Berita Hawzah – Di dunia politik yang hiruk-pikuk, di mana banyak kekuatan telah menundukkan kepala di hadapan keagungan semu kekuatan istikbar, di sudut dunia ini, Republik Islam Iran berdiri tegak dengan keteguhan luar biasa yang berasal dari iman dan keyakinan pada kekuatan ilahi yang tak terbatas. Ini berbicara tentang kewibawaan yang telah menembus batas-batas dan menanamkan benih kerinduan dan kecintaan pada kepemimpinan ilahi di dalam jiwa bangsa-bangsa merdeka, khususnya di wilayah pengabdian rakyat Irak; kehormatan yang sama yang telah mengubah budaya berkata "tidak" kepada tirani zaman menjadi sebuah budaya yang nyata dan memberi kehidupan bagi kita.
Berikut ini, kami sajikan analisis-analisis dari Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Amin Al-Bughbish dalam acara khusus "Imam Mujahid Syahid", yang merupakan pembacaan ulang atas keagungan keteguhan ini dan perwujudan karakter Alawi di era sekarang.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang; Setelah jatuhnya pemerintahan zalim Ba'ath, rakyat Irak mencari kembalinya keadilan dan perwujudan nilai-nilai Islam; harapan yang terwujud dalam marja'iyyah Syiah yang agung. Yang Mulia Ayatullah Agung Sistani (semoga perlindungannya berlanjut) dan Pemimpin Agung Revolusi Islam Iran adalah dua harapan besar bagi rakyat Iran dan Irak.
Namun, sosok yang dalam kapasitasnya sebagai negarawan dan pemimpin, menampakkan wujud dari pemerintahan Alawi dalam manajemen dan gaya hidupnya, dan rakyat Irak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, adalah Pemimpin Agung Revolusi Islam Iran. Beliaulah teladan yang dicari-cari oleh rakyat Irak dalam impian mereka. Karena itulah, ketika Pemimpin Agung Revolusi bertemu dengan para pelayan mawkib-mawkib Arbain Irak, sambutan dan perasaan mendalam mereka jauh melampaui sekadar reaksi sederhana dan sepenuhnya lahir dari emosi keimanan.
Perasaan ini bukan semata-mata disebabkan oleh pertemuan dengan pemimpin sebuah negara, melainkan berakar pada kedalaman iman rakyat; sebuah pandangan yang bercampur dengan keyakinan kepada kepemimpinan ilahi. Pandangan rakyat Irak kepada Pemimpin Agung Revolusi Islam adalah pandangan kepada sosok yang setiap kali mereka pergi ke Masjid Kufah, mengingatkan mereka pada pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as). Mereka dalam kepribadian dan perilaku beliau menyaksikan wujud dari keagungan Alawi tersebut.
Karena itulah, kita melihat bahwa para pemimpin besar suku-suku Irak dalam surat-surat mereka —yang layak suatu hari nanti dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk buku yang abadi— mengajukan permintaan-permintaan yang penuh makna. Mereka meminta agar pemimpin besar umat Islam ini disinggahkan di Irak, dan mereka menegaskan bahwa mereka akan menjamin keamanan upacara tersebut dengan anak-anak dan jiwa mereka.
Hari ini pun, rakyat dengan penuh kerinduan berkumpul dari Masjid Kufah, tempat pemerintahan Amirul Mukminin (as), untuk mengiringi jenazah sosok yang dalam kepemimpinannya mengingatkan mereka pada sirah (jalan hidup) dan karakter Alawi.
Kita di negara ini telah begitu terbiasa dengan kehadiran pemimpin besar ini dan telah menyaksikan kewibawaannya sehingga ketegasan ini terasa biasa bagi kita; seolah-olah kita mengira bahwa karakter seperti ini mungkin terjadi di seluruh dunia, padahal kenyataannya tidak demikian.
Percayalah, berkata "tidak" kepada Amerika membutuhkan keberanian dan tekad yang kokoh yang bahkan banyak kekuatan besar dunia pun tidak memilikinya. Dalam berbagai perjalanan yang saya lakukan ke berbagai negara, saya sering ditanya:
"Bagaimana Anda bisa berkata 'tidak' kepada Amerika?"
Pemimpin besar ini telah menjadikan budaya berkata "tidak" begitu terasa alami dan mudah bagi kita, sehingga kita mengira ini adalah hal yang biasa; tetapi mereka menjawab: "Hal seperti itu tidak mungkin terjadi."
Mungkin karena kita hidup di bawah naungan keberadaan Pemimpin Agung Revolusi Islam, kita tidak menyadari kedalaman keberanian dan ketegasan ini. Kita telah bernapas di bawah cahaya keberadaan beliau dan dari hembusan sucinya kita serap kewibawaan dan ketabahan ke dalam jiwa kita; tetapi dunia, memahami dengan baik hakikat dari keteguhan ini.
Perwujudan sempurna dari kewibawaan ini tampak dalam kisah surat Trump; di mana beliau ra tidak hanya tidak bersedia menerima surat itu, tetapi bahkan memaksa Perdana Menteri Jepang untuk meletakkan surat itu di sampingnya di atas kursi. Beliau menyatakan bahwa beliau sama sekali tidak akan menerima surat itu, karena beliau menganggap orang yang di hadapannya tidak layak untuk bertukar pesan. Inilah ketegasan pemimpin yang setara dengan Amirul Mukminin, yang menghancurkan keagungan semu kekuatan arogansi global.
Siapa yang mampu? Ada tokoh-tokoh kriminal yang dengan hanya satu sikap saja mampu mengguncang benua seperti Eropa dan memaksa kekuatan-kekuatan besar untuk mengubah undang-undang mereka demi menyenangkan hati mereka; karena mereka didukung oleh kekuatan hegemonik Amerika. Tetapi di Republik Islam Iran, persamaan ini kehilangan maknanya. Ketika gelombang kewibawaan semu Amerika ini mencapai perbatasan Iran, ia hancur; karena Republik Islam dengan tegas berkata "tidak".
Pemimpin Agung Revolusi Islam, yang merupakan didikan dari aharan pembentuk manusia Imam Khomeini (ra), telah mewujudkan keteguhan ini. Pemimpin-pemimpin ilahi seperti ini telah menampakkan wujud dari keberanian, ketegasan, dan kewibawaan kepemimpinan, dan telah membuktikan kepada dunia bahwa kewibawaan wali Allah melampaui kekuatan-kekuatan material. Kita yang merupakan didikan dari ajaran ini, menyaksikan ketegasan ini; ketegasan yang menjadikan rakyat semakin terpesona dan rindu untuk bertemu dengan Wali Amr.
Komentar Anda