Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Ismail Khubzad, seorang pakar agama, dalam wawancaranya dengan koresponden berita Hawzah, saat merujuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan, menyatakan: "Ramadhan Al-Karim adalah bulan kesabaran, perlawanan, kelembutan, bulan untuk mengatakan 'tidak' kepada setan dan hawa nafsu, serta bulan untuk menjawab panggilan ilahi."
Pakar agama tersebut, seraya merujuk pada keharusan mematuhi beberapa faktor individu dan sosial untuk mencapai kesuksesan dan menjadi bagian dari orang yang berpuasa sejati, menekankan: "Pada ayat terakhir dari Surah Ali 'Imran, faktor-faktor ini disebutkan: «یا أیُّهَا الَّذینَ آمَنوا اصبِروا وصابِروا ورابِطوا واتَّقوا اللهَ لَعَلَّکُم تُفلِحون», 'Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, dan kalahkanlah orang-orang kafir, dan bersiap siagalah serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.'" (Ali 'Imran: 200)
Beliau mengingatkan: "Salah satu faktor untuk mencapai kebahagiaan sejati adalah penanaman ketahanan dalam diri manusia. Allah Yang Maha Kuasa, melalui perintah puasa bagi umat Islam dan penetapan hukum-hukum khusus terkait puasa, melatih manusia untuk bersikap tahan. Jika orang yang berpuasa menahan diri dari makan dan minum yang halal serta kenikmatan seksual yang halal, itu bertujuan sebagai latihan agar kelak ia dapat menghindari perbuatan haram. Dengan kata lain, ini adalah realisasi dari bagian pertama ayat di atas yang berbunyi: 'اصبروا' (bersabarlah); artinya, manusia beriman harus memiliki kesabaran pribadi."
Hujjatul Islam wal Muslimin Khubzad, seraya mengutip frasa "صابروا" (bersabarlah kamu, dan kalahkanlah) dalam ayat 200 Ali 'Imran, mengungkapkan: "Jalan menuju kesempurnaan dan kebahagiaan tidak hanya terbatas pada aspek individu, tetapi juga harus memperhatikan aspek sosialnya. Masyarakat Islam adalah satu kesatuan dalam menghadapi serangan musuh, baik terhadap batas-batas geografis maupun serangan terhadap manifestasi budaya dan keyakinan. Serangan terhadap perbatasan negara Islam dan sanksi ekonomi bertujuan untuk menaklukkan mereka di hadapan perintah orang-orang zalim agar mereka melaksanakan kebijakan permusuhan mereka. Namun, masyarakat Islam, melalui puasa dan kepatuhan terhadap hukum-hukumnya, memperkuat dan memfasilitasi jalan perlawanan terhadap musuh serta pencapaian keberuntungan dan kebahagiaan."
Beliau, dalam menjelaskan faktor ketiga untuk mencapai keberuntungan dan kesuksesan, merujuk pada frasa "رابطوا" (bersiap siagalah) dalam ayat terakhir Ali 'Imran, dan mengingatkan: "Maksud dari frasa ini adalah agar umat Islam memperkuat ikatan mereka satu sama lain dan mengikuti pemimpin mereka serta Imam Zaman mereka."
Pakar agama itu menekankan: "Faktor keempat dalam mencapai keberhasilan adalah takwa ilahi. Dengan kata lain, kita mencapai kesuksesan dalam ranah pribadi dan sosial ketika kita bertakwa kepada ilahi."
Beliau menyatakan: "Di bawah naungan keempat faktor inilah Al-Qur'an berfirman: 'لعلکم تفلحون' (supaya kamu beruntung). Kesuksesan sejati akan tercapai ketika orang beriman, baik dalam ranah pribadi maupun sosial, memelihara kesabaran dan saling mengingatkan untuk bersabar; serta memperkuat hubungan mereka satu sama lain dan dengan Imam Zaman (semoga Allah memberkatinya) dan memelihara takwa. 'Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu, dan kalahkanlah orang-orang kafir, dan bersiap siagalah serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.'"
Komentar Anda