَیْنَ سِتَّةِ أَیَّامٍ فَاجْمَعْ أَمْرَکَ وَ لاَ تُوصِ إِلَی أَحَدٍ یَقُومُ مَقَامَکَ بَعْدَ وَفَاتِکَ فَقَدْ وَقَعَتِ اَلْغَیْبَةُ اَلثَّانِیَةُ فَلاَ ظُهُورَ إِلاَّ بَعْدَ إِذْنِ اَللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَ ذَلِکَ بَعْدَ طُولِ اَلْأَمَدِ وَ قَسْوَةِ اَلْقُلُوبِ وَ اِمْتِلاَءِ اَلْأَرْضِ جَوْراً وَ سَیَأْتِی شِیعَتِی مَنْ یَدَّعِی اَلْمُشَاهَدَةَ أَلاَ فَمَنِ اِدَّعَی اَلْمُشَاهَدَةَ قَبْلَ خُرُوجِ اَلسُّفْیَانِیِّ وَ اَلصَّیْحَةِ فَهُوَ کَاذِبٌ مُفْتَرٍ

"Wahai Ali bin Muhammad Samari! Semoga Allah melimpahkan pahala yang besar bagi saudara-saudaramu dalam urusanmu. Engkau akan wafat dalam enam hari ke depan. Uruslah segala urusanmu dan janganlah mewasiatkan kepada siapa pun untuk menggantikan posisimu setelah kematianmu. Sesungguhnya, keghaiban yang kedua (ghaibah kubra) telah terjadi. Maka tidak ada kemunculan kecuali setelah seizin Allah Azza wa Jalla. Dan itu terjadi setelah masa yang panjang, hati-hati telah menjadi keras, dan bumi telah dipenuhi kezaliman. Akan datang di kalangan Syiah-ku orang yang mengaku telah melihat (berkomunikasi langsung dengan Imam). Ketahuilah, siapa pun yang mengaku telah melihatku sebelum keluarnya Sufyani dan teriakan (dari langit), maka dia adalah pendusta dan pembohong." (Kitab Kamaluddin, Jilid 2, halaman 516)

Dengan pernyataan yang jelas ini, setiap Syiah yang sadar wajib membantah para penipu yang mengaku memiliki hubungan khusus atau perwakilan khusus, serta menutup jalan bagi para oportunis dan pencari keuntungan duniawi ini untuk menyusup dan memanfaatkan situasi.

Sebagian dari para pendusta ini melangkah lebih jauh, setelah mengaku sebagai perwakilan, mereka justru mengaku sebagai Imam Mahdi 'alaihissalam. Atas klaim batil ini, mereka mendirikan aliran dan sekte sesat, serta menciptakan jalan kesesatan akidah bagi banyak orang. Jika kita mempelajari sejarah kelompok-kelompok ini, akan terlihat bahwa banyak di antara mereka dibentuk dan bertahan hidup berkat dukungan dan bantuan penjajah.

Jelas bahwa terbentuknya sekte dan kelompok sesat, serta orang-orang bergabung dan percaya kepada para penipu yang mengaku sebagai Mahdi atau wakilnya, karena berakar pada kebodohan dan ketidaktahuan mereka. Kerinduan yang mendalam untuk bertemu Imam Zaman 'alaihissalam, tanpa pengetahuan yang cukup tentang beliau dan kelalaian terhadap keberadaan para penipu di dalam ajaran ini, menjadi latar belakang terjalinnya hubungan dengan para penipu yang mengaku-ngaku. Oleh karena itu, kaum Syiah yang menanti (kemunculan Imam Mahdi) harus menjaga diri mereka dari jerat para penipu dengan memiliki pengetahuan yang benar tentang ajaran Mahdawiyah, dan menapaki jalan yang terang ajaran Islam dengan mengikuti para ulama Syiah yang terpercaya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

(1) Yang dimaksud dengan "melihat" di sini adalah perwakilan (dalam arti dia mengaku sebagai wakil Imam), bukan sekadar melihat secara fisik.

Pembahasan ini masih berlanjut…

Sumber: Diambil dari buku "Negīn-e Āfarīnish" (Permata Ciptaan), dengan sedikit perubahan.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha