Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Mohsen Qiraati pada upacara pembukaan tahun ajaran baru di Institut Pendidikan Tinggi Hawzah Imam Mahdi alaihissalam (Pusat Spesialisasi Mahdawiyah dan Salat) yang diselenggarakan pada Selasa malam di musala institut tersebut di Qom, dengan menekankan perlunya memperhatikan fungsi-fungsi utama hawzah-hawzah ilmiyah dan misi para santri di bidang ilmu dan tabligh, mengatakan: Sebagaimana mayoritas penduduk dunia beraktivitas di salah satu dari tiga bidang produksi, distribusi, atau konsumsi, demikian pula status santri tidak keluar dari ketiga tahap ini dan dapat mengantarkan manusia pada produksi ilmu, distribusi ma'arif keagamaan, atau pemanfaatan dan pengamalan ilmu-ilmu Islam.
Ketua Markas Penyelenggaraan Salat Nasional Iran, dengan menyinggung bahwa para santri pada tingkat tertinggi dapat menjadi landasan bagi produksi ilmu, menyatakan: Para santri (thalabah) pada suatu tahap mengantarkan manusia pada kemampuan ijtihad, fikih, penelitian, dan penulisan karya-karya ilmiah, dan dalam kondisi ini, thalabah berada pada posisi sebagai produsen ilmu.
Menyebarkan ajaran Ahlulbait (as); Misi Penting Para Pelajar di Bidang Tabligh
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati menambahkan: Jika seorang pelajar tidak mencapai tahap ijtihad dan menghasilkan karya-karya ilmiah, tetap saja jalur ke-thalabah-an dapat menjadi landasan yang berharga untuk memanfaatkan produksi ilmiah para ulama besar serta mentransmisikan dan mendistribusikan ajaran Al-Qur'an yang mulia dan Ahlulbait Nabi Muhammad (Saww). Transmisi ajaran ini dapat dilakukan melalui pena (tulisan), ucapan, hijrah, dan tabligh, dan pada tahap ini seorang pelajar berperan sebagai pendistribusi ilmu dan ajaran-ajaran agama.
Guru hawzah ilmiyah ini dengan mengutip perkataan Imam Ali Ar-Ridha (as) tentang pentingnya memperkenalkan ajaran Ahlulbait (as) menegaskan: Imam Ridha (as) berkata:
"«فَإِنَّ النَّاسَ لَوْ عَلِمُوا مَحَاسِنَ کَلَامِنَا لَاتَّبَعُونَا»";
Jika manusia mengetahui keindahan-keindahan perkataan kami, niscaya mereka akan mengikuti kami.
Mengenal Ilmu-Ilmu Islam Harus Bermuara pada Amal dan Perilaku Keagamaan
Ustadz Qara'ati dalam lanjutan pembicaraannya menilai tahap ketiga sebagai pemanfaatan praktis dari ilmu-ilmu Islam, dan berkata: Mengenal ilmu-ilmu Islam setidaknya harus menjadi landasan bagi amal seseorang; oleh karena itu, ilmu mencapai hasil yang diinginkan ketika ia juga muncul dan terwujud dalam kehidupan serta perilaku manusia. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah bagi siapa yang mampu mewujudkan ketiga tahap tersebut secara bersamaan; yakni ia melakukan penelitian dan ijtihad untuk menghasilkan ilmu, berupaya dengan pena dan ucapan di jalur distribusi dan penyebaran ajaran-ajaran Ilahi, dan juga menjadi pelopor dalam ranah amal perbuatan.
Ketua Markas Penegakan Salat dengan mengacu pada sebuah riwayat tentang kedudukan orang berilmu yang bermanfaat menyatakan: "عالم ناطق ينتفع بعلمه"; seorang alim harus berbicara dan memberikan manfaat serta dampak dari ilmunya. Atas dasar itu, luaran yang diinginkan dari hawzah-hawzah ilmiyah juga harus didefinisikan dalam kerangka yang sama; yakni ilmu dan pengetahuan yang bermuara pada produksi, penyebaran, dan amal.
Mendalami Agama dan Tablig; Taufik Ilahi dan Kelanjutan Risalah Para Nabi
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati dengan menekankan perlunya memahami kedudukan dan pentingnya jalur ke-thalabah-an (belajar agama) berkata: Jika seseorang mengetahui bahwa mendalami agama (tafaqquh fid-din) dan menyebarkan ajaran-ajaran Ilahi adalah taufik yang besar dari Allah dan merupakan pekerjaan yang sejalan dengan risalah para nabi, maka ia akan melangkah di jalur ini dengan cinta dan minat yang lebih besar.
Penafsir Al-Qur'an ini menambahkan: Siapa yang mengenal kedudukan hakiki jalur ini, tidak boleh terpengaruh oleh angan-angan kosong, propaganda buruk, dan perbandingan-perbandingan yang tidak pada tempatnya, lalu mengubah jalurnya. Seorang pelajar agama (thalabah) harus mengetahui bahwa jalan ilmu, tabligh, dan pengabdian kepada agama adalah jalan yang berharga dan memiliki kedudukan ilahi, dan tidak boleh menjauh darinya karena pemahaman yang keliru atau perbandingan-perbandingan yang tidak realistis.
Di Jalan Tabligh Agama, Tidak Boleh Takut kepada Siapa pun Selain Allah
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati dalam lanjutannya dengan menekankan perlunya istiqamah (keteguhan) di jalan Tabligh agama dan menunaikan misi-misi kehawzahan, mengingatkan: Taufik yang sejati adalah bagi siapa yang di jalan ini tidak takut kepada siapa pun selain Allah, dan menjalankan tugasnya dengan keberanian serta keikhlasan.
Ketua Markas Penegakan Salat, dalam membenarkan perkataan ini, merujuk pada ayat 39 Surah Al-Ahzab yang mulia dan berkata: Allah berfirman tentang ciri-ciri hamba-Nya:
«الَّذینَ یُبَلِّغُونَ رِسالاتِ اللَّهِ وَ یَخْشَوْنَهُ وَ لا یَخْشَوْنَ أَحَداً»;
Mereka adalah orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, takut kepada-Nya, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah.
Menjawab Syubhat; Misi Penting Hawzah-Hawzah Ilmiyah
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati menyatakan: Salah satu tujuan mendasar dari pendirian dan pengembangan hawzah-hawzah ilmiyah adalah mendidik para ulama yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dan syubhat (keraguan) yang diajukan tentang agama, dengan bekal pengetahuan yang memadai dan argumentasi yang logis, serta menjelaskan dan menyebarkan ajaran-ajaran agama dengan cara yang benar dan dapat dipahami oleh masyarakat.
Penafsir Al-Qur'an ini dengan menyinggung pentingnya kedudukan ilmu dan pengetahuan dalam ajaran-ajaran agama menambahkan: Untuk mencapai ilmu dan meningkatkan pengetahuan, manusia tidak boleh menganggap dirinya tidak butuh belajar; karena dalam ajaran-ajaran Islam, bahkan para nabi besar Ilahi pun diperintahkan untuk menuntut ilmu.
Guru Hawzah ini, untuk menjelaskan pentingnya belajar ilmu secara berkesinambungan, merujuk pada kisah Nabi Musa (as) dan Nabi Khidir (as), dan berkata: Untuk memperoleh ilmu, bahkan seorang nabi ulul azmi seperti Nabi Musa (as) diperintahkan untuk mencari Nabi Khidir (as) dan memintanya agar ia dapat menyertai beliau guna mempelajari sebagian ilmu yang telah Allah ajarkan kepadanya. Nabi Musa (as) dengan penuh kerendahan hati berkata kepada Nabi Khidir (as):
" هَلْ أَتَّبِعُکَ عَلَیٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا";
yang berarti: Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu untuk menjadi petunjuk?
Jangan Pernah Menganggap Diri Sudah Lulus
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati dalam lanjutannya dengan menekankan perlunya kesinambungan di jalan menuntut ilmu menegaskan: Kita tidak boleh pernah menganggap diri sudah lulus dan tidak membutuhkan lagi pencarian ilmu; karena bahkan Nabi Islam yang mulia ( Nabi Muhammad Saww) pun diperintahkan oleh Allah untuk memohon kepada Allah agar ilmu dan pengetahuannya bertambah. Allah Yang Maha Tinggi dalam ayat 114 Surah Taha yang mulia berfirman kepada Nabi yang mulia (Saww): "وقل ربِّ زدني علما";
"Dan katakanlah: Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku."
Beliau dengan bersandar pada ajaran Al-Qur'an ini menegaskan: Pernyataan ini menunjukkan bahwa jalan ilmu dan pengetahuan tidak memiliki akhir, dan manusia, bahkan pada tingkatan ilmu dan spiritual tertinggi, harus selalu menganggap dirinya membutuhkan penambahan ilmu dan pemahaman. Kesinambungan dalam belajar, memperhatikan kebutuhan-kebutuhan intelektual masyarakat, dan kesiapan untuk menjawab secara logis pertanyaan-pertanyaan dan syubhat, merupakan keharusan-keharusan dalam aktivitas ilmiah dan tabligh di hawzah-hawzah ilmiyah, dan jalan ini harus selalu diperhatikan.
Tujuan Hawzah-hawzah ilmiyah adalah Mendidik Ulama Rabbani
Penafsir Al-Qur'an ini dengan menekankan perlunya para pelajar agama memperhatikan tujuan utama menuntut ilmu di hawzah-hawzah ilmiyah berkata: Meskipun dewasa ini isu ijazah dan memperoleh gelar akademik menjadi perbincangan, namun tujuan dan motivasi utama seorang pelajar tidak boleh semata-mata untuk mendapatkan ijazah; melainkan tujuan hawzah-hawzah ilmiyah haruslah mendidik ulama rabbani dan pribadi-pribadi yang senantiasa melangkah di jalan mempelajari, mengajarkan, dan menyebarkan ajaran-ajaran Ilahi.
Ustadz Qara'ati dengan menyinggung perbedaan antara "memanfaatkan ijazah" dan "berorientasi pada ijazah" menyatakan: Ijazah memang harus diambil, tetapi tidak boleh belajar hanya demi ijazah. Ijazah harus menjadi sarana di jalan menuntut ilmu dan menunaikan misi ilmiah, bukan justru menjadi tujuan utama dari menuntut ilmu.
Ijazah Harus Menjadi Sarana, Bukan Tujuan Menuntut Ilmu
Beliau dengan menekankan bahwa perhatian yang berlebihan terhadap ijazah dapat menjauhkan manusia dari tujuan hakiki menuntut ilmu, menambahkan: Dewasa ini isu ijazah menjadi perhatian di masyarakat, namun usaha para pelajar dan peneliti ilmu-ilmu keagamaan tidak boleh semata-mata diarahkan pada perolehan ijazah. Yang penting adalah memperoleh ilmu yang mendalam, memahami ajaran-ajaran agama, dan menjadi ulama yang mampu menjadi sumber petunjuk dan memberi pengaruh di masyarakat.
Ketua Markas Penegakan Salat melanjutkan: Ijazah itu diperlukan dan harus diperoleh, tetapi tidak boleh belajar hanya demi ijazah. Manusia harus menuntut ilmu untuk memahami kebenaran, mengabdi kepada agama dan masyarakat, serta menunaikan tanggung jawab ilahinya, dan ijazah dalam jalan ini merupakan sebuah alat dan hasil sampingan.
Guru hawzah ilmiyah ini dengan menyinggung kedudukan "ulama rabbani" dalam budaya Al-Qur'an menyatakan: Tujuan hawzah-hawzah ilmiyah haruslah mendidik ulama rabbani; ulama yang menjaga hubungannya dengan Al-Qur'an dan ajaran-ajaran Ilahi serta senantiasa bergerak di jalan mempelajari dan mengajarkan Kitab Allah.
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati dalam menjelaskan hal ini bersandar pada ayat 79 Surah Ali Imran dan berkata: Al-Qur'an yang mulia berfirman:
«کُونُوا رَبَّانِیِّینَ بِما کُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْکِتابَ وَ بِما کُنْتُمْ تَدْرُسُونَ»;
Berdasarkan ayat ini, salah satu tanda ulama rabbani adalah kesinambungan dalam "mengajarkan kitab" dan "belajar". Oleh karena itu, seorang pelajar harus memandang pendidikan dan pengajaran ilmu-ilmu agama sebagai jalan yang berkesinambungan dan serius, dan di jalan ini, ia harus berupaya memperoleh pengetahuan yang mendalam serta kemampuan menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi dengan benar.
Penekanan pada Keseriusan dalam Mempelajari Ilmu-Ilmu Islam
Penafsir Al-Qur'an ini dengan menekankan perlunya menanggapi secara serius pelajaran-pelajaran Hawzah menyatakan: Pelajaran-pelajaran Hawzah dan ilmu-ilmu Islam harus diikuti dengan keseriusan dan perhatian yang besar. Seorang pelajar tidak boleh menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang bersifat sementara dan terbatas pada hari-hari resmi kelas saja, melainkan harus memiliki program sepanjang tahun untuk menambah pengetahuan, belajar, dan meneliti.
Beliau dengan bersandar pada ayat 12 Surah Maryam mengingatkan: Al-Qur'an yang mulia berfirman: "خذ الكتاب بالقوة"; Ungkapan Al-Qur'an ini menunjukkan perlunya keseriusan, kekuatan, dan perhatian penuh dalam mempelajari Kitab Ilahi, dan dapat menjadi teladan bagi para pelajar dan peneliti ilmu-ilmu keagamaan di jalan pendidikan dan pencarian pengetahuan.
Perlunya Pemanfaatan Hari Libur Secara Terarah
Guru hawzah ilmiyah ini juga menekankan perlunya meninjau kembali cara pemanfaatan hari-hari libur hawzah dan berkata: Kita harus berupaya mengurangi hari libur hawzah atau merancang program khusus dan terarah untuk hari-hari libur, agar proses belajar dan pendidikan para pelajar tidak terhenti.
Ketua Markas Penegakan Salat menambahkan: Jika memang harus ada hari libur, maka hari-hari tersebut dapat menjadi kesempatan untuk membaca, meneliti, menulis, dan menyempurnakan aktivitas-aktivitas ilmiah. Seorang pelajar dapat memanfaatkan kesempatan ini, di samping istirahat yang dibutuhkan, untuk mengalokasikan sebagian waktunya bagi kegiatan membaca dan aktivitas ilmiah.
"Tafsir Nemuneh/Al-Amtsal"; Contoh Pemanfaatan Ilmiah dari Hari-Hari Libur
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati dalam lanjutannya dengan menyinggung pengalaman penulisan kumpulan berharga "Tafsir Nemuneh" berkata: Sebagian besar dari 27 jilid Tafsir Nemuneh ditulis pada hari-hari libur hawzah, termasuk hari Kamis dan Jumat, libur musim panas, dan hari-hari raya.
Penafsir Al-Qur'an ini menilai pengalaman tersebut sebagai contoh kapasitas besar hari-hari libur untuk aktivitas ilmiah, dan mengingatkan: Kita dapat memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang tersedia bagi manusia sepanjang tahun untuk membaca, meneliti, menulis, dan menghasilkan karya-karya ilmiah.
Hujjatul Islam wal Muslimin Qara'ati pada akhirnya menekankan perlunya kembali kepada tujuan utama pendidikan di hawzah-hawzah ilmiyah dan berkata: Para pelajar harus menanggapi secara serius pelajaran-pelajaran hawzah dan ilmu-ilmu Islam, dan dengan motivasi yang melampaui perolehan ijazah, melangkah di jalan menuntut ilmu, mengajarkan ajaran-ajaran agama, dan mendidik diri mereka sebagai ulama rabbani.
Komentar Anda