Jumat 28 Agustus 2026 - 20:30
"Persatuan" adalah Kunci Umat Islam dalam Melewati Berbagai Tantangan

Hawzah/ Khatib Jumat Qom mengatakan: Para pejabat hendaknya memiliki kebijakan yang dapat dilaksanakan untuk keteraturan pasar. Mengapa suatu masalah diumumkan sehingga menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat? Ini adalah tanda ketidakbijaksanaan. Masyarakat tidak boleh merasa bahwa pasar dibiarkan begitu saja, karena hal itu akan merusak semangat mereka.

Berita Hawzah – Ayatullah Sayyid Muhammad Sa'idi dalam khutbah salat Jumat 28 Agustus 2026, yang diselenggarakan di Musalla Quds kota Qom, seraya memperingati Pekan Persatuan, menyatakan: Persatuan adalah langkah pertama bagi perluasan Islam, dan Islam pada masa Nabi Saww berkembang di atas dasar persatuan dan kebersamaan. Ketika dua kabilah Aus dan Khazraj memiliki perselisihan yang sengit, mereka menyadari bahwa perselisihan ini telah menimbulkan banyak kerugian dan biaya besar bagi kedua kabilah, maka mereka pun masuk Islam dan selamat dari kegelapan.

Imam Jumat Qom melanjutkan: Mengapa umat Islam yang telah mencapai persatuan di bawah naungan Islam justru mencari perpecahan dan mempercayai musuh-musuh Allah? Perpecahan di antara umat Islam merupakan salah satu tantangan terbesar yang mengakibatkan melemahnya kekuatan dan pengaruh mereka di kancah global. Perpecahan ini tidak hanya menyebabkan kelemahan, tetapi juga memberi kesempatan kepada musuh-musuh Islam dan para penentang untuk dengan mudah merasuk, merampas sumber daya umat Islam, melakukan pembantaian, perampasan wilayah-wilayah Muslim, penghancuran, dan penganiayaan terhadap mereka.

Pengelola kompleks Makam Suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah Salamullah 'alaiha menyatakan: Sejarah membuktikan bahwa setiap kali umat Islam bersatu menghadapi musuh, mereka mampu meraih kemenangan-kemenangan gemilang, namun setiap kali mereka berselisih, musuh mendapat kesempatan untuk memecah belah umat Islam. Oleh karena itu, kunci untuk melewati tantangan adalah menjaga persatuan. Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah berkata bahwa Allah tidak memberikan sesuatu pun —baik kepada umat terdahulu maupun yang akan datang— dalam keadaan bercerai-berai. Kita semua harus waspada terhadap fitnah, konspirasi, dan infiltrasi musuh.

Beliau menambahkan: Bangsa Iran yang telah menorehkan sejarah ini, telah lama hadir di medan-medan perjuangan demi melindungi Iran, kemerdekaan dan keutuhan wilayah, serta menjaga sistem dan Revolusi Islam. Kekuatan besar rakyat ini memiliki misi penting, dan sejarah pun akan mencatatnya bahwa dalam perang yang dipaksakan baru-baru ini, ketika rudal-rudal musuh membidik pusat komando militer, jalananlah yang menjaga keseimbangan kekuatan.

Beliau menegaskan bahwa kehadiran aktif rakyat membuktikan bahwa dalam sistem kalkulasi (perhitungan kekuatan), jalanan bukanlah tempat keruntuhan dan kekacauan, melainkan jangkar stabilitas sistem. Misi yang dibayangkan oleh Washington dan sebagian kalangan Barat-isme telah berakhir, namun —sebagai kekecewaan bagi musuh-musuh— misi ini tetap berlangsung sebagai sandaran pertahanan negara yang paling kuat.

Para pejabat hendaknya dalam berbicara dengan rakyat bersifat membangkitkan harapan

Khatib Jumat Qom menambahkan: Janganlah sekali-kali kita menjadi pencerita kelemahan, ketidakmampuan, dan keputusasaan. Para pejabat negara yang berbicara dengan rakyat hendaknya dalam segala keadaan menjadi pencerita kekuatan dan potensi negara, dan bukan pencerita kelemahan. Kita memang memiliki kelemahan dan kekurangan, tetapi masalah ini tidak khusus terjadi pada kita saja, dan semua negara menghadapi masalah-masalah serupa. Namun, kita memiliki kekuatan dan kemampuan yang dibutuhkan, dan upaya-upaya besar pun telah dilakukan, oleh karena itu hal-hal inilah yang harus diceritakan. Para pejabat hendaknya menghargai kesempatan yang diberikan kepada mereka, karena kesempatan ini tidaklah abadi dan tidak diberikan kepada semua orang.

Beliau mengingatkan: Para pejabat hendaknya memiliki kebijakan yang dapat dilaksanakan untuk keteraturan pasar. Mengapa suatu masalah diumumkan sehingga menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat? Ini adalah tanda ketidakbijaksanaan. Masyarakat tidak boleh merasa bahwa pasar dibiarkan begitu saja, karena hal ini akan merusak semangat rakyat.

Kewaspadaan dan literasi media adalah cara menghadapi perang kognitif

Pengelola kompleks Makam Suci Sayyidah Ma'sumah (sa) menyatakan: Infiltrasi musuh dalam budaya publik dan perubahan rasa telah lama berlangsung untuk menciptakan jarak antargenerasi dan melemahkan nilai-nilai agama dan nasional, di antaranya adalah kesucian dan hijab, jenis pakaian, serta menciptakan perpecahan budaya dengan memanfaatkan tokoh-tokoh terkemuka di masyarakat.

Anggota Majelis Ahli Kepemimpinan menyatakan: Satu-satunya cara untuk menghadapi gempuran ini adalah kewaspadaan umum, peningkatan literasi media dan ruang maya. Masyarakat harus tahu bahwa setiap gambar, narasi, dan video dapat menjadi bagian dari operasi psikologis terhadap sistem Islam dan para tokoh. Saat ini, mendeteksi narasi-narasi palsu, menganalisis konten-konten media, dan memperkuat kepercayaan diri nasional sama pentingnya dengan perlengkapan militer, bahkan lebih penting lagi.

Wakil Wali Fakih di Qom mengatakan: Dalam perang kognitif, setiap warga negara adalah seorang pejuang, dan setiap ponsel berfungsi seperti sebuah benteng, dan setiap kelengahan sesaat dapat menyebabkan infiltrasi musuh ke dalam pikiran masyarakat. Kemenangan di medan ini membutuhkan pandangan tajam (bashirah), kesadaran, dan kebersamaan nasional. Bangsa Iran yang mulia, dengan sejarah cemerlang dalam perlawanan dan keteguhan menghadapi musuh, sekali lagi akan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya tak terkalahkan di medan militer, tetapi juga di medan pemikiran.

Ayatullah Sa'idi dalam khutbah pertama, merujuk pada firman Allah: 

«یَا أَیُّهَا الَّذِینَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ یَجْعَلْ لَکُمْ فُرْقَانًا»

(Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberimu furqan [kemampuan membedakan antara yang benar dan batil]), menyatakan: Seorang mukmin, melalui penyucian jiwa dan ketakwaan kepada Allah, mencapai tingkatan kesempurnaan di mana cahaya dari sisi Allah diberikan kepadanya, sehingga ia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.

Beliau menambahkan: Allah dalam ayat 28 surat Al-Fath berfirman:

«هُوَ الَّذِی أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَیٰ وَدِینِ الْحَقِّ لِیُظْهِرَهُ عَلَی الدِّینِ کُلِّهِ ۚ وَکَفَیٰ بِاللَّهِ شَهِیدًا؛

(Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi).

Imam Jumat Qom melanjutkan: Bagian akhir ayat—و كفى بالله شهيدا—merupakan mata rantai terakhir dari argumentasi ayat ini, yang menunjukkan tiga hal: kebenaran risalah Nabi Saww, kebenaran agama Islam, dan terwujudnya tujuan yang disampaikan oleh ayat 28 surat Al-Fath, yaitu kemenangan Islam atas semua agama.

Beliau menjelaskan: Dalam peristiwa Hudaibiyah, umat Islam menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, karena di satu sisi orang-orang kafir menghalangi umat Islam untuk melaksanakan haji, dan di sisi lain umat Islam menandatangani perjanjian yang beberapa pasalnya merugikan mereka. Dalam ayat ini, Allah mengalihkan pandangan orang-orang mukmin dari penilaian yang tergesa-gesa menuju kepercayaan pada kesaksian ilahi, dan berfirman: Jika Allah menjadi saksi, maka tampilan lahiriah yang samar dari suatu persoalan tidak dapat menjadi kriteria akhir bagi penilaian kalian.

Wakil Wali Fakih di Qom melanjutkan: Dalam peristiwa ini, Allah mendidik umat Islam sedemikian rupa sehingga mereka memilih pilihan yang lebih rendah di antara dua opsi, yaitu menilai berdasarkan tampilan lahiriah suatu perkara versus tunduk pada kebijaksanaan (takdir) Allah.

Beliau menegaskan: Kesaksian Allah dalam ayat ini tidak hanya berarti Allah Maha Mengetahui dan menjadi saksi, tetapi juga menunjukkan ketercakupan dan penguasaan mutlak Allah atas segala perkara, termasuk peristiwa Hudaibiyah. Allah adalah saksi atas agama yang benar, artinya agama ini berasal dari Allah, bukan sekadar kesepakatan kesukuan atau kebangsaan. Karena sebagian orang kafir Quraisy menyatakan bahwa Nabi mengklaim kenabian semata-mata untuk menyombongkan diri dan mengungguli mereka. Garis pemikiran sesat ini juga sampai pada masa Yazid, di mana mereka mengatakan bahwa kakek Nabi (Muhammad Saww) mencari kekuasaan dan kerajaan, bukan wahyu.

Imam Jumat Qom melanjutkan: Kesaksian Allah membuktikan terwujudnya janji

 «لِیُظْهِرَهُ عَلَی الدِّینِ کُلِّهِ»

(untuk memenangkannya di atas semua agama). Artinya, jalan agama yang benar, betapa pun berliku dan berbelok —seperti peristiwa Hudaibiyah— pada akhirnya akan melewati semua itu dan mencapai puncak.

Pengelola kompleks Makam Suci Sayyidah Ma'sumah (sa) menyatakan: Revolusi Islam pun dimulai dengan pandangan yang sama. Pada masa itu pun sebagian orang menghalang-halangi dengan bertanya, "Siapa yang akan mempertanggungjawabkan darah-darah yang tertumpah?" Imam Khomeini (ra) menjawab bahwa jawaban atas darah-darah ini akan diberikan oleh orang yang sama yang telah mempertanggungjawabkan darah-darah Karbala.

Beliau menyatakan: Kedua Imam pemimpin Revolusi (Imam Khomeini dan Imam Khamenei), berdasarkan janji ilahi

 «إِنْ یَنْصُرْکُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَکُمْ» 

(Jika Allah menolong kalian, maka tak ada yang dapat mengalahkan kalian), senantiasa menggembirakan rakyat dan pasukan perlawanan dengan kemenangan akhir, serta mengingatkan bahwa kebenaran jalan kita tidak diukur dengan kemenangan yang cepat dan lahiriah, dan kita tidak boleh mengambil kebenaran jalan kita dari penilaian orang lain atau dari kondisi dan peristiwa-peristiwa sesaat.

Khatib Jumat Qom melanjutkan: Jika kriteria akhir bagi kebenaran adalah pandangan musuh dan persetujuan opini publik, maka tidak seharusnya ada seorang pun nabi yang diutus, karena opini publik di semua masyarakat yang kepadanya seorang nabi diturunkan justru menentang nabi tersebut. Dalam jalan ini, yang terpenting adalah pandangan dan penilaian Allah.

Ayatullah Sa'idi menyatakan: Secara umum, ayat 28 surat Al-Fath mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan. Pada masa lalu, ayat ini menunjukkan bahwa apa yang terjadi di Hudaibiyah bukanlah kemunduran atau kekalahan. Terkait masa kini, ayat ini mengajak kepada kepercayaan kepada Allah, Rasul-Nya (Saww), serta memiliki ketenangan dan ketenteraman (sakinah). Terkait masa depan, dengan ungkapan

«لِیُظْهِرَهُ عَلَی الدِّینِ کُلِّهِ»,

ayat ini menjelaskan cakrawala kemunculan dan kemenangan agama yang benar, bahwa risalah Nabi tidak terbatas pada satu periode sejarah tertentu, melainkan memiliki kapasitas global.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha