Berita Hawzah – Ayatullah A'rafi Khotib Jumat kota Qom dalam salat Jumat 23 Oktober 2026 yang diselenggarakan di masjid Agung Musala Quds berbicara tentang kedudukan tinggi Sayyidah Fatimah Az-Zahra as.
Ia berbicara mengenai peran ilmiah, ibadah, dan sosial Sayyidah Fatimah Az-Zahra as yang merupakan teladan sepanjang zaman para perempuan muslimah.
Kedudukan Luhur Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) dalam Pandangan Kedua Mazhab Islam
Ayatullah Arafi dalam khutbah pertama dengan menyebut kedudukan luhur Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) dalam pandangan kedua mazhab, menyatakan: Antara mazhab Syiah dan Ahlus Sunnah terdapat perbedaan pandangan terkait Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as), tetapi mengenai kepribadian Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) mereka memiliki banyak kesamaan.
Ia menyatakan: Kitab "Al-Sunnah Al-Nabawiyyah fi Mashadir Al-Madzahib Al-Islamiyyah" ditulis oleh sekelompok dosen dan cendekiawan muslim dengan upaya Majma' Global Taqrib Mazhahib Islam, di mana riwayat-riwayat hadis yang sama antara Ahlus Sunnah dan Syiah dari sumber-sumber terpercaya disebutkan. Jilid ketujuh kitab ini dikhususkan untuk para Imam (as), di mana lebih dari 350 halaman dengan lebih dari 800 riwayat dari Syiah dan Sunnah membahas ciri-ciri Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as).
Direktur Hawzah-Hawzah Ilmiyah Iran menyatakan: Dalam kitab ini disebutkan lebih dari 100 kedudukan dan ciri Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) yang semuanya berasal dari sumber-sumber terpercaya Ahlus Sunnah dan Syiah. Hal ini menunjukkan keagungan dan kepribadian luhur Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) serta banyaknya kesamaan kita dengan Ahlus Sunnah dalam hal ini.
Ia terkait sirah sosial Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) mengatakan: Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) adalah teladan pejuang perempuan muslimah dan ulama besar yang harus menjadi perhatian perempuan dan laki-laki masyarakat hari ini.
Imam Salat Jumat Qom menyatakan: Dalam kehidupan Fatimah Az-Zahra (as), ilmu dan pengetahuan, kedudukan ibadah dan spiritual, peran sosial dan pendidikan semuanya terwujud di samping kesucian batin dan keindahan lahiriah serta hijab dan iffah (kesucian diri). Terhimpunnya beberapa komponen ini dalam kepribadian Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) menjadikannya teladan abadi bagi perempuan seluruh dunia dan teladan yang berbeda dari teladan-teladan duniawi dan non-Ilahi.
Ia melanjutkan: Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) ketika dilihat di mihrab ibadah, cahaya ibadahnya membelah langit-langit; ketika berada di kursi penyebaran ilmu-ilmu Ilahi, dari perkataannya memancar ilmu, pengetahuan, dan pemikiran, sehingga para sahabat besar seperti Abu Dzar dan Salman berkumpul di sekelilingnya. Dalam laporan-laporan sejarah disebutkan bahwa bukan hanya perempuan-perempuan Madinah, tetapi juga laki-laki bertanya kepadanya dan mendapatkan jawaban.
Direktur Hawzah-Hawzah Ilmiyah Iran itu dengan menyebut peran Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) dalam pendidikan dan keluarga, menyatakan: Hingga kini telah disebutkan berbagai contoh tentang kejernihan rumah tangga serta ilmu dan keterampilan pendidikan Sayyidah Fatimah Az-Zahra (sa).
Ia dengan menyebut peran sosial Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) mengatakan: Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) adalah pendukung Rasulullah (saw) dan pembela kewilayahan Wali Allah, dan bahkan dalam peperangan beliau ikut serta bersama perempuan-perempuan Madinah lainnya untuk mendukung Rasulullah (saw) dan merawat para pejuang.
Khatib Jumat Qom mengingatkan: Sebagian orang keliru mengira bahwa perempuan dalam Islam tidak dapat memiliki peran-peran yang luhur, padahal berbagai peran telah terwujud dalam sosok Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) dan dalam kehidupannya yang bercahaya, sehingga beliau menjadi teladan bagi perempuan dan laki-laki.
Anggota Dewan Fuqaha Dewan Penjaga mengatakan: Iffah (kesucian diri), hijab, dan menjaga batas-batas hubungan dengan orang lain merupakan ciri lain Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as). Kesucian dan kehati-hatian dalam bersosial dengan orang lain telah terhimpun bersama peran-peran lain di dalam rumah dan di tengah masyarakat, dan menjadikannya seorang pemimpin agung dan pembimbing agung serta suci.
Ia menegaskan: Dalam sumber-sumber tentang Iran disebutkan khutbah Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) di Masjid Madinah, bahwa Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) keluar dari rumah dengan kesedihan dan duka serta dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, lalu masuk ke masjid dan mulai berbicara dari balik tabir, dan dengan ratapan pertamanya seluruh majelis pun menangis dan meratap.
Imam Jumat Qom melanjutkan: Peran sosial dan kepemimpinan dalam krisis ini disertai dengan kesucian batin, keindahan lahiriah, dan penjagaan batas-batas kesucian Ilahi, yang harus dipelajari oleh perempuan dan para gadis.
Ia menegaskan: Jalan perempuan bukanlah menjauh dari ilmu, pengetahuan, dan makrifat, dan bukan pula jalan yang dibuka Barat untuk kita agar menjadikan perempuan sebagai barang dagangan bagi kepentingan laki-laki.
Nilai perempuan lebih tinggi daripada menjadi sasaran hasrat para pemuja hawa nafsu dan menarik orang lain kepada dirinya dengan tabarruj (memamerkan keindahan), sehingga daya tarik ilmu, makrifat, dan spiritualitasnya menjadi terpinggirkan.
Khatib Jumat Qom dengan menyebut bahwa ini adalah model ketiga yang diajukan Revolusi Islam Iran dalam persoalan perempuan, menambahkan: Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) dengan perhatiannya terhadap terjaganya kesucian diri perempuan mampu meraih kedudukan ilmiah dan kesucian spiritual, dan hari ini pun ia adalah teladan yang hidup bagi kita.
Ia juga menyatakan: Iffah dan hijab bukanlah hal biasa, melainkan panji Islam yang berkibar dan simbol peradaban Islam. Menjaga batas-batas dan kesucian dari yang bukan mahram bagi perempuan dan laki-laki merupakan prinsip penting dalam bekal perjalanan iman kita. Semua harus memperhatikan hal penting ini.
Ayatullah Arafi dalam khutbah jumat ini juga menjelaskan: Sayyidah Fatimah Az-Zahra (sa) selain peran-peran yang ia jalankan, setelah Rasulullah (saw) adalah pahlawan dan pengelola dalam krisis. Ketika Madinah diguncang, persamaan-persamaan berantakan, penyimpangan meluas, mayoritas terdiam, masyarakat dilanda fitnah, dan nilai-nilai Ilahi runtuh, seorang perempuan pahlawan menggantikan posisi semua laki-laki.
Ia melanjutkan: Seorang wanita agung memikul pesan Ilahi yang besar dan mengelola krisis-krisis terbesar. Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) mengibarkan panji risalah dan wilayah, dan dengan menanggung berbagai kezaliman serta kesulitan, ia mencegah penyimpangan-penyimpangan besar, menjaga kesinambungan risalah, dan berdiri melawan kemunafikan. Tindakan Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) dalam Islam tak tertandingi, dan beliau adalah satu-satunya di dunia dalam mengubah persamaan-persamaan dan memainkan peran politik demi kepentingan imamah dan wilayah.
Imam Jumat Qom dengan menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) memiliki kedudukan-kedudukan yang menakjubkan, mengatakan: Dalam berbagai riwayat dari Syiah dan Ahlus Sunnah disebutkan tentang kedudukan Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) di hari kiamat, di antaranya adalah keagungan kafilah Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) pada hari kiamat yang membuat semua orang terpesona. Dalam riwayat disebutkan: "Pada hari kiamat, seorang penyeru berseru dari tengah Arsy: 'Wahai seluruh yang berkumpul! Tundukkan kepala-kepala kalian dan tutup mata kalian agar Fatimah putri Muhammad (saw) melintasi shirath.' Kemudian Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) bersama tujuh puluh ribu bidadari surga melintas secepat kilat."
Dalam khutbah jumatnya, Ayatullah A'rafi juga berbicara tentang kondisi saat ini di beberapa negara Islam seperti Azerbaijan, Bahrain dan Arab Saudi.
Peringatan kepada Pemerintah Azerbaijan
Khatib Jumat Qom dalam sebuah peringatan kepada pemerintah Azerbaijan terkait penghormatan terhadap nilai-nilai Ilahi khususnya hijab, mengatakan: Perilaku ini sangat tercela bagi umat Islam dan bangsa Azerbaijan yang pemberani, yaitu dikeluarkannya perintah-perintah yang bertentangan dengan syariat yang suci dan nilai-nilai yang disepakati oleh seluruh ulama Islam, sehingga rakyat menjadi terganggu dan tersiksa karenanya.
Ia menyatakan: Harapan para ulama Islam kepada bangsa-bangsa Muslim adalah agar batas-batas nilai-nilai Ilahi dijaga. Di antara nilai-nilai tersebut adalah hijab yang merupakan panji kesucian perempuan dan simbol keselamatan masyarakat. Kami berharap arus yang tidak benar anti-hijab ini dihentikan. Persoalan hijab adalah hal yang fundamental yang harus dianggap oleh semua perempuan di seluruh dunia Islam sebagai tanda identitas Islam dan penjamin kebahagiaan dunia dan akhirat.
Arab Saudi dan Bahrain Jangan Memenjarakan Ulama dan Rakyat
Ia menyatakan: Di beberapa negara kawasan, termasuk Bahrain dan Arab Saudi, kita menyaksikan para ulama dan pemuda dipenjarakan selama bertahun-tahun. Penahanan-penahanan luas ini di Bahrain dan Arab Saudi menimbulkan keprihatinan para marja dan ulama. Diharapkan pemerintah menghentikan tindakan zalim ini; demikian pula, diharapkan dari lembaga-lembaga diplomasi dunia Islam dan Iran untuk mengambil langkah guna membebaskan rakyat dan ulama di negara-negara tersebut.
Komentar Anda