Berita Hawah – Hujjatul Islam wal Muslimin Abidi, seorang ustadz dan pengajar kelas Bahtsul Kharij di Hawzah Ilmiah, dalam pidatonya mengacu pada kedudukan 'Faqih yang Memenuhi Syarat' dalam riwayat terkenal tentang masalah taqlid. Beliau menekankan perlunya mensyukuri nikmat kepemimpinan dan kewajiban kepatuhan umum kepada penguasa Islam.
Bismillahirahmanirrahim
Dalam sebuah riwayat terkenal diriwayatkan bahwa: «أما مَن کان مِن الفقهاء صائناً لِنفسه، حافظاً لِدینه، مطیعاً لِأمر مولاه، مخالفاً لِهواه، فَلَلعوام أن یُقَلِدوه», "Adapun orang yang dari kalangan para faqih yang menjaga dirinya, menjaga agamanya, taat pada perintah Tuhannya, berlawanan dengan hawa nafsunya, maka menjadi kewajiban bagi masyarakat awam untuk mengikutinya (ber-taqlid kepadanya)."
Salah satu karunia terbesar dari Allah SWT dan dari nikmat-nikmat agung Allah kepada umat Islam dan penduduk negara tercinta kita adalah ditetapkannya Ayatullah Haj Aqa Mujtaba Husaini Khamenei sebagai Pemimpin Revolusi Islam dan pengganti kedudukan Pemimpin Tertinggi. Ayatullah Mujtaba Khamenei sungguh seorang yang sangat mulia, berkomitmen, taat beragama, berilmu, dan zuhud.
Hadits mulia yang dibacakan ini menjelaskan bahwa seseorang yang termasuk dari kalangan faqih, yang menjaga dirinya, taat pada agamanya, taat pada syariat, taat pada perintah Imam Zaman (semoga Allah mempercepat kedatangannya), dan menjauhi hawa nafsu, maka orang seperti itu layak dan patut untuk diikuti oleh umat islam, dan ia memiliki kedudukan sebagai imam serta pemimpin umat Islam.
Hadits mulia ini sebenarnya adalah inti dan ringkasan dari apa yang dijelaskan dalam kitab-kitab 'Tawzihul Masail' (Penjelasan Masalah), yaitu bahwa seorang penguasa Islam harus adil dan dipercaya. Hadits ini dengan berbagai ungkapan menyampaikan makna yang sama.
Frasa «أما من کان من الفقهاء» (Adapun orang yang dari kalangan para faqih) merujuk pada aspek ilmiah dan teoritis, serta menunjukkan bahwa individu tersebut haruslah seorang mujtahid. Frasa «صائناً لنفسه» (menjaga dirinya), «حافظاً لدینه» (menjaga agamanya), «مطيعاً لأمر مولاه» (taat pada perintah Tuhannya), dan «مخالفاً لهواه» (berlawanan dengan hawa nafsunya) dengan pengulangan dan penekanan, memperjelas hal ini:
* «صائناً لنفسه» artinya tidak melakukan perbuatan yang haram, larangan, dan segala sesuatu yang menodai jiwa dan batinnya.
* «حافظاً لدینه» artinya melaksanakan perintah syariat dan dihiasi dengan kebajikan.
* «مطيعاً لأمر مولاه» ini juga merupakan penekanan untuk dihiasi dengan akhlak mulia.
* «مخالفاً لهواه» berarti menjauhi akhlak buruk dan dosa-dosa.
Alhamdulillah, Ayatullah Sayyid Mujtaba Husiani Khamenei memiliki keunggulan luar biasa, baik dalam hal pemikiran (teori) maupun perbuatan (praktik). Dalam kedua aspek tersebut, beliau adalah pribadi yang sangat agung dan mulia, serta merupakan anugerah dari Allah untuk bangsa dan seluruh umat islam.
Pertama, beliau adalah pribadi yang sangat zuhud, wara', dan jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan dunia, hawa nafsu, dan keinginan duniawi.
Kedua, Sejak awal Perang Iran-Irak, kami melihat beliau di medan perang. Beliau sangat berdedikasi, bekerja keras, dan berusaha agar tidak dikenal banyak orang. Dari masa perang hingga sekarang, beliau terus berjuang melawan musuh, baik yang datang dari luar maupun dari dalam.
Dari segi pemahaman terhadap berbagai persoalan, beliau mengenal musuh dengan baik dan benar-benar paham akan isu-isu sosial, persoalan negara, serta hal-hal yang berkaitan dengan sistem pemerintahan. Beliau memiliki wawasan yang sangat baik dan luas mengenai urusan dunia, baik negara-negara tetangga, negara-negara musuh, negara-negara sahabat, dan negara-negara yang berseberangan. Alhamdulillah, beliau memiliki informasi dan wawasan yang sangat baik mengenai semua persoalan ini.
Sungguh, terpilihnya beliau sebagai pemimpin revolusi islam adalah pemilihan individu terbaik dan pribadi yang paling layak untuk jabatan ini. Semoga Allah senantiasa menjaga beliau untuk kita, dan semoga seluruh pejabat serta seluruh rakyat menyadari keberadaan anugerah rohani yang berharga ini.
Semoga kita semua senantiasa taat dan patuh kepadanya. Kehadiran dan perkumpulan masyarakat di jalan-jalan akan mewujudkan janji setia seluruh rakyat kepadanya. Perlu dipahami bahwa bai'at (janji setia) bukanlah suatu kewajiban mutlak. Baik berbai'at maupun tidak, ketaatan kepadanya tetap wajib bagi setiap orang. Namun, bai'at dapat menjadi peneguhan komitmen dan ikrar tambahan. Selain itu, kewajiban taat kepada pemimpin islam dan umat Islam berlaku untuk semua, terlepas dari apakah mereka melakukan bai'at atau tidak. Insyaallah, berkat bimbingan beliau yang bijaksana, membawa negara ini ke puncak kesempurnaan yang menjadi tujuan utama.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Komentar Anda