Berita Hawzah – Di tengah meningkatnya tantangan yang dihadapi dunia Arab dan Islam, serta semakin berkembangnya proyek-proyek Amerika dan Israel yang bertujuan untuk menata ulang kawasan berdasarkan prinsip-prinsip politik, keamanan, dan ekonomi demi kepentingan para penjajah, "persatuan Islam" tampil sebagai pilihan yang melampaui dimensi seremonial dan musiman, serta menjadi keniscayaan strategis untuk menjaga identitas umat dan memperkuat kemampuannya dalam menghadapi proyek-proyek pemecah belah.
Dalam hal ini, Syaikh Mu'min Ar-Rifa'i, seorang ulama Sunni dan penasihat urusan hubungan diplomatik Lebanon, dalam wawancaranya dengan situs berita "Al-Ahd" menegaskan: "Pekan Persatuan Islam" yang bertepatan dengan peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad Saww adalah momen pemersatu bagi seluruh umat, dan persatuan bukanlah sekadar slogan sementara, melainkan sebuah pengalaman yang urgensi telah terbukti dalam menghadapi agresi dan proyek-proyek kolonial.
Ar-Rifa'i, dengan memanjatkan doa untuk arwah Imam Khomeini dan Imam Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah meridhai keduanya), mengulas peran mereka dalam memantapkan konsep persatuan Islam dan mengubah perbedaan dalam penentuan tanggal kelahiran Nabi Saww menjadi momen yang membangun persatuan.
Ia menjelaskan: Penetapan rentang waktu antara 12 hingga 17 Rabiul Awal sebagai "Pekan Persatuan Islam" memungkinkan untuk melampaui perbedaan dalam penentuan hari kelahiran Rasulullah Muhammad Saww, dan mengubah perbedaan tersebut menjadi medan pertemuan dan konvergensi, sehingga kelahiran Nabi Saww, alih-alih menjadi pintu perpecahan, justru menjadi momen berkumpulnya seluruh umat.
Ia berkeyakinan bahwa Pekan Persatuan Islam telah menjadi momen komprehensif dalam kesadaran umat, yang mampu menghidupkan titik-titik persamaan besar di antara umat Islam, yang paling utama adalah keimanan kepada Nabi Besar Muhammad Saww dan risalah Islam, serta membuka jalan bagi terbangunnya persatuan yang melampaui perbedaan-perbedaan mazhab dan sejarah.
Amerika dan Israel Memanfaatkan Perpecahan
Syaikh Ar-Rifa'i, dengan memberi peringatan bahwa Amerika Serikat dan rezim Israel dalam kebijakan mereka terhadap kawasan tidak bertindak atas dasar kepedulian terhadap kepentingan suatu mazhab, golongan, atau etnis tertentu, menegaskan: Strategi Amerika dan Israel bertumpu pada pencapaian kepentingan ekonomi, politik, militer, dan kolonial di kawasan ini.
Ia mengatakan: Washington dan Tel Aviv tidak mencari kepentingan Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak pula kepentingan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah atau Syiah Zaidiyah, dan juga bukan kepentingan orang-orang Arab; melainkan mereka bertindak berdasarkan perhitungan strategis yang melayani proyek Israel dan kebijakan-kebijakan Amerika di kawasan.
Ia menambahkan: Menghadapi proyek-proyek ini dimulai dengan memahami hakikatnya, karena musuh memanfaatkan kondisi perpecahan dan perselisihan dalam masyarakat Islam, sementara persatuan adalah faktor kekuatan yang mencegah perbedaan-perbedaan mazhab dan politik berubah menjadi alat untuk menghancurkan masyarakat.
Pengalaman Iran dan Lebanon
Syaikh Ar-Rifa'i menilai pengalaman lapangan di kawasan sebagai bukti bahwa persatuan Islam bukanlah sekadar konsep teoritis, melainkan unsur fundamental dalam ketahanan dan perlawanan. Ia menunjukkan bahwa Iran, berkat adanya kondisi kohesi dan persatuan internal, mampu bertahan menghadapi agresi Amerika dan Israel.
Ia juga membahas situasi Lebanon dan berpendapat: Perlawanan di Lebanon bertumpu pada lingkungan pendukung (basis rakyat) yang kuat, dan lingkungan ini tidak dapat dibatasi dalam kerangka sempit mazhab, melainkan merupakan lingkungan yang inklusif yang menaungi berbagai komponen.
Ia mengatakan: Kekuatan perlawanan tidak hanya bersumber dari kemampuan militernya, tetapi juga berasal dari para pendukungnya, rakyat, dan lingkungan pendukungnya, dan ia menegaskan bahwa bersatunya seluruh umat dalam menghadapi agresi, pada hakikatnya bertumpu pada Islam dan persatuan Islam. Pengalaman militer langsung dan pertempuran melawan musuh-musuh umat telah membuktikan efektivitas dan keniscayaan persatuan Islam, terutama di tengah upaya-upaya proyek Zionis-Amerika untuk memperluas pengaruh di kawasan dan memaksakan realitas-realitas baru bagi bangsa-bangsa di dalamnya.
Mengubah Pekan Persatuan Menjadi Proyek Praktis
Terkait bagaimana memanfaatkan suasana Pekan Persatuan Islam dalam menghadapi kezaliman Amerika dan Israel serta memperkuat budaya perlawanan, Syaikh Ar-Rifa'i menekankan perlunya tidak sekadar merayakan momen tersebut secara seremonial, dan menyerukan upaya berkelanjutan untuk mengaktifkan kembali konsep persatuan serta mendorong kehadiran budaya, sosial, dan politiknya.
Ia berpendapat: Memperkuat persatuan memerlukan pengokohan fondasi budayanya, dan ia menunjuk pada pentingnya meningkatkan partisipasi umat Islam dari berbagai mazhab dalam kegiatan satu sama lain; sehingga penganut mazhab Syiah hadir dalam perayaan saudara-saudara Ahlus Sunnah mereka, sebagaimana Ahlus Sunnah juga berpartisipasi dalam acara-acara yang diselenggarakan kelompok-kelompok Syiah untuk memperingati kelahiran Nabi Besar Muhammad Saww dan Pekan Persatuan Islam.
Ia menegaskan: Langkah-langkah semacam itu dapat memperkuat tali silaturahmi antar seluruh umat dan menyampaikan pesan yang jelas bahwa umat Islam, meskipun terdapat perbedaan mazhab, tetap dapat bersatu padu dalam menghadapi tantangan-tantangan besar yang membidik kawasan mereka.
Ia mengatakan: Yang diperlukan adalah penekanan pada fakta bahwa Ahlus Sunnah dan Syiah masih mampu berkumpul dalam satu barisan dan di bawah satu naungan Islam yang sama; naungan Islam, dan dengan satu teladan; Rasulullah Muhammad Saww.
Persatuan Dimulai dari Pemahaman terhadap Risalah Islam
Syaikh Ar-Rifa'i menekankan perlunya peningkatan kegiatan-kegiatan budaya, politik, dan intelektual yang mengkaji tujuan-tujuan risalah Islam dan "Pekan Persatuan Islam", dan mengatakan: Kembali kepada tujuan-tujuan ini akan mengarah pada pemahaman yang lebih mendalam tentang risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saww.
Menurutnya, penguatan rasa memiliki dan keterikatan kepada Islam dan Nabi Besar Muhammad Saww tidak terwujud hanya melalui slogan-slogan, melainkan melalui pembangunan kembali kesadaran terhadap risalah Islam dan tujuannya; sehingga menjaga identitas umat dan memperkuat kemampuannya untuk hadir dan memberikan pengaruh.
Ia mengatakan: Umat Islam mencakup hampir dua miliar muslim, namun besaran jumlahnya tidak serta-merta tercermin pada tingkat pengaruh dan efektivitasnya. Yang diperlukan adalah mengubah massa manusia Islam ini menjadi kekuatan yang aktif, produktif, dan mampu meninggalkan jejaknya di dunia.
Ia mengatakan: Yang dibutuhkan bukanlah sekadar dua miliar muslim secara angka, melainkan dua miliar muslim dengan identitas yang jelas, produktif, aktif, dan hadir, yang memungkinkan umat untuk memiliki eksistensi yang berpengaruh di pentas dunia.
Masjid; Pusat Kehidupan, Bukan Isolasi
Syaikh Ar-Rifa'i kemudian berbicara tentang peran masjid dalam pembangunan masyarakat dan menegaskan: Islam tidak datang untuk memisahkan manusia dari kehidupan, melainkan datang dengan risalah kehidupan yang menyeluruh.
Ia menunjukkan: Dalam pengalaman Islam awal, masjid bukanlah sekadar tempat ibadah dalam makna yang sempit, melainkan pusat pengelolaan urusan masyarakat, dan tempat bagi pemerintahan, bimbingan, pendidikan, urusan sosial, pertahanan, dan hubungan luar negeri.
Ia menjelaskan: Menghidupkan kembali peran ini bagi masjid dapat menjadi pintu masuk fundamental bagi pembinaan generasi-generasi di atas dasar Islam yang menyeluruh, jauh dari perpecahan yang menguras masyarakat Islam.
Ia menekankan pentingnya menjadikan masjid sebagai pusat utama bagi pembinaan, bimbingan, dan pengasuhan generasi; masjid yang bertumpu pada Islam murni Muhammadi dan persatuan Islam, sehingga menjadi tempat yang menyatukan, bukan mencerai-beraikan, dan menyambungkan kembali generasi-generasi kepada risalah Nabi Besar Muhammad Saww.
Pembinaan Generasi di Atas Dasar Persatuan Melindungi Umat
Syaikh Ar-Rifa'i mengakhiri pernyataannya dengan menegaskan bahwa membangun persatuan Islam dimulai dari pembinaan generasi-generasi baru di atas dasar pemahaman terhadap hakikat Islam dan tujuan-tujuan risalahnya. Ia berpendapat bahwa pemahaman ini merupakan benteng terpenting dalam menghadapi proyek-proyek pemecah belah yang membidik umat.
Ia meyakini bahwa memahami tujuan-tujuan di mana gagasan "Pekan Persatuan Islam" dibentuk dan memantapkannya dalam kesadaran generasi baru, cukup untuk memperkuat ketahanan masyarakat Islam terhadap proyek-proyek Amerika, Israel, dan proyek-proyek lainnya yang berupaya memecah belah kawasan dan menata ulangnya demi kepentingan mereka sendiri.
Ia menegaskan: Ketika umat bersatu di atas pemahaman bersama tentang risalah Islam dan tujuannya, serta menyikapi perbedaan-perbedaan mereka sebagai medan keragaman bukan sebagai dalih untuk pertikaian, maka kemampuan musuh untuk mengeksploitasi perpecahan akan berkurang, dan persatuan Islam akan berubah menjadi faktor kekuatan nyata untuk melindungi identitas, kepentingan, dan masa depan bangsa-bangsa di kawasan ini.
Komentar Anda