Kamis 19 Februari 2026 - 08:39
Ayatullah A'rafi Serukan Kepemimpinan Islam di Era Kecerdasan Buatan (AI)

Hawzah/ Ayatullah Alireza A'rafi, kepala seminar Islam di Iran, menekankan kebutuhan mendesak untuk keterlibatan yang terstruktur dengan kecerdasan buatan (AI) dan ilmu kognitif. Ia menggambarkan bidang-bidang ini sebagai kekuatan transformatif yang aktif membentuk pemikiran dan pengambilan keputusan manusia, bukan sekadar alat bantu semata.

Berita Hawzah – Ayatullah Alireza A'rafi, Kepala Seminar Islam Iran, menekankan kebutuhan mendesak untuk keterlibatan terstruktur dengan kecerdasan buatan (AI) dan ilmu kognitif, yang menurutnya merupakan kekuatan transformatif yang secara aktif membentuk pemikiran dan pengambilan keputusan manusia, bukan sekadar alat pasif.

Dalam acara peluncuran produk berbasis pengetahuan dan cerdas di bidang ilmu Islam di kota suci Qom, Ayatullah A'rafi mengatakan bahwa perkembangan teknologi cerdas merupakan peluang besar sekaligus potensi ancaman bagi institusi keagamaan dan akademik jika tidak diarahkan dengan tepat.

Ia menambahkan, inisiatif ini, yang pertama kali digagas lebih dari sepuluh tahun lalu dalam lingkup seminarian dan akademik, termasuk Universitas Internasional Al-Mustafa, bertujuan membangun gerakan ilmiah pionir di garis depan pengetahuan dengan perspektif internasional yang berakar pada wacana Islam.

Teknologi Cerdas: Peluang dan Tantangan

Ayatullah A'rafi menekankan bahwa kemajuan cepat dalam ilmu kognitif dan kecerdasan buatan akan berdampak signifikan pada ranah akademik, budaya, dan teologis.

“Teknologi ini tidak lagi sekadar instrumen pasif. Mereka merupakan peserta aktif dalam proses intelektual dan struktur pengambilan keputusan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ilmu-ilmu Islam tidak hanya harus memanfaatkan kemajuan teknologi, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk fondasi etika dan filosofi di baliknya.

Enam Sumbu Strategis AI dalam Ilmu Islam

Ayatullah A'rafi memaparkan enam bidang utama untuk integrasi teknologi cerdas dalam kajian Islam:

  1. Teks Islam Primer – Menggunakan AI untuk menganalisis dan menafsirkan sumber-sumber dasar seperti Al-Qur’an dan tradisi Nabi.
  2. Sumber Sekunder – Menerapkan sistem cerdas pada ribuan karya klasik di bidang fikih, teologi, filsafat, tafsir, dan hadis.
  3. Pengembangan Disiplin Islam – Memperkuat metodologi penelitian dalam bidang seperti fikih, kalam, dan tafsir.
  4. Aplikasi dalam Kehidupan Kontemporer – Memfasilitasi implementasi pemikiran Islam dalam konteks sosial dan individual modern.
  5. Penyebaran Wacana Islam Global – Memanfaatkan AI untuk jangkauan internasional dan dialog budaya.
  6. Pelestarian Peradaban Islam – Melindungi dan mempromosikan warisan sejarah dan peradaban Islam secara digital.

Perluasan Infrastruktur Akademik

Ayatullah A'rafi menyebutkan pembukaan spesialisasi baru di seminar, seperti “Agama dan Dunia Maya” serta “Agama, Ilmu Kognitif, dan Kecerdasan Buatan,” dan menambahkan beberapa angkatan mahasiswa telah diterima.

Ia juga menyoroti proyek penelitian yang sedang berlangsung di bidang filsafat Islam terkait AI, teologi kecerdasan buatan, dan fikih kontemporer mengenai teknologi baru.

Tokoh senior ini mengacu pada prestasi Pusat Riset Komputer Ilmu Islam (Noor), yang didirikan di bawah arahan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sebagai institusi pionir dalam kajian Islam digital.

Dimensi Etika dan Fikih

Menyinggung implikasi etika AI, Ayatullah A'rafi mengatakan bahwa kurikulum khusus untuk tingkat magister dan doktor sedang dikembangkan untuk melatih ahli yang menguasai teknologi mutakhir sekaligus berpijak pada tradisi intelektual Islam.

Ia menambahkan, proyek terkait etika AI, teologi Islam, dan fikih AI sedang berjalan, dan kepemimpinan di bidang ini membutuhkan partisipasi kolektif dari seminar, universitas, dan lembaga penelitian.

Qom sebagai Pusat Global

Menyoroti Qom sebagai pusat ilmu Islam yang dinamis, Ayatullah A'rafi menyatakan kota ini memiliki kapasitas unik untuk memengaruhi wacana akademik dan keagamaan global.

Ia optimistis, dengan upaya terkoordinasi, Qom dapat menjadi hub utama di persimpangan ilmu Islam dan teknologi cerdas, yang akan memberi manfaat tidak hanya bagi Iran tetapi juga dunia Muslim secara luas.

“Tanggung jawab ini bersifat kolektif,” tutup Ayatullah A'rafi. “Kita harus bergerak cepat dan strategis agar pemikiran Islam memiliki peran penting di era kecerdasan buatan.”

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha