Senin 9 Maret 2026 - 16:00
Syarah Doa | Perbedaan Antara Sah dan Diterimanya Amal

Hawzah/ Keabsahan salat  berarti bahwa salat tersebut tidak mengharuskan qadha, tidak perlu diulang, dan tidak mengakibatkan hukuman; dengan kata lain, seseorang telah menunaikan kewajiban syar’inya. Namun, diterimanya salat di sisi Allah memiliki syarat-syarat lain, seperti kekhusyukan (hudhur al‑qalb), memakan harta yang halal, tidak adanya makanan haram dalam tubuh, dan syarat-syarat lain semisal itu.

Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari kesembilan belas bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kesembilan belas bulan Ramadan beserta artinya:

«اللّهمّ وفّرْ فیهِ حَظّی من بَرَکاتِهِ و سَهّلْ سَبیلی الی خَیراتِهِ و لاتَحْرِمْنی قَبولَ حَسَناتِهِ یا هادیاً الی الحَقّ المُبین»

"Ya Allah, limpahkanlah di bulan ini kebahagianku dari berkah-berkahnya, mudahkanlah jalanku menuju kebaikan-kebaikannya, dan janganlah Engkau halangi aku dari diterimanya kebaikan-kebaikanku, wahai Pemberi petunjuk menuju kebenaran yang nyata."

Di hari yang penuh berkah ini, orang yang berpuasa memohon tiga hal kepada Allah Swt.

Poin pertama dari doa ini adalah: «اللّهمّ وفّرْ فیهِ حَظّی من بَرَکاتِهِ», "Ya Allah, limpahkanlah di dalamnya bagianku dari berkah-berkah-Mu."

Bulan Ramadan adalah bulan perjamuan Allah. Karena Allah SWT menjadi tuan rumah bagi hamba-hamba-Nya di bulan ini, tentu saja Dia akan menjamu hamba-hamba-Nya secara khusus dan lebih dari bulan-bulan lainnya. Misalnya, jika seseorang membaca satu ayat Al-Quran di bulan ini, dia akan mendapatkan pahala seperti telah mengkhatamkan seluruh Al-Quran. Atau, meskipun kita bersedekah sepanjang 12 bulan dan mendapatkan pahala, maka ketika bersedekah di bulan ini pahalanya jauh lebih besar. Dalam sebuah riwayat dari Imam Maksum 'alaihimussalam disebutkan: «من تصدق برمضان ولو بدرهم فکأنما تصدق بجبل أبو قبیس», "Barang siapa bersedekah di bulan Ramadan, walaupun hanya satu dirham, maka seolah-olah dia telah bersedekah sebesar Gunung Abu Qubais." Selain itu, beribadah di malam-malam Qadar setara dengan ibadah selama seribu bulan yang dianugerahkan oleh Allah Yang Maha Tinggi kepada kita.

Poin kedua dari doa ini adalah: «و سَهّلْ سَبیلی الی خَیراتِهِ», "Mudahkanlah jalanku menuju kebaikan-kebaikan-Mu."

Ada beberapa poin penting dalam bagian doa ini. Poin pertama, manusia dalam melakukan kebaikan terbagi menjadi dua golongan: sebagian mengalami kesulitan dalam melakukan kebaikan, dan sebagian lainnya melakukannya dengan mudah. Disamping itu, ada dua jenis masalah yang akan dihadapi sebagian orang. Beberapa memiliki masalah spiritual, dan yang lain memiliki masalah dengan fasilitas dan alat.

Orang-orang yang memiliki masalah spiritual, sulit bagi mereka untuk melakukan amalan-amalan seperti shalat malam, bermunajat, membantu orang yang membutuhkan, berjihad, belajar, melakukan amar makruf nahi mungkar, dan lain-lain. Kita harus memohon kepada Allah SWT untuk menghilangkan masalah ini dari jalan kita dan mempermudah kesulitan spiritual kita. Sebagian orang memiliki masalah dengan fasilitas dan alat untuk melakukan kebaikan. Misalnya, seseorang ingin membantu orang yang membutuhkan, tetapi tidak memiliki kemampuan finansial. Atau dia ingin menyampaikan ilmunya kepada orang lain, tetapi tidak ada yang mengundangnya untuk bekerja sama, dan lain-lain. Kita harus meminta kepada Allah untuk menyediakan fasilitas dan alat untuk kegiatan kebaikan kita.

Poin kedua dalam penggalan doa ini adalah Allah wt telah berusaha mempermudah urusan bagi orang-orang mukmin dan hamba-hamba-Nya. Dalam ayat 5 dan 6 dari Surah Al-Insyirah disebutkan: « فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً», "Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Selain itu, Allah Swt juga berfirman untuk meminta kepada Allah agar mempermudah urusan: «رَبِّ یَسِرْ و لا تُعَسِّر سَهِّل عَلَینا یا رب العالمین», "Ya Tuhanku, mudahkanlah dan jangan Engkau persulit, mudahkanlah urusan kami wahai Tuhan semesta alam."

Keringanan Allah dalam Hukum Fikih

Hal yang perlu diperhatikan adalah, jika beberapa perkara dalam hukum fikih dan agama terasa sulit, Allah telah mempermudahnya bagi kita. Misalnya, seseorang yang sakit atau dalam perjalanan, maka ia terlepas dari hukum kewajiban puasa. Sebagaimana Allah Swt berfirman masalah ini dalam ayat 185 Surah Al-Baqarah: «شَهْرُ رَمَضانَ الَّذي أُنْزِلَ فيهِ الْقُرْآنُ هُديً لِلنَّاسِ وَ بَيِّناتٍ مِنَ الْهُدي‏ وَ الْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْکُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَ مَنْ کانَ مَريضاً أَوْ عَلي‏ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُريدُ اللَّهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَ لا يُريدُ بِکُمُ الْعُسْرَ وَ لِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَ لِتُکَبِّرُوا اللَّهَ عَلي‏ ما هَداکُمْ وَ لَعَلَّکُمْ تَشْکُرُونَ», "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Dalam poin ketiga dari doa ini, kita membaca: «و لاتَحْرِمْنی قَبولَ حَسَناتِهِ», "Dan janganlah Engkau halangi aku dari diterimanya kebaikan-kebaikanku."

Perbedaan Antara Sah dan Diterimanya Amal

Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan terkait dengan diterimanya amal.

Perbedaan antara sahnya amal dan diterimanya amal. Apa yang disebutkan dalam fikih tentang syarat-syarat orang yang shalat, seperti pakaian yang bersih, badan yang suci, tempat yang suci, bacaan yang benar, dan lain-lain, menyebabkan sahnya shalat, bukan diterimanya. Karena syarat diterimanya adalah masalah lain.

Karena keabsahan salat berarti bahwa salat tersebut tidak mengharuskan qadha, tidak perlu diulang, dan tidak mengakibatkan hukuman; dengan kata lain, seseorang telah menunaikan kewajiban syar’inya. Namun, diterimanya salat di sisi Allah memiliki syarat-syarat lain, seperti kekhusyukan (hudhur al‑qalb), memakan harta yang halal, tidak adanya makanan haram dalam tubuh, dan syarat-syarat lain semisal itu.

Takwa Syarat Diterimanya Ibadah

Banyak ibadah yang seperti ini, jika syarat-syarat fikih terpenuhi, maka ibadahnya sah, tetapi diterimanya bergantung pada syarat-syarat lain.

Poin lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa salah satu syarat diterimanya yang disebutkan Allah dalam Al-Quran adalah takwa. Dalam ayat 27 Surah Al-Maidah disebutkan: «وَ اتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبا قُرْباناً فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِما وَ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قالَ لَأَقْتُلَنَّکَ قالَ إِنَّما يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقينَ», "Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): ""Aku pasti membunuhmu!"" Berkata Habil: ""Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa."

Adapun kefasikan menghalangi diterimanya amal ibadah. Dalam ayat 53 Surah At-Taubah kita membaca: «قُلْ أَنْفِقُوا طَوْعاً أَوْ کَرْهاً لَنْ يُتَقَبَّلَ مِنْکُمْ إِنَّکُمْ کُنْتُمْ قَوْماً فاسِقينَ», "Katakanlah: "Nafkahkanlah hartamu baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun sekali-kali tidak akan diterima daripadamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik."

Di akhir doa ini disebutkan: «یا هادیاً الی الحَقّ المُبین», "Wahai Pemberi petunjuk menuju kebenaran yang nyata."

Kebenaran terkadang nyata dan tidak nyata, dan terkadang juga jelas dan tidak jelas. Jika kebenaran menjadi jelas bagi seseorang, maka seorang Muslim, seorang pelajar, atau seorang mukmin, dia akan melangkahkan kakinya di jalan Allah dengan sekuat tenaga. Tetapi jika dia dalam keadaan ambigu dan tidak melihat hakikat kebenaran secara jelas, maka dia mungkin tidak selalu menempuh jalan Allah. Allah Swt berfirman dalam ayat pertama Surah Al-Hijr: «الر; تِلْکَ آياتُ الْکِتابِ وَ قُرْآنٍ مُبينٍ», "Alif Lam Ra. Inilah ayat-ayat Kitab (Al-Quran), dan (ayat-ayat) Quran yang jelas." Dan Dia juga berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 15: «يا أَهْلَ الْکِتابِ قَدْ جاءَکُمْ رَسُولُنا يُبَيِّنُ لَکُمْ کَثيراً مِمَّا کُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْکِتابِ وَ يَعْفُوا عَنْ کَثيرٍ قَدْ جاءَکُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَ کِتابٌ مُبينٌ», "Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan."

Dakwah Nabi Muhammad SAWW Sangat Jelas

Dakwah (seruan) Nabi Muhammad SAWW sangat jelas, sehingga kebenaran Islam mudah dipahami oleh semua orang. Sebagaiamana, firman-Nya dalam ayat 92 Surah Al-Maidah: ««وَ أَطيعُوا اللَّهَ وَ أَطيعُوا الرَّسُولَ وَ احْذَرُوا فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّما عَلي‏ رَسُولِنَا الْبَلاغُ الْمُبينُ», "Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul (Nya), dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."

Dalam ayat 184 Surah Al-A'raf disebutkan: «أَ وَ لَمْ يَتَفَکَّرُوا ما بِصاحِبِهِمْ مِنْ جِنَّةٍ إِنْ هُوَ إِلاَّ نَذيرٌ مُبينٌ», "Dan apakah mereka tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak gila? Dia (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas."

Sebagaimana penyampaian Rasulullah yang jelas, setiap da’i juga seharusnya menyampaikan materi dengan cara yang jelas dan mudah dipahami agar kebenaran dapat diketahui oleh semua orang. Sedemikian pentingnya masalah ini sehingga Allah Swt berfirman dalam ayat 35 Surah An-Nahl: «فَهَلْ عَلَي الرُّسُلِ إِلاَّ الْبَلاغُ الْمُبينُ», "...Maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha