Sabtu 1 November 2025 - 22:15
Misi Media Musuh dalam Perang Kognitif

Hawzah/ Dua orang aktivis dan peneliti di bidang media, dengan menyinggung tujuan-tujuan musuh dalam perang kognitif, menguraikan misi media yang paling penting dari kubu yang condong kepada musuh dalam pertempuran yang sensitif dan menentukan ini.

Berita Hawzah - Dalam ranah perang kognitif, pertempuran utama bukanlah soal senjata atau wilayah, melainkan soal persepsi dan kepercayaan masyarakat. Para pakar meyakini bahwa jika narasi menjauh dari kebenaran, maka bahkan dengan alat terbaik sekalipun, pikiran masyarakat tidak akan dapat ditaklukkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam perang kognitif, tujuan musuh bukanlah menghapus fakta yang ada, melainkan menulis ulang fakta tersebut. Dengan kata lain, musuh tidak menyembunyikan kebenaran, tetapi memecah-mecahnya agar terbentuk gambaran yang parsial dan berpihak.

Maitsam Ramadhanalī, seorang aktivis media, menyatakan dalam konteks ini: “Pertahanan di medan ini tidak dilakukan dengan penyangkalan dan sensor, melainkan melalui rekonstruksi kebenaran yang utuh dan dapat dipercaya.” Menurutnya, persuasi yang berbasis pada penyadaran dan pencerahan berakar pada ajaran para Maksumin (as), sebagaimana metode dua Imam Revolusi sejak awal gerakannya hingga hari ini juga berlandaskan prinsip tersebut.

Ia juga menekankan poin penting: “Islam murni Muhammadi (saww) tidak memandang media sebagai alat propaganda, melainkan sebagai amanah.” Dalam logika ini, kepercayaan publik bukanlah hasil dari kejujuran semata, melainkan buah dari amanah dalam menyampaikan narasi. Oleh karena itu, media yang amanah, bahkan ketika menyampaikan kenyataan yang pahit, akan melahirkan kepercayaan, bukan kecemasan.

Ia melanjutkan: “Persuasi sejati lahir dari kejujuran yang cerdas, yakni narasi yang menyampaikan kebenaran sekaligus menjaga kepentingan sosial.” Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian medan media kita terjebak dalam pola “manajemen krisis berbasis penyembunyian,” di mana diyakini bahwa dengan narasi parsial, statistik selektif, dan operasi psikologis dangkal, masyarakat dapat ditenangkan. Padahal pengalaman menunjukkan bahwa metode semacam ini tidak hanya gagal membangun kepercayaan publik, tetapi justru membakar modal kepercayaan di saat krisis.

Narjes Shakurzadeh, peneliti dari Hawzah Ilmiyah Khusus Perempuan, menyatakan bahwa saat ini medan pertempuran terpenting kita dengan musuh adalah perang kognitif. Ia menjelaskan: “Sebelum segalanya, kita harus memahami bahwa perang kognitif adalah perang yang bertujuan menguasai pikiran, persepsi, dan pemahaman manusia.” Dalam pertempuran penting ini, musuh berusaha mengubah gambaran masyarakat tentang kenyataan, dengan tujuan mengarahkan perilaku kolektif sesuai kepentingannya, tanpa perlu menembakkan satu peluru pun. Alat utama dalam perang ini adalah media, jejaring sosial, informasi selektif, dan terutama konstruksi narasi.

Ia menambahkan: “Berdasarkan definisi ini, kita harus waspada bahwa musuh hanya akan berhasil dalam perang kognitif jika jurang antara rakyat dan pemerintahan semakin dalam. Karena itulah Pemimpin Tertinggi Revolusi menunjukkan kepekaan tinggi terhadap isu ini dan selalu menekankan pentingnya membangun hubungan yang mendalam dan akurat antara rakyat dan para pejabat, agar musuh tidak dapat menciptakan jarak dan perpecahan di antara barisan mereka.”

Ia juga mengatakan: “Untuk menggagalkan konspirasi musuh dalam perang kognitif dan persepsi, kita harus berdialog secara jujur dengan masyarakat dan generasi muda. Alih-alih menyangkal masalah, kita harus menghadapinya secara jujur, dan di sisi lain, waspada terhadap konstruksi narasi musuh dalam berbagai isu.”

Shakurzadeh menekankan bahwa perang kognitif adalah medan di mana pikiran manusia menjadi arena pertempuran. Ia menjelaskan: “Dalam jenis perang ini, tujuannya bukan sekadar mengubah isi pemikiran, tetapi mengubah cara berpikir dan perilaku individu.” Jika perang kognitif berhasil mencapai tujuannya, maka ia dapat mengatur dan mengarahkan keyakinan serta perilaku individu maupun kolektif agar melayani kepentingan taktis atau strategis pihak penyerang.

Ia menambahkan: “Bahkan dalam bentuk ekstremnya, perang kognitif memiliki potensi untuk menghancurkan masyarakat dari dalam, hingga kehendak kolektif untuk melawan ancaman dan musuh lenyap. Dalam kondisi seperti itu, musuh dapat menundukkan masyarakat tanpa kekerasan atau paksaan langsung.”

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha