Kamis 20 Agustus 2026 - 12:50
Imam Syahid adalah Arsitek Pembangunan Kekuatan bagi Iran

Hawzah / Direktur hawzah ilmiyah seluruh Iran menekankan bahwa qishash, penuntutan balas, dan penuntutan darah Imam Syahid serta para syuhada yang mulia bukanlah persoalan individu dan emosional.

Berita Hawzah – Ayatullah Alireza A'rafi, Direktur hawzah ilmiyah seluruh Iran, Rabu, 19 Agustus 2026, dalam acara peringatan Arba'in (hari ke-40) pemakaman Imam Syahid (Imam Khamenei ra) yang diselenggarakan oleh Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Mujtaba Khamenei, di Ruang Imam Khomeini (ra) di kompleks Makm suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), mengawali pidatonya dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan mengirimkan shalawat kepada Nabi Muhammad (Saww) dan keluarganya (as). Ia menyampaikan belasungkawa atas syahadah (kesyahidan) Imam Hasan Askari (as) kepada para ulama, marja' besar, dan masyarakat yang hadir dalam acara tersebut di sisi makam suci Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), dan sekaligus mengucapkan selamat atas dimulainya masa kepemimpinan Waliyullah al-A'zham, Imam Zaman (as).

Beliau juga mengenang dan menghormati para wali Allah, para syuhada yang mulia, para syuhada perang dan pertahanan, Imam Syahid, serta pemimpin tercinta yang telah wafat, dan memanjatkan shalawat serta doa untuk arwah suci mereka.

Ayatullah A'rafi, dengan menghormati kehadiran para ayatullah, marja' taqlid, keluarga besar Imam Khomeini dan Pemimpin Tertinggi Revolusi, tokoh-tokoh besar, para dosen, anggota Majelis Ahli Kepemimpinan, Jami'ah Mudarrisin, Dewan Tinggi hawzah ilmiyah, serta berbagai kalangan akademisi, hawzah, universitas, dan kalangan budaya dalam acara ini, menyatakan: "Pada awal pidato ini, saya akan menyampaikan beberapa kalimat tentang kondisi saat ini, dan kemudian satu dua poin mengenai sosok Imam Syahid serta sirah (perjalanan hidup) beliau yang suci dan luhur."

Menuntut Balas Darah Imam Syahid Bukanlah Balas Dendam Pribadi

Direktur hawzah ilmiyah seluruh Iran ini menyatakan bahwa bangsa Iran tetap berduka atas Imam Syahid dan para syuhada yang mulia. Ia berkata: "Kami masih berduka atas Imam tercinta kami, sekaligus menuntut balas darah Imam Syahid dan para syuhada yang agung, dan kami terus berdiri tegak untuk menuntut balas atas darah suci dan berharga para syuhada tersebut."

Beliau menegaskan: "Saya harus menekankan dan mengingatkan bahwa penuntutan balas atas syahid besar kita dan perlawanan terhadap musuh-musuh kebebasan dan kemerdekaan Iran serta umat Islam, bukanlah persoalan individu. Ini adalah tuntutan balas dari umat Islam."

Direktur hawzah ilmiyah menambahkan: "Penuntutan darah ini adalah penuntutan darah Sayyid as-Syuhada (pemimpin para syuhada) dan semua orang yang terzalimi di dunia, dan tidak boleh terjadi kekeliruan dalam hal ini. Penuntutan darah dan tuntutan balas atas darah Imam Syahid serta para syuhada agung dari pihak bangsa besar Iran dan front perlawanan, bukanlah masalah individu yang bisa dihadang oleh siapa pun."

Beliau melanjutkan: "Balas dendam ini adalah balas dendam sebuah bangsa dan balas dendam kaum mustadh'afin (tertindas) di seluruh dunia. Kami berpegang teguh pada janji untuk menuntut balas ini dan menuntut darah Imam Syahid, dan bangsa kami, dengan mengikuti Pemimpin Tertinggi Revolusi, berdiri teguh di atas janji ini."

Ayatullah A'rafi menegaskan: "Enam bulan itu bukan apa-apa; bahkan jika enam tahun pun berlalu, bangsa ini tetap berdiri dan akan terus berdiri di medan perjuangan demi cita-cita Sayyid as-Syuhada dan penuntutan darah Imam Syahid."

Beliau mengapresiasi rakyat dan berkata: "Sungguh mulia bangsa ini yang masih dengan sepenuh hati, jiwa, semangat, dan kegigihan berdiri di medan pembelaan Islam dan cita-cita para syuhada. Tangan Allah bersama kalian, dan dengan karunia-Nya kalian akan meneruskan jalan ini."

Imam Syahid; Sosok yang Komprehensif dan Memiliki Berbagai Dimensi

Ayatullah A'rafi selanjutnya, dengan merujuk pada sosok Imam Syahid, menyatakan: "Pengantar pertama dalam pembahasan tentang syahid agung kita adalah bahwa tokoh-tokoh yang kita lihat dalam sejarah dan ingin kita nilai, terkadang merupakan sosok satu dimensi, dua dimensi, atau tiga dimensi, namun terkadang kita berhadapan dengan figur yang memiliki berbagai dimensi."

Beliau menyatakan bahwa Imam Syahid kita adalah salah satu dari sosok-sosok bercahaya, cemerlang, dan memiliki berbagai dimensi dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, manajemen, dan kepemimpinan, lalu beliau melanjutkan: "Mengenai tokoh lain, ketika kita hendak menganalisis, kita harus cermat agar dapat menemukan dan menyajikan sudut-sudut kebesaran mereka. Tetapi ketika kita berhadapan dengan sosok agung ini, begitu banyak kilau dan gemerlap pada diri beliau yang mulia dan terhormat sehingga kita harus duduk dan merenungkan, di antara gugusan sifat-sifat luhur, di antara galaksi keutamaan dan keistimewaan yang melimpah ini, mana yang akan kita pilih dan mana yang akan kita tunjuk."

Direktur hawzah ilmiyah ini menegaskan: "Imam Syahid kita termasuk dalam sosok-sosok komprehensif, luhur, dan memiliki berbagai dimensi yang memerlukan banyak pertemuan dan pidato untuk menjelaskan sosok beliau."

Ayatullah A'rafi menyatakan: "Kekomprehensifan sosok pemimpin, kemilau sosok agung tersebut, dan ciri-ciri ini begitu tinggi sehingga ketika kita berhadapan dengan gugusan keistimewaan ini, kita terheran-heran."

Beliau berkata: "Bukalah lembaran sejarah kawasan dan sejarah Iran selama ribuan tahun; dengan mengesampingkan dimensi keagamaan, dalam kebesaran Imam Khomeini dan kebesaran Imam Syahid kita, kita tidak akan menemukan sosok yang setara."

Direktur hawzah ilmiyah mengingatkan: "Bangsa besar Iran memiliki kehormatan bahwa dalam Revolusi Islam, negaranya dikaruniai manusia-manusia besar, yang tiada duanya, dan luhur seperti ini. Kami siap untuk membandingkan kehidupan ilmiah, keimanan, akhlak, dan perjuangan para pemimpin besar ini dengan semua pemimpin Iran dan kawasan di masa lalu."

Beliau menambahkan: "Kami akan membuktikan bahwa dua Imam Revolusi ini, pemimpin syahid dan tercinta kita, memiliki kebesaran, keagungan, dan kemilau sedemikian rupa sehingga tidak dapat ditemukan padanannya di tempat lain."

Imam Syahid; Penggabung Teori dan Tindakan

Ayatullah A'rafi selanjutnya, dengan merujuk pada ciri lain dari pemimpin syahid tersebut, menyatakan: "Pemimpin-pemimpin suatu negara dapat dibagi menjadi dua atau tiga tipe. Sebagian pemimpin adalah orang-orang yang unggul dalam pemikiran dan teori, namun tidak terlalu kuat dalam bidang tindakan dan manajemen."

Beliau, menyatakan bahwa ada kelompok lain dan cukup banyak dari para pemimpin dan pengelola yang kuat dalam tindakan, tetapi lemah dan tidak berbekal dalam hal teori, landasan pemikiran, dan epistemologi, lalu melanjutkan: "Ada sekelompok kecil pemimpin yang kuat dan tangguh dalam teori, sekaligus cakap dan mahir dalam tindakan, manajemen, dan kepemimpinan. Dan Imam Syahid kita termasuk dalam tipe yang demikian."

Pertama; Ahli Teori dan Pembangun Teori Islam

Direktur hawzah ilmiyah menyatakan: "Imam Syahid adalah pemimpin besar dan agung yang sepanjang usia mulianya berdiri membela Islam, berkorban jiwa untuk bangsa, dan menggabungkan teori dengan tindakan. Pernyataan kami adalah bahwa Imam Syahid kita menggabungkan tiga keistimewaan besar sekaligus. Yang pertama: ahli teori dan pembangun teori Islam."

Beliau berkata: "Imam Syahid kita adalah seorang ahli teori Islam dan pembangun teori Islam. Samudra teori-teori tentang tata kelola Islam bergelombang dalam logika dan wacana Imam Syahid kita."

Pengurus Besar hawzah ilmiyah menambahkan: "Pidato-pidato pemimpin syahid memiliki kandungan teoretis, dan selama hampir empat dekade, beliau merumuskan, menyajikan, dan menyatakan puluhan teori mendalam tentang tata kelola Islam di berbagai ranah."

Beliau menyatakan: "Di sini bukan tempat untuk memperluas pembahasan ini, tetapi pemimpin tersebut memiliki berbagai teori di bidang sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Jika beliau bukan seorang pemimpin, beliau tetaplah seorang ahli teori, seorang marja' taqlid, seorang alim yang cakap dengan segudang teori untuk tata kelola Islam dalam rangka membangun peradaban Islam. Beliau adalah seorang imam yang ahli teori, memiliki pengetahuan, dan pembangun teori di jalan Islam."

Kedua; Arsitek Lapangan dan Pemimpin Praktis

Ayatullah A'rafi melanjutkan: "Di samping kemampuan berteori, Imam agung kami adalah arsitek lapangan dan pemimpin di lapangan. Beliau membawa teori dari pemikiran dan logika ke medan tindakan, yang beberapa hasilnya akan saya singgung. Imam Syahid adalah ahli teori, arsitek lapangan, pemimpin arus-arus, dan pembangun jaringan-jaringan praktis dan lapangan untuk mewujudkan tata kelola Islam."

Ketiga; Arsitek Produksi Kekuatan

Direktur hawzah ilmiyah berkata: "Keistimewaan ketiga Imam kita adalah bahwa beliau tidak berhenti pada sekadar berteori dan arsitektur praktis. Beliau mengubah teori-teori Islam dan arsitektur lapangan menjadi produksi kekuatan dalam masyarakat, budaya, ilmu pengetahuan, dan pertahanan."

Ayatullah A'rafi menyatakan: "Ada pemimpin yang menghasilkan kewibawaan, tetapi Imam Syahid kita, di samping dua keistimewaan besar teoretis dan kepemimpinan lapangan, adalah arsitek produksi kekuatan; kekuatan yang kini dunia terheran-heran menghadapinya."

Beliau menambahkan: "Kekuatan bangsa ini berasal dari kepemimpinan dan arsitektur Imam agung tersebut. Beliaulah yang memberikan kemampuan ini kepada kami; beliaulah yang memberi kami semangat, dan beliaulah yang menjadikan produksi kekuatan untuk Iran, poros perlawanan, dan umat Islam."

Imam Syahid; Arsitek Produksi Kemampuan bagi Iran dan Umat Islam

Ayatullah A'rafi berkata: "Di sini, dalam hal produksi kekuatan dan kepemimpinan syahid, saya telah mencatat enam ranah, di antaranya akan saya sebutkan satu dua contoh. Imam kita adalah arsitek produksi kekuatan bagi kami, bagi kalian, dan bagi umat Islam, dan di berbagai dimensi beliau menghasilkan kemampuan bagi kami, kalian, dan umat Islam."

Kekuatan Ilmiah dan Teknologi; Ranah Kekuatan Pertama

Anggota Dewan Tinggi hawzah ilmiyah menyebut salah satu ranah penting kekuatan adalah kekuatan ilmiah dan teknologi, dan berkata: "Ini adalah persoalan yang sangat penting. Saya meminta kepada para pemuda terkasih, akademisi, dan rakyat yang mulia untuk mempelajari jalan kekuatan ilmiah dan teknologi ini dari Imam Syahid."

Beliau menambahkan: "Saudara-saudara sekalian, umat Islam telah tertinggal dalam kekuatan ilmiah dan teknologi selama dua ratus tahun. Kita selama bertahun-tahun dan berabad-abad mengalami keterbelakangan ilmiah dan teknologi akibat pengaruh Barat, dan semua urusan ilmiah dan teknis kita bergantung pada Barat."

Imam Jumat Qom melanjutkan: "Saat ini pun dunia Islam dalam skala luas masih bergantung. Imam agung kita selama hampir empat puluh tahun kepemimpinan ilahinya, memiliki satu garis yang serius dan konsisten, yaitu produksi kekuatan ilmiah dan teknologi bagi Iran."

Ayatullah A'rafi dalam menjelaskan landasan pendekatan ini mengatakan: "Beliau berkeyakinan bahwa universitas-universitas kita, hawzah-hawzah kita, para elite ilmiah kita, dan komunitas ilmiah dan teknologi kita harus bergerak di garis depan ilmu pengetahuan dan teknologi."

Beliau menambahkan: "Kedua, ilmu pengetahuan dan teknologi ini harus muncul dari dalam otak orang Iran dan orang Muslim, serta berlandaskan pada garis depan ilmu pengetahuan."

Direktur hawzah ilmiyah mengingatkan: "Ketiga, penekanan beliau adalah bahwa kita harus bertindak secara jihad, bergerak dengan terobosan, melintasi batas-batas ilmu pengetahuan, dan mengatasi keterbelakangan historis."

Beliau berkata: "Ini adalah garis-garis tetap dan berkelanjutan yang selalu beliau perjuangkan; menjaga para cendekiawan, kemandirian ilmiah dan teknologi, pendekatan Islam dalam ilmu-ilmu humaniora, dan perhatian pada kemandirian ilmiah dan teknologi, merupakan garis-garis utama dalam produksi kekuatan ilmiah dan teknologi di bawah kepemimpinan beliau."

Ayatullah A'rafi menambahkan: "Berulang kali Anda telah menyaksikan bagaimana pemimpin agung itu menegur para pejabat pemerintahan, mendirikan dan memperkuat wakil bidang ilmu pengetahuan, mendorong pangkalan-pangkalan ilmu pengetahuan, dan terus-menerus menindaklanjutinya."

Beliau menyatakan: "Beliau berulang kali bertanya, di mana peringkat ilmiah dan teknologi kita di dunia? Dengan penuh perhatian beliau memperingatkan jangan sampai kita tertinggal dalam kemajuan ilmiah di kawasan dan dunia."

Pemulihan Keterbelakangan Dua Abad Iran

Direktur hawzah ilmiyah berkata: "Keterbelakangan dua abad Iran, dengan kegigihan beliau, sebagian besar telah teratasi, dan hasilnya kita lihat dalam teknologi nuklir, sel punca, ilmu kognitif, teknologi canggih dan cerdas, nano, industri farmasi, serta kapasitas-kapasitas yang lahir dari para pemuda, cendekiawan, dan ilmuwan kita, sehingga Iran telah menjadi negara maju dan mandiri secara ilmiah."

Ayatullah A'rafi berbicara kepada para pemuda: "Ingatlah, wahai pemuda-pemuda terkasih, saudara-saudara sekalian, kita di semua bidang bergantung dan tertinggal. Revolusi ini datang, Imam datang, dan pemimpin syahid datang; beliau menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih menjadi produksi lokal, serta menjadikan Iran mandiri dalam jihad ilmiah."

Beliau menambahkan: "Kadang-kadang dalam percakapan dengan beberapa tokoh non-Iran, saya melihat mereka heran; bagaimana mungkin sebuah negara yang berada dalam sanksi, blokade, dan perang, dapat maju pesat di berbagai industri dan membangun teknologi nuklir dengan kekuatan sendiri dan tangan-tangan cakapnya sendiri?"

Ayatullah A'rafi menganggap hal ini sebagai salah satu keajaiban zaman dan berkata: "Ini adalah salah satu hal yang mencengangkan dan menakjubkan di zaman kita. Anda telah menyaksikan bahwa terkadang dalam pertemuan-pertemuan, ketika data dan angka disampaikan dan peringkat ilmiah Iran di kawasan turun sedikit saja, beliau menjadi gelisah. Beliau mencintai bangsa ini, umat Islam, dan Iran yang tercinta, serta menginginkan Iran menjadi yang terdepan di kawasan."

Direktur hawzah ilmiyah menyatakan: "Langkah-langkah besar telah diambil, dan beliau tidak pernah surut dari hal ini. Capaian-capaian dari jalan ini pun tidak terhingga, dan hari ini pun jalan ini harus diteruskan."

Kekuatan Pertahanan dan Militer; Ranah Kekuatan Kedua

Ayatullah A'rafi selanjutnya merujuk pada ranah kekuatan yang kedua, yaitu kekuatan pertahanan dan militer, dan berkata: "Kita tahu bahwa kita adalah bangsa yang pada Perang Dunia II, orang-orang asing menyerang negara kita, dan dalam hitungan jam, seluruh sistem pertahanan kita runtuh."

Beliau menambahkan: "Para pemimpin angkatan darat dan divisi kita semuanya mengundurkan diri, melepas tanda pangkat mereka, dan melarikan diri, dan raja/syah terkutuk itu melarikan diri dari negara. Keadaan negara menjadi kacau, padahal kita tidak terlibat dalam perang.

Itulah kekuatan kita saat itu; seluruh persenjataan dan kekuatan pertahanan kita hancur dalam satu gelombang serangan."

Direktur hawzah ilmiyah melanjutkan: "Hal ini telah terbukti berulang kali dalam sejarah kita. Pada peristiwa 28 Mordad, satu gelombang datang, raja/syah melarikan diri, dan semua orang mundur. Orang-orang Amerika datang dan menyelamatkan mereka, dan menempatkan mereka kembali untuk berkuasa atas rakyat."

Ayatullah A'rafi berkata: "PeSawwat kita, kekuatan laut dan militer kita, semuanya bergantung dan membutuhkan pihak lain, dan tanpa perintah mereka tidak memiliki nilai apa pun. Imam Syahid kalian membangun kekuatan pertahanan di atas doktrin militer yang sangat maju."

Pertahanan, Bukan Agresivitas Perang

Anggota Dewan Fuqaha Dewan Wali Iran tersebut menyatakan: “Salah satu prinsipnya adalah bahwa kita bukan bangsa yang gemar berperang. Namun, jika tiba saatnya untuk mempertahankan diri, kita akan maju sampai titik pengorbanan jiwa dan tanpa mundur. Beliau berdiri teguh menghadapi pemikiran-pemikiran yang menyerukan agar kita mundur serta meninggalkan senjata dan rudal.

Direktur hawzah ilmiyah tersebut, merujuk pada sejumlah gagasan yang pernah dikemukakan mengenai penghentian kemajuan persenjataan, mengatakan: “Dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, pernah muncul suatu pemikiran dan teori bahwa kita tidak seharusnya memasuki jalur pengembangan persenjataan. Coba bayangkan, jika tiga puluh tahun lalu kita menyerah pada teori tersebut, di mana posisi kita hari ini? Kita pasti sudah berada dalam kehinaan.

Ia menegaskan: “Beliau berdiri menghadapi teori yang menghendaki ketidakberdayaan dalam pertahanan, sikap terlalu percaya, serta menarik diri dari produksi senjata dan peralatan militer."

Pertahanan Cerdas dan Visi ke Depan dalam Militer

Ayatullah A'rafi, merujuk pada pendekatan pertahanan yang ditempuh oleh pemimpin syahid tersebut, mengatakan: “Demikian pula pertahanan yang cerdas dan bersifat ofensif. Salah satu ucapan terakhir yang beliau sampaikan adalah: Jika kalian memasuki perang, perang ini tidak akan lagi terbatas pada Iran, tetapi akan meluas ke seluruh kawasan. Kita bukan pihak yang agresif, tetapi ketika tiba saatnya mempertahankan diri, kita akan melakukan serangan dan akan membuat kehidupan para musuh menjadi sengsara.

Direktur hawzah ilmiyah tersebut menegaskan: “Kecerdasan, visi ke depan, kemampuan memprediksi, serta kepemimpinan beliau dalam bidang pertahanan dan militer telah menjadikan Iran sebagai kekuatan yang tiada dua di kawasan dan terdepan di dunia.

Ia melanjutkan: “Beliau menjadikan Iran satu-satunya kekuatan yang mampu berdiri menghadapi pasukan-pasukan terkuat di dunia. Dengan berkat dan pertolongan Allah, serta berkat arahan Pemimpin Tertinggi Revolusi dan pengorbanan angkatan bersenjata, keunggulan dan keteguhan dalam menghadapi musuh-musuh Islam dan Iran ini akan terus berlanjut dan berkesinambungan.”

Peletakan Dasar Sistem Pertahanan yang Mandiri, Ilmiah, dan Berbasis Rakyat

Ayatullah Arafi melanjutkan: “Pemimpin syahid yang lebih kami cintai daripada nyawa kami sendiri, mengembangkan industri militer dan peralatan militer secara mandiri; beliau mendidik kader-kader komando dan angkatan bersenjata, serta membina iman dan motivasi para personel angkatan bersenjata.

Ia menambahkan: “Beliau menjadikan pertahanan sebagai sesuatu yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus berbasis rakyat. Melalui mobilisasi rakyat, beliau meletakkan dasar bagi pertahanan yang bertumpu pada rakyat dan iman, serta berorientasi pada ilmu dan pengetahuan. Sistem pertahanan ini dibangun dengan penuh pengorbanan dan perjuangan.

Direktur hawzah ilmiyah tersebut mengatakan: “Hasilnya adalah enam bulan kehadiran Anda sekalian di medan perjuangan, hasilnya adalah gemilangnya angkatan bersenjata kita di dunia, dan hasil lainnya adalah ketidakberdayaan serta kebuntuan Trump dan para musuh Iran serta para musuh Poros Perlawanan. Jalan ini, dengan karunia Allah, akan terus dilanjutkan melalui persatuan yang suci, dengan mengikuti arahan Pemimpin Tertinggi Revolusi dan komando Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.”

Memperbarui Janji Setia kepada Cita-Cita Imam Syahid dan Imam Revolusi Islam

Ia menyatakan: “Malam ini, di tempat ini, di hadapan Sayyidah Fatimah Ma'sumah (sa), bersama Pemimpin Tertinggi Revolusi, kita memperbarui janji bahwa kita akan berdiri hingga titik pengorbanan jiwa di jalan pemimpin yang syahid, Imam Agung, dan cita-cita Revolusi Islam.

Ayatullah Arafi kemudian, merujuk pada kedudukan Poros Perlawanan, mengatakan: “Poros Perlawanan bukanlah poros ketidakberdayaan; ia adalah poros keteguhan dan perjuangan. Mereka memiliki manajemen dan kepemimpinan di lapangan, dan Imam adalah arsitek pembangunan kekuatan bagi Iran dan umat Islam. Kekuatan ini telah dibangun dalam bidang politik, internasional, kebudayaan, ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, dan pertahanan.

Ia mengatakan: “Saya telah menyinggung dua ranah dari kekuatan ini. Namun, para pejabat pemerintah kita, parlemen kita, lembaga-lembaga eksekutif kita, dan semua pihak harus terus melanjutkan jalan kemandirian dan kejayaan Iran, serta jalan menuju kekuatan menyeluruh dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, keimanan, perjuangan, dan pertahanan.”

Perlunya Melanjutkan Jalan Kemandirian dan Kekuatan di Semua Lembaga

Ayatullah Arafi, menekankan bahwa kita tidak boleh berkompromi dalam memperjuangkan cita-cita ini, mengatakan: “Gema semboyan ‘Haihat minna adz-dzillah’—‘Pantang bagi kami menerima kehinaan’—harus meresap dan tercermin di lembaga peradilan kita, di seluruh lapisan administrasi, organisasi, dan lembaga kita, serta di tengah-tengah hawzah, universitas, dan sistem pendidikan kita.

Direktur hawzah ilmiyah tersebut menambahkan: “Kita tidak memiliki jalan untuk kembali. Kita semua harus, dengan persatuan yang berlandaskan Tuhan, hati yang kuat, dan tekad yang kokoh, melanjutkan jalan Imam tersebut bersama Pemimpin Tertinggi Revolusi. Malam ini, di tempat ini, kita kembali menyatakan bahwa rakyat di seluruh Iran, di seluruh kawasan, para pencinta Revolusi Islam di berbagai penjuru dunia, serta kaum tertindas di seluruh dunia, tetap teguh pada janji untuk melawan kekuatan-kekuatan imperialis dan melanjutkan jalan Imam yang mulia. Dan sekarang pun kita memperbarui janji bahwa kita akan tetap berdiri.

Ayatullah Arafi pada akhir pidatonya, sembari menghargai kehadiran rakyat, para ulama, akademisi, dan tokoh-tokoh dari Iran maupun negara-negara lain dalam acara tersebut, mengatakan: “Sekali lagi, saya menyambut dan menghargai kehadiran seluruh saudari dan saudara serta para tokoh terhormat dari Iran dan negara-negara lain dalam acara ini. Saya juga menyatakan kesetiaan dan pembaruan janji terhadap cita-cita Imam Khomeini, Imam tercinta yang syahid, dan Pemimpin Tertinggi Revolusi.”

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha