Berita Hawzah – Rangkaian pembahasan tentang Mahdawiyah dengan judul “Menuju Masyarakat Ideal”, yang bertujuan menyebarluaskan ajaran dan pengetahuan yang berkaitan dengan Imam Zaman, semoga Allah mempercepat kemunculan beliau, dipersembahkan kepada para cendekiawan yang terhormat.
Berikut beberapa ayat yang berkaitan dengan Imam Mahdi, semoga Allah mempercepat kemunculan beliau, dan revolusi global beliau:
Ayat Pertama:
«وَلقَدْ کَتَبْنا فِی الزّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذّکْرِ أنّ الارضَ یرِثُها عِبادِیَ الصّالِحُونَ»؛ (انبیا (۲۱)، آیه ۱۰۵)
“Dan sungguh, Kami telah menuliskan dalam Zabur setelah az-Zikr bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.”
(Al-Anbiya (21), ayat 105)
Dalam ayat ini, disebutkan salah satu balasan duniawi yang paling jelas bagi orang-orang saleh, yaitu kekuasaan di muka bumi. Dalam sejumlah riwayat, peristiwa penting ini disebut akan terjadi pada masa kemunculan Imam Mahdi, semoga Allah mempercepat kemunculan beliau.
Kosakata Ayat
“Zabur” Dawud (atau dalam istilah kitab-kitab Perjanjian Lama disebut Mazmur Dawud) adalah kumpulan munajat, doa-doa, dan nasihat Nabi Dawud, alaihis salam.
“Zikir” (ذِکر), pada dasarnya berarti sesuatu yang menjadi sarana untuk mengingat dan memberikan peringatan. Namun, dalam ayat ini—berdasarkan konteks bahwa kitab tersebut disebut sebelum Zabur—ditafsirkan sebagai kitab samawi Nabi Musa, alaihis salam, yaitu Taurat.
“Ardh” (أرض) berarti bumi dan pada dasarnya merujuk pada keseluruhan bumi, kecuali jika terdapat konteks atau indikasi khusus yang menunjukkan makna lain.
“Warisan” (إرث) berarti sesuatu yang berpindah kepada seseorang tanpa melalui transaksi atau pertukaran. Dalam Al-Qur’an, kata ini terkadang digunakan dalam pengertian penguasaan dan kemenangan suatu kaum yang saleh atas kaum yang tidak layak, serta pengambilalihan nikmat dan berbagai fasilitas yang mereka miliki. (Lihat: Surah Al-A'raf (7), ayat 137).
Dengan disandarkannya kata “hamba-hamba” (عباد) kepada “Allah”, keimanan dan tauhid mereka menjadi jelas. Sementara itu, dengan adanya kata “orang-orang saleh” (صالحون), tergambar seluruh bentuk kelayakan dan kompetensi: amal dan ketakwaan, ilmu dan kesadaran, kekuatan dan kemampuan, serta pengelolaan, keteraturan, dan pemahaman sosial.
Ketika hamba-hamba yang beriman mempersiapkan dan memperoleh berbagai kelayakan tersebut, Allah juga akan menolong mereka agar dapat mengalahkan kaum yang sombong dan sewenang-wenang.
Oleh karena itu, semata-mata menjadi kaum yang tertindas bukanlah alasan untuk meraih kemenangan atas musuh dan berkuasa di muka bumi. Keberadaan iman dan upaya memperoleh berbagai kelayakan juga diperlukan. Kaum tertindas di dunia tidak akan mencapai pemerintahan di muka bumi selama mereka belum menghidupkan kedua prinsip tersebut.
Poin-poin
1. Keluarga Muhammad, sallallahu alaihi wa alihi wa sallam
Dalam tafsir ayat mulia ini, diriwayatkan dari Imam Muhammad al-Baqir, alaihis salam:
«هُمْ آلُ مُحَمَّدٍ یَبْعَثُ اللَّهُ مَهْدِیهُمْ بَعْدَ جَهْدِهِمْ فَیعِزُّهُمْ وَ یذِلُّ عَدُوَّهُمْ»؛ (کتاب الغیبة، شیخ طوسی، ص ۱۸۴)
“Mereka adalah keluarga Muhammad. Allah akan mengutus Mahdi mereka setelah kesungguhan dan perjuangan mereka. Lalu Dia akan memuliakan mereka dan menghinakan musuh-musuh mereka.”
(Kitab al-Ghaibah, Syekh Thusi, hlm. 184)
Jelas bahwa makna riwayat ini bukanlah pembatasan makna ayat hanya pada mereka. Riwayat tersebut justru menjelaskan salah satu contoh yang paling luhur dan paling nyata. Penafsiran seperti ini sama sekali tidak membatasi keumuman makna ayat. Oleh karena itu, kapan pun dan di mana pun hamba-hamba Allah yang saleh bangkit, mereka akan meraih kemenangan dan keberhasilan. Pada akhirnya, mereka akan menjadi pewaris bumi dan pemerintahannya.
2. Kabar Gembira tentang Pemerintahan Orang-Orang Saleh dalam Mazmur Dawud, alaihis salam
Dalam Mazmur Dawud, ungkapan tersebut atau ungkapan yang serupa dengannya ditemukan dalam beberapa bagian. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat berbagai bentuk penyimpangan dan perubahan dalam kitab-kitab tersebut, bagian ini masih tetap terjaga dari perubahan.
“Sebab orang-orang jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang berharap kepada Tuhan akan mewarisi bumi. Hanya sedikit waktu lagi, maka orang fasik tidak akan ada lagi; sekalipun engkau mencarinya di tempatnya, ia tidak akan ditemukan.”
(Mazmur Dawud, 37:9)
“Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi bumi dan akan bersukacita karena kesejahteraan yang berlimpah.”
(Mazmur Dawud, 37:11)
“Orang-orang yang diberkati Tuhan akan mewarisi bumi, tetapi orang-orang yang dikutuk-Nya akan dilenyapkan.”
(Mazmur Dawud, 37:27)
“Orang-orang benar akan mewarisi bumi dan akan tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya.”
(Mazmur Dawud, 37:29)
“Tuhan mengetahui hari-hari orang-orang saleh, dan warisan mereka akan kekal.”
(Mazmur Dawud, 37:18)
Dalam ungkapan-ungkapan tersebut, istilah “orang-orang saleh” yang terdapat dalam Al-Qur’an juga ditemukan dengan ungkapan yang sama dalam Mazmur Dawud. Selain itu, terdapat pula ungkapan lain seperti orang-orang benar, orang-orang yang bertawakal, orang-orang yang diberkati, dan orang-orang yang rendah hati dalam bagian-bagian lainnya.
Ungkapan-ungkapan tersebut menjadi bukti tentang keumuman pemerintahan orang-orang saleh dan selaras dengan hadis-hadis mengenai kebangkitan Imam Mahdi, semoga Allah mempercepat kemunculan beliau.
3. Pemerintahan Orang-Orang Saleh, Salah Satu Hukum Penciptaan
Perlu diketahui bahwa seluruh pemerintahan tersebut bertentangan dengan arah penciptaan dan hukum-hukum alam. Adapun pemerintahan yang selaras dengan hukum penciptaan adalah pemerintahan orang-orang saleh yang beriman.
Sistem penciptaan merupakan bukti yang jelas bahwa pada masa mendatang akan diterima suatu sistem sosial yang benar. Inilah yang dapat dipahami dari ayat tersebut dan hadis-hadis yang berkaitan dengan kebangkitan pembaru besar dunia.
(Tafsir Nemuneh, jilid 13, hlm. 515–524)
Pembahasan ini masih berlanjut...
Diambil dari buku “Darsnameh Mahdawiyat” karya Khodamrad Salimian, dengan sedikit perubahan.
Komentar Anda