Kamis 1 Oktober 2026 - 17:49
Para Santri Harus Mengenali Masyarakat dan Berbagai Arus

Hawzah/ Ayatullah Rajabi dalam upacara pembukaan tahun ajaran baru Madrasah Ilmiyah Ma'sumiyah, dengan menyatakan bahwa menjadi tentara Imam Mahdi (semoga Allah mempercepat kemunculannya) merupakan nikmat khusus dari Allah, mengatakan: Ia menegaskan: Tawasul tidak dapat menggantikan pengenalan akan kewajiban dan pelaksanaan kewajiban secara tepat. Manusia harus mengenal kewajibannya, berusaha untuk melaksanakannya, dan di samping itu bertawasul kepada Ahlulbait (as).

Berita Hawzah – Ayatullah Mahmud Rajabi, hari Rabu 30 September 2026, dalam upacara pembukaan tahun ajaran baru Madrasah Ilmiyah Ma'sumiyah Qom, sambil memperingati dimulainya tahun ajaran hawzah-Hawzah Ilmiyah dan Pekan Pertahanan Suci, menyatakan: Kami persembahkan peringatan-peringatan ini kepada ruh suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), Imam Khomeini, pemimpin yang syahid, serta seluruh syuhada dan para ulama rabbani.

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah, dengan menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang melimpah, menambahkan: Allah SWT telah memberikan nikmat yang tak terhitung kepada manusia, namun sebagian nikmat merupakan nikmat khusus dari Allah yang tidak semua manusia menikmatinya. Di antara nikmat-nikmat khusus itu pun terdapat nikmat-nikmat yang secara lahir tampak sebagai satu nikmat, tetapi dengan pencermatan dan perenungan menjadi jelas bahwa ia mengandung kumpulan nikmat-nikmat besar di dalamnya.

Ayatullah Rajabi melanjutkan: Manusia harus memperhatikan bahwa menjadi santri dan menjadi tentara Baqiyyatullah al-A'zam (semoga Allah mempercepat kemunculannya) termasuk nikmat-nikmat khusus dari Allah; nikmat yang di dalamnya terkandung banyak nikmat lain, dan masing-masing dari nikmat-nikmat itu juga sangat agung dan berharga.

Kesantrian; Nikmat yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun 

Ayatullah Rajabi, dengan menyebutkan sebuah kenangan dari almarhum Allamah Hasanzadeh Amuli (ra), menyatakan: Beliau menuturkan bahwa suatu hari saya sedang berjalan di jalan-jalan dan gang-gang, dan saya melihat seseorang yang sedang mencari-cari di antara sampah untuk menemukan sesuatu dan mencari nafkah darinya. Di tempat itu juga saya merenung, "Ya Allah, di kota yang sama tempat kami tinggal ini, ada orang-orang yang menghabiskan sebagian umur mereka di antara sampah untuk menemukan sesuatu, menjualnya, dan memenuhi kebutuhan hidup mereka; tetapi betapa besar kasih sayang-Mu kepada kami, sehingga umur kami dihabiskan untuk mencari dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur'an serta riwayat-riwayat Nabi Agung Muhammad (Saww) dan Ahlulbait (as)."

Ayatullah Rajabi menegaskan: Pelajaran-pelajaran yang kita pelajari di Hawzah merupakan pendahuluan untuk memahami ayat-ayat dan riwayat-riwayat secara benar; meskipun pelajaran-pelajaran itu sendiri juga membuat manusia akrab dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat. Manusia tidak akan memahami keagungan nikmat-nikmat itu sampai ia membandingkannya dengan hal-hal lain.

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah melanjutkan: Nikmat apa yang lebih tinggi daripada seseorang menempatkan umurnya di jalan memahami firman Allah dan ma'arif Ahlulbait (as)? Nikmat ini tidak dapat dibandingkan dengan apa pun.

Masuk ke Hawzah hendaklah dianggap sebagai panggilan Ilahi

Anggota Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom, dengan menekankan pentingnya bersyukur atas nikmat kesantrian, mengatakan: Tahap pertama syukur atas nikmat adalah syukur dengan hati; yaitu manusia meyakini bahwa kehadirannya di Hawzah merupakan karunia dan panggilan Ilahi.

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah menambahkan: Manusia tidak boleh membayangkan bahwa ia menjadi santri semata-mata karena usaha pribadinya atau karena seseorang merekomendasikannya lalu ia datang ke Hawzah; melainkan ia harus memandang kehadirannya di Hawzah sebagai panggilan Ilahi, taufik dari Allah, dan perhatian Baqiyyatullah (semoga Allah mempercepat kemunculannya).

Ayatullah Rajabi menyatakan: Jika kita memandang kehadiran kita di Hawzah dengan pandangan seperti ini, kita akan lebih memahami hakikat syukur atas nikmat. Tentu saja syukur secara lisan juga diperlukan, dan manusia harus membiasakan lisannya untuk memuji dan bersyukur kepada Allah, tetapi syukur secara perbuatan adalah menggunakan nikmat itu dengan benar dan optimal.

Seorang penuntut ilmu agama harus mempelajari pelajaran secara mendalam dan cermat

Anggota Dewan Majelis Ahli Kepemimpinan dengan mengacu pada ayat

وَما کانَ الْمُؤْمِنُونَ لِیَنْفِرُوا کَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ کُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِیَتَفَقَّهُوا فِی الدِّینِ وَلِیُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya" mengatakan: Filosofi dari kehadiran sebgaian orang di Hawzah adalah memperdalam pemahaman agama (tafaqquh fid-din) dan kembali ke tengah masyarakat untuk membimbing mereka.

Ayatullah Rajabi menekankan: Seorang santri harus mempelajari setiap pelajaran yang telah ditetapkan dalam sistem pendidikan Hawzah baginya dengan sungguh-sungguh dan cermat; jangan hanya membaca pelajaran, tetapi pahami dan cerna pelajaran itu. Jika seseorang tidak menanggapi pelajaran-pelajaran dengan serius, maka tafaqquh (pemahaman mendalam agama) yang sebenarnya tidak akan tercapai.

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah menambahkan: Di samping belajar, harus pula terbentuk pemahaman agama yang benar, bashirah dan pengenalan terhadap tugas; karena bertambahnya hafalan tanpa pemahaman agama yang benar tidak akan mengantarkan manusia kepada tujuan yang diinginkan.

Ilmu tanpa penyucian diri dapat menjadi penghalang bagi pertumbuhan maknawi

Anggota Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom dengan menekankan pentingnya penyucian diri mengatakan: Seruan resmi pertama Nabi Muhammad (Saww) juga disertai dengan peringatan terhadap sebuah bahaya besar. Kita pun, jika belajar di hawzah, tidak boleh menjadikan tujuan hanya sekadar memperoleh sekumpulan hafalan yang terbatas.

Ia menegaskan: Di samping belajar, kita membutuhkan penyucian diri, kedekatan dengan Al-Qur'an, mengingat hari kiamat, dan ibadah malam. Jika penyucian diri tidak ada, maka ilmu dan hafalan itu sendiri dapat —sebagaimana diungkapkan Imam Khomeini (ra)— menjadi hijab akbar (penghalang terbesar) dan menghalangi pertumbuhan maknawi manusia.

Ayatullah Rajabi melanjutkan: Jika pemahaman mendalam dalam agama disertai dengan penyucian diri, maka ilmu akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah dalam diri manusia dan mendorongnya menuju keikhlasan; dalam kondisi demikian, seorang santri setelah kembali ke tengah masyarakat akan lebih mengenal permasalahan masyarakat dan lebih mampu mengenali jalan-jalan hidayah dan keselamatan.

Seorang santri harus mengenal masyarakat dan berbagai arus

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah menyebut pengenalan terhadap masyarakat sebagai salah satu keharusan dalam menjadi santri hawzah dan mengatakan: Seorang santri, di samping tafaqquh dalam agama, juga harus mengenal masyarakatnya, audiensnya, berbagai arus dan tokoh-tokoh, serta memiliki pemahaman terhadap arus-arus yang benar dan salah, yang hak dan yang batil.

Ayatullah Rajabi menambahkan: Mengenal kedudukan wilayat (kepemimpinan Ilahi) juga merupakan bagian dari bashirah ini. Jika seseorang tidak memiliki pemahaman yang benar, mungkin ia akan melakukan tindakan-tindakan dengan niat kepedulian yang hasilnya justru bertentangan dengan kemaslahatan agama dan masyarakat.

Anggota Dewan Presidium Majelis Ahli Kepemimpinan menegaskan: Semakin berat tanggung jawab seseorang, semakin besar pula kebutuhan akan ketakwaan, keyakinan, dan keadilan; dan jika sifat-sifat ini tidak ada, maka tanggung jawab tersebut dapat menjadi sumber masalah.

Bashirah; kebutuhan serius bagi para santri hawzah

Anggota Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom dengan mengacu pada pentingnya menjaga rahasia dan kemaslahatan sistem Islam mengatakan: Seseorang harus tahu di mana dan bagaimana menyampaikan setiap perkataan. Mungkin seseorang tidak memiliki niat buruk, tetapi karena tidak memiliki bashirah, ia mengucapkan sesuatu yang kemudian dimanfaatkan oleh musuh. Oleh karena itu, seorang santri harus memiliki baik penyucian diri maupun bashirah, karena jika salah satu dari keduanya tidak ada, ilmu seseorang bisa berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan masyarakat.

Ayatullah Rajabi menegaskan: Seorang santri harus dibekali dalam tiga bidang; pertama ilmu yang cermat, kokoh, dan sempurna; kedua tahdzib dan pembinaan diri; dan ketiga bashirah.

Setiap santri hawzah harus memiliki program dan catatan evaluasi untuk dirinya sendiri

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah dengan menekankan pentingnya muhasabah nafs (introspeksi diri) mengatakan: Seorang santri tidak boleh membiarkan tahun-tahun pendidikannya berlalu hanya dengan hadir di kelas, pergi ke kamar asrama atau rumah, dan mengulangi aktivitas-aktivitas rutin harian; melainkan ia harus meninjau setiap tahun seberapa besar kemajuan yang telah ia capai di bidang ilmiah, penyucian diri, dan bashirah. Bahkan lebih baik muhasabah ini dilakukan secara bulanan, mingguan, dan harian. Dalam riwayat-riwayat pun telah ditekankan pentingnya muhasabah nafs.

Anggota Dewan Presidium Majelis Ahli Kepemimpinan dengan mengacu pada pentingnya keteraturan dalam kehidupan santri, menyatakan: Amirul Mukminin (Imam Ali as) dalam wasiatnya menekankan ketakwaan kepada Allah dan keteraturan dalam segala urusan, dan ini menunjukkan bahwa perencanaan dan keteraturan harus memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia.

Ayatullah Rajabi melanjutkan: Setiap santri harus duduk dan berpikir bagaimana ia menghabiskan siang dan malamnya agar mencapai tujuan yang telah Allah tetapkan baginya. Sekadar telah ditentukannya kelas-kelas dan program-program pendidikan bukanlah berarti telah memiliki program yang sempurna.

Perencanaan harus didasarkan pada pengenalan terhadap kewajiban 

Anggota Dewan Presidium Majelis Ahli Kepemimpinan dengan mengacu pada pandangan almarhum Ayatullah Mesbah Yazdi tentang pentingnya perencanaan, mengatakan: Beliau berkata, "Terkadang saya duduk berlama-lama dan berpikir tentang apa tugas saya dalam kondisi saat ini, dan bahkan mungkin dalam satu majelis saya tidak sampai pada kesimpulan, lalu dengan jeda waktu saya kembali memikirkannya."

Anggota Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom menambahkan: Terkadang seseorang melakukan pekerjaan yang memang wajib, tetapi ada tugas yang lebih penting dan lebih wajib yang ia tinggalkan karena tidak memikirkannya. Oleh karena itu, kita harus duduk dan berpikir tentang apa tugas terpenting kita dalam kondisi yang sedang kita hadapi.

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah menekankan: Kita tidak boleh membayangkan bahwa setiap pekerjaan yang ada di masyarakat juga merupakan tugas seorang santri. Jika suatu tema seperti ekonomi muqawamah sedang dibahas, tugas seorang santri tidak serta-merta berarti terjun langsung ke aktivitas ekonomi; melainkan seorang santri dapat, jika memiliki kemampuan ilmiah, mengkajinya dari perspektif Al-Qur'an dan agama serta memberikan solusi Islami.

Seorang santri harus mengukur dampak dari aktivitasnya

Ayatullah Rajabi mengatakan: Memiliki program saja tidak cukup; seseorang juga harus berkomitmen untuk melaksanakan program tersebut dan pada akhir setiap pekan meninjau seberapa banyak ia telah menjalankan programnya.

Dengan mengacu pada nasihat almarhum Ayatullah Mesbah Yazdi (ra) tentang pentingnya memperhatikan "shairurah" (transformasi diri), ia menambahkan: Kita tidak boleh hanya melihat apa saja yang telah kita kerjakan; melainkan harus melihat dampak apa yang ditimbulkan oleh pekerjaan-pekerjaan itu pada diri kita; seberapa besar pertumbuhan yang kita capai di bidang ilmiah, perubahan apa yang terjadi pada diri kita di bidang penyucian diri, dan seberapa besar kemajuan yang kita peroleh di bidang bashirah. Semua ini adalah modal sejati manusia.

Anggota Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom melanjutkan: Dalam aktivitas-aktivitas sosial pun, sekadar seseorang telah bekerja berjam-jam lamanya tidaklah cukup; ia harus melihat dampak apa yang telah diberikannya kepada masyarakat.

Ikhlas adalah dasar dari segala pekerjaan

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah dengan mengacu pada perjalanan hidup almarhum Ayatullah Mesbah Yazdi (ra) menyatakan: Beliau sangat menekankan keikhlasan dan berkata, "Di mana pun kita bekerja untuk Allah, kita tidak akan merugi, dan kerugian dimulai dari tempat di mana pekerjaan dilakukan untuk selain Allah."

Ayatullah Rajabi menambahkan: Keikhlasan harus ada dalam semua aktivitas manusia, dan seorang santri harus senantiasa meninjau apa motivasinya dalam menuntut ilmu, berdakwah, berbicara, dan beraktivitas sosial.

Tawasul kepada Ahlulbait (as) di samping mengenal tugas dan melaksanakannya

Anggota Dewan Presidium Majelis Ahli Kepemimpinan dengan mengacu pada perhatian almarhum Ayatullah Mesbah Yazdi (ra) terhadap tawasul kepada Ahlulbait (as) mengatakan: Beliau pada berbagai kesempatan dan saat menghadapi masalah menekankan pentingnya tawasul, dan terkadang berkata: "Untuk bertawasul tidak perlu harus membaca doa yang panjang; melainkan satu salam dengan penuh perhatian kepada Baqiyyatullah (Imam Mahdi aj) dan memohon pertolongan dari beliau pun dapat menjadi sumber keberkahan."

Ayatullah Rajabi menegaskan: Tentu saja, tawasul bukanlah pengganti dari mengenal tugas dan melaksanakan tugas dengan cermat. Seseorang harus mengenal tugasnya, berusaha untuk melaksanakannya, dan di samping itu bertawasul kepada Ahlulbait (as).

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah menambahkan: Terkadang seseorang dalam kondisi sulit, dengan penuh keikhlasan bertawasul kepada Ahlulbait (as) dan menyaksikan dampak tawasul itu dalam kehidupannya; tetapi hal ini tidak berarti meninggalkan usaha dan tanggung jawab manusia.

Pentingnya memperhatikan tugas sebagai santri

Anggota Jamiah Mudarrisin Hawzah Ilmiyah Qom dengan menekankan pentingnya mengenal tugas mengatakan: Seorang santri harus memiliki program untuk kehidupannya dalam tiga bidang —ilmu, penyucian diri, dan bashirah— berpegang teguh pada programnya, dan pada akhir setiap pekan serta setiap tahun menyusun catatan evaluasi atas kemajuan dirinya.

Anggota Dewan Tinggi Hawzah-Hawzah Ilmiyah menekankan: Kita harus senantiasa bertanya kepada diri sendiri, perubahan apa yang telah terjadi pada kita selama ini, dan apakah ilmu, tahdzib, serta bashirah kita telah berkembang dibandingkan sebelumnya atau tidak.

Di akhir, Ayatullah Rajabi memohon kepada Allah SWT peningkatan derajat bagi Imam Khomeini, para syuhada, para ulama rabbani, almarhum Ayatullah Mesbah Yazdi (ra), dan para syuhada Perang Suci, serta mendoakan kebaikan bagi Pemimpin Revolusi dan percepatan kemunculan Wali Ashr (Imam Mahdi aj).

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha