Selasa 8 September 2026 - 16:36
Pernyataan Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar tentang Keutamaan Shalawat

Hawzah/ Ali Jum'ah, dalam menjawab pertanyaan yang berbunyi, "Apa jalan untuk mencapai taubat yang tulus dan terbebas dari dosa-dosa, padahal jiwa cenderung kepada kemaksiatan?"

Berita Hawzah – Syekh Ali Jum'ah, anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar Mesir, menjawab pertanyaan yang berbunyi: "Apa jalan untuk mencapai taubat yang tulus dan terbebas dari dosa-dosa, padahal jiwa cenderung kepada kemaksiatan dan enggan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat yang telah menjadi kebiasaannya?"

Ali Jum'ah menjawab dalam sebuah unggahan di halaman resmi media sosial Facebook-nya: "Perbanyaklah membaca shalawat atas junjungan kita Rasulullah (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam) di malam dan siang hari. Allah Ta'ala berfirman:

{أَلَا بِذِکْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ} 

'Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.' (Q.S. Ar-Ra'd: 28)."

Ia menunjukka bahwa membaca shalawat atas junjungan kita Nabi Agung (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam) termasuk dalam mengingat Allah; karena engkau mengucapkan: 

«اللهم صلِّ وسلم علی سیدنا محمد» 

 (Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas junjungan kami Muhammad), maka dengan demikian engkau mengingat Allah Subḥanahu wa Ta'ala dan memohon kepada-Nya agar melimpahkan shalawat atas Nabi dan kekasih-Nya (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam).

Ali Jum'ah melanjutkan: "Junjungan kita Rasulullah (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam) adalah salah satu dari dua rukun syahadat. Iman dan masuknya seseorang ke dalam Islam tidaklah sempurna hanya dengan mengucapkan 'لا اله الا الله' atau 'أشهد أن لا إله إلا الله', kecuali ia juga mengucapkan rukun syahadat yang kedua: 'وأشهد أن محمدا رسول الله' (Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)."

Ia menyatakan: "Semua amal perbuatan berada di antara diterima dan ditolak, kecuali yang berkaitan dengan Nabi Agung (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam). Karena itu, salat, puasa, haji, dan amal-amalmu yang lain mungkin diterima dan mungkin juga tidak. Akan tetapi, shalawat atas Nabi Al-Mustafa, Sang Kekasih yang terpilih (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam), Allah pasti menerimanya; karena ia terkait dengan kekasih-Nya (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam)."

Ia menegaskan: "Tuhan kita Subhanhu wa Ta'ala berfirman: 'Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.' (Q.S. Al-Ahzab: 56). Dengan membaca shalawat atas junjungan kita Nabi Akbar (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam), engkau mengingat Rabb-mu dan memohon kepada-Nya agar melimpahkan shalawat atas kekasih-Nya, maka engkau mengucapkan: 

اللهم صلّ وسلم علی سیدنا محمد

(Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam atas junjungan kami Muhammad)."

Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar ini menegaskan: "Maka lisanmu menyebut nama Allah, hatimu terikat dengan Rasulullah (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam), sementara engkau memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar melimpahkan shalawat atas beliau. Karena itu, perbanyaklah membaca shalawat atas junjungan kita Rasulullah (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam) di malam dan siang hari; karena di dalamnya terkandung mengingat Allah, kecintaan kepada Rasul-Nya (sallallahu 'alayhi wa aalihi wa sallam), dan penghidupan hati."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha