Selasa 7 April 2026 - 14:37
Perlunya Perhatian terhadap Perang Media dan Hukum

Hawzah/ Wakil bidang urusan internasional Hawzah Ilmiyah menegaskan bahwa perlawanan terhadap kesombongan global (anti-imperialisme) merupakan salah satu pilar fundamental dan peradaban dari Revolusi Islam. Ia menyatakan bahwa konfrontasi dengan sistem dominasi merupakan suatu kerangka pemikiran dan strategi multidimensi yang dijalankan dengan tujuan mewujudkan supremasi nilai-nilai ilahi serta melemahkan struktur dominasi global.

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Mufid Husseini Kouhsari, Wakil Urusan Internasional Hawzah Ilmiyah Iran, dalam Konferensi Internasional “Perlawanan terhadap Arogansi Global dalam Pemikiran Pemimpin Syahid Revolusi” yang diselenggarakan di Majelis Jahani (global) Ahlulbait (as) di Qom, dengan merujuk pada perkembangan terbaru di kawasan dan dunia, menegaskan kemenangan Republik Islam Iran dalam medan konfrontasi dengan sistem dominasi.

Ia, sembari menyampaikan belasungkawa atas gugurnya pemimpin syahid revolusi dan sejumlah komandan front perlawanan, menyatakan: apa yang hingga kini terjadi dalam arena konfrontasi dengan Amerika dan rezim Zionis menunjukkan suatu kemenangan yang tegas bagi Republik Islam, dan kelanjutan langkah ke depan bukan lagi untuk meraih kemenangan itu sendiri, melainkan untuk mengukuhkan capaian dan mencegah ancaman di masa depan.

Wakil Urusan Internasional Hawzah Ilmiyah tersebut menyebut perlawanan terhadap arogansi global (anti-imperialisme) sebagai salah satu konsep fundamental Revolusi Islam dan pilar utama Islam yang murni, komprehensif, dan berperadaban. Ia menambahkan bahwa konsep ini bukan sekadar isu politik atau sosial, melainkan suatu sistem pemikiran yang mendalam yang berakar pada keyakinan dan akidah agama. Dalam kerangka ini, konfrontasi dengan sistem dominasi dipandang sebagai aspek negatif (penolakan), sementara penegakan kehendak ilahi, tauhid, akhlak, dan spiritualitas merupakan aspek positifnya.

Hujjatul Islam wal Muslimin Husseini Kouhsari, dengan merujuk pada pandangan Pemimpin Tertinggi Revolusi tentang menghadapi sistem dominasi, menegaskan bahwa pendekatan ini mencakup strategi-strategi tertentu, di antaranya yang paling penting adalah pengusiran Amerika dari kawasan, kehancuran rezim Zionis, merosotnya posisi Amerika sebagai adidaya, dan hilangnya legitimasi peradaban Barat.

Wakil Urusan Internasional Hawzah Ilmiyah melanjutkan bahwa perkembangan terbaru menunjukkan bahwa tujuan-tujuan tersebut sedang berada di jalur realisasi.

Ia menyebut “perang gabungan” (hybrid warfare) sebagai strategi utama dalam menghadapi sistem dominasi dan mengatakan bahwa sistem tersebut memiliki struktur multidimensi, sehingga penanganannya juga harus dilakukan di berbagai bidang, termasuk militer, budaya, media, hukum, dan wacana.

Hujjatul Islam wal Muslimin Husseini Kouhsari menegaskan bahwa penguatan kehendak bangsa-bangsa, pembentukan wacana perlawanan, peningkatan kesadaran historis terhadap akar kolonialisme dan tatanan global, serta penguatan front perlawanan merupakan pilar-pilar utama dalam konfrontasi ini.

Ia juga menyebut perang media dan hukum sebagai arena penting lainnya dalam konfrontasi tersebut, seraya menambahkan bahwa dalam kondisi di mana sistem dominasi berusaha memaksakan narasinya melalui instrumen media dan hukum, front perlawanan juga harus memperkuat kapasitas medianya serta menempuh langkah-langkah hukum di forum internasional agar dapat memiliki kehadiran yang lebih aktif dan berpengaruh.

Di akhir, dengan merujuk pada kerugian akibat konflik, ia menekankan bahwa meskipun konfrontasi ini membawa biaya bagi negara Iran, kerugian tersebut dapat dipulihkan, sementara kerusakan yang dialami pihak lawan lebih luas. Ia menyatakan harapan bahwa dengan berlanjutnya jalur ini, dunia akan memasuki fase baru di mana sistem-sistem dominasi tidak lagi memiliki tempat.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha