Berita Hawzah – Rangkaian kajian Mahdawiyah bertajuk «Menuju Masyarakat Ideal» dipersembahkan kepada Anda, para cendekiawan yang budiman, dengan tujuan menyebarluaskan ajaran dan pengetahuan yang berkaitan dengan Imam Zaman (Afs).
Tujuan penciptaan adalah beribadah kepada Allah Ta'ala,¹ dan dasar dari ibadah adalah mengenal-Nya.² Manifestasi tertinggi dari makrifat ini adalah mengenal Nabi, semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepadanya dan keluarganya, serta para wasinya. Tanpa diragukan, salah satu kewajiban penting hamba di hadapan Tuhannya adalah mengenal wujud suci tersebut. Makrifat ini akan mencapai kesempurnaan ketika mereka mengenal dengan baik para nabi Allah—terutama Nabi Penutup, semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepadanya dan keluarganya. Hal ini pun tidak akan terwujud kecuali dengan mengenal para wasinya, khususnya Hujjah Ilahi yang terakhir.
Seseorang bertanya kepada Imam Husain (as):
«يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، فَمَا مَعْرِفَةُ اللَّهِ؟ قَالَ: مَعْرِفَةُ أَهْلِ كُلِّ زَمَانٍ إِمَامَهُمُ الَّذِي يَجِبُ عَلَيْهِمْ طَاعَتُهُ.»
“Wahai putra Rasulullah! Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, apakah yang dimaksud dengan makrifat kepada Allah?” Imam Husain (as), menjawab: “Makrifat kepada Allah adalah setiap orang pada suatu zaman mengenal imamnya yang wajib mereka taati.”
(‘Ilal al-Syara'i, jilid 1, halaman 9)
Oleh karena itu, mengenal Imam tidak terpisahkan dari makrifat kepada Allah, bahkan merupakan salah satu dimensinya. Dalam sebuah doa yang diriwayatkan dari Imam Zaman (Afs), disebutkan:
«اللَّهُمَّ عَرِّفْنِي نَفْسَكَ، فَإِنَّكَ إِنْ لَمْ تُعَرِّفْنِي نَفْسَكَ لَمْ أَعْرِفْ نَبِيَّكَ. اللَّهُمَّ عَرِّفْنِي رَسُولَكَ، فَإِنَّكَ إِنْ لَمْ تُعَرِّفْنِي رَسُولَكَ لَمْ أَعْرِفْ حُجَّتَكَ. اللَّهُمَّ عَرِّفْنِي حُجَّتَكَ، فَإِنَّكَ إِنْ لَمْ تُعَرِّفْنِي حُجَّتَكَ ضَلَلْتُ عَنْ دِينِي.»
“Ya Allah! Perkenalkanlah diri-Mu kepadaku. Sesungguhnya jika Engkau tidak memperkenalkan diri-Mu kepadaku, aku tidak akan mengenal nabi-Mu. Ya Allah! Perkenalkanlah rasul-Mu kepadaku. Sesungguhnya jika Engkau tidak memperkenalkan rasul-Mu kepadaku, aku tidak akan mengenal Hujjah-Mu. Ya Allah! Perkenalkanlah Hujjah-Mu kepadaku. Sesungguhnya jika Engkau tidak memperkenalkan Hujjah-Mu kepadaku, aku akan tersesat dari agamaku.”
(al-Kafi, jilid 1, halaman 342)
Tiga jalan utama yang dapat digunakan untuk mengenal Imam adalah:
1. Nas
Nas berarti penetapan dan penegasan dari Nabi, semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepadanya dan keluarganya, yang menunjukkan pemberitahuan tentang pengangkatan Ilahi atau pengangkatan seorang Imam atas perintah Allah. Dalam bentuk pertama, pengangkatan dilakukan secara langsung dan merupakan perbuatan Allah, sedangkan nas Nabi Saww, hanyalah pemberitahuan mengenai pengangkatan tersebut.
Dalam bentuk kedua, perbuatan Ilahi dilakukan melalui perantaraan Nabi Saww, atas perintah Allah. Penisbatan pengangkatan itu kepada Nabi serupa dengan penisbatan perbuatan para malaikat kepada Allah Ta'ala.
2. Karamah
Munculnya karamah melalui seseorang yang mengaku sebagai Imam merupakan bukti atas kebenaran pengakuannya. Sebagaimana dijelaskan oleh sejumlah ulama, hal tersebut juga merupakan bukti adanya nas dan pengangkatan dirinya oleh Allah Ta'ala.
Dalam persoalan ini terdapat dua pandangan. Pertama, karamah secara mandiri merupakan dalil atas keimaman. Kedua, dalil utama adalah pengangkatan dan nas dari Nabi, semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepadanya dan keluarganya, atau Imam sebelumnya, sedangkan karamah menjadi bukti atas pengangkatan tersebut.
Jika tidak ditemukan nas, tetapi terdapat karamah, maka karamah itu menunjukkan bahwa sesungguhnya terdapat nas bagi pemilik karamah tersebut, meskipun nas itu belum sampai kepada kita.
3. Keteladanan Praktis
Akhlak dan perilaku, gaya hidup, ilmu dan pengetahuan merupakan salah satu jalan untuk mengenal Imam bagi orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membedakan dan menilai, sehingga mereka dapat mengenali pemilik kedudukan tersebut melalui akhlak, perjalanan hidup, perkataan, serta berbagai sikap dan perilakunya. (Luthfullah Shafi Golpaygani, Piramun-e Ma'rifat-e Imam, halaman 77–78)
Dewasa ini, dengan adanya banyak riwayat yang sahih, jalan untuk mengenal Imam Zaman (as), terbuka lebar. Imam Ali bin Musa ar-Ridha (as), Imam kedelapan kaum Syiah, bersabda:
«... الْإِمَامُ أَمِينُ اللَّهِ فِي خَلْقِهِ وَ حُجَّتُهُ عَلَى عِبَادِهِ وَ خَلِيفَتُهُ فِي بِلَادِهِ وَ الدَّاعِي إِلَى اللَّهِ وَ الذَّابُّ عَنْ حُرَمِ اللَّهِ. الْإِمَامُ الْمُطَهَّرُ مِنَ الذُّنُوبِ وَ الْمُبَرَّأُ عَنِ الْعُيُوبِ، الْمَخْصُوصُ بِالْعِلْمِ وَ الْمَوْسُومُ بِالْحِلْمِ، نِظَامُ الدِّينِ وَ عِزُّ الْمُسْلِمِينَ وَ غَيْظُ الْمُنَافِقِينَ وَ بَوَارُ الْكَافِرِينَ. الْإِمَامُ وَاحِدُ دَهْرِهِ لَا يُدَانِيهِ أَحَدٌ وَ لَا يُعَادِلُهُ عَالِمٌ وَ لَا يُوجَدُ مِنْهُ بَدَلٌ وَ لَا لَهُ مِثْلٌ وَ لَا نَظِيرٌ، مَخْصُوصٌ بِالْفَضْلِ كُلِّهِ مِنْ غَيْرِ طَلَبٍ مِنْهُ لَهُ وَ لَا اكْتِسَابٍ، بَلِ اخْتِصَاصٌ مِنَ الْمُفْضِلِ الْوَهَّابِ...»
“Imam adalah pemegang amanah Allah di tengah makhluk-Nya, Hujjah-Nya atas hamba-hamba-Nya, khalifah-Nya di negeri-negeri-Nya, penyeru menuju Allah, dan pembela hak-hak Allah. Imam adalah sosok yang disucikan dari dosa dan terbebas dari segala cacat. Ia dianugerahi ilmu dan dikenal dengan kesantunannya. Imam merupakan penegak agama, kemuliaan kaum Muslimin, kemarahan bagi kaum munafik, serta kehancuran bagi orang-orang kafir. Imam adalah satu-satunya sosok pada masanya. Tidak seorang pun dapat mendekati kedudukannya, tidak ada seorang alim pun yang sebanding dengannya, tidak ditemukan pengganti baginya, dan ia tidak memiliki yang serupa maupun tandingan. Seluruh keutamaan dikhususkan baginya tanpa ia memintanya atau mengusahakannya. Semua itu merupakan keistimewaan yang diberikan kepadanya oleh Zat Yang Maha Memberi dan Maha Menganugerahkan.”
(al-Kafi, jilid 1, halaman 201)
Sesungguhnya, dengan mengenal beberapa karakteristik ini saja, seseorang telah mengambil langkah besar di jalan mengenal Imam. Setelah itu, tibalah giliran untuk menaati dan menjalankan perintahnya.
Pembahasan ini akan bersambung...
Diadaptasi dari buku «Darsnameh Mahdawiyah» karya Khodamorad Soleimian dengan sedikit perubahan.
Catatan Kaki:
- «وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ.»
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat [51]: 56)
- «أَوَّلُ عِبَادَةِ اللَّهِ مَعْرِفَتُهُ.»
“Permulaan ibadah kepada Allah adalah mengenal-Nya.”
(Syekh Shaduq, al-Tauhid, halaman 34; Syekh Thusi, al-Amali, halaman 22
Komentar Anda