Senin 24 Agustus 2026 - 22:16
Pekan Persatuan Merupakan Kesempatan untuk Memperkuat Solidaritas Syiah dan Sunni

Hawzah/ Hujjatul Islam wal Muslimin Qazi Askar menegaskan bahwa musuh tidak membeda-bedakan Syiah dan Sunni, dan target utamanya adalah memecah belah umat Islam. Menurutnya, para musuh memanfaatkan perbedaan mazhab untuk melemahkan dan menyerang dunia Islam.

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Qazi Askar, Pengurus Astan Suci Hazrat Abdulazhim Al-Hasani (AS), dalam wawancaranya dengan wartawan Kantor Berita Hawzah di Teheran, menekankan pentingnya memperkuat persatuan di antara umat Islam dan menghindari perpecahan serta tindakan-tindakan yang memecah belah, seraya merujuk pada datangnya Pekan Persatuan.

Beliau menyatakan bahwa mayoritas ulama Sunni berpendapat tanggal 12 Rabiul Awal sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAWW, sementara kaum Syiah meyakini tanggal 17 Rabiul Awal sebagai hari kelahiran Nabi Islam SAWW dan Imam Shadiq AS. Inisiatif penamaan rentang waktu antara kedua tanggal tersebut sebagai "Pekan Persatuan" lahir dengan tujuan menciptakan persatuan antara Syiah dan Sunni serta memperkuat kohesi dunia Islam, dan Imam Khomeini (RA) pun menerima usulan ini.

Pengurus Astan Hazrat Abdulazhim (AS) merujuk pada penekanan Al-Qur'an terhadap persatuan dan menyatakan bahwa Islam sangat sensitif terhadap persatuan dan kesatuan kata. Al-Qur'an berfirman: "Wa'tashimu bihablillahi jami'an wa la tafarraqu" (Dan berpeganglah kalian semua pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai). Ayat ini menyeru seluruh umat Islam untuk berpegang teguh pada tali Allah dan menjauhi perpecahan. Beliau menambahkan bahwa Al-Qur'an juga memperingatkan agar umat Islam tidak saling berselisih, karena perbedaan dan perselisihan akan menyebabkan lemahnya kekuatan dan hilangnya wibawa mereka.

Makna Persatuan dan Kekuatan Kebersamaan Umat Islam

Hujjatul Islam wal Muslimin Qazi Askar menegaskan: Persatuan bukan berarti tidak adanya perbedaan pandangan; setiap orang boleh memiliki pendapat dan sudut pandangnya masing-masing, namun perbedaan pendapat tidak boleh berujung pada permusuhan, perselisihan, dan hilangnya kohesi masyarakat Islam.

Beliau menyatakan bahwa makna Pekan Persatuan bukanlah mengubah Sunni menjadi Syiah atau Syiah menjadi Sunni. Makna persatuan adalah umat Islam menekankan pada kesamaan-kesamaan yang mereka miliki. Semua umat Islam memiliki Tuhan yang Maha Esa, Nabi yang satu, dan kiblat yang satu, serta memiliki kesamaan dalam prinsip-prinsip dasar dan banyak nilai-nilai keagamaan. Oleh karena itu, kesamaan-kesamaan ini harus menjadi landasan kerja sama dan kebersamaan di antara mereka.

Pengurus Astan Hazrat Abdulazhim (AS) melanjutkan: Jika Syiah terpisah dari Sunni dan umat Islam saling berhadapan, musuh-musuh akan dengan mudah dapat bertindak melawan dunia Islam. Saat ini, lebih dari satu miliar enam ratus juta umat Islam Syiah dan Sunni hidup di dunia, dan jika populasi besar ini bersatu, mereka akan memiliki kapasitas yang sangat besar untuk membela kepentingan dan martabat dunia Islam.

Penghormatan kepada Ahlulbait dan Larangan Menghina Hal-hal Suci

Beliau merujuk pada pengalaman bertahun-tahun kehadirannya dalam musim haji dan mengatakan: Banyak ulama Sunni yang menulis buku tentang keutamaan-keutamaan Amirul Mukminin (AS) dan meriwayatkan banyak hadis, dan kecuali arus-arus terbatas dari Wahabisme, sebagian besar Sunni di dunia sangat menghormati Ahlulbait (AS) dan memberikan kedudukan istimewa bagi mereka.

Hujjatul Islam wal Muslimin Qazi Askar juga menekankan pentingnya menghindari penghinaan terhadap hal-hal suci umat Islam lainnya dan mengatakan: Beberapa kelompok dengan tujuan menciptakan perpecahan antara Syiah dan Sunni, melakukan penghinaan dan makian terhadap hal-hal suci Ahlusunnah, dan bahkan dengan memanfaatkan kapasitas media, mereka memperkenalkan tindakan-tindakan ini atas nama Syiah; padahal pendekatan semacam itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Imam Khomeini (RA), Pemimpin Besar Revolusi, dan mazhab Ahlulbait (AS). Beliau merujuk pada firman Allah: "Wa la tasubbulladzina yad'una min dunillahi fa yasubbullahi 'adwan bi ghairi 'ilmin" (Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan) dan menyatakan: Al-Qur'an bahkan melarang penghinaan terhadap hal-hal suci orang-orang musyrik, karena perilaku semacam itu akan menimbulkan reaksi balik dan merusak kehormatan hal-hal suci.

Musuh Tak Kenal Syiah dan Sunni; Pekan Persatuan sebagai Momentum Melawan Perpecahan

Pengurus Astan Hazrat Abdulazhim (AS) mengingatkan: Musuh tidak mengenal Syiah maupun Sunni, dan tujuannya adalah menciptakan perpecahan di antara umat Islam. Contohnya terlihat dalam kejahatan kelompok-kelompok takfiri seperti ISIS; kelompok-kelompok yang tidak hanya menargetkan Syiah, tetapi juga ulama Sunni, dan membunuh banyak dari mereka.

Beliau menegaskan: Pekan Persatuan harus menjadi kesempatan untuk memperkuat kohesi umat Islam, meningkatkan saling pengertian antara Syiah dan Sunni, menekankan kesamaan-kesamaan, dan melawan kelompok-kelompok yang dengan memprovokasi perbedaan-perbedaan mazhab, mengancam persatuan umat Islam.

Hujjatul Islam wal Muslimin Qazi Askar di akhir mengatakan: Semakin umat Islam menekankan kesamaan-kesamaan mereka dan menjauhi perbedaan serta penghinaan terhadap satu sama lain, semakin besar kekuatan dan kewibawaan dunia Islam, dan musuh-musuh akan memiliki kesempatan lebih kecil untuk memecah belah dan melukai umat Islam.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha